
Derasnya arus permukaan sungai, tak mampu menggoyahkan semangat Roman dalam menggiring Valerie menuju bawah jembatan Highburg. Apa yang telah ku lakukan?! Bu Valerie sampai rela terjun ke sungai hanya karena tindakan konyol ku ini! batin Roman.
Dibalik besi penyangga jembatan, Rika dan Valentine masih berpegang erat pada harapan mereka. Seketika harapan itu terbayar dengan kebahagiaan, saat sorot senter dari seorang Polwan, tertuju pada Roman dan Valerie yang tengah berenang menuju tepi bawah jembatan. "Apa itu orang yang kalian cari?" tanya polwan tersebut.
"R-Romaaan?! Valentine! Itu Romaaan!!" kata Rika setelah memusatkan perhatiannya pada Roman dan Valerie yang tengah tersorot cahaya senter.
"R-Romaann!!!" sorak Valentine yang tiada hentinya meneteskan air mata.
"Kepada para petugas yang berada di mobil ambulan, segera turun menuju bawah jembatan. Aku ulangi, segera turun menuju bawah jembatan. Ada satu orang laki-laki dan seorang perempuan yang tengah berenang menuju bawah jembatan. Ganti," lapor polwan tersebut melalui handytalk- nya, kepada dua orang polisi yang sedang berjaga di ambulan.
"B-Baik! Kami akan segera meluncur ke TKP." pungkas salah seorang petugas polisi. Mereka kemudian bergegas turun menuju bawah jembatan, lalu menunggu dibawah tangga untuk menyambut kedatangan Roman serta Valerie.
"Roman! Romaan!! Romaaan!!!" Valentine semakin tak dapat menahan rasa bahagianya, saat melihat Roman berjuang menuju tepi bawah jembatan. Ia kemudian bergegas menghampiri kedua polisi, yang telah tiba dibawah tangga jembatan.
"Kak Valerieeeee!!!" Rika pun turut mengikuti langkah kaki Valentine untuk turun menuju bawah jembatan.
"Heii!! Kalian, tunggu!!" Sang polwan juga turut membuntuti kedua gadis tersebut menuju tangga penghubung bawah jembatan.
Sementara, Andrea masih termenung seraya meratapi lemahnya tubuh sang adik yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Audrey, maafkan aku. Karena keegoisanku kau menjadi seperti ini, batinnya. Jauh didalam lubuk hatinya, ia tetap berharap bila semuanya akan baik-baik saja.
Meredanya arus permukaan sungai, semakin memudahkan upaya Roman untuk berenang mendekati beton tanggul bawah jembatan. Ia pun akhirnya sampai di tepi beton tersebut. "Kak Valerie, naiklah duluan!" seru Roman setelah mendapati seorang petugas polisi mengulurkan tangan kepadanya.
Valerie pun menjangkau tangan petugas polisi tersebut dan bersusah-payah naik ke atas tanggul beton. "Roman! Giliranmu! Ayo naik!" seru Valerie setelah berhasil menaikkan tubuhnya ke atas tanggul.
"Ayo! Naiklah!" Salah seorang polisi lainnya, mengulurkan tangannya ke arah Roman.
Roman pun turut menjangkau tangan sang polisi, dan berupaya menaikan dirinya secepat mungkin, ke atas tanggul beton. "Huufftt ...." Ia kemudian duduk seraya menghela nafasnya dengan perlahan setelah hampir setengah jam berenang, melawan arus sungai yang kencang.
"Romaaaaannn!!!" sorak Valentine. Bukannya menghampiri Valerie, ia malah berlari menghampiri Roman yang tengah duduk. Valentine kemudian merangkul punggung Roman seerat mungkin. Air matanya pun jatuh menetes membasahi pundak laki-laki tersebut.
"Apa kalian bisa berjalan ke atas jembatan? Jika tidak, kami akan membopong kalian dengan tandu," tutur salah seorang polisi.
