
Seluruh murid dengan segera berbondong-bondong keluar dari kelas, setelah mendengar bel pertanda pulang sekolah berbunyi. Hanya menyisakan Roman dan Valentine, yang mengisi kekosongan diruang kelas 1A.
Roman seketika berdiri dari kursinya, sambil mengulurkan tangannya pada sang kekasih. "Valentine, ayo pulang," ucapnya dengan tersenyum.
Melihat Roman tiba-tiba mendadak mengajaknya pulang, membuat Valentine menjadi salah tingkah. Senyuman yang terpampang jelas di wajah kekasihnya itu, benar-benar membuat hatinya merasa canggung.
Valentine sontak berdiri dari kursinya, tanpa menghiraukan uluran tangan Roman. "Ayo jalan!" ucapnya dengan raut wajah kesal, seraya melangkahkan kakinya menuju pintu kelas.
Roman pun turut berjalan mengikutinya. "Tidak bergandengan tangan?" Pertanyaan itu ia lontarkan, dengan senyuman yang belum pernah lepas dari wajahnya.
"Tidak usah! Kau nanti malu jalan denganku!" Valentine semakin mempercepat langkah kakinya, seiring dengan semakin judes-nya perkataan-perkataan yang ia ucapkan pada Roman.
Roman berusaha untuk menurunkan tingkat emosi yang hampir melampaui kesabarannya, dengan meraih tangan Valentine secara paksa.
Namun, Valentine segera melepaskan tangannya dari genggaman sang kekasih, dan berhenti melangkahkan kakinya sejenak, seraya membalikkan badannya.
"Ada apa denganmu?! Kenapa kau selalu tersenyum dihadapanku?! Apa yang sedang membuatmu senang?!" tanya Valentine, dengan sorotan mata yang menatap tajam ke arah mata Roman. Ia merasa curiga dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
Roman hanya bergeming, hingga menciptakan keheningan diantara mereka berdua. Senyumannya kini, membuka sedikit mulutnya, hingga nampak jelas gigi-gigi putihnya, yang membuat Valentine semakin geram dengan sikapnya itu.
Valentine lalu beringsut kedepan, dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Roman. "Apa maksud dari senyumanmu itu?! Hah?!! Kau ingin meledekku?!" Kali ini, emosi Valentine yang sudah melampaui batas kesabaran. "Jawaaab!!!" bentaknya dengan penuh rasa kesal yang meledak-ledak, hingga tak mampu menahan air mata, yang mulai mengalir menuju pipinya.
Roman pun sontak memeluk tubuh Valentine. "Valentine, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," ungkapnya dengan penuh rasa bersalah yang amat mendalam.
Tindakannya yang berubah-ubah itu, justru membuat Valentine sontak tercengang. "Lepaskan aku!" ucap Valentine, seraya mendorong tubuh Roman sekuat tenaga. Ia sontak berbalik badan dan berjalan dengan tergesa-gesa, meninggalkan kekasihnya. "Roman bodoh! Roman bodoh! Roman bodooooh!" gumamnya dalam hati yang sudah tergenang air kekesalan.
"Valentinee!" Roman berusaha mengejar Valentine dengan mengikutinya dari belakang. "Valentine, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," Ia benar-benar ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
Namun, Priscilla seketika datang dari arah kanan simpang lorong gedung sekolah. "Romaaan!" himbaunya kepada Roman, yang tengah berjalan lurus, sambil mengejar dan membujuk Valentine untuk berhenti.
Roman pun berhenti, seraya menoleh ke arah belakang. "Priscilla?!" ucapnya. Ia tak menyangka, bila Priscilla-lah yang telah menghimbaunya dari belakang.
Priscilla dengan segera menghampiri Roman, yang membuat Valentine turut berhenti, dan menyaksikan mereka berdua dari kejauhan.
"Kau pulang sendiri?" tanya Priscilla. Ia pun tak sengaja memusatkan perhatiannya pada Valentine, yang tengah berdiri seraya menatap ke arah mereka berdua.
