Not You

Not You
32. Grayman dan Vulgopus



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Mommy!" teriak Given dan berhambur memeluk ibunya.


Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan melepas rindu yang tertawan dua hari ini.


"Are you ok, Dear?" tanya Vlora setelah menghujani wajah putranya dengan ciuman sayang.


Given mengangguk. "Yes, Mom! As you can see."


Bocah itu menunjukkan keberadaan dirinya yang baik-baik saja. Ia bahkan berputar dengan kedua tangan yang terentang, demi bisa meyakinkan sang ibu yang terlihat khawatir.


"Big Gray Man itu tidak menyakitimu?" tanya Vlora.


Given mengerutkan keningnya. "Big Gray Man? Your mean monster in Ben Macdui, Mom? Maksudnya uncle tampan seperti monster itu?" tanya Given yang sudah sering mendengar tentang legenda itu.


Vlora menempelkan telunjuk pada bibirnya sembari memutar kepala ke kiri dan ke kanan. Setelah dirasainya tidak ada yang melihat, juga para pengawal yang berdiri dengan jarak beberapa meter, Vlora pun mengangguk.


"Benar, Sayang! Dia seperti monster itu, menyeramkan sekali. Kita tidak mengenalnya tetapi tiba-tiba saja dia datang menghantui hidup kita. Menyebalkan, bukan?" bisik Vlora ke telinga putranya.


Namun, mengejutkan bagi Vlora. Bocah berusia enam tahun lebih itu menggeleng.


"No, Mommy! Uncle tampan tidak semenyebalkan yang Mommy kira. Buktinya Giv tidak kenapa-kenapa, Giv malah dilayani dengan sangat baik." Dan ucapan sang putra membuat Vlora antara kaget dan kesal.


Astaga, racun apa yang dia berikan pada anakku? Apa jangan-jangan ....


"Liat sini, Giv!" Vlora menangkup wajah sang putra agar fokus menatapnya. Wanita itu lalu menjentikan jari beberapa kali tepat di wajah Given.


"Apa yang Anda lakukan, Nona? Tuan muda tidak selicik itu untuk menghipnotis seorang anak kecil." Suara dingin nan menyebalkan tadi kembali menyentaknya.


Vlora yang tadinya berjongkok di hadapan sang putra, langsung berdiri menyetel wajah datar.


"Saya ingin kembali ke apartemen sahabat saya, sebentar saja," ucap Vlora dengan ketus.


"Apa perkataan Tuan muda kurang jelas? Atau anda gangguan THT? Saya akan datangkan dokter untuk memeriksa kuping Anda, Nona." Ucapannya membuat Vlora seorang ingin mengeluarkan tanduk dari kepalanya.


"Dan saya ingatkan sekali lagi, Nona. Baca semua peraturan dalam setiap helai tadi, jangan sampai terlewatkan satu poin pun!" lanjutnya tegas dan langsung meninggalkan Vlora.


"Hei, Vulpes lagopus!" Vlora cepat-cepat menutup mulutnya kembali.


Arrrgghh, aku bisa gila jika bertemu dua lelaki itu setiap hari. Satunya Grayman, satunya lagi Vulgopus. Hiks, i wanna go back to Jakarta.


Vlora tidak mau tahu, ia menarik tangan putranya dan mengikuti langkah lelaki tadi.


"Pokoknya aku mau izin keluar. Apa kalian orang-orang kaya ini kurang kerjaan sampai harus menawan rakyat jelata sepertiku? Ck, miris sekali." Vlora kembali mendapat keberanian untuk melawan.


Lelaki bernama Zack itu, tidak lagi dapat menahan kekesalannya. Ia lalu menemui tuannya dan menyampaikan keinginan Vlora.


Sama seperti asistennya, Tuan Muda Alexander itu pun pusing dibuat oleh ibu dari bocah yang ia culik kemarin.


"Biarkan dia pergi. Tapi pastikan dia kembali dalam waktu satu jam dan kawal jangan sampai dia melarikan diri!" titahnya.


"Baik, Tuan!"


Setelah asistennya keluar dari kamar, lelaki berwajah blasteran itu menggerutu.


"Wanita barbar, menyebalkan sekali. Tunggu saja, kau akan kusiksa hingga tau yang namanya sopan santun."