"Roman? Kau masih bisa berjalan?" tanya Valerie kepada Roman, yang telah membiarkan punggungnya dirangkul erat oleh Valentine.
Roman mengangguk. "Aku masih bisa berdiri dan berjalan. Jangan khawatirkan aku," katanya. Ia kemudian melepaskan rangkulan Valentine secara perlahan. "Ayo, kita ke atas," ucap Roman kepada Valentine. Gadis itu kemudian menggenggam erat tangan Roman lalu mengikutinya menuju atas jembatan.
"Rika, ayo keatas. Disini sangat berbahaya," seru Valerie. Ia pun kemudian menggenggam erat tangan Rika dan membawanya menuju atas jembatan. Kedua polisi pun turut mengikuti mereka seraya berjaga-jaga demi mengantisipasi datangnya arus susulan.
Setelah tiba diatas jembatan, Valentine sontak memeluk tubuh Roman dengan erat. Ia Kemudian memukul pundak anak itu secara berulang-ulang. "Bodoh! Bodoh!! Bodoooh!!!" Valentine menghentikan pukulannya. Ia lalu mendongakkan wajahnya ke wajah Roman. "Kenapa kau nekat melakukan hal seperti itu! Hah!! Apa kau sudah lupa dengan janjimu?! Apa aku sudah tidak berarti lagi untukmu?!" katanya sambil menangis tersedu-sedu.
Roman hanya bergeming. Ia terus menatap wajah sang gadis yang penuh dengan raut kesedihannya itu. Bukannya berjanji untuk terus menjaga Valentine, Roman malah melakukan percobaan bunuh diri dihadapannya. Hal itulah yang membuat hati Valentine menjadi hancur berkeping-keping.
(Prak...)
Valentine melayangkan tamparannya dengan keras pada pipi Roman. Ia berkata: "Jika ingin mati, bawalah aku. Masalahmu adalah masalahku. Keluh kesahmu, adalah keluh kesahku. Air matamu pun air mataku. Bahkan, Penderitaanmu pun penderitaan ku juga! Jangan egois, Roman!!! " Valentine melampiaskan rasa sedih dan kecewanya terhadap lelaki tersebut.
Menetesnya air mata itu, hanya untuk seorang lelaki yang berada dihadapannya. Valentine sontak jatuh bersimpuh dihadapan Roman. Ia menutup wajahnya seraya menangis terisak-isak. "Kenapa!! Kenapa kau selalu menyakiti dirimu Romaaan ... ceritakanlah padaku, jangan kau pendam sendiri! Aku sangat mencintaimuu!!!" soraknya dengan menundukkan badan. Emosi Valentine sudah tidak tertolong lagi.
Roman tetap bergeming sambil menatap pada Valentine yang terus menerus menangis seraya menutup wajahnya. Dan kini, aku pun telah membuat seseorang gadis menangis khawatir dihadapanku. Aku benar-benar bodoh! batinnya.
Roman pun sontak menjatuhkan lututnya dan bersimpuh dihadapan Valentine. "Valentine, maafkan aku," Ia berusaha melepaskan tangan Valentine. Namun, gadis itu mengelak.
"Jangan sentuh aku!!!" sorak Valentine. "Jangan sentuh aku, jika kau tak pernah menganggapku ada!" katanya. Valentine telah membuat hati Roman luluh lantak, dengan tangisannya.
Demi membalas perasaan Valentine, Roman memaksa melepaskan tangan Valentine. Ia kemudian sontak memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Valentine! Maafkan aku!" ungkap Roman. Ia pun turut membasahi punggung Valentine dengan air mata. "Aku pun mencintaimuu!!!" soraknya dengan sekuat tenaga.
"Aaaahh ... masa muda yang sangat indah," kata sang polwan kepada para teman polisinya.
"Kau lebih baik cepat menikah. Atau mereka akan menyusulmu," sindir salah seorang petugas polisi.
"Haaah??!!!" ucap sang polwan.
