My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 69. Harapan Sang Kakek



Di siang itu, Valerie seketika membelokkan setir kemudinya ke arah kanan, dan masuk menuju stasiun pengisian bahan bakar.


"Kalian berdua tunggu didalam. Jangan kemana-mana," seru Valerie seraya menghentikan laju mobilnya, tepat didepan mesin pengisian bahan bakar. Ia lalu keluar dari mobilnya, dan berbicara dengan petugas SPBB.


Sementara didalam mobil, Roman berusaha untuk mendapatkan perhatian Valentine, yang sedari tadi duduk terdiam, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. "Valentine," ucapnya seraya mengulurkan tangan ke arah gadis itu.


Namun, Valentine tetap bergeming, yang membuat Roman menarik kembali tangannya, dan mengurungkan niatnya untuk mendapatkan perhatian dari sang kekasih. "Andai saja, aku tidak meladeni Priscilla ... tentu Valentine takkan seperti ini," pikirnya sambil menundukkan wajah.


Berselang beberapa menit kemudian, Valerie kembali memasuki mobil. "Kita akan pergi ke restoran," ucap Valerie, yang telah menyalakan mesin mobilnya, dan menginjak pedal gasnya secara perlahan.


Mendengar perkataan sang kakak, membuat Valentine sontak menoleh kearahnya. "Tidak! Aku mau pulang saja!" tolak Valentine, dengan raut wajah cemberut.


"Kenapa?! Apa kau tidak lapar?!" tanya Valerie dengan raut wajah heran, sambil memfokuskan pandangan mengemudinya ke arah depan.


Valentine memalingkan wajahnya. "Ya! Aku sedang tidak selera makan!" jawab Valentine dengan nada kesal.


"Okay! Baiklah," Valerie akhirnya memutuskan untuk membawa Valentine dan Roman pulang menuju rumah keluarga Helsink. Ia seketika melirik ke arah Roman, dari bayangan cermin yang menghadap ke arah belakang. "Roman?! Kau baik-baik saja kan?!" tanya Valerie, yang mulai curiga dengan tingkah laku mereka berdua.


Roman menegakkan kepalanya, dengan raut wajah yang penuh senyuman. "Aku tidak apa-apa, kak Valerie," jawabnya dengan penuh kepercayaan diri.


"Yakin?!" tanya kembali Valerie, demi memastikan apa yang telah terjadi diantara sepasang kekasih itu.


"Ya," Roman mengangguk tanpa pernah melepaskan senyumannya.


"Lalu, kenapa Valentine tidak duduk disebelahmu?!" Valerie memberikan serentetan pertanyaan, yang sangat-sangat memojokkan Roman.


"Aku tidak tahu. Mungkin dia sedang marah denganku," jawab kembali Roman. Matanya seketika memicing, dengan senyuman yang seperti tidak mau lepas dari wajahnya.


Mendengar jawaban Roman tentang dirinya, Valentine sontak menoleh ke arah belakang, sambil memberikan tatap super judes ke arah Roman. "Hmphh!!!" Ia kembali memalingkan wajahnya, seperti masih menunjukkan rasa kesalnya terhadap anak itu.


Valerie pun tertawa, sambil membungkam mulutnya yang membuka lebar, dengan lengan tangan kanannya. "Kalian berdua ini lucu sekali, kalau sedang bertengkar," kata Valerie, seraya menahan tawanya, atas tingkah laku kedua sepasang kekasih itu.


...*** Rumah Keluarga Howard ***...


Selepas bertamu ke rumah keluarga Helsink, Laura selalu menggumam tanpa henti, sambil berjalan bolak-balik dihadapan Tony, yang tengah terduduk diatas sofanya. "Dasar wanita brengsek! Berani-beraninya dia melawanku!" gumamnya dengan raut wajah kesal.


"Lauraaa ... kembalilah ke kamarmu," seru Tony yang merasa terganggu dengan sikap sang istri.


"Dan, kau Tony! Apa yang akan kau lakukan?! Apa kau akan diam saja?!" Laura pun turut merasa kesal dengan sikap suami, yang tak pernah sedikitpun membelanya.


"Biarkan hakim pengadilan yang berbicara! Kau jangan sekali-kali meremehkan kekuatan keluarga Helsink. Mereka merupakan keluarga yang sangat terpandang di kota ini," tegas Tony seraya menatap tajam ke arah Laura, yang tengah berdiri sambil menunjuk padanya.


Mendengar teguran dari Tony, membuat Laura mendecih berulangkali. Ia lalu beranjak menaiki anak tangga dan bergegas menuju kamarnya, dengan menyimpan rasa dendam yang amat menggelora dalam hatinya.


Tony kembali mengumpulkan suasana ketentraman, yang sempat hilang saat sang istri selalu mengganggu ketenangannya, dalam menikmati secangkir teh buatan Christ. "Kau terlalu gegabah Laura!" pikirnya sambil menyeruput secangkir teh hangat.


Perhatiannya seketika tertuju pada kehadiran Martin, Megan, dan Sarah, yang datang setelah membuka pintu rumah, selepas pulang dari sekolah masing-masing. "Kakeeekk!" sorak Sarah seraya berlari menuju Tony.


Megan pun turut berjalan menghampiri sang kakek, dan diikuti oleh Martin, yang turut berjalan dibelakang mereka. "Kakek, kamu pulang," ucap Megan dengan penuh senyuman.


