Not You

Not You
52. I get it



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


"Apa yang sudah kamu lakukan, Yura?" Seorang wanita yang adalah order taker, mengadili Vlora karena perbuatannya tadi.


"Astaga, siap-siap kamu dipanggil manager. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Yura. Jangan sampai karena kelalaian kamu, nama baik hotel ini jadi tercoreng. Ingat, kenyamanan tamu adalah prioritas kami!" ucap wanita itu lagi dengan tegas.


Vlora hanya menunduk lalu mengiyakan. Meski demikian, dalam hatinya tetap bersorak atas apa yang dia lakukan tadi. Tidak ada penyesalan ataupun ketakutan di sana, karena si cantik itu sudah siap dengan segala konsekwensinya.


Baru saja wanita tadi habis berbicara, apa yang ia katakan benar terjadi. Vlora kemudian dipanggil pihak manager room service.


Hanya sedikit teguran dan nasehat yang ia dapatkan dari atasannya. Setelah itu, ia kembali melakukan tugasnya yang sempat kacau tadi.


Ia hanya perlu menggantikan minuman yang sempat tumpah tadi dan juga merapikan kembali menu yang tersedia di atas trolly.


Vlora kembali mendatangi kamar tamu yang ia tuju tadi. Namun, saat melewati tempat accident tadi, lagi-lagi matanya melirik pintu kamar yang mungkin saja dipesankan dua manusia tadi.


I wanna, i get it ....


Batin Vlora sedang bersenandung riang dengan pikiran-pikiran nakal.


Tiga kali ketukan begitu ia tiba di depan pintu kamar tamu yang menelponnya. Pintu itu terbuka dengan memperlihatkan seorang wanita cantik dan sek*si.


Wanita itu senang melihat kedatangan Vlora, seolah meraka telah berkenalan sebelumnya. Tentu saja Vlora bingung melihat tingkah wanita itu yang terkesan sok akrab.


Vlora juga kaget mendapati seorang lelaki tampan di dalam kamar itu. Pikirnya hanya si wanita sendirian, karena pesanannya pun hanya untuk satu orang saja.


Mengabaikan hal-hal itu, Vlora lalu menata semua bawaannya tadi di atas meja, menyajikan dengan sangat rapi dan indah. Tanpa ia sadari, lelaki di sana terus saja menatap dan memperhatikan gerak-geriknya.


Ia kemudian mempersilahkan tamunya untuk menikmati sajian dan hendak pamit dari sana. Namun, betapa kaget ia kala mendengar wanita di hadapannya saat itu, berbicara dengannya menggunakan bahasa Gaelik Skotlandia (bahasa resmi Edinburgh).


Apa mereka berasal dari sana? ....


Batinnya bertanya-tanya, sedikit mengusik pikirannya. Entahlah, tetapi mendengar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kota seribu kastil itu, banyak perasaan aneh yang berkecamuk dalam Vlora. Ia pun lekas berpamitan dan keluar dari sana.


...****...


Keesokan harinya, Vlora bergegas berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ada sesuatu yang membuatnya ingin segera menginjakan kaki di hotel mewah, tempatnya mengumpulkan rupiah.


Hari itu, Vlora tampak terburu-buru, tidak seperti biasanya yang tetap selow. Sesampainya di hotel, ia berjalan cepat ke bagian ruang kantor room service.


"Selamat pagi, Mba Yura!" sapa seorang karyawan menggunakan seragam yang sama dengannya.


"Pagi, Cantik. Mbah Monic-nya udah ada belum?" tanya Vlora.


Gadis cantik yang berbicara dengannya, belum sempat juga menjawab, orang yang ditanyai Vlora sudah muncul dan memberi salam.


"Selamat pagi, Waiters cantik! Kebetulan sekali kamu sudah hadir, Ra."


Kemunculan wanita itu membuat Vlora memejamkan mata dengan desa*han nafas yang tertahan.


Telat lagi aku. Udah buru-buru juga, kacau deh semuanya ....


Kesal Vlora dalam hati. Apa yang hendak ia lakukan pagi itu, mendadak buyar.


"Ada apa, Mba?" tanya Vlora sambil memasang senyum cantik. Padahal dalam hari sedang kesal setengah mati.


"Semalam, mba ditelepon manager. Pagi ini beliau nungguin kamu di ruangannya," ucap si order taker.


"Hah? Ngapain, Mba? Aku ada salah lagi yah?" Vlora tampak kaget. "Duh ... gimana nih, Mba. Aku ... aku ...."


Bunyi dering telepon, menghentikan ucapan Vlora. Apa yang baru saja disampaikan order taker itu, benar-benar nyata. Padahal, Vlora berharap wanita hanya bercanda.


"Tunggu apalagi? Pergilah! Jangan membuat beliau menuggu, karena hukumanmu akan semakin berat!" Wanita itu tertawa di akhir kalimatnya, membuat Vlora semakin ketakutan.


"Belum juga bikin gara-gara, udah dapat hukuman duluan," gumam Vlora dengan raut cemberut.


"Bilang apa tadi?"


"Ehe ... gak, Mba. Bye, aku pergi sekarang."


Vlora lalu dengan cepat berlalu dari sana, dan menghadap atasannya. Sepanjang jalan, si cantik itu berkomat-kamit dengan wajah pasrah.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...___________________...