
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Bunyi ketukan pada pintu kamar, berhasil membuyarkan lamunan seorang lelaki di dalam sana.
"Masuk!"
Tampak seorang lelaki lain membuka pintu lalu masuk, setelah dipersilahkan sang pemilik. Mata lelaki itu tertuju pada benda kotak berwarna merah yang dipegang tuannya.
Kotak perhiasan? Untuk apa? Apa Nona Caroline telah kembali?
Lelaki itu tengah berpikir apa yang dilakukan tuannya dengan kotak sihir itu. Sihir? Mungkin dia berpikir, kotak itu miliki magnet yang telah banyak manarik perhatian kaum hawa. Terbukti bahwa tidak sedikit wanita yang tergila-gila bila melihat kotak ajaib itu.
"Ada apa?" tanya tuannya.
"Maaf, Tuan. Tapi, pihak rumah sakit terus saja menelep-"
"Sudahlah, katakan pada mereka untuk hentikan semua ini!" Sengaja memotong ucapan asistennya. "Seperti kekurangan pekerjaan saja mereka."
Lelaki itu selalu kesal setiap kali asistennya membahas tentang rumah sakit. Beberapa waktu lalu, ia mencurigai satu hal dan diam-diam ingin membuktikannya. Meski sebagian besar hatinya mengatakan bahwa hal yang ia duga pasti terbukti benar. Akan tetapi, entah mengapa hati kecilnya berharap salah.
"Apalagi yang mau dibuktikan? Hal yang ingin aku buktikan, jelas sudah terbukti 'kan?" imbuhnya lagi.
"Tapi, Tuan ...."
"Pergilah! Aku sedang tidak ingin diganggu!" ucapnya pelan, tetapi tegas.
Tidak ingin membantah lagi, lelaki itu pun segera keluar dari kamar tuannya. Selepas kepergian sang asisten, lelaki dengan julukan tuan muda itu lalu mengambil benda yang masih ia pegang, menatap dan meneliti sekali lagi.
"Kenapa bisa sama persis seperti ini? Apa hanya kebetulan? Atau mungkin ... tidak! Tidak mungkin!"
Ia pun lekas memasukan gelang itu pada kotak perhiasan, lalu menyembunyikannya kembali. Lelaki itu lalu meraih ponsel dan menghubungi asistennya yang baru saja keluar beberapa menit lalu.
š² "Aku punya tugas untukmu ... dalam sebulan ke depan, aku harap sudah ada hasilnya."
...*****...
"What the hell! Jadi saya harus ke Indonesia dan menghabiskan hari di sana selama sebulan? Baiklah, saya butuh suasana kerja yang baru!"
Seorang lelaki yang baru saja mengendarai mobil melewati kawasan Newington, cukup kaget tetapi juga senang, kala mendapat telepon dari atasannya.
Memikirkan kerja sambil liburan, adalah hal yang menyenangkan. Apalagi tanpa adanya sang atasan yang selalu memerintah dengan mode menyeramkan. Memikirkannya saja, lelaki yang tidak lain adalah Zack, sangatlah tak sabar.
Indonesia, i am coming!
Ia berseru girang dalam hati tanpa adanya senyum yang mengekspresikan kegirangan itu. Ah, dia memang sama saja dengan atasannya. Manusia minus bicara dan tiada senyum.
...*****...
Dering telepon yang berbunyi dalam ruang kantor room service, sudah lebih dari 3x, tetapi tidak ada order taker yang menjawab.
Melihat itu, seorang wanita cantik yang kebetulan ada di sana, berinisiatif untuk menjawab. Ia juga bekerja di hotel tersebut, pada bagian room service.
āļø "Good morning, Room Service. How may I help you?"
āļø "Morning, iād like to have my breakfast delivered to my room, please!"
āļø "Certainly, Madam. What is your name and room number, please?
āļø "My name is Caroline and it is room 409."
āļø "What would you like to order for your breakfast, Mrs. Caroline?"
Seseorang yang berada di balik telepon saat itu, yang tidak lain adalah tamu hotel, menyebutkan setiap menu yang hendak dipesannya.
Sementara itu, dia yang sedang menerima telepon, dengan lincah sebelah tangannya menulis setiap menu yang disebutkan.
āļø "Your order will be delivered to your room shortly. Enjoy your meal, Mrs. Caroline."
āļø "Err, wait! What is your name? Maybe next time i can contact you again."
āļø "Oh, certainly, Mrz Caroline. My name is Yura."
āļø "Ok, Yura. Thank you!"
Baru saja menutup panggilan telepon, ia dikagetkan dengan seseorang yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ah, maaf, Mba. Tadi ...."
"Aku speechless loh, Ra. Kamu lancar banget ngomongnya. Belajar di mana? Bukannya ngelamar kemarin pake ijazah SMA? Atau ... pengalaman kerja yah?" tanya order taker yang entah baru muncul dari mana.
Wanita yang tidak lain adalah Vlora, hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Benar, Mba. Hanya SMA dan tidak pernah kerja sebelumnya. Kebetulan aja sering dengar Mba-nya ngomong jadi hafal," jawab Vlora dengan sopan.
Sesudah itu ia memberikan slip order pada wanita di hadapannya, dan segara pamit melanjutkan pekerjaannya.
"Yura, Yura." Wanita itu menyebutkan nama yang ia lihat pada name tag Vlora tadi.
"Tidak mungkin dia bisa berbicara selancar itu. Dia pasti punya latar belakang pendidikan dan kehidupan yang bagus. Atau paling tidak ... dia punya pengalaman di tempat lain. Aku harus mencari tahu tentangnya."
...š·š·š·...
...To be continued .......
...___________________...