
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Dua cangkir cokelat hangat less sugar ditemani sandwich daging bacon, tersaji di depan dua wanita cantik di sana. Siapa lagi kalau bukan Vlora dan Jihan.
Keduanya kini tengah berada di Elephant House, sebuah kafe kecil di Edinburgh. Kafe kecil ini dinobatkan sebagai tempat legendaris, di mana salah satu sudut dari tempat tersebut, adalah spot favorit seorang JK Rowling dalam menggarap karya agungnya yang berjudul Harry Potter.
Legendarisnya kafe kecil ini, bukan saja karena Harry Potter yang terlahir di sana. Namun, serial novel populer lainnya seperti Ladies Detective Agency garapan Alexander McCall Smith, pun lahir di salah satu pojok Elephant House ini.
Hangat, itulah kesan yang selalu dirasakan Vlora dan Jihan ketika masuk di dalam tempat ini. Deretan lukisan gajah merupakan ikon dari tempat tersebut.
Jendela besar di pojokan sedikit terbuka, dengan pongahnya memperlihatkan keindahan kastil Edinburgh yang begitu estetik. Tak heran, jika JK Rowling dan Alexander McCall Smith pada masanya, senang menulis di tempat ini.
Aroma kopi, kue, dan cokelat yang menyeruak ke seluruh sudut-sudut kafe, memberikan ketentraman bagi setiap pengunjung. Namun, bagi Vlora sendiri, tidak bisa menikmati semua itu dengan rahayu.
Wanita cantik itu hanya terdiam dengan mulut yang terus terkatup. Telinganya pun seolah tuli di keramaian tempat itu. Setiap tawa dari pengunjung lainnya, maupun obrolan Jihan dan seorang pria di hadapannya, tidak mampu menembus pendengaran Vlora.
Setiap indra wanita cantik itu, melanglang buana entah ke mana, tertuju buta di mana putranya berada.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Jihan pada lelaki di hadapannya.
"Sama-sama, Nona Jihan. Kehadiran Anda sangat dinantikan. Saya pamit duluan, Nona." Lelaki itu bangkit dari duduknya seraya mengulurkan tangan pada Jihan.
Jihan pun berdiri dan menyalami lelaki itu, sementara Vlora masih saja dalam mode melamun.
"Jangan lupa habiskan minuman Anda, Nona!" Lelaki itu berkata pada Vlora.
Tangannya yang berada tepat di hadapan wanita itu pun tidak dihiraukannya, hingga ia manarik tangganya kembali.
Jihan menyenggol lengan sahabatnya, tetapi tetap saja tidak mempan menimbulkan reaksi pada wanita itu.
Lelaki itu hanya menatap Vlora sejenak kemudian pamit dan berlalu pergi. Tinggallah dua wanita cantik di sana dengan suasana hati yang berbeda.
"Ra," panggil Jihan tapi tak jua didengarkan. "Ra, Vlora!" Akhirnya ia sedikit memekik hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung lainnya.
Meskipun begitu, setidaknya hal itu berhasil menyadarkan Vlora kembali. Ia terperanjat dan lekas menoleh ke arah Jihan.
"Ada apa, Ji?" tanya Vlora dengan wajah bingung.
Jihan menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah sang sahabat. Sungguh terlihat sangat memperihatinkan, dan Jihan tidak tega.
"Segera habiskan minumanmu dan kita pulang!" jawab Jihan singkat dan padat.
"Kita pulang sekarang saja, Ji." Vlora mengalihkan pandangannya dan hendak berdiri, tetapi dicegah oleh Jihan.
"Kamu belum makan dan minum apapun dari tadi. Cepat habiskan, dan kita bisa pulang!"
Tidak peduli dan tidak ingin berdebat, Vlora pun bangkit dan langsung bergegas keluar dari dalam kafe. Mau tak mau, Jihan pun bangkit dan menyusul sahabatnya itu.
Di dalam mobil pun tidak ada pembicaraan sama sekali. Baik Jihan maupun Vlora, sama-sama diam dan saling menjaga lisan. Jangan sampai emosi membuat keduanya berujung debat. Meraka sudah sama-sama mengenal watak masing-masing.
Kamu di mana, Giv? Mommy-mu cemas, dan onty tidak tahu harus melakukan apa? ... batin Jihan.
...*****...
Sehari berganti lagi dan kabar tentang keberadaan Given, tak kunjung didapatkan Vlora hingga saat ini. Memikirkan keberadaan sang putra, membuat Vlora tidak bisa makan dan tidur dengan benar. Waktunya tersita hanya untuk meratapi hilangnya sang anak.
Hal itu membuat imun tubuh wanita ceking itu menurun dan akhirnya jatuh sakit. Jihan dibuat kacau dengan badai yang kini menghantam kehidupan sahabatnya.
Malam ini, ia harus menghadiri undangan yang diberikan pria saat di kafe kemarin malam. Namun, di satu sisi, ia tidak sanggup meninggalkan Vlora sedirian dalam kondisi depresi dan juga sakit.
"Pergilah, Ji! Aku bukan anak kecil. Aku sudah terbiasa sendiri dan ditinggal akhir-akhir ini." Ucapan itu bukannya menenangkan Jihan, tetapi semakin mengacaukan kewarasannya.
Jihan menolak dengan tegas, membuat pertengkaran kecil terjadi antara keduanya, hingga berakhir dengan Jihan yang mengalah.
Wanita cantik dengan tinggi semampai itu bergerak dengan berat hati, meninggalkan sahabatnya sendirian dalam kubangan nestapa. Ia pun lalu bergegas menuju tempat yang tertera pada selembar kartu undangan.
Tiba di sana, Jihan sedikit insecure melihat betapa megahnya acara yang digelar. Wanita itu memupuk kembali kepercayaan diri, lalu melangkah masuk dengan anggun dan pasti.
Tiba di dalam sana, Jihan bingung dengan tidak adanya satu manusia pun yang ia kenal. Matanya sibuk menyapu seisi ruangan mencari sosok pria kemarin yang ia temui di kafe. Akan tetapi, objek yang diincar netranya tidak terlihat, melainkan sesosok kecil yang sangat ia kenali.
Jihan memicingkan matanya demi meyakinkan hati, bahwa itu memang benar-benar sosok anak lelaki yang sukses membuat sahabatnya drop.
"Given?
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Aktifkan jempolnya yah 😍...
...__________________________...