My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 72. Chocoffeelatte



Roman ingin sekali melatih tubuhnya, selagi udara pagi yang sejuk, masih berhembus disekitaran area rumah. Namun, kemunculan awan hitam dengan jutaan curah airnya yang jatuh secara tiba-tiba, membuat Roman mengurungkan niatnya.


"Ahhh! Baru mau keluar malah hujan!" gumamnya dalam hati, seraya berdiri diteras rumah dan menatap ke arah langit yang gelap.


Valentine yang tengah duduk diruang tamu pun seketika beranjak dari kursi sofanya, lalu berjalan menghampiri Roman, yang tengah mematung dibawah teras. "Romaan, kenapa diam saja disitu?" tanya Valentine, yang kemudian berdiri tepat disamping sang kekasih, sambil menggandeng tangan kanannya.


"Tidak ada. Aku hanya sedang bingung ingin melakukan apa," jawab Roman, yang tak pernah memalingkannya perhatiannya pada langit.


Suasana hening pun terjadi diantara mereka berdua. Valentine turut menatap ke arah langit, selagi tangan kanannya menggandeng erat tangan kiri Roman, dan tangan kirinya, menggenggam erat bahu kiri sang kekasih.


Hawa dingin hujan seketika masuk dan menembus pori-pori kulit Valentine. "Brrr ... dingin Romaaan," ucapnya dengan tubuh yang bergetar-getar.


"Ya! Memang sangat dingin!" sambung Roman, yang terus menatap tajam ke arah langit. "Sebenarnya hangat, karena kau terlalu dekat denganku," batin Roman, yang berusaha untuk tetap tenang, meski tidak tahu harus berbuat apalagi.


Hawa dingin yang semakin menusuk-nusuk itu, membuat Valentine sontak memeluk erat tubuh Roman dari samping. "Aku t-t-tak tahan dengan d-d-dinginnya," ucap Valentine dengan terbata-bata, sambil menahan rasa dingin yang telah menyelimuti seluruh tubuhnya.


Mendapati Valentine menggigil kedinginan, membuat Roman sontak melepaskan tangannya, dari gandengan tangan gadis itu. Ia lalu merangkul tubuh Valentine, dan mendekapnya dengan erat. "Bagiamana? Apa masih dingin?" tanya Roman, yang tetap mempertahankan pandangannya ke arah langit, dengan harapan hujan yang sangat deras itu, segera mereda.


"Hmm ...." Suara yang keluar dari mulut gadis itu, benar-benar lembut dan sangat menunjukkan sisi feminimnya. Valentine merasa hangat dan super tenang, saat kepalanya berada dalam dekapan sang kekasih.


Namun, langit sepertinya tengah mengejek Roman, dengan meluncurkan sebuah kilat serta suara gemuruh yang amat dahsyat.


(Jedder!!!)


"Aaaaaaaa!!!" pekik Valentine, saat suara gemuruh petir yang memekakkan telinganya itu, menghantam area disekitar rumah keluarga Helsink. "Romaan, takuuut ...." Valentine semakin mengencangkan pelukannya pada tubuh Roman, dengan penuh rasa ketakutan yang amat mendalam dihatinya.


Roman pun segera mengantisipasi rasa takut Valentine. Ia sontak membungkuk seraya meletakkan tangan kanannya ke arah belakang lutut Valentine, dan dengan sigap mengangkat tubuh sang kekasih layaknya sepasang pengantin baru.


"Disini tidak aman. Kau harus kedalam," ucap Roman yang tetap mempertahankan pandangannya ke arah depan, meski tengah menahan beban tubuh Valentine.


Valentine pun tercengang bukan kepalang, saat Roman menggendong tubuhnya, layaknya tuan putri kerajaan. "Romaaan ... kau seperti pangeran saja," batinnya seraya terpana dan terkagum, sambil menatap ke arah wajah Roman.


Roman lalu masuk kedalam rumah, dan membawa Valentine menuju sofa ruang tamu. "Kau duduk saja didalam ... aku akan tetap menunggu diluar," ucap Roman yang tengah melangkah mendekati sofa.


Valentine pun sontak mengayun-ayunkan kakinya, karena merasa tak ingin ditinggal sendirian oleh sang kekasih. "Tidaaak! Aku tak mau duduk sendirian di sofa!" tolak Valentine dengan raut wajah merengek, yang membuat Roman sempat berhenti didepan sofa. "Bawa aku ke kamarku!" pinta Valentine, dengan mata yang berkaca-kaca.


Roman lalu menoleh ke wajah Valentine. "Hmm ... baiklah," ucapnya. Ia pun membatalkan niatnya untuk menurunkan Valentine didepan sofa ruang tamu, dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tangga penghubung lantai dua. "Tubuhnya hangat, dan ringan," pikir Roman, seraya menapaki anak tangga satu persatu.


Valentine yang tengah menyandarkan kepalanya pada bahu Roman pun seketika merasa senang serta bahagia dengan hati yang berbunga-bunga, karena mendapatkan perlakuan romantis dari kekasihnya itu. Ia pun sontak merangkul bahu Roman, dan menatap penuh kagum pada wajah lelakinya itu.


Setelah menaiki tangga dan menapakkan kakinya pada lantai dua, Roman kemudian berjalan melewati kamar Valerie, sambil membawa Valentine menuju kamarnya, yang membuat Valerie sontak terkejut saat melihat kehadiran mereka.


