My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 25. Kekaguman



"Romaaaaaannnnn!!!" Semua gadis bersorak dengan serempak. Rasa ketidakpercayaan seolah-olah menginjak pikiran mereka, saat melihat tubuh Roman yang terhempas menuju dasar sungai.


"Andrea! Panggil polisi dan ambulan!" seru Valerie. Ia pun sontak berlari menuju arah seberang. Dengan penuh keberanian, Valerie kemudian melompat melewati besi penyangga jembatan, menuju sungai.


(Byuur...)


"Valerie!!!" sorak Andrea sambil mengacungkan tangannya ke arah seberang. Ia terkejut melihat tindakan spontan Valerie. Dengan penuh kecemasan yang menghantui pikirannya, Andrea sontak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi petugas polisi, tim SAR, serta petugas ambulan rumah sakit terdekat.


Valentine, Rika dan Audrey bergegas menuju arah seberang. Valentine kemudian duduk bersimpuh dibalik besi penyangga, seraya menatap pada aliran sungai yang deras. Dengan menangis terisak-isak, Ia tak menyangka bila kedua orang yang disayanginya itu, telah melompat ke dasar sungai yang dalam. "T-tidak mungkin ... tidak mungkin!!! Aaaaaaaaa!!!" soraknya dengan menjerit.


"Valentine ..." Rika pun turut menangis, karena tak sanggup melihat aksi nekat yang dilakukan Roman. Ia pun tak menduga dengan tindakan spontan Valerie yang nekat terjun ke sungai. Kedua orang itu telah membuatnya menangis ketakutan. Rika kemudian duduk bersimpuh disamping Valentine seraya memeluk gadis itu.


Tamatlah sudah riwayatku, batin Audrey. Matanya terus membelalak ke arah sungai. Ia tak mengira, bila Roman akan bertindak senekat itu. Rasa bersalah yang menerjang hatinya pun telah membuat Audrey mencoba menyelip diantara besi penyangga jembatan. "Semua ini salahku ... semua ini adalah salahku!!!" kata Audrey.


Andrea pun sontak berlari menghampiri Audrey yang hampir menjatuhkan tubuhnya "Hentikan Audrey!" Andrea menyelipkan tangannya ke celah besi penyangga jembatan seraya memeluk tubuh Audrey dari belakang. "Jangan bertindak diluar akal sehat!" tegur Andrea.


"Lepaskan aku!!! Aku layak mati!!!" bantah Audrey. Ia akhirnya tak mampu menghempaskan tubuhnya menuju sungai, karena terhalang oleh pelukan Andrea.


"Jangan Audrey! Sadarlah sayang! Jangan tinggalkan kakakmu ini seorang diri," ucap Andrea sambil memohon kepada adiknya itu. Ia berharap Audrey dapat memahaminya.


Semua pun jadi kacau berantakan. Tidak adanya kepastian akan keselamatan Roman dan Valerie, membuat mereka beradu dalam tangisan. Valentine menangis tersedu-sedu dalam pelukan Rika. Sedangkan Audrey, menangis terisak-isak dalam pelukan sang kakak, yang turut menitikkan air mata.


(ngiiuu ngiiiuu ngiiiuu)


Kecemasan dalam hati Andrea seketika mereda, saat melihat kedatangan mobil polisi beserta sebuah ambulan yang telah menepi di belakang motornya. "Pak! Tolong bantu saya!" sorak Andrea kepada dua petugas polisi yang baru saja keluar dari pintu mobil.


"B-baiklah!" Mereka kemudian bergegas menghampiri Andrea seraya mengangkat ketika Audrey dengan perlahan. Salah seorang polisi pun sigap menahan bagian belakang tubuh Audrey, agar tak terjatuh ke atas trotoar.


Audrey pun sontak pingsan karena sudah tak sanggup lagi menerima kenyataan yang dihadapinya. "Cepat bawa ke ambulan pak!" seru Andrea. Ia dan kedua polisi tadi pun bergegas membopong tubuh Audrey dan membawanya masuk kedalam bagian belakang pintu ambulan yang terbuka.


Didalam ambulan, sudah menunggu dua orang perawat yang siap memberikan pertolongan kepada Audrey. Mereka kemudian membaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang dan memberikannya pertolongan dengan segera.


Selain dua orang polisi tadi, terdapat seorang polisi wanita yang telah menghampiri Rika dan Valentine. "Apa yang telah terjadi sebenarnya?" tanya polwan tersebut seraya duduk bersimpuh dibelakang mereka. Ia tak menyadari bila ada dua orang yang telah terjun ke dasar sungai.


Rika dan Valentine tetap bergeming. Meski terlarut dalam tangisan, mereka terus menatap ke arah sungai yang telah menjadi lokasi terjatuhnya Roman dan Valerie. Jauh dalam lubuk hati dua gadis itu, terdapat selembar kertas harapan yang dipenuhi ribuan tulisan doa keselamatan, untuk kedua orang tersebut.


Valerie mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bakat berenangnya. Dengan penuh jiwa keberanian, ia melompat dan menyelam menuju dasar sungai, demi mencari tubuh Roman yang terlebih dahulu tenggelam. Roman, bertahanlah! Jangan putus asa! Jangan berkecil hati! Jangan merasa sendirian didunia ini! Ada banyak orang yang sangat peduli dan sangat menyayangimu, termasuk aku!" batinnya seraya menelusuri dasar sungai yang sangat gelap.


