
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
"Vlora!" seru Jihan yang kini berdiri di hadapannya.
Wanita dengan tinggi semampai itu begitu kaget, kala mendapati sahabatnya yang terduduk pilu dengan tatapan nanar, di ruang tengah hunian cukup besar itu.
"Ra ... hei, ada apa? Kamu kenapa kayak gini?" tanya Jihan bingung.
Belum pernah ia melihat sahabatnya menangis seperti ini. Meskipun ia tahu, bahwa wanita ceking itu kerap merasa sakit hati dengan kelakuan suaminya, tetapi sekali saja ia belum pernah meneteskan air mata untuk hal itu.
"Kenapa sih? Ayo, cerita sama aku!" Menangkup pipi tirus sahabatnya.
Vlora masih diam dalam tangis yang tak terdengar. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari sahabatnya, tak jua kunjung dijawab. Semua hal tampak hambar dan kosong dalam pandangannya.
Satu-satunya hal yang terus berkelebat dalam manik wanita itu, hanyalah laku kasar sang suami dengan raut menyebalkan. Ucapan-ucapan remeh lelaki itu, terus terngiang dan membising di telinganya.
Jihan yang sudah tidak bisa lagi untuk menahan, memaksa Vlora agar bangkit. Ia memapah tubuh lemah nan rapuh itu, menuntunnya ke sofa.
"Apa yang terjadi? Bilang sama aku, Ra! Ngomong dong sama aku," cecar Jihan tak sabar.
Kali ini, Vlora menoleh pada sahabatnya itu dengan tatapan datar. Beberapa detik kemudian, tangannya terangkat menghapus basah yang berjejak di pipi mulus nan tirus.
"Aku mau ke tempat kamu. Gak usah jalan-jalan yah, aku mau nenangin pikiran aja dulu." Vlora membatalkan rencana awal mereka untuk jalan-jalan.
"Ok, ayo!" Jihan pun menyetujui dan mengajak Vlora ke apartemennya.
Vlora bangkit dari duduknya hendak ke kamar. Akan tetapi, baru saja menapaki anak tangga pertama, ia dikagetkan dengan sosok sang putra yang berdiri di ujung tangga, di atas sana. Wajah yang tidak pernah menampilkan senyum itu, menatap sang ibu dengan lekat.
Apa dia melihat dan mendengar semuanya lagi?
Batin Vlora kacau balau. Ia takut jika bocah itu melihat semua yang terjadi beberapa menit lalu. Tidaklah baik untuk anak seusia Given, harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya seperti semalam dan tadi.
Vlora menyetel senyum di wajah cantiknya, dengan langkah sangsi menggapai tiap undakan.
"Halo, Sayang. Makan dulu, yuk!" ajak Vlora dengan ceria. Sebisa mungkin ia harus menutupi luka yang baru saja tergores ucapan suaminya.
"Katanya mau ke tempat onty Jihan," sela bocah itu. Vlora tertegun untuk sesaat.
Ini dengernya sebagian saja atau semuanya sih?
"Iya, Sayang. Tunggu mommy siap-siap dulu, baru kita ke tempat onty Jihan. Sambil nunggu mommy, Giv makan dulu yah." Meminta sang putra untuk menunggu.
Vlora senang melihat wajah tampan yang tidak pernah tersenyum itu. Tangannya lalu mengacak pelan rambut sang putra.
"Kalo gitu, Giv tunggu mommy aja deh," ucapnya dan segera melangkah menuruni tangga.
Netra Vlora mengantarkan tiap derap kecil itu, hingga menginjak lantai satu di bawah sana. Ia pun bergegas menyiapkan diri.
Butuh tiga puluh menit bagi Vlora menyelesaikan aktivitas mandi dan berganti. Wanita cantik satu ini, selalu tampil sederhana serta apa adanya, sejak menikah dan memiliki anak. Ia tidak suka banyak berdandan, tetapi sebaliknya, ia senang terlihat natural.
Dahulu, ia adalah salah satu the most wanted sejak di bangku sekolah menengah atas, hingga menjalani kuliah beberapa bulan, masih tetap menjadi incaran para senior. Cantik, pintar, dan selalu tampil modis. Kehidupannya yang dulu pun terbilang cukup glamor. Banyak lelaki yang menggilainya, dan ia malah terperangkap dalam cinta seorang womanizer.
Vlora segera menuruni dan menemui anak serta sahabatnya.
"Eh, udah pada habis makan toh? Katanya tadi mau nungguin mommy," ucap Vlora kaget.
Ia kaget mendapati dua orang berbeda generasi dan juga berbeda genre itu, baru saja menyelesaikan makan siang mereka.
Mood-nya lagi baik gini, berarti ... fix dia gak denger pertengkaran tadi. Ah, syukurlah!
"Onty tadi nangis gara-gara lapar katanya, Mom!" Jawaban sang anak membuat Vlora hampir saja tertawa. "Ya sudah, Giv temani ... kasihan." Polosnya jawaban itu, membuat dua wanita dewasa di sana tergelak.
Jihan yang tengah minum saat itu, sampai menyembur tak tertahan. Di samping itu, kegalauan Vlora mendadak sirna terhapus tawa.
"Menyedihkan sekali Onty kamu, Nak." Vlora berucap di sela-sela tawanya.
"Iya, Mom. Makanya itu jangan ditertawain, tambah kasihan nantinya." Dan Vlora malah semakin tertawa lepas.
Jihan bangkit dan membereskan meja, sedangkan Given memaksa ibunya untuk makan, tetapi Vlora menolak dengan lembut.
Ketiganya pun lalu bergegas meninggalkan rumah menuju ke apartemen Jihan. Sebelum masuk ke mobil, tanpa Vlora ketahui, Given dan Jihan saling melemparkan tatapan dengan kedipan kompak.
Keduanya tersenyum dan ber-high five dari jarak jauh, lalu segera menyusul Vlora yang sudah lebih dulu masuk ke mobil.
Jihan segera menginjak pedal gas dan melesat keluar dari pekarangan rumah sahabatnya.
"Thanks, Best." Vlora memecah keheningan yang tercipta.
"What for?" tanya Jihan.
"Sudah membuatnya banyak berbicara tadi, dan juga sudah membujuknya untuk makan," jawab Vlora dengan nada rendah.
Jihan tersenyum simpul dengan pandangan sekilas ke arah spion. Lagi-lagi ia mengedipkan mata, kala matanya bersiborok dengan netra bocah yang duduk di jok belakang.
Gak tau aja kamu, Ra, sehebat apa putramu itu berusaha membuatmu untuk tersenyum. Jadi pengen punya anak kayak gini, ha-ha-ha. Nikah aja belom, udah ngayal punya anak, mengsedih.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Jempolnya dikondisikan yah 😉...
...___________________________...
Jangan lupa mampir di karya teman AG pagi nih :
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?