Rasa cemburu yang pernah bertamu dihati Valentine pun seketika muncul, dan kembali menguasai hatinya. "Mungkin inilah saat yang tepat, untuk membuktikan bahwa kau benar-benar seorang pengkhianat, Roman," batin Valentine, dengan kedua tangan yang mengepal erat, dan nafas emosi yang menggebu-gebu, dalam hatinya.
Priscilla akhirnya menyadari apa yang tengah dirasakan Valentine, setelah melihat gerak-gerik yang ditunjukkanya dari kejauhan. "Mereka sedang bertengkar kah?" pikirnya, tanpa menyadari lambaian telapak tangan Roman, yang bergerak-gerak didepan wajahnya.
"Priscillaaaaa!" Roman berusaha menyadarkan Priscilla, yang sedari tadi termenung tanpa menatap ke wajahnya.
"M-maaf!" Priscilla pun segera memanfaatkan situasi hubungan antara Roman dan Valentine, yang tengah kacau, dengan sengaja menggenggam dan menarik tangan Roman, lalu membawanya menjauh dari pandangan Valentine.
"Priscilla! Kau ingin bawa aku kemana?!" Roman menjadi kebingungan, setelah kakak kelasnya itu menggiringnya menuju suatu tempat, yang dirasa sangat sepi baginya.
Ruang laboratorium kelas dua, yang terletak di lantai dua, menjadi tempat pilihan Priscilla untuk menguasai dan mempengaruhi pikiran Roman, agar bisa terlepas dari bayangan Valentine.
Setelah membuka pintu lab, Priscilla memaksa Roman masuk kedalamnya, dan kembali menutup pintu rapat-rapat. "Roman," ucapnya sambil kembali menggenggam erat tangan Roman, dan membawanya menuju sebuah pintu yang terletak dipojok ruangan.
"Priscilla, lepaskan aku." Roman berusaha mengelak dengan menarik-narik tangannya, agar terlepas dari genggaman Priscilla. Namun, gadis itu semakin kuat menggenggam tangannya, dan memaksanya masuk kedalam ruangan yang pintunya telah dibuka olehnya.
Priscilla dengan segera memojokkan Roman, dan memaksanya bersandar pada dinding ruangan. Ia kemudian berjalan menuju pintu, lalu menutupnya rapat-rapat, setelah memastikan ruangan itu tidak akan ada siapapun yang masuk kedalamnya. "Roman ... aku benar-benar sangat mencintaimu," ucapnya sambil menunduk, dan bersandar pada pintu ruangan penyimpanan alat-alat, yang dimana ruangan tersebut, juga terletak didalam ruang laboratorium.
"Priscilla, aku benar-benar menghargai perasaan mu untukku. Tapi, aku tak bi—" Roman sontak tercengang, saat mendapati Priscilla berjalan menuju dirinya dengan perlahan, sambil membuka kancing seragamnya.
"Roman, aku benar-benar ... sangat menginginkanmu," ungkapnya, seraya membuka kancing seragamnya satu persatu, hingga sedikit menyibakkan belahan dadanya. Priscilla benar-benar telah dibutakan, oleh rasa cintanya yang amat mendalam untuk Roman.
"Priscilla, hentikan!" Roman pun sontak menghampiri Priscilla, dan berusaha mencegah perbuatan yang dilakukan oleh gadis itu.
Namun, Priscilla dengan segera melepaskan seragamnya dan melemparkannya ke arah lain, hingga sengaja menampakkan buah dadanya yang tersingkap jelas, yang membuat Roman sontak berhenti mendekatinya, seraya memalingkan wajah ke arah lain.
"Priscilla! Apa yang kau lakukan! Cepat pakai kembali seragammu!" perintah Roman yang hampir tergoda, dengan bentuk buah dada yang sangat menonjol itu.
Priscilla mengabaikan perintah Roman dengan berjalan mendekatinya secara perlahan, yang membuat anak itu mau tidak mau berjalan mundur dan terpojokkan, lalu kembali bersandar pada dinding ruangan. "Roman, apakah ini belum cukup, untuk membuatmu jatuh cinta padaku?" tanya Priscilla, yang telah terpengaruh rasa cintanya.
