
Menjelang redupnya cahaya sore, Valerie masih berpegang pada setir kemudi, seraya mengendarai mobilnya. Ia masih tidak percaya, mengapa seorang siswa seperti Roman meluangkan waktunya untuk bekerja paruh waktu. "Roman, apa kau yakin?" tanya Valerie.
"M-Maksud kak Valerie?" Roman mengembalikan pertanyaan ke Valerie.
"Kau memutuskan bekerja paruh waktu. Tapi, apa itu tidak menggangu belajarmu?" Valerie berusaha mencampuri urusan Roman.
"T-Tentu saja kak! Aku hanya bekerja selama empat jam. Daripada merenung dirumah, lebih baik aku luangkan untuk itu," kata Roman dengan penuh percaya diri. Ia pun berusaha menutupi kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarganya dan, membiarkan Valerie menebak hal itu sendiri.
"Berarti, kau sudah siap untuk menerima banyak remedial, jika pelajaranmu memang benar-benar terganggu?" tutur Valerie sambil menaikkan gigi persneling mobil.
Ahhh!! Kak Valerie benar-benar menyebalkan! batin Roman. Ia pun memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. Roman merasa kesal saat Valerie meragukan kemampuan belajarnya. Tentu saja jika bukan karena beasiswa, Roman tidak akan bisa memasuki sekolah elit itu. Semua berkat kecerdasan IQ-nya yang tinggi.
"Roman?" tanya Valerie sambil menatap cermin yang menghadap kearah belakang kursi penumpang.
"Kak Valerie tidak usah khawatirkan aku. Lebih baik khawatirkan kondisi Valentine. Aku sudah pasti baik-baik saja," Roman pun tersenyum. Ia merasa Valerie telah salah, dalam meletakkan kekhawatirannya pada seseorang.
"Baiklah. Aku sudah mengerti. Jangan sungkan-sungkan bertanya padaku, jika seandainya kau dapat remedial," kata Valerie yang semakin memfokuskan pandangannya ke depan.
Cerewet sekali! Sudah seperti kakak perempuan ku saja! Remedial? Apa itu? Semacam kue kah?" batin Roman.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja Roman. Valerie kemudian mengalihkan rasa penasarannya pada tempat yang akan menambah jam sibuk Roman tersebut. "Roman, di kafe mana kau bekerja?" tanya dia.
"Hmm ... Kalau tidak salah ....." -Roman memusatkan pikirannya- "Swe ... Sweet Memories Cafe! Ya! Sweet Memories namanya kak," tutur Roman yang kemarin sempat melihat nama tulisan di plang kafe.
"Sweet Memories? Dimana itu?" Valerie belum pernah mengetahui ada nama kafe seperti itu dalam hidupnya.
"Pokoknya sebentar lagi sampai kak! Didepan ambil jalan kanan," seru Roman seraya mengacungkan telunjukknya ke sebelah kanan perempatan jalan.
"Okay! Baiklah." Valerie menengok spion kanan dan kirinya demi memastikan keamanan lalu lintas. Ia lalu memutar setir mobil ke arah kanan. "Setelah itu kemana lagi?" tanya Valerie.
"Itu kak, di depan, yang ada plangnya diatas," kata Roman.
Valerie pun melambatkan laju mobilnya. Ia kemudian menginjak pedal rem dan berhenti tepat dibawah plang kafe tersebut. "Disini?" katanya sambil menoleh ke arah dalam kafe.
"Iya betul, kak!" Roman lalu beranjak keluar dari mobil. Ia pun menutup pintu mobil dan berjalan menghampiri Valerie yang tengah duduk diruang kemudi. "Kak Valerie! Terima kasih atas tumpangannya!" kata Roman sambil membungkukkan badan.
Sementara, didalam kafe tersebut, Andrea yang tengah mengelap gelas, memusatkan perhatiannya pada sebuah mobil yang baru saja tiba didepan kafe. Ia kemudian mendapati Roman, beranjak turun dari mobil tersebut. Roman? Dan ... wanita ituuu ... aku seperti mengenalnya, batin Andrea.
