
...*** Rumah Keluarga Helsink ***...
Selepas menurunkan Roman dan Valentine didepan halaman rumah, Valerie bergegas menuju garasi yang terletak disamping rumah. Ia lalu beranjak turun dari mobil setelah mematikan mesinnya. "Apa Roman akan senang dengan pemberianku ini?" pikir Valerie yang berdiri disamping mobil, sambil menenteng sebuah kantung belanjaan, yang berisi sesuatu didalamnya.
Valerie berjalan dengan perlahan menghampiri Roman dan Valentine, yang telah menunggunya didepan pintu. Ia semakin terhanyut dalam rasa cemas, karena takut Roman tidak akan senang dengan suatu pemberian yang telah dirahasiakannya, selama perjalanan pulang menuju rumah.
"Lebih baik ku serahkan saat tak ada Valentine. Akan lebih gawat lagi jika dia beranggapan aku pilih kasih," batin Valerie seraya berjalan menuju pintu rumah, lalu membuka kuncinya.
"Roman, kau mandi duluan. Dan jangan sampai lupa, bawa pakaian gantimu!" ucap Valentine sambil melepaskan gandengan tangannya pada lengan Roman. Ia lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju tangga penghubung lantai dua, dan masuk kedalam kamarnya, sebelum Roman memasuki kamar barunya.
Melihat Valentine telah lebih dulu beranjak menuju kamarnya, membuat Valerie merasa bahwa itu adalah sebuah kesempatan, untuk memberikan sesuatu kepada Roman. Ia lalu mendapati anak itu tengah berjalan menuju tangga. "Roman," himbaunya pada Roman yang baru saja menapakkan kakinya pada anak tangga.
"Iya." -Roman menoleh kebelakang- "Ada apa kak Valerie?" tanya Roman yang kemudian menunda niatnya untuk segera memasuki kamar, setelah Valerie memanggilnya.
Valerie seketika berjalan menuju sofa ruang tamu, mendudukinya lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantung belanjaan, yang diperolehnya dari toko ponsel. "Roman, kemari dan duduklah," seru Valerie, setelah meletakkan kotak tersebut keatas meja kaca.
Rasa penasaran telah membawa Roman berjalan menghampiri Valerie. Ia lalu duduk diseberang kakak perempuan angkatnya itu, tanpa sedikitpun menatap pada sebuah kotak yang terletak diatas meja.
"Roman, ambilah kotak itu dan buka isinya. Itu untukmu," ucap Valerie yang tengah duduk seraya menyilangkan sebelah kakinya diatas paha. Ia pun sontak menggigit bibir bawah, karena tak sabar menantikan reaksi apa yang akan ditunjukkan Roman.
Roman menatap penuh curiga pada kotak tersebut. Namun, demi menghargai usaha Valerie, ia tetap berpikir positif dan meraih kotak itu, lalu membukanya. "Ponsel kah?" tanya Roman seraya mengeluarkan sebuah ponsel, yang masih terbungkus rapih.
"Ya. Mulai hari ini, kau harus memiliki ponsel pribadi. Karena jika ada apa-apa, kau bisa menghubungi aku, ataupun sebaliknya," kata Valerie seraya mengelus-elus kedua ibu jarinya yang saling menggenggam.
"Maaf kak, Valerie," Roman seperti merasa tidak layak untuk menerima pemberian yang berharga itu.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Valerie dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
"B-bukan itu maksudku. Hanya saja, ini terlalu berharga untuk kumiliki." -ia berdiri dari sofa- "Berapa harganya, kak Valerie?!" tanya kembali Roman sambil memegang erat ponsel barunya tersebut.
Valerie pun turut berdiri dari kursi Sofanya. "Untuk apa kau menanyakan harganya?!" tanya Valerie seraya bersedekap tangan.
Roman kemudian menunduk. "Aku akan segera menggantinya!" ungkapnya dengan penuh ketegasan dan rasa segan yang dimilikinya terhadap Valerie.
"Tidak perlu! Kau sekarang adalah bagian dari keluarga Helsink." Valerie menghampiri Roman dan sontak memeluknya dengan erat "Aku benar-benar sudah menganggapmu seperti adikku sendiri," Perkataan itu, benar-benar tulus dari dalam lubuk hatinya.
Keheningan pun terjadi. Roman seketika terdiam dan membisu, meski tubuhnya terangkul erat dalam pelukan Valerie.
"Roman?" ucap Valerie yang belum melepaskan pelukannya dari tubuh Roman. Ia merasa ada yang aneh dengan anak itu.
Demi memastikan apa yang terjadi dengan Roman, Valerie melepaskan pelukannya secara perlahan dan terkejut, saat mendapati wajah anak itu, telah dipenuhi oleh air mata. "Roman, kau kenapa?!" tanya Valerie seraya menggengam erat wajah Roman.
"A—aku ... aku benar-benar ... tak ingin menyusahkanmu lagi, kak Valerie ... kau terlalu baik padaku," ungkap Roman dengan penuh rasa sedih, serta air mata yang mengalir secara perlahan menuju pipinya.
Valerie menyeka air mata Roman, dan mencoba memahami maksud dari anak tersebut. "Kan sudah ku bilang, kau sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, Romaan," ucap Valerie yang turut meneteskan air matanya.
Roman merasa begitu banyak kebaikan-kebaikan Valerie, yang belum sempat dibalasnya. Dan kini, gadis itu semakin dan semakin memperlihatkan rasa kepeduliannya, terhadap anggota keluarga barunya itu.