Valerie yang tengah terduduk pun segera beranjak dari kursinya, dan bergegas menuju pintu kamar, lalu menoleh ke arah sepasang kekasih itu dari balik pintu. "Roman! Anak bayi siapa itu yang kau bawa?!" sindir Valerie, karena merasa sumringah dengan perbuataan mereka berdua.


Roman seketika berbalik badan, setelah mendengar perkataan Valerie. "Bayi? Siapa bayi yang kak Valerie maksudkan?" tanya Roman dengan wajah Heran, dengan Valentine yang tetap berada dalam gendongannya.


Melihat sang kakak yang menatap sumringah ke arah dirinya, Valentine pun sontak menjulurkan lidahnya. "Wleee~" Ia turut membalas sindiran Valerie.


Valentine memalingkan wajahnya ke arah lain. "Hmphh!! Kak Valerie duluan yang menyindirku!" gumamnya dengan nada kesal.


Mendapati Roman yang akan beranjak meninggalkannya, Valentine sontak menggenggam erat tangannya. "Romaan," ucapnya dengan mencondongkan wajah sedikit kedepan, seraya menutup kedua mata.


Roman merasa kepekaannya sedang diuji, namun ia dengan cepat mencondongkan wajahnya ke arah wajah Valentine, lalu mengecup bibir sang kekasih.


Valerie yang merasa penasaran dengan apa yang tengah mereka lakukan pun sontak menyembunyikan kepalanya, saat mengintip dari balik kamar Valentine. "Baiklah baiklah! Bermesra-mesraanlah sepuas kalian! Tapi ingat! Jangan sampai kelewatan!" celoteh Valerie, yang tengah bersandar disamping pintu kamar, sambil bersedekap tangan.


Roman yang sempat mendengar celotehan Valerie pun berniat untuk menyudahi ciumannya. Namun, Valentine menahan kepalanya dengan sebelah tangan kanan, yang membuat kekasihnya itu kembali menciumnya dengan mesra.


...*** Kafe Sweet Memories ***...


Andrea tengah disibukan dengan kehadiran banyak tamu, yang berkunjung kekafenya. Ia lalu berjalan menuju meja pengunjung, yang telah diisi oleh dua orang tamu, dan mendapati mereka telah mencentang kotak pesanan dalam sebuah kertas menu, yang terletak diatas meja.


"Dua chocoffeelatte dan dua crispycake blueberry ... baiklah." Andrea sedikit membungkukkan badannya, setelah melihat pada sebuah kertas menu, yang telah digenggamnya. "Mohon tunggu yah," ucapnya lalu berjalan menuju meja bartender.


Sementara Audrey, tengah sibuk mengaduk-aduk adonan kue pesanan pelanggan. Ia mengisi waktu senggang, dengan membantu sang kakak bekerja di kafe, selagi menjalani masa skorsnya.


"Audreeeyy! Dua chocoffeelatte dan dua crispycake blueberryyyy!" sorak Andrea, dari celah-celah ruang dapur, yang kacanya tersingkap lebar dibelakang meja bartender.


"Baiikkk!!" Audrey pun menyahuti sorakan Andrea, seraya mempercepat gerakan tangannya, dalam mengaduk-aduk adonan kue.


"Ingaaaat! Jangan sampai lupa dan, jangan sampai tertukar!" sorak Andrea sekali lagi.


Mendengar sorakan dari sang kakak, membuat Audrey sontak mendecih. "Iyaaa Cereweet!" sahutnya sekali lagi, dengan raut wajah kesal. "Dasar cerewet! Memangnya aku masih anak kecil, yang tidak bisa membedakan-bedakan mana yang ini dan mana yang itu!" gumamnya, yang telah selesai mengaduk adonan sesuai perkiraannya.


Audrey pun beranjak menuju rak penyimpanan bahan-bahan makanan. Ia lalu meraih dua telur dan membawanya menuju meja dapur. "Roman sedang apa kah? Aku sangat rindu padanya," batin Audrey, seraya memecahkan masing-masing dua telur itu, diatas sebuah loyang adonan.


Setelah bekerja keras selama beberapa menit, Audrey telah siap membuat dua gelas minuman serta dua mangkuk makanan, yang sesuai dengan pesanan pelanggan. Ia lalu meletakkan masing-masing makanan dan minuman itu, keatas meja etalase kaca yang terletak tepat dibelakang ruang bartender.


"Kaaak! Sudah siaap!" sorak Audrey, dan kembali melanjutkan kegiatannya didapur.


Andrea yang tengah berdiri sambil menatap ke arah pintu kafe pun sontak membalikkan badannya. Ia lalu meraih dua gelas minuman dan meletakkannya keatas nampan besar, yang terletak diatas meja bartender.


Begitu juga dengan dua mangkuk makanan manis pesanan pelanggan, yang tak lupa ia letakkan diatas nampan. Setelah memastikan semuanya pesanannya benar dan sesuai, Andrea segera membawa nampan tersebut, menuju meja pelanggan.


"Maaf telah membuat kalian menunggu lama! Ini dia dua chocoffeelatte dan dua crispycake blueberry-nya," ucap Andrea seraya meletakkan masing-masing dua makanan dan minuman manis, keatas meja pelanggannya.


"Terimakasih," balas sang pelanggan, yang merasa senang dan puas dengan pelayanan Andrea.


Begitulah aktivitas dua Alexandra bersaudari itu, selama bekerja dan melayani pelanggan yang datang, kedalam kafe milik keluarga Alexandra tersebut.


~To be continued~