My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 53. Makan Malam



...*** Rumah Keluarga Howard ***...


Christ tengah mempersiapkan makan malam untuk seluruh anggota keluarga Howard, yang telah menduduki kursi meja makan mereka masing-masing. Begitu banyak makanan mewah yang dihidangkan Christ, ke atas meja makan yang terbentuk dari kaca kristal, serta beberapa campuran logam mulia didalamnya.


Setelah mempersiapkan semuanya, Christ ikut bergabung, lalu turut menduduki kursi disebelah Martina, yang juga bersebrangan dengan Tony dan Laura. Sementara Martin, duduk di lain sisi meja makan yang berseberangan dengan Megan dan Sarah.


"Panjatkan doa kalian, sebelum makan terlebih dahulu," seru Tony seraya mengerjapkan kedua matanya sejenak.


Selepas memanjatkan doa makan, mereka menunggu Tony mencicipi salah satu makanan yang disukainya, sebelum masing-masing dari anggota keluarga itu, turut menyantap makanan yang terlihat lezat dan mewah tersebut.


Tony sangat menyukai makanan buatan Christ, secara anak keduanya itu merupakan seorang Chef profesional. Begitu juga dengan seluruh anggota lain, termasuk Jansen dan keluarga kecilnya, saat berkunjung ke rumah keluarga Howard.


Aturan makan dalam keluarga itu adalah, dilarang berbicara saat makan, juga makan tidak boleh lebih dari sepuluh menit. Tony membawa aturan militernya itu dan menjadikannya sebagai tradisi keluarga Howard selama bertahun-tahun.


Delapan menit pun berlalu. Semua anggota keluarga telah selesai melakukan kegiatan makan malam mereka. Tony kemudian membuka kesempatan dirinya dan anggota keluarga yang lain, untuk berbicara. "Martin, bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Tony sambil menyalakan sebatang cerutu, dengan pemantik api mahalnya.


"Lancar tidak ada kendala, Kek," jawab Martin yang terduduk tegak diatas kursi, sambil menoleh kearah Tony.


"Bagus! Megan, Sarah, bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Tony yang kembali membakar cerutunya, dengan pemantik api, lalu menghembuskan asap yang keluar dari mulutnya, ke atas langit-langit ruangan.


Megan dan Sarah pun sontak berdiri. "Lancar, tidak ada kendala, Kek!" jawab mereka dengan serempak.


"Hahaha! Bagus! Itu baru cucu-cucu putri kesayanganku! Duduklah, duduk," puji Tony seraya tersenyum.


Kedua cucu putri yang telah membuatnya kagum itu pun, kembali menduduki kursi mereka masing-masing. Tony lalu menatap pada Laura, yang sedari tadi masih menampakkan raut wajah kesal. "Laura, apa kau sedang tidak bersemangat hari ini?" tanya Tony pada sang istri.


Laura sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. "Bagaimana bisa aku bersemangat, sedangkan mendiang putriku Angelina, telah berada dalam kuasa orang lain," gerutu Laura, sambil mengetuk-ngetukan tulang jarinya, keatas meja


"Pergilah duluan ke kamar, dan istirahatlah. Besok pagi, kita akan kembali ke rumah itu." -Tony menghisap cerutu- "Huuuftt ... jika keluarga Helsink tidak mau menyerahkan jasad Angelina, maka mereka harus menyerahkan Roman," ucap Tony, seraya menatap tajam ke arah bingkai lukisan yang menggantung di atas dinding ruangan.


Laura seketika berdiri dari kursinya. "Aku tidak peduli dengan anak itu! Yang aku inginkan, jasad putriku harus dimakamkan, di belakang rumah ini!" gertak Laura yang kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


Tony menggunting ujung cerutunya diatas asbak. Ia lalu beranjak dari kursi, dan bergegas menuju lantai atas. Aku yakin, anak itu pasti berbakat, batinnya seraya melangkahkan kaki menuju tangga penghubung lantai dua.


...*** Rumah Keluarga Helsink ***...


Valerie dan Rika telah selesai dalam urusan mandi malamnya. Mereka kemudian bergegas menuju ruang makan, dengan Valerie yang terlebih dahulu membuka pintu ruang makan. "Valentine, apa buburnya masih ada?" tanya Valerie dari balik pintu.


"Tidak ada. Aku hanya membuatnya untuk Roman," jawab Valentine sambil menyodorkan sendok suapan terakhirnya, menuju mulut Roman.


Valerie pun sontak terdiam dengan wajah meringis. Aaaaa ... adikku lebih sayang pada pacarnya, dibandingkan akuuu, pikirnya. Ia lalu mengembalikan raut wajahnya seperti semula, seraya menoleh ke arah Rika, yang telah berdiri disampingnya. "Rika, bantu aku masak makan malam hari ini," seru Valerie.


"B-baik kak!" Rika kemudian berjalan sedikit lebih maju didepan Valerie. "Valentine! Aku akan merebut kak Valerie darimu!" gerta Rika dengan wajah menyeringai, sambil berkacak pinggang didepan meja makan.