Valerie pun penasaran seperti apa suasana didalam kafe. Ia lalu turut beranjak dari mobilnya seraya mengikuti Roman, yang telah terlebih dahulu masuk kedalam kafe tersebut. Setelah membuka pintu kafe, Valerie pun tercengang. Wah... suasana yang sangat 'aesthetic' sekali, batin Valerie seraya melihat-lihat suasana didalam kafe. Ia terpesona dengan konsep desain dan dekorasi dalam kafe itu.
(Prang...!!!)
Andrea dalam lamunannya, tak sengaja menjatuhkan gelas ke atas lantai. "V-V-Valerie?!!" himbaunya, saat mendapati kehadiran seorang wanita yang dikenalnya itu.
"Kau ... Andrea bukan?!!" Valerie pun turut mengenalinya. Ia melangkahkan kakinya secara perlahan menuju Andrea.
"Valerie!!" sorak Andrea yang sontak berlari menghampiri Valerie. Ia pun lantas memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Aaaaaa ... Valerie!! Kau kemana saja?!!" ungkapnya penuh kegirangan.
"Andrea? Kau benar kan Andrea?" -Valerie menggenggam wajah Andrea- "Kenapa pipimu tambah bulat?" sindir Valerie yang sedikit kesal dengan kehebohan sahabatnya itu.
"Daasaar kau Valerieee!" -Andrea mencubit pipi Valerie- "Mana lemakmu? Kau tetap saja kurus seperti dulu." Andrea pun turut membalas sindiran Valerie. Ia kemudian tersenyum karena tak dapat menahan rasa bahagianya.
"Dan kau pun tambah cantik Andrea," puji Valerie sambil terkekeh-kekeh.
"Aaaaa ... benarkah? kalau aku tambah cantik, berarti Valerie yang dulu cantik, sekarang kecantikannya melebihiku kan? Aaaaa ... Ini tidak adil! Hmm!!!" Andrea memalingkan wajahnya seraya cemberut. Ia bertingkah layaknya dirinya semasa sekolah dulu bersama Valerie.
Heh ... suasana yang sangat mengharukan sekali rupanya, batin Roman. Ia terus memperhatikan mereka seraya duduk didepan meja bartender. Semakin dibiarkan, dua wanita itu semakin tidak tau waktu. Roman akhirnya tak dapat membendung rasa sabarnya.
"DIIAAMM!" kata mereka secara serempak, dengan wajah yang super duper kesal, seraya menoleh ke wajah anak itu.
Roman pun ketakutan. Ia sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. Aaaapa ituuu! Seperti dua wanita iblis saja! batinnya.
Ia ketar-ketir setelah mendapatkan reaksi wajah yang menyeramkan dari mereka. Salah tingkah dalam bertindak, membuat Roman menjadi malu. Roman pun mencoba untuk tetap tenang lagi.
"Valerie! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Sebelum kau tinggalkan nomor ponselmu!" kata Andrea dengan penuh keseriusan.
"Iya, iyaaa... sebentar." -Valerie merogoh tasnya- "Mana nomormu, biar aku saja yang mencoba menghubungi," kata Valerie setelah mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
...*** Beberapa menit kemudian ***...
Selepas bertukar nomor ponsel, Andrea mengajak Valerie untuk mampir sejenak. Ia menyuguhkan minuman khas kafe untuk sahabat lamanya itu, seraya memulai sebuah perbincangan.
"Valerie, kau terlihat rapih sekali. Kerja dimana kah?" tanya Andrea dengan penasaran.
"Aku? Aku bekerja sebagai guru," jawab Valerie dengan penuh keyakinan.
"Haaa??? Jangan becanda! Aku seriuuuss." Andrea belum mempercayai perkataan Valerie sepenuhnya.
"Betul! Untuk apa aku berbohong," tegas Valerie.
"Hahaha uhukk uhukk ... Haduhh ... guyonanmu lucu sekali! Perutku hampir sesak karenanya." Andrea benar-benar tidak mempercayai pernyataan Valerie sepenuhnya.