"Kakek, Kakek! Apa benar kami memiliki saudara laki-laki yang bernama Roman?!" tanya Sarah, yang memiliki kepribadian super manja, terhadap orang-orang terdekatnya.


Mendengar pertanyaan Sarah, membuat Tony segera melepaskan pelukannya dari kedua gadis itu, lalu beralih memegang kedua pundak putri bungsu dari Christ tersebut. "Sarah, darimana kau tahu soal itu?!" tanya kembali Tony, sambil menatap penuh heran pada Sarah.


"Papa yang mengatakannya!" jawab Sarah dengan wajah cerianya. Ia menjadi sangat penasaran, seperti apa sosok saudara laki-lakinya itu.


Tony menghela nafasnya secara perlahan, sambil menutup lalu membuka kedua matanya. "Sarah, dia adalah anak dari tante Angelina, yang juga merupakan bagian dari keluarga kita," tutur Tony.


Sarah seketika berkacak pinggang dihadapan sang kakek. "Lalu kenapa dia tidak tinggal disini! Tante Angelina kan sudah tiada!" ucap Sarah dengan raut wajah yang berubah menjadi sebal.


Megan pun sontak berdiri dibelakang Sarah, lalu membungkam mulutnya dengan kedua tangan. "Kakek, hiraukan perkataan Sarah. Dia masih polos," sambung Megan, dengan memberikan senyuman seraya menutup kedua matanya.


Tony yang tengah membungkuk, sontak menegakkan tubuhnya, dan berjalan menjauhi kedua cucunya. "Sialan Christ itu! Mengatakan kebenaran yang seharusnya tidak perlu diketahui oleh anak seumuran Sarah!" gumam Tony, dengan pandangan yang menatap tajam ke arah depan, sambil melipat kedua tangannya dibelakang punggung.


Perhatiannya seketika tertuju pada Martin, yang tengah mematung sambil menundukkan wajah. "Martin. Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Tony, seraya menolehkan wajahnya arah Martin.


Martin hanya terdiam dan terus menunduk, seakan tak berani menatap ke arah wajah sang kakek. Sarah yang telah melepaskan mulutnya, dari genggaman Megan pun berusaha menjawab pertanyaan Tony.


"Martin diskorsing dari se—" Sarah kembali mendapati mulutnya terbungkam, oleh kedua telapak tangan Megan.


Megan merasa kesal dengan sifat sang adik, yang terlalu polos dan berani membeberkan sesuatu pada sang kakek, tanpa melihat situasinya terlebih dahulu.


Tony pun akhirnya mengerti, maksud dari perkataan Sarah. Ia dengan segera menghampiri Martin, dan berdiri tepat dihadapan anak itu. "Martin! Jika kau masih tetap bungkam, aku akan memaksa Christ untuk memberhentikanmu dari sekolah!" gertak Tony.


"J-jangan kek!" Martin seketika menatap ke wajah Tony, yang turut menatap dengan pandangan yang sangat tajam ke arah wajahnya.


"Berbicaralah!" seru kembali Tony, yang berusaha menahan tingkat emosinya, sebelum melewati batas kesabaran.


Martin kembali menunduk, seakan mengetahui seperti reaksi dari Tony setelahnya. "Aku telah berkelahi, dengan teman sekelasku," ungkap Martin dengan raut wajah cemas, dan rasa takut yang amat mendalam terhadap sang kakek.


(Prak!!!)


Tony naik pitam, dan menampar Martin sekeras-kerasnya. "Aku mengharapkanmu pergi ke sekolah, bukan untuk berkelahi!!! Kau telah membuatku kecewa!!!" bentak Tony, yang benar-benar menjadi murka setelah mendengar penuturan sang cucu.


Martin tak dapat mengelak, saat wajahnya mendapat tamparan keras dari tangan Tony. Ia lalu menangis, seraya menahan rasa sakit yang sangat terasa di sebelah pipinya.


Martina yang baru saja turun dari tangga, sontak menghampiri Martin, setelah menyaksikan putranya itu menerima perlakuan kasar dari Tony. "Ayah! Apa yang telah kau lakukan pada Martin?!" tanya Martina seraya merangkul kedua pundak Martin, dan berusaha melindunginya dari amarah sang ayah mertua.


Tony berusaha menenangkan dirinya dan mengatur kembali irama nafas emosinya, yang menggebu-gebu, setelah mendapati kehadiran Martina. "Ajari anak ini untuk bersikap baik, selama disekolah," tegur Tony, yang terus menatap tajam ke arah Martin.


Demi menghindari amukan Tony, Martina segera membawa ketiga putra-putrinya beranjak menuju lantai dua, dan bergegas masuk kedalam kamar mereka masing-masing.


Tony kembali menduduki sofa mewahnya, setelah dibuat murka oleh kelakuan cucu laki-lakinya itu. "Siapa lagi cucu laki-laki yang bisa ku harapkan, jika anak itu semakin membuatku merasa malu dengan keluarga ini!" gumam Tony dalam hatinya.


Dengan saling menggenggam erat kedua telapak tangannya, Tony termenung seraya menatap tajam, ke arah bingkai foto Angelina. "Roman! Aku harus segera memastikan, seperti apa kemampuan dan prestasinya selama ini!" batinnya sekali lagi, sambil menaruh rasa penasaran yang amat mendalam, pada cucu yang tidak serumah dengannya itu.


~To be continued~