Bila ditanya soal nilai, Valerie rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli sebuah ponsel keluaran terbaru, dengan banyak fitur-fitur terkini, dan menjadikannya hadiah yang sangat bernilai, untuk Roman.
"Tentu saja. Asal jangan mengunakannya dikelas," anjur Valerie, yang masih menggenggam erat kedua pundak Roman dengan tangannya.
"Terima kasih, kak Valerie," ungkap Roman. Ia lalu berlalu meninggalkan Valerie, dan beranjak menuju lantai dua, dengan penuh rasa gembira.
"Jangan lupa untuk menyimpan nomorku dan nomor Valentine yah!" ucap Valerie, saat mendapati Roman telah menaiki anak tangga.
Roman lalu tersenyum seraya mengancungkan ibu jarinya kearah Valerie. Ia seperti sudah tak sabar, membuka dan memainkan ponsel barunya itu.
Namun, setelah tiba dilantai dua lalu melewati kamar Valerie, Roman tak sengaja berpapasan dengan Valentine, yang baru saja keluar sambil menutup pintu kamarnya.
Valentine seketika menaruh perhatian pada sebuah ponsel yang berada dalam digenggam tangan kiri Roman. "Roman, apa itu? Ponsel barukah?" tanya Valentine dengan penuh rasa penasaran.
"Ya. Kak Valerie yang membelikannya," jawab Roman yang berdiri dihadapan Valentine, seraya memegang ponsel ditangan kirinya, serta menggengam erat kotak ponsel ditangan kanannya.
"Sungguh?!" Valentine pun turut menampakkan wajah gembiranya. Ia lalu mendekati Roman, menarik tangannya, dan membawanya masuk kedalam kamar. "Mana, coba lihatkan padaku! Masukkan nomor ponselku sekarang juga!" ucap Valentine seraya terduduk diatas ranjangnya.
Roman kemudian turut duduk disebelah Valentine, lalu menyodorkan ponselnya pada gadis itu. Perhatiannya seketika tertuju pada belahan dada Valentine, yang tersingkap lebar.
Valentine yang telah membuka bungkus ponsel dan menyalakannya pun sontak menoleh ke wajah Roman. "Jangan terlalu lama melihatnya. Kau nanti akan tergoda, dan berbuat macam-macam denganku," tegur Valentine dengan pandangan yang menatap tajam. Ia menyadari bila Roman sangat tertarik dengan belahan dadanya.
Mendengar teguran Valentine, membuat Roman sontak menoleh ke arah lain, seraya mengigit bibir bawahnya. "Maaf! Aku tidak sengaja melihatnya," ucap Roman sambil bersedekap tangan, tanpa menyadari bila kedua tangan yang saling melipat itu, bergetar dengan sendirinya.
Setelah ponselnya menyala, Valentine lansung mengatur konfigurasi ponsel tersebut, lalu mendapati sebuah kotak email yang muncul dari layar ponsel. "Kau ingin membuat emailmu sendiri, atau aku yang membuatnya?" tanya Valentine yang terus menatap pada layar ponsel milik Roman.
"Kau saja. Aku masih belum mengerti bagaimana cara membuatnya," jawab Roman sambil tetap mempertahankan pandangannya ke arah lain. Jika ia turut menatap pada ponselnya, maka matanya tetap akan berlari menuju belahan dada Valentine.
Valentine tak sedikitpun merasa malu dengan kehadiran Roman, meski dirinya hanya mengenakan sebuah tanktop yang menutupi tubuhnya, dan celana pendek super ketat yang menutupi pinggang, hingga sedikit melewati pangkal pahanya.
Ia seperti telah terbiasa dengan kehadiran kekasihnya itu, dan tetap mengawasi atau mencegah setiap tindakan-tindakan Roman, yang mungkin dengan sengaja akan menyentuh bagian tubuh vitalnya.
"Roomaan Valentine et ji mel dot kom ... bagaimana? Apa kau setuju dengan nama email-nya?" tanya Valentine seraya memperlihatkan layar ponsel ke wajah Roman.
"Kalau menurutmu bagus, aku tidak masalah," jawab Roman yang terus memalingkan wajahnya ke arah lain.
Valentine pun merasa kesal, karena Roman berbicara tanpa sedikitpun menolehkan wajahnya pada gadis itu. "Sini!" -Ia menarik kepala Roman- "Kau lihat kemana sih!" tegur Valentine sambil memaksakan wajah Roman, untuk menoleh ke arah dirinya.
Namun, tarikan itu terlalu kuat, yang membuat Roman tak sengaja menahan keseimbangan tubuhnya, hingga mendaratkan kepalanya tepat diatas paha Valentine, yang terasa sangat halus, lembut dan dingin.
Valentine sontak terkejut dan tercengang, setelah mendapati kepala Roman bersandar diatas kepalanya. Hatinya berdebar-debar tak menentu, dengan kedua pipi yang tiba-tiba memerah.
Demi menghindari kesalahpahaman, Roman pun segera membangkitkan tubuhnya.
"Jangan!" Valentine sontak menahan pundak Roman, dan memaksanya untuk kembali menyandarkan kepalanya, diatas kedua paha gadis itu. "Biarkan tetap seperti ini ... sedikit lebih lama," ucap Valentine, sambil menatap penuh kagum pada wajah kekasihnya itu.
Setelah semakin lama menatap wajah Roman, rasa cinta yang kian meledak-ledak dalam hati Valentine, membuatnya sontak menundukkan wajahnya. Roman pun akhirnya membiarkan Valentine menciumnya, dengan penuh rasa sayang yang amat mendalam.
~To be continued~