My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 51. Rumah Baru



Selepas kepergian dua orang kakek dan nenek Roman, Valentine dan Rika kembali ke kamar. Sampai beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya tertidur pulas sambil memeluk tubuh satu sama lain.


Valerie yang telah kembali dari pusat perbelanjaan, memarkirkan kendaraannya di garasi rumah. Saat memasuki rumah, perhatiannya seketika tertuju pada monitor pengawas yang menyala dengan sendirinya. Siapa yang menyalakan monitor ini? Roman kah? pikirnya seraya mematikan monitor tersebut.


Demi memastikan rasa penasaran dalam hatinya, Valerie beranjak ke lantai dua dan bergegas menuju kamar Roman. Ia lalu melihat pintu kamar itu sedikit terbuka. "Roman?" ucapnya sambil membuka pintu kamar.


Valerie mendapati Roman telah tertidur pulas diatas ranjangnya. Jika bukan Roman, berarti para gadis! batinnya. Dua kantung belanjaan yang berada dalam genggamannya pun diletakkan diatas meja yang terletak disudut ruangan.


Valerie kemudian menutup kembali pintu kamar Roman, dan bergegas menghampiri kamar Valentine. Namun, kamar itu terkunci. Dasar Valentine! Segitu takutnya kah kau dengan Roman? pikir Valerie.


Ia tetap membiarkan Rika dan Valentine tertidur, lalu beranjak menuju kamarnya. "Haaah ... sekarang waktunya bagiku untuk melepas penat, setelah seharian tidak tidur," ucap Valerie seraya duduk menggeliat diatas ranjangnya.


Rasa kantuk pun seketika menyerang kedua mata Valerie, dan membuatnya merebahkan diri, lalu menutup matanya dengan perlahan. Valerie akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengistirahatkan tubuhnya, setelah seharian menjaga matanya tetap terjaga.


...*** Rumah Keluarga Alexandra ***...


Andrea memutuskan untuk menutup kafenya selama seharian penuh, setelah mengetahui sang adik menerima hukuman skors selama seminggu. "Bodoh! Dasar bodoh! Aku capek-capek mengeluarkan banyak uang untuk biaya sekolahmu, tapi apa yang kau dapatkan? Skorsing seminggu?!!" omel Andrea yang berdiri tegak sambil bersedekap tangan dihadapan Audrey, yang tengah duduk bersimpuh sambil menundukkan wajahnya.


"Maafkan aku, kak," ucap Audrey dengan penuh rasa penyesalan dalam hatinya.


"Bagus! Minta maaflah sepuasmu! Lalu, ulangi kembali kesalahan itu! Apa kau tidak kasihan denganku?!" Andrea benar-benar sangat peduli dengan sang adik.


Audrey sontak memeluk paha Andrea, lalu mendongakkan wajah memohonnya pada sang kakak. "Tidak kak! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi ...." mohon Audrey sambil meneteskan air mata.


"Bangunlah ...." seru Andrea seraya memejamkan kedua matanya.


"Kaaak?"


"Banguun!" Andrea menggengam kedua pundak Audrey dan memaksanya untuk berdiri.


Audrey akhirnya berdiri, dan tercengang saat mendapati Andrea memeluknya dengan erat. "Kakaaak?" ucapnya dengan wajah heran dan mata yang membelalak lebar.


"Romaaan!" -Andrea meneteskan air mata- "Ibu dan adiknya telah meninggal," ungkap Andrea yang spontan menangis sesenggukan.


Audrey pun sontak menarik nafas dari mulutnya. "K-k-kau tidak m-m-mengarang kan kak?!" tanya Audrey, yang belum sepenuhnya percaya dengan perkataan sang kakak.


"Roman kini ... hidup sebatang kara ... apa yang harus kita lakukan lagi untuk membalas segala perbuatan kita kepadanya?!" Andrea semakin terisak dalam tangisnya sambil membayangkan betapa beratnya cobaan yang dihadapi karyawan barunya itu.


"T-tidak mungkin ...." Audrey kembali meneteskan air matanya, setelah benar-benar percaya dengan pengakuan Andrea. "Akupun bahkan belum sempat meminta maaf dengan ibunda nya," ungkap Audrey seraya menjatuhkan lututnya hingga terlepas dari pelukan Andrea.


Andrea turut menjatuhkan lututnya dan bersimpuh, sambil memeluk pundak sang adik. "Andai saja Valerie tidak merebut hak asuhnya, tentu Roman ... akan tinggal disini bersama kita," keluhnya dengan berderai air mata.


"Romaaann ...." Audrey tak dapat menahan kesedihannya, setelah mencoba membayangkan betapa pedihnya penderitaan yang dialami oleh lelaki pujaannya itu. Ia lalu beradu tangisan dengan sang kakak, dan berpadu dalam duka yang amat mendalam, untuk keluarga Roman.


...*** Rumah Keluarga Howard ***...


Laura membuka pintu rumah, dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju tangga. Christ yang menyaksikannya pun terkejut dengan sikap ibunya itu. "Mama! Bagaimana?! Apa kau sudah mengurus jasad Angelina?!" tanya Christ seraya mengejar Laura, yang semakin mempercepat langkah kakinya, menapaki setiap anak tangga.


