My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 71. Ketertarikan



...*** Rumah Keluarga Helsink ***...


Menjelang sejuknya pagi dihari Minggu, hari yang sangat-sangat dinantikan oleh para pelajar, dalam menikmati waktu senggang mereka selama seharian penuh.


Valerie yang telah terbangun dari tidurnya, segera beranjak dari ranjang menuju pintu kamar. "Hooaamm ...." Matanya sedikit enggan untuk membuka dengan lebar. Ia lalu keluar dari kamar, dan berjalan menuju pintu kamar Valentine. "Valentineee ... banguunn ...." himbaunya dengan rasa kantuk yang belum sepenuhnya pudar.


Valentine yang mendengar himbauan kakaknya pun segera beranjak dari atas ranjang, dan berjalan menuju pintu kamarnya. "Iyaa kak, aku sudah bangun dari tadi," ucap Valentine, setelah membuka pintu, dan mendapati Valerie tengah mengedipkan matanya berulang-ulang.


Valerie seketika mendapatkan kembali tingkat kesadarannya secara penuh, dan memfokuskan pandangannya pada Valentine. "Kalau kau sudah bangun dari tadi, Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Valerie.


Valentine menundukkan wajahnya, seraya mengerling. "Aku ... tak ingin mengganggu tidurmu, kak," jawab Valentine dengan nada yang terdengar lembut untuk gadis seumurannya.


Mendengar jawaban dari sang adik, membuat Valerie menghela nafasnya dalam-dalam. "Roman sudah bangun?" tanya kembali Valerie, seraya menoleh ke arah pintu kamar Roman.


"Sepertinya belum kak," jawab kembali Valentine, yang turut menolehkan wajahnya ke arah kamar Roman, dari balik pintu kamarnya.


Valerie berjalan menuju pintu kamar Roman, yang terletak dipojok lorong lantai dua. Ia lalu mengetuk-ngetukan pintu kamar itu. "Romaaan, banguuun," himbau Valerie, yang kemudian tak sengaja mendorong pintu kamar, dan mendapati Roman tengah terduduk didepan meja belajarnya.


Valentine yang turut mengikuti Valerie pun berjalan mendahuluinya, lalu menghampiri Roman. "Roman, kau sedang apa?" tanya Valentine dengan penuh rasa penasaran.


"Sebentar sebentar ... aku sedang mengisi soal pelajaran halaman terakhir," jawab Roman yang tengah memfokuskan pandangannya pada sebuah buku pelajaran.


"Halaman terakhiiir?!" Valerie pun turut berjalan dan berdiri disamping meja belajar Roman. Ia dengan sengaja membungkukkan badannya, seraya menolehkan wajahnya pada sebuah buku pelajaran, yang tengah dikerjakan Roman.


Valentine lalu bergeser ke arah sisi lain meja belajar Roman, dan turut membungkukkan badannya, demi memastikan apa yang tengah dikerjakan sang kekasih, disaat pagi buta. "Kita kan belum sampai pada materi akhir! Kenapa terburu-buru sekali mengerjakannya?!" komentar Valentine, dengan raut wajah herannya, saat menatap ke arah buku pelajaran Roman.


Roman sontak menghentikan gerakan pulpennya, setelah dirinya berada dalam kepungan dua gadis, yang tengah membungkukkan badan tanpa menyadari bila masing-masing dari belahan dada mereka, tersingkap dengan lebar.


Peluh keringat dingin pun seketika membasahi seluruh tubuh Roman, seiring dengan detak jantung yang semakin berdegup kencang. "Gawat! Mustahil aku bisa konsentrasi belajar, jika dalam kondisi terjepit seperti ini," batin Roman, dengan tangan yang bergetar, meski tengah memegang pulpen.


"Romaan, kenapa berhenti? Ayo teruskan," seru Valerie, tanpa menyadari bila belahan dadanya yang sangat-sangat mulus itu, berada dalam jangkauan pandangan Roman.


"Betul! Nanti aku pinjam bukunya, kalau sudah selesai," sambung Valentine yang belum juga menyadari, bila belahan dadanya yang sangat-sangat diidamkan Roman itu, berada dalam jangkauan pandangan sang kekasih.


Meski matanya terus menatap pada buku pelajaran, namun tak dibisa dipungkiri, bila jiwa lelakinya terus meronta-ronta. Roman akhirnya menghela nafasnya sedalam mungkin, demi membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. "Valentine, Kak Valerie, maaf! Lereng gunung kalian sangat menggangu konsentrasi belajarku," ungkap Roman dengan penuh ketenangan.


Setelah mendengar perkataan Roman, kedua kakak beradik itu pun terkejut, lalu menoleh ke arah belahan dada mereka masing-masing. "Aaaaaaaaa!!! Valentineeee!! Kenapa kau diam sajaaaa!!" Valerie pun menjadi heboh, seraya menutupi belahan dadanya, dengan kedua lengan yang saling menyilang.


