
Valerie tengah menyusun segala perlengkapan mengajarnya diruang guru. Perasaanku mendadak tidak enak. Apakah Valentine dan Roman menjalankan kegiatan olahraga mereka dengan benar? batinnya. Ia kemudian menghela nafasnya secara perlahan, sebelum menatap pada lembar data siswa milik Roman.
"Kak Valerie!!!" Sorak Valentine dari luar pintu.
Valerie pun terkejut saat melihat Valentine dan Roman, memasuki ruang guru dengan tergesa-gesa. "Valentine! Ada apa?!" tanya Valerie dengan wajah yang mendadak cemas, seraya bangkit dari kursinya.
"Roman." -ia menghela nafasnya- "Roman!" Valentine tak dapat melanjutkan perkataannya, karena nafas didadanya terlalu menggebu-gebu.
"Roman! Apa yang telah terjadi sebenarnya?!" tanya Valerie kepada Roman yang turut menghela nafasnya dengan tergesa-gesa.
Roman hanya terdiam. Bukan karena terganggu sesaknya nafas, melainkan ia mencoba untuk tetap bungkam, perihal kejadian yang telah menimpa dirinya di gedung olahraga.
Valentine pun sontak duduk diatas kursi, yang menghadap ke meja kerja Valerie. "Pak Herman! Roman menerima perlakuan kasar darinya!" ungkap Valentine, setelah berhasil mengatur nafasnya dengan baik.
"Herman?! ... Apa yang telah dilakukannya pada Roman?!" tanya Valerie dengan wajah cemas.
Valerie kemudian menatap pada Roman, yang sedari tadi hanya menunduk seraya menampakkan wajah kesalnya. "Roman! Berbicaralah! Apa yang telah dilakukan Herman padamu?!" tanya Valerie. Ia berusaha mendesak Roman, agar tidak bungkam.
Roman merasa bila dirinya hanya akan memperumit keadaan, jika berani membeberkan kejadian yang telah menimpa dirinya. Ia pun sontak beranjak menuju pintu tanpa menghiraukan pertanyaan Valerie.
Kekasih Valentine itu, tak ingin membuat Valerie ikut campur ke dalam masalahnya. Herman hanya dendam padaku! Maka cukup aku seorang yang harus menghadapinya! batin Roman seraya berjalan melewati pintu ruang guru.
"Romaaan!!" sorak Valentine. Ia pun beranjak dari kursinya dan bergegas mengejar Roman.
"Valentine!" Valerie pun turut beranjak dari kursi. Herman! Apa yang telah merasukimu? Kenapa kau mengincar anak yang tidak pernah bersalah sedikitpun! Aku tidak akan memaafkanmu, sebelum kau meminta maaf kepadanya, batin Valerie seraya mengejar Valentine dan Roman, yang telah menjauh dari ruang guru.
...****************...
Perasaan dendam di hati Roman, telah mengunci nama Herman kedalam daftar orang yang dibencinya. Ia menjadi heran dengan tindakan permusuhan yang digencarkan oleh guru olahraga tersebut kepadanya. Jika kau merasa fisikmu paling kuat, maka aku akan melawanmu dengan seluruh kekuatan fisikku! batinnya sambil mengepalkan kedua tangan.
Roman terus berjalan melewati lorong kelas satu, sambil berharap Herman belum beranjak dari gedung olahraga. Ia semakin mempercepat langkah kakinya menuju gedung tersebut, demi mendapatkan alasan mengapa orang itu sangat benci kepadanya.
Namun, dipertengahan jalan ia berpapasan dengan seorang siswi kelas dua. "Roman?" ucapnya dari depan ruang ekskul atletik.
"Menyingkir dariku," kata Roman seraya berlalu melewati gadis tersebut.
Merasa tidak terima diacuhkan olehnya, siswi itu sontak menggenggam tangan Roman dan menariknya masuk menuju ruang ekskul atletik. "Aku tidak tahu apa yang telah membuatmu berjalan dengan menahan emosi seperti itu. Tapi, jangan pernah sedikitpun kau mengacuhkan aku!" tutur siswi tersebut sambil menekan tangan Roman ke tembok seraya mendekatkan wajahnya ke wajah anak itu.
"Namamu?" tanya Roman. Ia sempat lupa menanyakan nama siswi yang telah menghalangi jalannya itu.
"Priscilla. Priscilla Timothy," ungkap siswi tersebut.
Roman pun tercengang bukan kepalang. T-Timothy?!! Jangan-jangan??! Ahh!! Tidak mungkin! batinnya. Ia nyaris menduga bila Priscilla adalah anak dari Herman Timothy. "Apa guru olahraga kelas satu adalah ayahmu?" tanya Roman sambil memastikan.
"Ya! Baguslah kalau kau cepat memahaminya. Beliau juga merupakan pembimbing ekskul ini," ucap Priscilla dengan penuh percaya diri.
"Apa kau bangga? menjadi putri dari seorang ayah yang telah menghina ayah temanmu?!" gertak Roman, seraya memberikan tatapan yang sangat tajam kepada Priscilla.