Christ pun terheran dengan jawaban ibunya. "Orang lain?! Apa maksudnya?!" ucapnya sambil menyandarkan tangan kirinya pada tembok lorong lantai dua, yang terdapat barisan kamar-kamar.


Sementara, Tony kembali menduduki sofa mewahnya. "Chriiist! Dimana kau?! Kemarilah!!" soraknya dari lantai satu.


Mendengar himbauan sang ayah, Christ pun bergegas menuruni tangga, menuju lantai satu. "Papa! Bagaimana dengan nasib jasad Angelina? Siapa orang yang telah mengambil jasadnya?" tanya Christ yang telah berdiri disamping Tony.


Dihadapan sang ayah, ia tak berani mendesak mantan jenderal itu, dengan segala pertanyaannya. Christ berusaha untuk tetap tenang, dalam menunggu jawaban Tony. "Hmm ... sepertinya keluarga Helsink sudah mengibarkan bendera perangnya pada keluarga kita," ucap Tony sambil menghisap sebatang rokok yang telah dinyalakannya.


Tony lalu menghembuskan asap rokok itu, keatas langit-langit. "Mereka telah meremehkan keluarga Howard. Uhuk uhukk ... uhukk ... Christ! Buatkan aku teh!" perintah Tony setelah serangkaian batuk menyerang paru-parunya.


"Baik, Pa!" Christ kemudian bergegas menuju ruangan dapur, yang terdapat banyak peralatan-peralatan modern dengan teknologi canggih untuk kegiatan memasak.


Christ membuka lemari kabinet, dan meraih sebotol gula, lalu meletakkannya keatas meja dapur, yang berderet sepanjang delapan kaki disudut ruangan. Helsink? Apakah Valerie orangnya? batinnya sambil menuangkan air hangat, kedalam sebuah cangkir pribadi milik Tony, yang telah disuguhi dua sendok gula dan sesendok teh bubuk racikannya.


Setelah merasa percaya diri dengan teh buatannya, Christ berjalan menghampiri sang ayah lalu meletakkan secangkir teh itu keatas meja kaca ruang tamu yang terlihat elegan.


Tony seketika menatap pada teh tersebut. "Bagaimana dengan gulanya?" tanya Tony sambil memicingkan matanya.


"Takarannya ku sesuaikan untuk ayah yang tidak terlalu suka rasa pahit. Gulanya telah ku saring dan ku keringkan selama beberapa hari, guna menurunkan tingkat kalorinya," tutur Christ dengan penuh percaya diri.


"Hmm ...." Tanpa basa-basi lagi, Tony lansung meraih cangkirnya dan menyeruput air hangat berwarna merah keemasan tersebut. "Aaahhh ... kemampuan chef mu tidak diragukan lagi," puji Tony dan kembali menyeruput teh itu berulangkali.


"Terima kasih, papa," Christ pun tersenyum selagi berdiri disamping sang ayah.


"Sayaaang! Cepat kemari!" himbau Eleana Howard, istri Christ dari kamar lantai atas.


"Ayah, Eleana memanggilku. Aku akan kembali lagi," kata Christ seraya menundukkan sedikit wajahnya ke arah bawah.


"Hmm ... baiklah," Tony mengizinkan Christ menghampiri istrinya, yang telah menghimbau dari dalam kamar pribadi mereka.


Tony seketika memusatkan perhatiannya pada pintu rumah, dan mendapati Megan serta Sarah, beranjak masuk kedalam rumah tersebut. "Kakeekkk!! Aku pulang!" sorak Sarah yang baru menginjak usia 14 tahun.


Megan kemudian berjalan membelakangi Sarah, menuju sang kakek yang tengah duduk diatas sofa seraya menanti kedatangan mereka. "Kakek, aku pulang," ucap Megan, cucu perempuan Tony yang telah menginjak usia 16 tahun.


"Cucuku sayang! Megan dan Sarah!" Tony seketika mencondongkan tubuhnya kearah tubuh kedua cucunya, lalu merangkul mereka dengan penuh kehangatan.


Seketika datang seorang pria dengan setelan jas mewah yang menyusul kedatangan kedua cucu Tony. Ia lansung memberikan hormat dengan tangannya, kepada mantan jenderal tersebut. "Tuan Jenderal Tony, aku siap memenuhi perintah selanjutnya," ucapnya setelah menurunkan tangan dari kepalanya.


"Kerja yang bagus, Jim! Berjaga-jagalah didepan gerbang rumah," perintah Tony sambil berdiri tegak, dihadapan sang pengawal cucunya itu.


"Siap Laksanakan!!!" sorak Jim Leonard, yang merupakan seorang tentara dengan pangkat sersan. Ia mengemban tugas khusus, untuk mengawal keluarga Howard, juga termasuk beberapa pengawal militer lainnya. Jim telah menjadi bawahan kepercayaan Tony, sejak kakek berusia 58 tahun itu masih aktif didunia militer.


~To be continued~