"Aaaaaaa!! Romaaann!! Jangan melihat ke arah Kak Valerieeeee!!" sorak Valentine, yang sontak menarik kepala Roman menuju belahan dadanya, lalu menutupi pandanganya, agar sang kekasih tak dapat menatap ke arah belahan dada sang kakak.


"Aaaah ... ayaah, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi suami Valentine," batin Roman dengan penuh percaya diri, saat sisi wajahnya menempel tepat dengan belahan dada Valentine, yang sangat terasa hangat dan lembut itu.


"Valentine, lepaskan aku," ucap Roman seraya menepuk-nepuk lengan Valentine, yang tengah membelenggu kepalanya.


Valentine melepaskan kepala Roman dan sontak menutupi belahan dada, dengan kedua lengannya yang saling menyilang didepan dada. Kedua pipinya seketika memerah, saat menyadari apa yang telah dilakukannya, terhadap sang kekasih.


"R-R-Romaaan ... kau mesuuuummmm!!" Valentine akhirnya berlari terburu-buru menuju kamarnya, dan turut melakukan apa yang telah dilakukan sang kakak dalam kamarnya. "Baju longgar ... baju longgar! Aku harus membuat image-ku sebaik mungkin didepan Roman!" pikir Valentine, sambil memilah-milah beberapa pakaian, yang menggantung dalam lemarinya.


"Selesai!" Roman menutup buku pelajarannya, dan bergegas keluar menuju pintu kamar.


Setelah menutup pintu kamarnya, dan belum sempat kakinya melangkah, Valerie dan Valentine mencegatnya dari depan.


"Roman! Kau tidak melihatnya kan?!" tanya Valerie, dengan raut wajah kesal seraya bersedekap tangan.


Valentine pun turut bersedekap tangan, dan berdiri membelakangi Valerie. "Roman! Kau tidak melihat milik kak Valerie kan?!" tanya Valentine sambil mengernyitkan dahinya dihadapan Roman.


Roman tersenyum seraya melambai-lambaikan telapak tangannya, dihadapan dua kakak beradik itu. "Hehehe ... aku tidak melihat apapun, selain menatap pada buku pelajaranku," tampik Roman yang seketika melirik ke arah anak tangga. "Gawat! Mereka benar-benar marah padaku! Aku harus segera menyingkir dari sini!" pikirnya dengan sejuta akal.


Demi menghindari amukan kekesalan Valentine dan Valerie, Roman berlari seraya menghindar dari jangkauan tangan Valentine. Namun, Valerie mencegahnya, dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Roman! Jangan lari!" ucap Valerie, yang turut mengernyitkan dahinya dihadapan Roman. Ia hanya ingin memastikan, apakah anak itu benar-benar tidak melihat sama sekali pada belahan dadanya.


"Wajar kak Valerie marah padaku, sebab yang dia pertaruhkan adalah harga dirinya," pikir Roman, yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi, setelah jalannya menuju tangga terhalangi oleh Valerie.


Roman pun sontak membungkukkan badannya dihadapan kakak Valentine. "Kak Valerie! Aku benar-benar minta maaf! Tapi, aku sama sekali tidak tertarik untuk melihat ataupun menaruh nafsu pada kakakku sendiri!" ungkap Roman dengan tegas.


Melihat tindakan Roman, membuat Valerie sempat termenung. "Dasar! Kau itu laki-laki! Aku sebenarnya tidak masalah kalau kau tertarik denganku!" pikirnya yang merasa tersinggung dengan perkataan Roman.


Valerie menurunkan kedua tangannya yang terbentang secara horizontal, lalu menghela nafasnya dalam-dalam, dan kembali bersedekap tangan. "Baguslah, kalau memang seperti itu keyakinanmu," ucap Valerie, meski hatinya belum terima dengan perkataan Roman, yang mengaku tak sedikitpun merasa tertarik padanya.


Valentine berjalan melewati Roman, seraya menghampiri Valerie. "Kak Valerie, ayo mandi bersama!" seru Valentine, sambil menggenggam dan menarik tangan Valerie, lalu membawanya menuju tangga.


Namun, Valerie sempat menghentikan langkah kakinya, sebelum menuruni anak tangga. "Roman! Tunggulah dikamar dan jangan kemana-mana! Kami akan mandi terlebih dahulu!" perintah Valerie, dengan wajah yang menoleh kearah Roman.


Valentine kembali menarik tangan Valerie, dan membawanya turun ke lantai satu.


"Romaaan! Jika aku mengetuk pintu kamarmu, kau boleh keluaaar!" teriak Valerie dari lantai satu, yang suaranya sangat menggema, hingga terdengar jelas di telinga Roman.


Roman yang masih berdiri didepan pintu kamar Valentine pun seketika tersenyum, dengan raut wajah herannya. "Haaaa ... padahal aku ingin mandi duluan," keluh Roman, sambil menenteng pakaian gantinya.


~To be continued~