Roman tak dapat mengelak saat tubuhnya bergetar hebat, dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Ia tetap berusaha memusatkan perhatiannya ke arah lain, agar tak tergoda dengan buah dada Priscilla, yang hampir menyentuh dadanya.
Melihat Roman membuang muka, membuat Priscilla menjadi kesal. "Romaan! Lihat kesini!" ucapnya, seraya memaksa kepala Roman untuk menghadap ke arah dirinya, dan menatap jelas pada buah dadanya.
Namun, Roman tetap memaksakan kepalanya untuk berpaling dari pandangan Priscilla, meski tubuhnya telah terbelenggu oleh tubuh gadis itu. Ia pun seketika teringat akan Valentine. "Aku telah berjanji pada Valentine, untuk melindunginya, dan selalu ada disampingnya!" batinnya, dengan gigi yang menggertak.
Demi menjaga hubungannya dengan sang kekasih, Roman sontak menghindar lewat celah tangan Priscilla, yang telah membelenggu tubuhnya. Ia lalu berjalan menuju pintu, seraya meraih seragam Priscilla, dan melemparkannya ke arah gadis itu.
"Priscilla, aku mencintai seseorang, bukan karena melihat dari bentuk fisiknya! Jangan sampai membuatku benci padamu, jika kau mengulangi kejadian seperti ini lagi!" gertak Roman, sambil berdiri didepan pintu ruang penyimpanan alat-alat laboratorium.
Priscilla yang telah meraih seragamnya pun sontak tercengang, setelah mendengar perkataan Roman. "R-Romaan! Maafkan aku! ... Romaaan!!" soraknya dengan penuh rasa bersalah, saat mendapati Roman pergi meninggalkannya.
Roman lalu berjalan menuju pintu ruang laboratorium, dan keluar dari ruangan tersebut. "Memang ku akui, buah dadanya lebih besar dari buah dada Valentine. Tapi, cinta Valentine lebih besar, dan yang pertama untukku!" pikirnya, seraya berlari meninggalkan ruang lab, dan bergegas menuju persimpangan lorong gedung sekolah.
"Valentineee!" soraknya sambil menoleh dari balik tembok lorong, dan terkejut saat mendapati Valentine telah menghilang dari lorong sekolah, yang menjadi akses menuju ruang loker.
Roman tergesa-gesa berjalan menuju ruang loker, dengan harapan Valentine masih berada di tempat itu. "Valentinee!!" soraknya, namun tetap tak jua menemukan kekasihnya.
Ia lalu bergegas menuju lemari lokernya, membuka loker, dan mengemas barang-barangnya, serta mengenakan tasnya secepat mungkin. "Semoga Valentine sudah berada didalam mobil kak Valerie, dan kak Valerie, semoga masih menunggu kedatanganku," batinnya dengan penuh berharap-harap.
Roman dengan segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama gedung sekolah, dan berlari keluar dari teras gedung, menuju gerbang sekolah. "Syukurlah!" batinnya, saat mendapati mobil Valerie, hampir berjalan meninggalkan gerbang sekolah.
"Kak Valeriee! Tunggu akuu!" sorak Roman, yang membuat Valerie sontak menginjak pedal remnya.
Roman lalu berlari menuju mobil Valerie, dan membuka pintu mobil. "Valentine!" ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya kedalam mobil, dan terkejut saat mendapati bangku mobil disebelahnya kosong.
"Roman?! Kenapa lama sekali?" tanya Valerie, yang membuat Roman sontak menoleh ke arah depan, dan mendapati Valentine rupanya telah duduk disamping Valerie.
"Maafkan aku kak Valerie. Aku tadi sedang ada urusan dengan anggota ekskul atletik," jawab Roman, seraya menduduki bangku belakang, lalu menutup pintu mobil.
"Oh, Begitukah?" Valerie pun segera menginjak pedal gasnya, dan membawa mobilnya melaju dengan cepat, menuju rumah keluarga Helsink.
~To be continued~