Melihat perlakuan Valentine, membuat Rika menjadi gemas. Giginya menggertak berulangkali, dengan raut wajah yang menatap sebal ke arah Valentine. "Hmphh!!!" Rika sontak memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu berbalik badan dan berjalan menuju Valerie. "Ayo kak!" ucapnya sambil menarik tangan Valerie.


Mereka akhirnya beranjak menuju ruang dapur, yang terletak dibelakang ruang makan. Valerie membuka pintu kulkas bagian tengah, lalu mengeluarkan sepotong daging ayam kalkun yang telah dibumbui rempah-rempah. "Rika, apa kau bisa memotong sayuran?" tanya Valerie sambil menenteng piring ayam tersebut, menuju mesin oven yang terletak diatas meja kabinet ruang dapur.


"Ya, aku akan membantu kak Valerie dengan senang hati," Rika pun turut membuka pintu kulkas bagian bawah. "Sayuran apa saja yang harus ku potong kak?" tanya Rika dengan membungkuk, sambil menatap ruang bawah dalam kulkas tersebut.


"Hmm ... wortel, brokoli, kentang, tomat, dan buncis. Cuci terlebih dahulu," ucap Valerie.


"Baiklah." Rika kemudian mengeluarkan sayuran-sayuran yang telah disebutkan oleh Valerie, lalu membawanya menuju wastafel ruang dapur. "Dasar Valentine! Harusnya kita makan bersama-sama! Dia malah mementingkan Roman," gumam Rika seraya membuka keran wastafel, lalu mencuci seluruh sayuran tersebut.


Valerie hanya termenung selagi berdiri didepan meja oven. Aku bersyukur, Roman sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri, pikirnya sambil menatap pada sepotong daging ayam yang telah dimasukkannya ke dalam oven.


Setelah mencuci seluruh sayuran, Rika lalu memindahkan sayuran-sayuran tersebut, dan meletakkannya diatas sebuah tatakan. "Roman pun juga sama! Bukannya mengelak, malah diam saja! Memangnya dia anak Valentine kah?!" gumam Rika seraya mengambil sebuah pisau dari tempatnya.


Valentine masih berdiri, selagi menunggu warna daging ayam pilihannya, berubah menjadi kecoklatan. Ia mengatur durasi oven selama dua puluh menit. Aku bahkan tidak menyangka, Valentine sudah mahir membuat bubur, batinnya sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan.


"Roman, Roman, dan Roman. Hanya nama itu saja yang ada dalam pikirannya!" gumam Rika seraya memotong seluruh sayuran satu persatu, menjadi bagian-bagian kecil.


Valentine pun telah merapikan seluruh ruang dapur, setelah memasak bubur untuk Roman. Aku jadi sedikit bangga pada kemajuannya, pikir Valerie sambil melirik kanan kiri ke seluruh area ruang dapur.


Selepas memotong seluruh sayuran menjadi bagian-bagian kecil, Rika mengambil panci sup dan meletakkannya ke atas kompor listrik. Ia lalu mengisi air ke dalam panci, dan memasukkan sayuran yang telah dipotongnya, kedalam panci yang terbuat dari bahan stainless steel tersebut.


Tak lupa dengan beberapa sendok kaldu ayam, yang turut dimasukannya kedalam panci. Rika rupanya berniat untuk memasak sup dengan caranya sendiri, yang membuat Valerie sempat tercengang.


"Rikaaa, aku kan hanya menyuruhmu memotong sayuran!" tegur Valerie saat mendapati Rika melampaui perintahnya.


Rika kemudian menoleh ke arah Valerie, sambil menempelkan jari telunjuknya ke mulut. "Ssssttt!! ... aku tidak ingin kalah dari Valentine. Kak Valerie cukup diam, dan saksikan," ucap Rika dan kembali memindahkan perhatiannya pada panci sup.


Valerie pun berjalan menghampiri Rika, yang tengah mengaduk-aduk isi dari panci tersebut. "Hmm ... aromanyaaa ... sejak kapan kau pandai memasak, Rika?" tanya Valerie sambil terus menghirup aroma sedap, dari sup buatan Rika.


"Hehe! Jangan remehkan kemampuan masakku! Aku sedari kecil telah meniru gaya masak ibuku," jawab Rika dengan penuh percaya diri.


Beberapa saat kemudian, Valerie berjalan sambil menenteng sepiring besar daging ayam utuh yang telah dipanggangnya dalam oven, menuju ruang makan. Mereka harus makan banyak! Valentine pasti belum makan sama sekali! Bahkan, semangkuk bubur pun takkan cukup mengisi perut Roman, pikirnya seraya membuka pintu ruang makan.


Rika lalu menyusul kedatangan Valerie, dengan menenteng semangkuk besar sup buatannya, menuju ruang makan. Lihat saja! Kak Valerie dan Roman pasti sangat menyukai sup buatanku ini! Dan skor kita, 1-1! batin Rika sambil berjalan melewati pintu ruang makan yang terbuka lebar.


Valentine dan Roman seketika tercengang, saat menatap pada masing-masing makanan yang telah dibuat oleh Valerie dan Rika. Mereka akhirnya menyantap seluruh makanan tersebut secara bersama-sama.


~To be continued~