Mereka pun menyaksikan peristiwa yang sangat mengharukan itu. Tidak ada satupun dari semua insan yang berada di jembatan tersebut, kecuali membiarkan tubuh mereka basah diterpa air hujan.
Valerie kemudian bergegas menuju ambulan untuk memastikan keberadaan Andrea dan Audrey. "Andrea!" katanya. Ia pun terkejut saat menyaksikan tubuh Audrey terbaring lemah diatas tandu mobil ambulan.
"Valerieeeee ... Aku khawatir dengan kondisi Audrey," ungkap Andrea yang terus menangis sambil duduk menemani Audrey dan para perawat.
"Bawalah kerumah sakit! Mengapa diam saja disini!" seru Valerie. Padahal Andrea memastikan keselamatan sahabatnya itu, sebelum membawa sang adik menuju rumah sakit.
"Baiklah. Kami akan segera membawa nyonya dan adik nyonya ke rumah sakit," sambung salah seorang perawat seraya berpindah menuju ruang setir kemudi mobil ambulan. Ia lalu menyalakan mobil tersebut beserta sirine yang menyala-nyala.
"Andrea, aku akan segera menyusulmu nanti," kata Valerie, sebelum menutup pintu belakang mobil ambulan.
Ambulan tersebut kemudian bergegas meninggalkan Valerie beserta para muridnya. Mereka kemudian menghampiri petugas polisi yang sedang duduk didepan mobil dinas. "Bu! Kami duluan yah!" kata salah seorang perawat dari balik kaca mobil ambulan.
"Baiklah! Terima kasih atas kerjasamanya!" tutur sang polwan.
Valerie kemudian bergegas menghampiri sang polwan yang tengah bersandar pada mobil polisi. "Miranda!" katanya setelah berhasil mendaratkan kakinya dihadapan sang polwan.
"Bagaimana Valerie? apa semua sudah aman? Butuh tumpangan kami?" tanya Miranda yang telah membiarkan seragam dinasnya lepek karena hujan.
"Tidak usah! Aku mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepadamu, Miranda," ungkap Valerie seraya membungkukkan badannya dihadapan Miranda.
"Baiklah kalau begitu. Jika ada apa-apa lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku. Beruntung temanmu tadi, menghubungiku tepat waktu," ucap Miranda sambil bergegas memasuki mobil dinasnya.
"Dia Andrea, Miranda! Apa kau sudah lupa?" tanya Valerie dari luar pintu mobil Miranda.
"Hahh?! Andrea? Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" kata Miranda dari dalam ruang setir kemudi.
"Apa seharusnya kita reunian? Aku akan menghubungimu nanti," tutur Valerie.
"Baiklah. Kau atur saja. Aku pamit dulu. See you," pungkas Miranda sambil menekan pedal gas mobil polisi.
Miranda kemudian berlalu meninggalkan Valerie yang telah menghampiri Roman, Valentine dan Rika. Para petugas polisi lainnya pun turut bergagas mengikuti Miranda menuju kantor dinas mereka.
"Rika! Cepat masuk kedalam mobil. Aku akan menyuruh mereka juga!" seru Valerie pada Rika yang tengah merenung sambil menatap pada Roman dan Valentine.
"B-baik kak!" Rika pun bergegas memasuki mobil Valerie. Ia mengisi bangku mobil paling depan.
Valerie kemudian menghampiri dua insan yang saling berpelukan, dibawah derasnya hujan tersebut. "Roman, Valentine! Ayo pulang! Cuaca sedang tidak baik!" seru Valerie dari belakang mereka.
"Ayo, Valentine," kata Roman seraya mengelus rambut Valentine yang telah lepek tersebut.
"Hmm," Valentine pun mengangguk sambil menunjukkan senyumannya pada Roman.
Mereka kemudian mengisi bangku mobil Valerie bagian belakang. Setelah memastikan semuanya aman, Valerie sontak menginjak gas pedalnya. Ia lalu bergegas membawa muridnya menuju rumah keluarga Helsink.
~To be continued~