Not You

Not You
81. Bunuh Diri



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Belum sempat juga lelaki itu menjawab, dering ponsel Hariss bergetar membuyarkan suasana yang mengintimidasi.


Awalnya ia tidak peduli dan lebih mengabaikan sembari menunggu jawaban lelaki itu. Namun, dering ponsel itu terus berbunyi dibarengi getaran yang tiada henti.


Hariss yang merasa terusik dengan pikiran yang menganggap sepertinya ada hal penting, akhirnya memutuskan untuk menjawab telepon itu sejenak. Dengan gerakan tetap tenang, ia pun merogoh ponsel dari saku celananya.


📲 "Ha–"


📲 "..."


Hariss tidak dapat meneruskan perkataannya, begitu mendengar suara berat seseorang yang langsung membombardir dirinya dengan kekejutan besar.


📲 "Vlora?!"


Jantung Hariss tiba-tiba saja membentur hebat dengan rongga dadanya. Sejurus kemudian ia langsung membuka pintu mobil itu dan berlari keluar secepat kilat. Tanpa memutuskan sambungan telepon atau bahkan menjawab seseorang di seberang sana pun tidak.


Ia selumnya. Seketika ia lupa dengan tujuannya menginterogasi lelaki tadi.


Sekarang yang ada di pikirannya hanya Vlora, Vlora, dan Vlora. Kekhawatiran dan kecemasan melingkupi lelaki berwajah tampan itu.


"Sh*it! Apa yang kau lakukan, Ra?" gumam Hariss dengan desisan cemas bercampur kesal.


Sementara itu, lelaki yang tadi diintrogasi oleh Hariss, menarik nafasnya dan menghembuskan dengan lega.


Mengingat Hariss menyebut nama Vlora, lelaki itu pun lantas meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


...***...


Hujan malam itu belum juga reda. Hariss memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sakit terbesar di Edinburgh. Setelah itu, ia pun segera turun dan berlari masuk menuju emergency room.


Dari kejauhan, ia bisa melihat jelas di depan sana, ada ayah dan ibunya serta beberapa pelayan juga pengawal. Hariss semakin mempercepat langkahnya tuk mendekat.


"Mommy!" panggil Hariss begitu tiba di depan ruang emergency.


"Apa yang terjadi dengannya, Mom?" tanyanya.


Ia yang tadinya marah dan tidak ingin berbicara dengan sang ibu, bahkan berniat untuk menenangkan diri dari kacaunya pikiran, kini semua rasa itu mendadak sirna berganti cemas yang besar.


Nyonya Glad yang sudah menangis sedari tadi, semakin menangis lagi begitu melihat putranya di sana. Dengan wajah cantiknya yang dihiasi sembab karena menangis terlalu lama, ia menjawab pertanyaan putranya itu.


Hariss terperanjat setengah mati mendengar yang dikatakan ibunya.


"Apa, Mom? Bunuh diri?" Hariss mengusap wajahnya kasar, tidak habis pikir dengan cara Vlora menghadapi persoalan hidup.


Nyonya Glad mengangguk. "Untung saja saat itu mommy dan daddy masih di depan pintu kamarnya, sehingga bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamarnya." Lagi ia menangis.


Ya benar. Saat itu, Nyonya Glad dan suaminya masih setia berdiri di depan pintu kamar Vlora, terus memanggil-manggil agar ia mau membukakan pintu dan mereka bisa menjelaskan dengan baik.


Namun, Vlora tetap bergeming hingga beberapa saat kemudian terdengar di telinga pasangan paruh baya itu, serpihan benda yang membentur kencang pada lantai. Hening merajai hingga beberapa saat, membuat perasaan Nyonya Glad tidak tenang. Karana khawatir, nyonya Glad memanggil salah seorang dari pelayan untuk memberikan kunci cadangan dan membuka pintu.


Begitu pintu itu terbuka, jantung wanita paruh itu hampir saja terlepas, kala melihat Vlora yang tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan bersimbah darah segar. Tak jauh di sampingnya, terdapat serpihan kaca yang berserakan di sana.


Nyonya Glad memekik histeris, membuat semua penghuni rumah besar itu berlarian dan langsung membawa Vlora ke mobil dan dilarikan ke rumah sakit.


Bugh!


Tuan dan Nyonya besar Alexander terkejut begitu melihat Hariss yang memukul dinding depan ruang emergency. Lelaki itu meremas rambutnya dengan sangat frustasi.


"Hariss!" tegur sang ayah dengan tegas.


Baru saja Hariss hendak berucap, tetapi tertahan dengan suara pantulan sepatu yang bersentuhan dengan lantai dan menggema berirama, seolah mendekat ke arah mereka.


Semuanya menolah ke depan dan Hariss yang paling terkejut, kala melihat kakaknya berlari tidak mau tahu dengan apapun yang ada di hadapannya.


"Ka–"


Ucapan Hariss terhenti begitu saja saat tangan besar sang kakak dengan kuat meraih dan mencengkeram kerah bajunya.


"Apa yang sudah kau lakukan sampai dia harus dilarikan ke sini, baji*ngan?"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...___________________...


...Jangan lupa like dan komen yah 📌...


...#...


Dan jangan lupa juga mampir di karya temanku yang satu ini 😉