Not You

Not You
45. Rindu Uncle



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Satu bulan kemudian ....


Jakarta, Indonesia, Januari 2022.



"Good morning, Mom!"


"Good morning, My Prince! Ayo, sarapan dulu!"


Percakapan kecil antara dua orang ibu dan anak, terdengar mewarnai pagi di sebuah kontrakan kecil yang sederhana. Keduanya tampak tenang menikmati sarapan mereka pagi itu.


"Mom," sapa sang anak di sela-sela makannya.


"Ya, Sayang!"


"Giv rindu sama uncle tampan," ucap anak itu lagi dengan raut sendu.


Wanita dewasa yang baru saja memasukkan sesendok penuh makanan ke dalam mulutnya, langsung menyemburkan makan itu kembali begitu mendengar ucapan putranya.


Tangannya dengan cepat meraih segelas air putih dan meneguknya. Dengan sedikit terbatuk-batuk, ia menatap sang putra begitu lekat.


Bukannya kangen sama daddy-nya, malah kangen sama Grayman itu.


"Ada-ada saja kamu, Giv. Cepatan selesaikan sarapanmu! Kita bisa terlambat nanti."


Wanita yang tidak lain adalah Vlora, berdiri dari duduknya, sengaja menghindari obrolan dan pertanyaan sang putra.


Sebulan sudah, ibu dan anak itu berdiam di sebuah kontrakan sederhana di Jakarta. Selepas dari bandara sebulan lalu, Vlora membawa anaknya ke kediaman kedua orang tuanya.


Nestapa yang melanda kisah hidupnya, ternyata tidak hanya terjadi di Edinburgh. Hari pertama menginjakkan kaki di tanah air, Vlora kembali dihantam badai.


Pahit ditelannya saat ibu kandung tidak menerima kedatangannya bersama Given. Wanita paruh baya yang dipanggilnya ibu, begitu marah dan menolaknya. Bukan saja itu, ia bahkan tidak menerima Given sama sekali.


Inilah alasan Vlora tidak pernah ingin kembali ke Indonesia. Sekedar berlibur pun tidak. Namun, keadaan terdesak mendorongnya untuk bertolak dari negeri seribu kastil ke negeri seribu candi.


Vlora memutuskan untuk tinggal berdua bersama putra semata wayangnya, di sebuah kontrakan kecil dan sederhana dengan bantuan sang ayah yang memang sangat menyayanginya, juga bantuan sahabat baiknya, Jihan.


"Di sini sangat membosankan. Orang-orang juga berbicara seperti mommy. Bahasa mereka aneh," gumam anak lelaki itu.


Sudah sebulan berdiam di tanah kelahiran ibunya, tetapi bocah berwajah tampan itu belum bisa mengerti bahasa Indonesia dengan baik. Ia pun masih sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.


Alasan inilah, Vlora nekat menyekolahkan sang putra pada salah satu sekolah berstandar internasional di Jakarta.


"Ayo, Sayang! Onty sudah menunggu di depan," ucap Vlora begitu mendapat telepon dari sahabatnya.


Keduanya pun bergegas keluar rumah dan berjalan menyusuri sebuah lorong kecil yang sempit, hingga mencapai jalan besar.


"Sorry, selalu merepotkan," ucap Vlora begitu masuk di dalam mobil.


Jihan, sahabatnya, selalu mengantar jemput dia dan Given setiap hari. Wanita lajang itu sempat menawarkan pada Vlora untuk tinggal saja di rumahnya, atau menempati apartemennya, tetapi dengan tegas Vlora menolak.


Ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan dan menyusahkan sahabat baiknya itu sejak di Edinburgh. Kini Vlora ingin bisa hidup mandiri tanta bergantung pada siapapun.


Oleh karena itu, sejak sebulan lalu ia memutuskan mencari pekerjaan dan diterima bekerja pada sebuah hotel sebagai room service. Itu pun atas bantuan ayah Jihan. Vlora sangat bersyukur karena adanya sosok sahabat baik itu dalam hidupnya.


"Ck, gue bakal maafin kalo ditraktir habis bulan," ucap Jihan sembari melajukan mobilnya kembali.


Vlora hanya tergelak mendengar ocehan sahabatnya yang sudah pasti hanya candaan.


"Onty bicara apa itu, Mom? Giv juga sering mendengar teman-teman di sekolah mengatakan gue-lu. Apa itu?" tanya Giv dari jok belakang.


Jihan berdecak. "Cepatlah beradaptasi, Sayangnya onty. Sabtu nanti, onty ajak jalan-jalan yah. Dikurung terus sama mommy kamu nanti tidak bisa mengenal Indonesia." Jihan tersenyum dan melirik di wanita di sampingnya.


"Sungguh, Onty? Yeeiii ... aku menanti hari itu tiba dengan tidak sabar." Giv begitu excited mendengar ajakan sahabat dari ibunya.


Obrolan-obrolan kecil itu pun mengantarkan mereka hingga tiba di sekolahnya Giv terlebih dahulu, kemudian di tempat kerja Vlora.


"Tapadh leat a ghraidh," ucap Vlora disusul tawa renyah.


"Isshh, kita di Jakarta, jangan sosoan Skotlandia lo!" cebik Jihan.


Vlora mengangguk di sela-sela tawanya. "Titip Giv yah," ucap Vlora sembari memberikan sebuah kartu tanda pengenal untuk Jihan. "Jangan diajak kemana-mana, awas aja!" Mengancam dengan wajah garang.


"Siap, Nyonya Alexander!"


Jihan tergelak dan langsung menginjak pedal gas sebelum sahabatnya itu murka. Sementara itu, Vlora hanya bisa menahan geram sambil melihat mobil Jihan yang menjauh.


Ia lalu berbalik bergegas masuk ke hotel, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti. Sebelah tangannya yang bebas, terangkat lalu menyentuh dada. Ada getaran aneh di dalam sana.


Apa kabar Grayman menyebalkan?


Vlora membatin dengan senyum kecil di bibirnya. Sejenak ia menggeleng sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...__________________...