Not You

Not You
15. Kesialan



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Vlora menoleh ke arah sumber suara yang lumayan mengagetkannya saat itu. Di sana, tampak seorang wanita cantik dengan wajah yang tak lagi asing.


Vlora tersenyum membalas durja judes di hadapannya, meski tidak dapat dipungkiri, bahwa ia tengah kaget dan juga kesal melihat siapa orang di hadapannya kini.


Ah, dia ... apa anaknya juga bersekolah di sini?


Sebuah perasaan tidak enak tiba-tiba menyelip dan mengusik hati ibu satu anak itu. Ia berbalik dan menoleh sejenak ke arah gedung sekolah, sebelum kembali menatap rupa menyebalkan di hadapannya.


"Hai," sapa Vlora berusaha ramah.


Wanita di hadapannya tidak langsung membalas, tetapi malah memindai Vlora dari atas hingga ke bawah, begitu lagi sebaliknya, dari bawah hingga ke atas.


Sh*it! Tidak pernah berubah ini manusia. Hah, tenanglah, Vlora ... apapun yang kamu dengar nanti, stay cool seperti biasa.


Vlora yang merasa risih dan benci dengan tatapan wanita itu, membatin menguatkan hati agar tidak terpancing cercaannya nanti.


"Jadi seperti ini sekarang, penampilan Nyonya Tristan? Pantesan aja si Tristan ... ops, sorry! Mulutku suka to the point," ucap wanita itu sembari menutup mulutnya menggunakan tangan dengan gerakan gemulai.


Calm down, Vlora! Calm down ....


Vlora yang sudah kesal sejak awal, semakin dibuat kesal dengan ucapannya. Namun, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat Vlora tidak ingin keluar rumah. Akan tetapi, demi menghargai diri sendiri seperti yang dikatakan Jihan kemarin, Vlora berusaha menepis kuat rasa insecure dalam dirinya.


Menaklukkan diri sendiri adalah hal yang tidak mudah, tetapi itu yang tengah dilakukan Vlora sekarang.


Segaris senyum tercetak di wajah tirusnya yang cantik, memperlihatkan kepada wanita itu, bahwa omongan dia, seperti angin lalu yang tidak berdampak apapun bagi Vlora.


"Never mind. Seperti itulah seni hidup. Kita yang jalanin, orang lain yang mengomentari." Vlora terkekeh. "By the way ... anak kamu sekolah di sini juga?" lanjutnya bertanya.


Wanita itu mendengus merasa jengkel dengan pertanyaan sekaligus sikap Vlora yang tenang.


"Iya dong, bahkan gajiku sangat lebih dari kata cukup untuk membiayai pendidikannya di sekolah ini," ucap wanita itu dengan gaya angkuh. "Lagian ... ayahnya selalu mentransfer uang dalam jumlah yang tidak sedikit." Menatap Vlora dengan pandangan meremehkan. "So, bukan hal yang perlu diherankan, jika anakku bersekolah di sekolah mahal seperti ini," tandasnya sambil mengibaskan rambut.


Lagi-lagi Vlora tersenyum, tetapi tanpa wanita di hadapannya itu tahu, seonggok daging di dalam sana terasa dicubit. Vlora mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, lalu berpamitan lebih dulu.


Ia bergegas masuk ke mobil, lalu sang sopir pun segera melesat dari sana. Sementara itu, wanita yang masih berdiri angkuh di depan sekolah, tertawa remeh.


"Cih, sok pulang duluan biar aku tau kalau dia sibuk, padahal mah cuman ibu rumah tangga." Wanita itu berbicara sendiri.


Sepanjang perjalanan, Vlora memejamkan mata, berusaha mendamaikan suasana hatinya yang tiba-tiba saja berantakan saat bertemu wanita tadi.


Wanita sial*an! Kenapa harus bertemu dia sih? Arrrgghh ....


"No, no! Putar balik, Pak! Tolong antarkan Vlora ke ...."


...*****...


"Terima kasih! Tunggu Vlora yah, Pak. Vlora tidak lama kok," ucapnya pada sang sopir lalu segera turun dari mobil.


Ia melangkah cepat hendak memasuki sebuah gedung berlantai dua, dengan mood yang sudah hancur. Pandangannya selalu tertuju ke bawah, menyembunyikan wajah tirus yang tampak kusut.


Tanpa perlu menoleh, Vlora segera mendorong pintu kaca di hadapannya dan langsung masuk. Seluk beluk tempat itu, sudah ia hafal dengan mantap, sehingga mudah baginya melangakah tanpa perlu mencari arah tuju sana sini.


Vlora berjalan menuju arah tangga, hendak naik ke lantai dua. Sayangnya, kesialan lagi-lagi menghampiri ibu satu anak itu. Baru saja kakinya memijaki undakan pertama, tiba-tiba tubuh ceking itu terasa terdorong kencang ke belakang hampir terlempar.


Namun, naas tidak sepenuhnya menguasai. Vlora memekik dengan mata yang terpejam takut. Takut membayangkan kenyataan memalukan jika ia sampai terjatuh.


Hening merajai selama beberapa detik, tetapi Vlora tidak merasakan sakit apa-apa. Ia malah merasakan sentuhan hangat dan semerbak harum mint, berpadu dengan wangi khas sedikit tidak asing yang menguar mendominasi penciumannya.


Perlahan ia membuka mata dan sangat terkejut mendapati sesosok adam di depan mata, tengah merangkul tubuh kurusnya.


Cepat-cepat Vlora mendorong tubuh kekar di hadapannya agar menyingkir, tetapi saat lelaki itu melepaskan tangan, Vlora kembali hampir terjatuh.


"Apa-apaan sih? Ngomong dulu kek, jangan main lepas saja dong," omel Vlora. Dengan kesal ia memukul lengan besar yang masih setia menahan berat badannya yang tidak seberapa.


Di samping itu, laki-laki di hadapannya hanya diam menatap dingin. Dengan sekali gerakan, ia membenarkan posisi Vlora agar dapat berdiri dengan baik, kemudian ia menarik tangannya dari tubuh wanita ceking itu.


"Gak perlu bilang makasih kan? Orang kamu yang salah." Vlora melirik kesal, sementara lelaki itu menyorot tajam.


"Apa?" Vlora melotot. "Awas sana, minggir!" Ia berusaha mendorong tubuh kekar itu meski kenyataannya tidak bergerak sama sekali.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi, Kak?"


Sebuah suara dari atas, menginterupsi suasana memanas dan kaku di antara dua orang asing itu.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Jempolnya dikondisikan yah 😍...


...______________________________...


AG mau promo lagi nih 😁 Jangan bosen yah. Malir saja jika ada waktu atau tertarik