
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Seminggu berlalu dengan cepat, akhir pekan yang dijanjikan Jihan pada Given, kini tiba. Bocah tampan itu menagih janji pada sahabat baik ibunya.
Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan memaksa ibunya untuk segera ke rumah Jihan. Vlora yang kebetulan mendapat jatah libur hari itu, lekas bersiap-siap untuk ke rumah sahabatnya.
Setelah sarapan, ibu dan anak itu lalu bergegas meninggalkan rumah. Dengan menggunakan taksi, keduanya menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, hingga hanya memakan 15 menit untuk tiba di kediaman Atmaja.
"Good morning, Grandma!"
Begitu gerbang rumah Jihan di buka, Given langsung berlari masuk dan memberikan salam pada ibunya Jihan.
"Halo, Sayang! Good morning. Ada apa ini pagi-pagi sudah lapor diri ke mari?"
Ibunya Jihan menyambut keduanya dengan sangat baik dan bahagia. Selalu saja seperti itu.
"Selamat pagi, Tan! Dia mau nagih janji sama onty-nya, makanya maksa ke sini pagi-pagi," ucap Vlora yang menyusul anaknya dari belakang.
"Oh, gitu ... bangunin onty di kamarnya gih. masih tidur dia." Wanita paruh baya itu berbicara sambil menggunakan gerakan tangan, jadi mudah bagi Given memahaminya.
Ia pun berlari kecil menaiki tangga menuju kamar sahabat sang ibu, yang sudah seperti tante kandungnya sendiri.
Berkali-kali bocah itu mengetuk pintu kamar tantenya itu, barulah pintu terbuka dengan memperlihatkan muka bantal onty Jihan-nya.
"Good morning, Onty! Katanya mau mengajak Given jalan-jalan hari ini. Ayo, Onty. Giv sudah siap," cerocos bocah itu.
Jihan tersenyum melihat anak lelaki yang sudah ia anggap keponakannya.
"Morning, Sayangnya onty. Tunggu sebentar onty mandi dulu yah. Boleh 'kan?" ucap Jihan dan bocah itu mengangguk.
Kembali ia menuruni tangga dan bergabung bersama ibunya, sembari menunggu Jihan.
Tiga puluh menit berlalu dan Jihan telah selesai mandi. Wanita lajang satu itu lalu mengajak Given untuk sarapan bersamanya, tetapi ditolak.
"Giv kenyang, Onty. Sudah sarapan bersama Mommy sebelum ke sini."
Alhasil, Jihan pun menikmati sarapannya sendiri ditemani Vlora. Di sela-sela aktivitas mengunyah, Jihan mengusulkan sebuah ide yang berbeda dari apa yang ia janjikan pada Given.
"Gak, ah. Ntar dia ngambek lagi. Gak, gak. Lagian buat apa sih ke tempat itu?" protes Vlora.
"Buat apalagi? Lah buat memodifikasi kamu lah. Gak mau tau yah, pokoknya kita harus mulai dari sekarang." Jihan bangkit setelah menyelesaikan sarapannya.
"Gua mau bestie gua yang dulunya membuat banyak pria want to die for, kembali lagi. Masalah Giv, gampang mah bisa diatur," imbuh Jihan dan langsung melangkah meninggalkan ruang makan.
"Ji, Jihan tunggu!" panggil Vlora tetapi Jihan tak menggubris. "Dasar jones," kesal Vlora.
Dia yang dipanggil berbalik dan terkekeh melihat sahabatnya.
Vlora pun refleks ikut tertawa.
Iya juga yah, lupa kalo udah jandes aja, ha-ha-ha ....
Entah jurus apa yang dikeluarkan Jihan, hingga mampu mengalihkan keinginan Given hari itu. Bocah itu dengan senang hati mengizinkan mommy-nya pergi berdua bersama Jihan, sedangkan ia sendiri memilih jalan-jalan bersama orang tua Jihan.
And then, di sinilah dua wanita dewasa itu berada. Jihan benar-benar merealisasikan rencananya beberapa hari lalu. Dia ingin agar sahabatnya itu meninggalkan kebiasaan aneh sejak menikah.
Tidak suka berdandan dan selalu apa adanya, harus dipoles sehingga menjadi Vlora yang baru, yang lebih modis.
Seharian, dua wanita cantik itu menghabiskan waktu di sebuah salon kecantikan di Jakarta. Mulai dari treatment perawatan wajah, menggubah warna dan gaya rambut, hingga menicure pedicure.
Vlora yang awalnya terpaksa, kini benar-benar menikmati semuanya. Sudah bertahun-tahun, ibu satu anak itu tidak pernah lagi memanjakan diri.
Sejak pagi hingga hampir malam, keduanya baru selesai dengan kesenangan mereka. Vlora melihat tampilan dirinya yang baru di depan cermin. Segaris senyum puas, terlukis di wajah cantiknya.
"Nah, ini baru Yura. Kalo kemarin itu masih Vlora Yukika," ucap Jihan dengan raut bahagia.
"Tapi Vlora juga gak papah sih, Vlora yang dulu is back," lanjut wanita lajang itu disusul tawa renyah.
Vlora menanggapi ocehan sahabatnya biasa saja. Ia meraih tas kecil miliknya, lalu membayar tagihan dan segera berlalu dari sana.
"Hei, gue yang bayarin, ih!" pekik Jihan sambil mengikuti langkah Vlora.
Vlora yang berjalan keluar saat itu, tidak sengaja melihat Clay, adik perempuannya yang beberapa hari lalu ia lihat di hotel. Vlora mengedarkan pandangannya selain mencari seseorang.
Hah, sejak kapan dia di sini? Di mana pula selingkuhannya?
Tiba-tiba Jihan muncul dan masih terus saja mengoceh. Vlora pura-pura tidak melihat apapun karena tidak ingin jika Jihan menyembur adiknya. Ia lalu segara memakai masker agar tidak dikenali.
"Manjakan diri pakai duit sendiri lebih menyenangkan," sahut Vlora sengaja diperbesar suaranya.
Matanya melirik sekilas wanita yang tengah berdiri di depan salon itu. Vlora tampak sengaja mengatakan itu, menyadarkan adiknya secara tidak langsung.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil masuk area salon tersebut. Vlora jelas mengenali pengemudinya. Entah tidak ingin atau belum siap, ia segera masuk ke dalam mobil Jihan.
"Lo kenapa? Ngapain liat ke sana terus?" tanya Jihan curiga.
"Gak. Ayo, jalan!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...____________________...