
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Hujan deras di luar sana, serasa mengguyur dan menghanyutkan setiap harapan serta mimpi sepasang suami-istri itu. Baik Tristan maupun Vlora, sama-sama terluka dan hancur.
Bagi Vlora, harapan agar Tristan dapat berubah suatu hari nanti, serta mengarungi bahtera rumah tangga yang lebih baik, pupus sudah. Mimpi untuk memberikan Given status yang jelas, sirna dalam sekejap.
Di samping itu bagi Tristan, Given adalah segalanya. Bukan Vlora yang menjadi tujuannya selama hampir tujuh tahun ini, tetapi Given. Anak lelaki berwajah tampan itu adalah impiannya. Impian untuk meneruskan semua yang ia miliki.
Menjadi anak satu-satunya dalam keluarga yang terbilang cukup mampu, membuat Tristan dan orang tuanya sangat bahagia ketika menyambut kelahiran Given enam tahun silam. Namun, impian itu pun kini pupus dan sirna.
Setiap butiran air hujan yang jatuh dari langit, layaknya harapan Tristan yang gugur satu persatu, kemudian tergenang dalam wadah kehancuran. Lelaki itu pun marah, dan menghampiri Vlora.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Tristan meluapkan rasa sakit hati dan amarahnya pada wanita malang itu. Sebelah tangannya mencekik leher Vlora tanpa belas kasih.
"Jadi kau telah membohongiku selama bertahun-tahun? Kau berani mombodohiku dan kedua orang tuaku selama ini? Wanita jaha*nam, wanita sia*lan, ke neraka saja kau sekalian!" teriak Tristan dengan cekalan yang semakin kuat.
Tubuh kurus Vlora meronta-ronta ingin mencari celah agar dapat menghindar, tetapi sedikit pun usahanya tidak lantas membuat Tristan melepaskan cengkeramannya. Lelaki itu bergeming dengan sorot tajam yang seolah ingin menguliti Vlora.
"Aku pikir hanya kecewa di malam itu saja, tapi ini ... ini jauh lebih sakit dari pahitnya kenyataan di malam itu. Aku kira selama ini aku memelihara seekor kucing, tapi ternyata yang kupelihara adalah seekor rubah betina." Tristan berucap penuh penekanan yang berpadu dengan penyesalan.
Vlora yang semakin kekurangan pasokan oksigen, terus berusaha memukul, bahkan mencakar tangan Tristan yang masih setia menempel di lehernya. Lelaki itu baru berhenti, ketika Vlora dengan tenaga yang tersisa, menancapkan kukunya yang runcing pada lengan besar lelaki itu.
"Sh*it!"
Darah segar mengucur dari luka yang ditorehkan Vlora pada lengannya, membuat Tristan menghempaskan tubuh ceking itu dengan kasar.
Vlora terjerembah dan jatuh ke atas lantai begitu saja. Meskipun terbatuk-batuk, sesegera mungkin wanita itu menghirup dan melahap oksigen di sekitar dengan rakus, agar memenuhi kembali kebutuhan paru-parunya.
Tristan yang masih dipenuhi amarah, kembali berjongkok dan meriah rambut bagian belakang Vlora dengan kuat, memaksa wanita itu menengadah dengan iba.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku, Vlora?" teriak Tristan tepat di depan wajah Vlora.
"Kenapa kau tega menjadikanku pelampiasanmu, Breng*sek?" Tristan menghempaskan wajah cantik Vlora dengan kuat hingga membentur tepian ranjang yang keras. Kening wanita itu pun mengeluarkan darah yang sama seperti pada lengan Tristan.
"Do you know? Aku yang waktu itu sungguh-sungguh menginginkanmu, bertekad akan menghentikan kebiasaan buruk yang suka berburu wanita-wanita malam. Tapi begitu tau tentang dirimu, aku kecewa, Vlora. Karena itulah, aku terpaksa melanjutkan kembali kesenangan dulu untuk menyembuhkan kecewaku terhadapmu," tutur Tristan dengan sangat menyesal, bahkan suaranya mengecil di ujung kalimatnya.
Di samping itu, Vlora hanya diam dengan dada yang terasa sesak dan paras cantik yang bermandi tangis. Seburuk apapun perjalanannya selama ini, rumah tangga yang tengah berada di ambang kehancuran itulah yang menjadi payung untuknya dan Given selama enam tahun ini.
Rumah tangga bak di neraka itulah yang sudah memberinya dan Given status yang baik di mata dunia. Perpisahan bukanlah tujuan Vlora, bukan juga keinginannya.
Apapun alasannya dan Tristan saat ini, Vlora jelas terluka dan kecewa, bahkan ia merasa sangat hancur. Sama halnya juga dengan Tristan.
