My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 9. Ketidakberdayaan



Nafasnya terengah-engah. Roman pun berlari sejauh mungkin dari sekolah. Ia merasa jengkel dengan sikap Valentine yang berusaha menghalangi jalannya. Kecepatan Roman dalam berlari pun telah membawanya menuju pusat kuliner kota. Ia yang masih mengenakan jas sekolah Saint Luxury kemudian menghentikan langkah kakinya sejenak, didepan sebuah kafe.


Huft ... Huft ... Huft ... Capek, batin Roman.


Saat menoleh kedalam kafe, Roman pun menaruh perhatiannya pada secarik kertas yang menempel didepan kaca kafe. "Dibutuhkan! Tenaga partime! Bekerja mulai dari pukul 17.00 sampai dengan 20.00! Pelajar lebih disukai!" kata Roman yang membaca seraya meniru tulisan dalam kertas itu. "Menarik! Aku harus mencobanya." Dengan penuh antusias, Roman kemudian bergegas memasuki cafe tersebut.


"Selamat datang!" sapa seorang karyawati cafe. Wanita dewasa yang cantik dengan rambut sebahunya itu, melihat Roman berjalan seraya melihat-lihat disekeliling. Ia pun menyaksikan Roman terkagum-kagum setelah mendapati keindahan dekorasi dalam cafe tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawati itu.


Roman kemudian mengalihkan perhatiannya pada seorang wanita yang tengah berdiri dibalik etalase. Dengan penuh ketenangan, ia pun menghampiri wanita tersebut. "Aku ingin melamar sebagai pekerja sambilan," kata Roman seraya menyandarkan tangannya diatas etalase. Roman sangat menyukai ketenteraman suasana dalam cafe itu. Alunan musik Jazz yang terdengar dari speaker pun telah menenangkan pikiran kacaunya.


"Hmm... Apa kau punya kartu pelajar?" tanya wanita tersebut, sambil menopang dagunya dengan telapak tangan. Ia melihat aura semangat yang terpampang jelas di wajah Roman.


"Kartu pelajar?" Roman merogoh tasnya dengan tergesa-gesa. Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya. "Ini kartu pelajarku." Roman pun meletakkan kartu pelajarnya di atas meja etalase. Dengan penuh percaya diri, ia berharap kartu itu bisa membuatnya diterima bekerja di cafe tersebut.


"Biar aku cek sebentar," kata wanita itu sambil memegang kartu pejalar milik Roman. Hatinya pun sontak terkejut saat mendapati identitas dalam kartu tersebut. Wow! Dari sekolah elit rupanya. Berarti, satu sekolah dengan adikku, batinnya. "Hmm... Roman Hillberg, nama yang cukup bagus, untuk pemuda rajin sepertimu," katanya seraya menyerahkan kartu pelajar milik Roman.


Roman pun memasukkan kembali kartu pelajarnya kedalam tas, tanpa menyadari pujian yang dilontarkan wanita tersebut. "B-bagaimana? Apa aku sudah diterima?" tanya Roman dengan penasaran. Ia semakin tidak sabaran dalam menanti jawaban dari wanita yang bekerja sebagai kasir itu.


"Hmm... baiklah! Roman, kembalilah esok hari diwaktu yang sama. Persiapankan dirimu untuk bekerja di kafe ini," ungkapnya. Wanita itu seketika terkesima saat mendapati senyuman yang terpancar dari mulut Roman.


"B-baiklah." kata Roman. Ia pun menatap pada kartu pekerja yang menggantung dileher sang wanita. Andrea Alexandra, batin Roman. "Terima kasih, Kak Alexandra!" Roman pun sontak membungkukkan badannya seraya menyebut nama wanita itu.


"Andrea! Aku tidak terlalu suka dengan nama Stephanie. Terlalu berbelit-belit," keluh Andrea setelah mendengar Roman, menyebutkan nama keluarganya. Andrea kemudian mengiringi langkah kaki Roman menuju pintu kafe. "Hati hati dijalan!" ucap Andrea. Ia pun melambaikan tangannya seraya tersenyum kepada Roman dari kejauhan.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Roman melangkahkan kakinya meninggalkan Andrea, menuju rumah. Ia sempat menoleh ke arah belakang dan mendapati Andrea melambaikan tangan sambil tersenyum kepadanya. Sungguh kakak yang sangat baik, batin Roman seraya memuji keramahtamahan wanita tersebut.


...*** Di Ruang OSIS ***...


Rika merasakan kegelisahan dalam hatinya. Ia terus menerus memikirkan Valentine yang berniat menemui Paul sepulang sekolah. "Baiklah. Rapat OSIS hari ini, cukup sampai disini." kata Rika seraya menyudahi perbincangan dengan seluruh anggota OSIS perihal festival ekskul yang akan diadakan disekolah.


"Rika, ada apa?" tanya Bryan Wanderer, yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Ia mendapati kegelisahan yang terlihat jelas di wajah Rika. Pemuda yang sempat berhadapan dengan Roman itu, sangat menaruh perhatiannya dengan ketua OSIS. "Apakah ada yang mengganjal dihatimu?" tanya Bryan seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Rika.


"Valentine!" -Rika beranjak dari kursinya- "Aku harus segera menemuinya!" ucap Rika. Belum sempat ia bergegas meninggalkan Bryan, Rika pun terkejut saat tangannya digenggam oleh pemuda tersebut. Ia akhirnya menunda kepergiannya untuk mencari keberadaan Valentine.


"Tenangkan dirimu, Rika!" -Bryan beranjak dari kursinya- "Jelaskan padaku apa yang sudah terjadi. Aku akan membantumu menyelesaikannya," kata Bryan seraya berusaha menenangkan kecemasan Rika. Ia pun mendapati Rika, kembali duduk di kursinya.