"Dasar!" -Valerie merogoh tasnya- "Ini! Bacalah!" Ia pun mengeluarkan kartu tanda mengajar dan menyerahkannya pada Andrea.
Andrea pun meraih kartu tersebut dan membacanya dengan seksama. "Sekolah menengah Saint Luxury, haahhh??!! T-Tidak mungkin!" kata Andrea. Ia pun tercengang dengan isi yang tertulis dalam kartu itu.
"Kau butuh saksi? Tanyalah anak itu," ucap Valerie seraya menjulurkan tangannya ke arah Roman yang tengah duduk membelakangi mereka.
"Roman?" Andrea pun termenung sejenak. Roman kan siswa sekolah menengah Saint Luxury. Adikku Audrey juga bersekolah disana. Dan Roman, datang dengan Valerie. Berartiiii ... Ah! Aku tanya Roman saja nanti! batin Andrea.
"Bagaimana? Apa harus aku suruh kemari?" Valerie semakin memojokkan Andrea. Ia berusaha melontarkan rasa ketidakpercayaan sahabatnya itu.
"Hihihi ... Baiklah! Aku minta maaf," tutur Andrea. Rasa malunya pun telah mengalahkan ketidakpercayaannya, tentang pekerjaan Valerie. Ia kemudian berpangku dagu seraya menatap wajah sahabatnya itu. "Aku tidak menyangka, orang sepertimu mau jadi guru," ucapnya.
"Memangnya apa yang salah menjadi guru? Aku bekerja tanpa tanda jasa apapun. Apa wajahku tidak pantas untuk menjadi seorang guru?" tutur Valerie.
"Tentu saja tidak. Aku kagum padamu. Setelah sekian lama tak bertemu, kau malah sudah jadi seorang guru." -Andrea memalingkan wajahnya- "Sedangkan aku, setelah lulus sekolah, aku hanya bisa terjebak disini. Untuk kuliah pun aku tak mampu membayarnya. Orangtuaku sudah benar-benar tua," curhat Andrea seraya menampakkan wajah sedihnya.
Valerie pun tersentuh mendengar curhatan sahabat lamanya tersebut. Ia sontak menggenggam sebelah telapak tangan Andrea yang sangat halus dan lembut itu. "Yang terpenting adalah, kita sehat selalu. Aku bersyukur masih bisa dipertemukan lagi denganmu. Mulai hari ini, maukah kau menjadi teman dekatku lagi?" ungkap Valerie dengan penuh senyuman diwajahnya.
Mendengar perkataan itu, bagaikan disiram air rohani yang sangat menyejukkan hatinya. Andrea pun bahagia seraya meneteskan air matanya secara perlahan. Ia begitu bangga dengan sikap peduli yang tinggi dari Valerie. "Lalu setelah ini, kau akan menghilang lagi?" katanya.
"Tidak! Berjanjilah untuk tetap selalu bersama. Sampai akhirnya bertemu dengan jodoh kita masing-masing," ujar Valerie.
"Dan setelah kau dapat jodoh, kau akan melupakanku? begitukah?" Andrea merautkan wajah datarnya karena merasa sebal dengan perkataan Valerie.
"Tidak tidak!! Kita harus tetap saling mendukung walau sudah berumah tangga. Itupun kalau kau telah membuang jauh-jauh sifat gonta-ganti pacarmu!" Valerie sangat peduli dengan sahabatnya itu. "Ingat Andrea, kita sudah dewasa. Berpikirlah secara dewasa," tuturnya.
"Hmm!!! Bukan aku yang melakukannya! Hanya saja mereka yang tidak sesuai dengan harapanku," pungkas Andrea.
Disisi lain, Roman pun tertidur. Rasa sabarnya telah habis, dan bertukar tempat dengan rasa kantuk yang menyerang matanya. Ia tak menduga bila pertemuan dua sahabat lama itu, sangatlah menguras waktu bekerja di hari pertamanya.
~To be continued~