"Why?" tanya Tristan dengan nada berbisik.
"Harusnya aku yang terluka bukan kamu." Menunjuk dada Vlora.
"Aku pikir aku yang berdosa menyakitimu, nyatanya aku sendiri yang paling tersakiti saat ini. Kau kejam, Ra!" Setetes air mata merebas dari manik legam itu. Sesak membuat Tristan menunduk dan menjeda ucapannya.
Mungkin Vlora tidak bisa melihat dan merasakan, bahwa seonggok daging di balik dada lelaki itu tengah tersayat. Luka di dalam sana sedang menganga menelan pahit yang mematikan segenap rasa.
Tristan menepis basah yang berjejak menyusuri rahang tegasnya, lalu ia pun tertawa bodoh.
"Aku mempermainkan banyak hati hanya untuk melampiaskan kekecewaanku padamu. Tapi kau malah sebaliknya, menjadikanku pelampiasanmu atas perbuatan orang lain." Tristan menggeleng tidak percaya.
"Who is he?" tanya Tristan dengan datar.
Vlora ikut menunduk, tanpa berniat membuka suara sedikit pun.
"Siapa dia, Vlora? Boleh aku tahu?" tanya Tristan pelan dan Vlora menggeleng lemah.
Lelaki itu membuang nafas secara kasar, kemudian ia menengadahkan wajah ke arah langit-langit kamar dengan mata yang terpejam, sembari menggigit bibirnya kuat.
"Katakan siapa dia, Vlora!" secepat kilat ia kembali menunduk menatap Vlora, lalu mencengkram pipi tirus wanita itu dengan kuat. "Katakan padaku!" teriaknya dengan murka hingga Vlora terperanjat.
Namun, lagi-lagi Vlora menggeleng dengan bibir yang setia terkatub. Hal itu malah menimbulkan amarah bagi lelaki di hadapannya.
"Siapa laki-laki itu, Vlora? Siapa brengsek itu? Jawab aku, Vlora Yukika!" teriakan Tristan menggelar. Suaranya memecah, berlomba dengan riuh angin dan deras hujan di luar sana.
Tidak dapat lagi menahan emosi dalam dirinya, Tristan hampir saja melayangkan bogem ke wajah Vlora. Namun, tangan itu menggantung di udara kala mata indah Vlora kembali menggugurkan buliran-buliran bening.
Tristan berbalik arah mendaratkan kepalannya pada dipan tempat tidur. Vlora yang memejamkan matanya ketakutan saat itu, refleks membuka mata dan meraih tangan Tristan. Namun, lelaki itu menampik dengan keras, hingga Vlora tersungkur lagi.
"Jangan sekali-kali kau menyentuhku! Aku tidak sudi, bahkan kebencianku padamu semakin besar, Vlora. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku begitu mencintai dan menyayangi Given. Tidak, tidak ... kau tidak akan pernah tau sebesar apa aku menyayangi bahkan teramat menginginkannya." Tristan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Menghapus rasaku padamu saja sulit kulakukan, lalu bagaimana aku bisa merelakan dan melupakannya?" Tristan bangkit dari duduknya.
Ia bergerak memporak-porandakan seisi kamar tidur itu dengan brutal. Entah Tristan ataukah Vlora, keduanya sama-sama tampak sangat kacau.
Vlora ikut bangkit dari duduknya dengan lemah, lalu berusaha menghentikan Tristan. Sejujurnya, ia pun iba melihat lelaki yang masih berstatus suaminya itu. Namun, rasa kecewa dan perih di hatinya, terasa jauh lebih menyakitkan.
"Aku mengakui aku salah!" Suara Vlora berhasil menghentikan keributan yang dibuat Tristan.
"Tapi tidakkah kau merasa bahwa kau yang lebih menyakitiku? Aku yang awalnya menerima lamaranmu, berusaha keras untuk bisa mencintaimu, menerima semua kebiasaan burukmu. Tapi kau, sedikitpun kau tidak bisa melihat itu. Aku selalu hidup dengan harapan besar selama ini, bahwa suatu hari nanti kau akan berubah dan mencintaiku dengan sungguh. Tapi kau sudah terlalu jauh untuk di sadarkan, Tan!" lirih Vlora.
"Aku harus apa? Aku tidak bisa apa-apa selain diam dan menyimpan semua ini. Kalau saja kau bisa me ...."
"Cukup, Vlora!" Tristan dengan cepat menghentikan ucapan wanita yang berdiri di belakangnya.
Ia pun lalu berbalik dan menghadap Vlora.
"Keluar dari rumahku sekarang juga!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Please, like and comments!...
...___________________________...