"Bryan..., salah seorang temanku sedang menemui Paul. Ia ingin mendapatkan penjelasan, tentang perundungan yang telah dilakukan Paul terhadap teman sekelasnya. Dan," -Rika kembali beranjak dari kursinya- "Aku sangat mengkhawatirkan keadaan temanku! Bryan!! Temani aku mencari keberadaan Valentine!" seru Rika dengan nada serius.


...*** Di Atas Gedung Sekolah ***...


Valentine meneguhkan tekadnya untuk menemui Paul. Ia merasa yakin bila berandalan itu tengah berada di bagian atas gedung sekolah. Dengan penuh keberanian yang besar, Valentine membuka pintu yang menjadi satu-satunya akses menuju atas gedung.


Ia pun berhasil menemukan Paul saat menoleh dari balik pintu. Valentine kemudian bergegas menghampiri Paul yang tengah berdiri, seraya menghadap padanya. "Paul!" himbau Valentine.


Setelah menyadari kehadiran Valentine, Paul pun mendekatinya. Ia lalu menatap penuh nafsu, pada tubuh adik kelasnya tersebut. "Valentine! Kebetulan sekali kau datang kesini!" kata Paul sambil berjalan mendekati gadis itu. Ia pun sontak mengelus rambut Valentine seraya menyeringai.


"Lepaskan!" Valentine merasa tidak terima dengan perlakuan Paul. Ia memegang tangan berandalan tersebut dan menjauhkannya ke arah lain. "Aku tidak akan memaafkanmu!" kata Valentine sambil memberikan tatapan yang tajam kepada Paul.


Rasa amarah seketika bangkit dalam diri Paul. Ia lalu menggenggam wajah Valentine dengan erat. "Hei, hei! Apa kau lupa dengan janjimu?" tanya Paul. Ia mengintimidasi Valentine seraya mengingatkan gadis itu, tentang perjanjian diantara mereka.


Dengan mulut yang tergenggam, Valentine pun seketika teringat akan janjinya pada berandalan tersebut. Ia meminta Paul untuk menghabisi Roman, karena Roman telah merusak tali persaudaraanya dengan Valerie. "A-aku tidak peduli dengan perjanjian itu ...." kata Valentine dengan terpaksa.


Paul pun menjadi geram setelah mendengar perkataan tersebut. Ia merasa telah dipermainkan oleh Valentine. Seketika, darah dalam otaknya pun memuncak. "Aku akan membuatmu, membayar semuanya," kata Paul seraya menyeringai. Dengan nafas dan emosi yang menggebu-gebu, Paul mendorong tubuh Valentine hingga membentur tembok pembatas gedung.


"Aaargghh!" Valentine mengerang kesakitan, setelah tubuhnya terhempas oleh dorongan Paul. Rasa sakit yang amat dahsyat dipunggungnya, telah membuat Valerie menjadi lengah. Ia pun membiarkan berandalan itu, menggerayangi tubuhnya dengan semena-mena. Kak Valerie, maafkan akuu, batin Valentine.


Valentine akhirnya terjatuh dalam jurang keputusasaan. Ia membiarkan kancing seragamnya terlepas setelah Paul menariknya dengan kasar. Tak ada lagi yang dapat dilakukan Valentine selain merelakan tubuhnya, menjadi santapan bagi berandalan tersebut. Romaaannn..., apakah ini sudah cukup sebagai hukumanku? batin Valentine.


Ia semakin terlena dalam memenuhi hasrat Paul. Valentine pun tak dapat mengelak saat bibirnya, dilumat habis oleh ciuman Paul yang penuh hawa nafsu. Romaaann ... tolong aku, batinnya seraya menahan rasa mual.


Hanya karena ingin memperbaiki hubungannya dengan Roman, Valentine membiarkan tubuhnya dirusak oleh berandalan tersebut. Dan, air mata yang mengalir dengan perlahan itu, menjadi saksi atas ketidakberdayaan Valentine.


...****************...


Setelah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Valentine, Rika dan Bryan pun bergegas menuju bagian atas gedung sekolah. Mereka lalu menaiki tangga yang terhubung dengan pintu akses, menuju tempat tersebut. "Ayo Bryan! Cepat!" seru Rika seraya melangkah dengan tergesa-gesa. Kedua anggota OSIS itu kemudian tiba pada sebuah pintu yang masih terbuka lebar. Valentine, semoga kau baik-baik saja, batin Rika.


Rika pun terkejut bukan main, setelah melewati pintu tersebut. Ia seperti tak percaya dengan apa yang telah dilihat oleh mata kepalanya sendiri. "Valen ... tine!!!" pekik Rika hingga suaranya terdengar melengking. Dengan dilanda rasa sedih, Rika pun tergesa-gesa menghampiri bestie-nya itu.


Ia mendapati Valentine terlentang tak berdaya dengan mata yang menatap kosong ke arah langit. "Valentine! Apa yang telah terjadi? -Ia mendudukkan Valentine- "Valentine? Valentineee!!! Bryan!!! Cepat kejar Paul!!!" seru Rika kepada Bryan yang sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain, karena sempat mendapati seragam Valentine tersingkap lebar.


"Kurang hajar!!!" Bryan pun dengan segera mengejar Paul yang telah melarikan diri dari tempat tersebut. Brengsek kau, Paul! Aku akan menghajarmu! batin Bryan. Rasa kemanusiaan Bryan semakin bergejolak setelah menyaksikan apa yang telah dilakukan berandalan tersebut terhadap Valentine. Tangannya yang terkepal erat pun menjadi tidak sabaran, untuk mendaratkan tinjunya pada wajah Paul.


~To be continued~