Not You

Not You
54. Tamu Penting



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


"Mom, kenapa buru-buru?" tanya Given yang terbangun karena kegaduhan yang diciptakan ibunya.


"Sayang nanti tunggu onty Jihan yah, mommy ada panggilan darurat. Semua kebutuhan kamu, sudah mommy siapkan. Maafkan mommy, Sayang." Vlora berbicara sambil berdandan ala kadarnya.


"Sudah lah, Mom. Jangan terlalu berdandan, Giv tidak suka melihat itu! Mommy cantik apa adanya," ucap bocah lelaki yang hampir berusia 7 tahun itu.


Vlora tersenyum senang mendengar perkataan sang putra yang sudah seperti lagu kebangsaan setiap kali ia berdandan. Sepulang dari salon seminggu yang lalu, Vlora diprotes habis-habisan oleh bocah tampan itu.


Ia tidak suka dengan perubahan sang ibu yang terlihat lebih cantik. Vlora dan Jihan lalu memberi pengertian yang baik hingga ia mengerti, bahwa dengan cara itu, mungkin bisa membuat seseorang menyesal.


"Thank you, Dear!" balas Vlora.


Tidak lama setelah itu, Jihan sudah tiba dan Vlora pun akhirnya bergegas berangkat ke tempat kerjanya.


"Sabar yah, Sayang. Mommy kamu itu sedang berjuang untuk kehidupan kalian berdua. Giv harus mendukung mommy yah. Jadi anak baik dan mandiri. Jagoan mommy dan onty tidak boleh cengeng, yah." Jihan menasehati anak sahabatnya itu.


Ia melihat ada kerinduan di mata si bocah. Rindu akan hari-hari bersama sang ibu yang banyak dan tidak mengenal waktu.


Jihan pun tidak pernah keberatan melakukan semua aktivitas yang dibebankan temannya. Dengan statusnya yang masih jomblo, tentunya mudah bagi dia mengiyakan semua permintaan Vlora.


Beberapa menit berlalu dan hari sudah cerah, keduanya lalu bergegas ke sekolah Given. Sesudah itu, Jihan melanjutkan perjalanan ke butik yang lokasinya tidak jauh dari sekolah Giv.


"Digajiin berapa sih gue?" Jihan tertawa sendiri. "Untung sayang," imbuhnya dengan masih tertawa.


...*****...


Di hotel tempat Vlora bekerja, tampak sedikit lebih sibuk dari biasanya. Begitu tiba di sana, semua karyawan diberikan arahan. Vlora bertanya-tanya tamu penting siapa yang menginap, hingga semua mereka dikumpulkan dan diarahkan sepagi ini?


"Yang punya hotel ini emang?" tanya Vlora.


"Sepertinya begitu, aku juga gak tau. 'Kan aku baru di sini sama kayak Mba Yura," ucap salah satunya.


Semua mereka dibubarkan, lalu menjalankan tugas masing-masing dengan lebih baik lagi dan berhati-hati. Namun, lagi-lagi Vlora ingin melayangkan protes, saat dia dimintakan untuk melayani di suite room.


"Kenapa harus aku sih, Mba? Room service banyak, bukan cuman aku loh," sungut Vlora.


"Makanya, kemarin diminta jadi asisten manager room, gak mau. Sana kerja, gada protes yah!" tegas order taker.


Vlora memasang tampang memelas. "Kalo sekarang ... aku boleh nawar gak, Mba?" tanyanya.


"He-he-he, gimana kalo kita tuker posisi aja, Mba?" Dan pertanyaan Vlora membuat wanita di hadapannya melotot tajam.


"Maksud aku, Mba aja yang jadi asistennya, lalu aku yang jadi order taker-nya. Gimana?" Vlora mengedipkan matanya beberapa kali.


"Gadaaaa ... tawaran si bos udah expired. Udah sana," usir sang order taker.


Belum juga Vlora beranjak, dering telepon berbunyi dan wanita yang bertugas di bagian itu, sudah bisa menebak. Ia segera menjawab telepon itu dan begitu selesai ....


"Yuraaaa!" pekiknya dengan suara tertahan menahan gemas.


Vlora tersadar dengan kesalahannya, secepat kilat menyambar slip order dari tangan wanita itu dan berlari ke kitchen.


Setelah semuanya siap, dengan segera Vlora mengantarkannya ke suite room. Sebenarnya, ia cukup senang karena selalu mendapat perhatian lebih dari atasannya, tetapi tetap saja ada perasaan tidak enak dengan yang lain.


Tiga kali ia membunyikan bel pintu dan tidak lama setelah itu, pintu terbuka memperlihatkan punggung lebar seorang pria.


Pria itu tampak sedang menerima telepon, lalu membuka pintu dengan gaya menyamping. Ia tidak melihat ke depan dan segera berlalu dari sana, membiarkan room servis masuk dan menyediakan pesanannya.


Vlora pun tidak dapat melihat wajah orang itu dengan baik. Namun, bahasa Gaelik Skotlandia yang digunakannya serta suara itu, tidaklah asing di telinga Vlora.


Ragu-ragu Vlora masuk dan menata semuanya di atas meja dengan gerakan cepat. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba saja menghampirinya.


Mendengar percakapan pria asing itu, Vlora teringat akan satu hal yang sudah sering ia dengarkan sebelumnya. Tanpa perlu melihat, sudah bisa ia tebak siapa orang itu.


Secepat kilat Vlora ingin berlari keluar dari sana, tetapi saat bersamaan, pria itu pun mengakhiri telepon dan menghentikan langkahnya.


"Excuse me!"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...___________________...


...✨✨✨...


Jangan lupa Lika dan komen yah ....


AG punya rekomendasi bacaan lagi nih, mampir kalo berkenan yah sayang²ku 😍