Kegigihannya tak pernah luntur sekalipun, walau harus menahan terjangan arus bawah sungai yang menyakiti tubuhnya. Valerie terus menyibakkan segala benda yang menghalangi pandangannya. Ia meraba-raba area dasar sungai seraya menunggu kedatangan tubuh Roman yang terbawa oleh arus yang sangat kencang itu. Aku yakin dia masih berada di belakangku! batinnya.


Valerie tetap berpegang pada kekuatan tubuhnya dengan menahan nafas yang semakin menyesakkan dada. Ia berharap usahanya tak sia-sia. Guru wali kelas Roman itu, berjuang sekuat tenaganya dalam melawan terjangan arus bawah sungai yang semakin kencang. Gawat! Aku sudah tidak sempat lagi mengambil nafas ke permukaan sungai, batinnya. Mulutnya pun perlahan memunculkan gelembung-gelembung udara.


Malapetaka pun datang. Pandangannya seketika memudar. Paru-parunya semakin mengempis karena tak dapat hirupan udara. Detak jantungnya pun melemah akibat kekurangan oksigen yang membawa aliran darah keseluruh tubuh. Gawaaaatt!!! batinnya dalam keadaan yang sangat terdesak.


Tangan dan kakinya pun mengeriput, karena terlalu lama bercampur dengan senyawa yang berada didalam air. Kadua kakinya seketika keram dan tak dapat diayunkan lagi. Valerie telah tiba di penghujung kepasrahan. Aku harus bertahan!!! Demi Valentine! ... Demi keluarga Helsink! batinnya.


Ia pun akhirnya mencoba merayap ke arah permukaan air. Namun, tubuhnya semakin terdesak oleh guncangan gelombang arus yang tak tentu darimana datangnya. Kematian seperti telah menunggu gerak-gerik terakhir Valerie. Roman, jika kau menaruh benci padaku dan Valentine, sampaikan itu di surga nanti, batin Valerie yang sudah tidak dapat lagi menahan nafasnya.


Valerie akhirnya melemah. Ia membiarkan tubuhnya terbawa arus yang sangat kencang. Permukaan air pun semakin menjauh dari pandangan matanya yang terus membelalak lebar. Rika ... jagalah Valentine hingga kalian dewasa nanti. Jangan sampai bertengkar apalagi bermusuhan. Kalian adalah saudara jauh yang sudah ditakdirkan untuk bersama. Sepeninggalku nanti, buatlah Valentine mengerti, bila aku selalu memperhatikannya di surga sana, batin Valerie. Ia pun mencoba menutup kedua matanya.


...****************...


Keajaiban pun seketika datang. Roman belum sepenuhnya putus asa. Dengan tubuh atletis serta kemampuan berenangnya yang tinggi, ia menjangkau tangan Valerie dan menggenggamnya dengan erat. Valeri pun sontak membuka kedua matanya, setelah mendapati sentuhan yang kuat dari tangan Roman. Romaaaan?! batinnya.


Roman kemudian menarik tangan Valerie dan memeluk tubuhnya seerat mungkin. Murid Valerie itu membawa tubuhnya dengan perlahan, menuju atas permukaan air. Roman hanya menggunakan sepuluh persen tenaganya, dalam mengangkat tubuh Valerie serta melawan arus yang sangat kencang itu, batin Author.


Valerie akhirnya dapat mengambil oksigen dengan leluasa, saat setengah tubuhnya melayang didalam air. "Romaaann!!!" soraknya seraya memeluk tubuh anak itu. Seluruh tenaganya pun seketika pulih, setelah sekian lama menahan nafas didalam air. "Roman, bagaimana bisa kau menyelamatkanku? Bukankah kau tenggelam didasar sungai?" tanya Valerie dengan penuh ketidakpercayaan.


Roman memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sungai ini telah menjadi tempat latihan berenangku sewaktu kecil. Aku sangat memahami perkembangan arusnya. Jadi, jangan remehkan kemampuan renangku," tutur Roman dengan penuh kepercayaan diri.


Valerie pun terkagum saat mendengar pengakuan anak itu. Ia merasa Roman memiliki banyak sekali bakat yang semestinya harus dikembangkan dalam bimbingannya. "Masuklah ke ekskul renang. Aku yang akan menjadi pengawasmu disana," kata Valerie dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu saja! Semua yang berhubungan dengan kekuatan fisik, pasti akan aku ladeni!" ungkap Roman seraya menatap tajam ke arah jembatan Highburg, yang berada jauh diatas mereka. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan membiarkan Valerie merangkul punggungnya.


Roman kemudian berenang diatas permukaan air dengan membawa tubuh Valerie. Ia bergegas mendekati jembatan Highburg demi menjangkau sebuah tangga yang berada diatas permukaan hamparan beton bawah jembatan.


Valerie belum lepas dari rasa kagumnya terhadap anak itu. Ia selalu menatap sisi wajah Roman dengan penuh bangga. Pandangannya tak pernah lari dari lelaki yang harusnya ia selamatkan itu. Valentine, aku merasa iri denganmu. Andai aku seumuranmu, tentu kita pasti akan bersaing merebut orang ini, batinnya seraya tersenyum penuh kagum.


~To be continued~