Ia melangkah ke arah jendela dan menatap gerbang besar di dapan sana. Tampak seorang lelaki sedang berdiri bersandar pada sebuah mobil yang tampak familiar di matanya.


"Oh, super hero." Ia tergelak misterius.


...*****...


Ketiganya kini berada di dalam mobil, dengan menempuh perjalanan menuju apartemen Jihan.


"Halo juga, Uncle!" sahut Giv singkat.


"Jangan mengajaknya berbicara!" seru Vlora. Entahlah, ada seberkas takut dalam benaknya.


"Why?" tanya Hariss. Lelaki itu menoleh menatap Vlora sekilas.


"Tidak boleh yah tidak boleh!"


Baik Haris maupun Given, sama-sama mengernyit memandang wanita itu dengan bingung, tetapi keduanya kompak tidak ingin bertanya lanjut.


Kebisuan mendominasi sepanjang perjalanan hingga tiba di apartemen Jihan.


"Giv!" pekik Jihan kegirangan dan langsung memeluk tubuh bocah lelaki itu. "Astaga, Sayang! Onty kangen banget," ucap Jihan seraya ingin mencium wajah bocah itu.


"No, Onty! Tidak boleh, Given udah besar, tidak boleh seperti itu lagi." Bocah itu mengacungkan telunjuk dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.


Hariss terkekeh melihat itu, sedangkan Vlora mendelik kesal.


"Jangan menatap putraku seperti itu!" ucapnya dan langsung mendekap Given.


"Astaga, kamu kenapa sih, Ra? Dari tadi sensitif mulu, aku bukan penculik yang harus kamu takuti," ucap Hariss tidak habis pikir dengan tingkah Vlora.


"Iya, Ra. Kamu aneh, orang dia cuman liatin salahnya di mana?" Jihan ikut heran melihat tingkah sahabatnya.


Vlora memalingkan wajahnya. "Aku tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan kalian berdua, karena kami harus segera kembali ke kediaman neraka itu," ucapnya lalu menuju ke dapur.


Ia mengambil minum dan membuatkan makan untuk putranya, sedangkan Jihan dan Hariss kaget setengah mati.


"Maksud kamu apa?" tanya Jihan seraya menyusul ke dapur.


"Aku akan tinggal bersama Given di sana mulai hari ini." Santai sekali ucapan Vlora.


Lagi-lagi baik Jihan maupun Hariss, terbelalak tak percaya.


"Are you kidding me?" tanya Jihan seraya mengguncang puncak Vlora.


"Tidak! Aku punya waktu hanya satu jam saat keluar dari sana, dan tinggal beberapa saat lagi harus sudah kembali," jawab ibu satu anak itu.


Ia memindahkan makanan ke dalam piring untuk sang putra, lalu memanggil anak itu dan menyuapinya.


"Ta-tapi kenapa, Ra?" tanya Jihan lagi.


"Kau lupa apa yang pernah kau katakan sebulan lalu? Masalah aku yang mengatainya tanpa sengaja di butik waktu itu, sekarang aku harus menjalani hukumannya. Keren sekali bukan?" Vlora tersenyum miris.


Jihan menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menarik napas panjang.


"Jadi, penculik itu dia? Tuan Muda Alexander itu?" Vlora hanya mengangguk. "Kenapa aku tidak kepikiran ke sana semalam?" Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. "Tahu gini aku sudah minta bantuan Nyonya besar!"


"No! Kamu jangan membawaku semakin dalam masalah, Jihan! Dia tahu kalau kamu akan bertindak seperti ini, makanya dia tidak mau bertemu denganmu semalam. Dan asal kamu tahu ... nyonya besar pun tidak tahu akan hal ini. Kalau sampai beliau tahu, pria gila itu akan mengurung aku selamanya. Jadi biarkan aku menjalani hukumanku selama enam bulan ke depan, menjadi pelayannya." Penuturan Vlora membuat Jihan terbungkam sedangkan Hariss naik pitam.


Lelaki itu bergegas ingin menemui Tuan Muda Alexander itu, tetapi Vlora mencegahnya.


"Stop, Hariss! Stop mencampuri urusanku! Pulanglah, aku bisa kembali ke sana sedirian."


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...📌📌 Like & Komen 📌📌...


...__________________________...