Priscilla pun berang. "Apa maksudmu! -Ia melepaskan tangan Roman- "Ayahku tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu!" sangkal Priscilla. Ia sontak berbalik membelakangi Roman, sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Apa kau belum mendengar?! Ayahmu telah menindas muridnya di gedung olahraga!" Roman memberikan serentetan pengakuan tentang perbuatan yang telah dilakukan Herman, tanpa menyinggung namanya.
(Brak!!!)
Seketika, ada seseorang yang tiba-tiba membuka pintu ruang ekskul atletik. "Priscillaaa," ucap Herman, dengan berjalan sempoyongan melewati pintu, sambil menyentuh keningnya.
"Ayaaah!" Priscilla pun sontak menghampiri Herman dan memapahnya menuju kursi.
Herman terkejut, saat menatap Roman yang turut berada diruangan tersebut. "K-k-kau!!!" ucapnya dengan rasa ketidakpercayaan.
Mereka saling membalas tatapan tajam. Roman sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia benar-benar tak menyangka, dua ayah dan anak itu telah mengepungnya diruang ekskul atletik. Sial! Aku tidak bisa menantangnya begitu saja didepan putrinya! batin Roman.
"Ayaah! Apa yang telah terjadi denganmu?! Kenapa keningmu memar dan lecet?!" tanya Priscilla dengan wajah cemas.
Roman benar-benar mati langkah. Jika Herman mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka Priscilla takkan segan-segan menahannya diruangan tersebut.
"A-aku ... terpeleset saat akan menangkap bola digedung olahraga," jawab Herman. Rupanya ia sengaja menutupi apa yang telah terjadi sebenarnya di gedung olahraga.
Priscilla kemudian mengeluarkan perlengkapan P3K dalam tasnya demi mengatasi luka di kening sang ayah. "Lain kali berhati-hatilah ayah!" tegurnya dengan perasaan khawatir.
Rasa sayangnya sangatlah besar terhadap sang ayah. Selain mewarisi bentuk wajahnya, Priscilla pun turut memiliki kebugaran fisik yang setara dengan Herman.
Roman hanya bergeming seraya menatap pada kedua orang tersebut. Ia memikirkan bagaimana caranya keluar dari ruangan itu, tanpa merebut perhatian dari mereka. Jam berapa ini!!! Kenapa belnya lama sekali!!! batinnya dengan tubuh yang mulai gemetaran.
(Tringgg ... Tringgg ... Tringgg ...)
Setelah mendengar bel tersebut, Roman sontak beranjak menuju pintu yang masih terbuka. Ia merasa inilah saat yang tepat untuk keluar dari ruang ekskul, seraya menghindar dari kedua orang itu.
Namun, Herman dengan sigap bangkit dari kursinya. Ia lalu menjerat leher Roman dengan lengannya sekuat mungkin. "Kau tidak ku izinkan pergi dari ruangan ini!" ucapnya sambil menyeret tubuh Roman masuk kedalam ruangan ekskul. Priscilla pun kemudian menutup pintu tersebut.
...****************...
Setelah mencari kesana-kemari, ditambah dengan kemunculan suara bel pelajaran kedua, Valentine tak kunjung menemukan keberadaan Roman. Romaaan!!! Kenapa kau selalu bertindak dengan seenaknya! Apa kau tidak memikirkan perasaanku?! gumamnya dalam hati.
Valentine mau tidak mau harus bergegas menuju ruang kelas 1A. Ia menyimpan sedikit kekesalannya terhadap Roman, dan lebih banyak menaruh kekhawatiran terhadap kekasihnya tersebut. Dengan mempercepat langkah kakinya, Valentine berharap Roman telah memasuki kelas terlebih dahulu.
"Valentine!!" sorak Rika yang tak sengaja melihat bestie-nya itu, berjalan dengan tergesa-gesa melewati ruang OSIS. Ia pun segera menghampiri Valentine. "Valentine! Kenapa sangat terburu-buru sekali!" katanya sambil membungkukkan badan dan bertopang lutut, dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Rikaa! Kebetulan sekali. Aku meminta bantuanmu!" pinta Valentine yang sontak meraih lengan Rika dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.
"Apa yang bisa lakukan untuk sahabatku ini?" -ia tersenyum- "Kebetulan waktuku sedang senggang karena rapat OSIS telah berakhir," tutur Rika dengan penuh senyuman.
"Rika! Aku mohon padamu! Cari Roman! Dia pergi entah kemana! Aku menduga dirinya akan balas dendam terhadap pak Herman!" mohon Valentine dengan raut wajah yang luar biasa cemas.
"Roman?! Pak Herman?! Ada apa dengan mereka?!" tanya Rika yang mulai sedikit penasaran.
"Sudah cepat cari Roman Rikaaa! Aku harus buru-buru masuk kelaaas! Aku mohoon!!" bujuk Valentine dengan ketar-ketir. Ia khawatir bila Valerie telah mendahuluinya memasuki ruang kelas 1A.
"Baiklah! Serahkan padaku!" kata Rika dengan tegas dan penuh percaya diri.
Valentine pun sontak berlari meninggalkan Rika, menuju ruang kelasnya. Rika kemudian bergegas mencari keberadaan Roman yang menurut pengakuan Valentine, anak itu akan membalas dendam terhadap pak Herman. Pak Herman?! Apa yang telah terjadi sebenarnya?! ... Roman! batinnya seraya melangkahkan kakinya menuju ruang ekskul atletik.
~To be continued~