
(Tring... Tring... Tring...)
Suara bel istirahat, terngiang-ngiang jelas di telinga Roman. Ia menyaksikan seluruh murid dikelasnya berbondong-bondong menuju luar kelas. Setelah menggeliatkan tubuhnya, Roman pun beranjak dari kursi dan menjadi murid terakhir yang keluar meninggalkan kelas.
Saat melewati pintu, Roman tak menyadari keberadaan Valentine yang telah bersembunyi dibelakangnya. Gadis itu berniat membuntuti Roman menuju perpustakaan. Ia terus mengikuti langkah Roman, hingga Rika yang turut mengikutinya dari belakang pun menahan pundaknya.
"Rika?!! Jangan mengha—"
"Ssttt!!! ... Untuk apa kau membuntutinya?" tanya Rika seraya berbisik pada Valentine.
"A-aku ... hanya mencari waktu yang tepat, untuk minta maaf," kata Valentine yang terus menatap punggung Roman dari kejauhan.
"Kau harus kutemani!" Rika menyentuh kening Valentine dengan telunjuknya. "Aku hanya ingin memastikan jika caramu meminta maaf sudah benar!"
Valentine memikirkan cara yang tepat untuk membuat Roman, mau memaafkan kesalahannya. Ia pun menaruh harapan pada Rika, teman masa kecilnya dulu, untuk membimbing seraya mengawasi tindakannya. "Hmm... Apa kau ada saran?" tanya Valentine seraya menopang dagunya dengan telunjuk.
"Untuk saat ini, belum ada. Kita hanya perlu mengikutinya" Rika melihat ke arah Roman. "Ayo! Roman belok kanan!" Rika bergegas mengikuti Roman yang telah mengambil jalan kanan menuju taman.
"Hmm!!!" Valentine mengiyakan seruan Rika dengan nada kesal. Ia yang sangat mengharapkan kecerdasan Rika pun menjadi setengah kecewa setelah mengetahui gadis itu tidak memiliki rencana apapun.
Mereka pun melakukan aksi layaknya seorang detektif. Rika dan Valentine terus mengikuti Roman dari kejauhan, seraya berganti-ganti tempat sembunyi. Dua gadis itu tak menyadari, kemana tujuan Roman sebenarnya.
Rika dan Valentine telah tiba diujung lorong yang diluarnya terdapat taman sekolah. Mereka lalu melihat Roman, telah memasuki taman yang indah itu. Rika pun bergegas seraya mengendap-endap menuju semak-semak taman dan diikuti oleh Valentine. "Aku tahu, kemana dia akan pergi," kata Rika seraya menatap ke arah Roman dari celah semak-semak.
"Kemana? Apakah tempat itu sangat cocok?" tanya Valentine seraya bersembunyi dibalik punggung Rika.
"Aku sarankan kau tidak kesana!" ucap Rika.
"Hah? Kenapa? Kenapa harus begitu?" tanya Valentine yang sedikit kecewa dengan saran Rika.
"Tapi, jika kau bersikeras, baiklah!" Rika sontak menggenggam tangan Valentine dan membuntuti Roman yang tengah menuju perpustakaan. Mereka lalu bersembunyi dibalik tembok dan mendapati Roman memasuki perpustakaan itu.
"Bukankah ini Perpustakaan?" tanya Valentine dengan penuh kebingungan.
"Hmm! Mungkin orang yang sedang kita ikuti saat ini adalah kutubuku yang jenius!" kata Rika dengan raut wajah polosnya, seraya mengintip dari balik tembok perpustakaan.
"Roman? Seorang yang jenius?" ucap Valentine yang bersembunyi dibalik tubuh Rika.
"Ya! Aku tidak akan salah menduganya! Kau yakin?" tanya Rika seraya menatap wajah Valentine.
"Y-yakin soal apa?"
"Kau yakin ingin memasuki perpustakaan ini?" Rika terus menerus melontarkan pertanyaan kepada Valentine. Sikapnya itu telah membuat Valentine menjadi kebingungan setengah mati.
"T-t-tentu saja!" kata Valentine dengan terbata-bata. Mereka pun memberanikan diri memasuki gedung perpustakaan itu. Rika terus berjalan menuju pintu seraya menggenggam tangan Valentine yang telah diselimuti rasa gugup.
Sedangkan Roman, baru saja selesai membaca sebuah buku dalam sekejap. Ia telah merasakan firasat yang buruk dalam hatinya, saat keluar dari kelas hingga tiba gedung perpustakaan.
Setelah menutup bukunya, Roman sontak bangkit dari kursi dan mengembalikan buku tersebut kedalam rak buku. Rasa gelisah yang telah menghantuinya, membawa Roman bergegas menuju pintu belakang.
Rasa kantuk telah membuat Edgard tertidur saat menanti Roman, yang tengah membaca bukunya dalam sekejap. Roman pun dapat mengelabui Edgard untuk yang kedua kalinya. Edgard sontak terbangun dan mendapati Roman telah menutup pintu belakang. "Roman!!! ... Siaaal!!! ... Lain kali aku tidak boleh kecolongan!" gumam Edgard seraya mengepalkan kedua tangannya.
Selepas menutup pintu belakang, Roman berusaha melawan rasa cemasnya. Ia lalu bergegas memutari gedung itu. Roman berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan.
Sejak berjalan menuju perpustakaan, aku merasakan seperti ada yang mengawasi dari belakang. Siapakah orang itu? Dan apa maunya? batin Roman.
Demi memastikan kewaspadaannya, Roman berjalan menuju sisi tembok gedung perpustakaan. Ia lalu mengintip dari balik tembok dan terkejut saat melihat Rika serta Valentine, bergegas memasuki gedung tersebut. Roman pun bertanya-tanya seraya menduga bila kedua gadis itu, telah menjadi penyebab rasa was-wasnya.
Apasih mau mereka? Cih! ... Aku harus bergegas, roman menggumam dalam hati.
Ia merasa kesal. Minat membacanya pun jadi berkurang karena ulah kedua gadis itu. Roman lalu berjalan melewati lorong kelas dua, dan mendapati seorang murid yang tampan dan tinggi serta mengenakan kacamata, menghalangi jalannya seraya melontarkan pertanyaan. "Hei, kau! Apakah kau melihat Rika? ketua OSIS kami?" tanya murid kelas dua tersebut.
"Ya. Aku melihatnya di perpustakaan," jawab Roman dengan penuh percaya diri seraya menyingkir dari murid itu.
"Hei ... tunggu!" sorak murid tersebut kepada Roman yang semakin menjauhinya.
Roman pun mempercepat langkahnya. Ia jadi semakin kesal setelah menerima pertanyaan, tentang seorang gadis yang sangat dibencinya itu.
Rasa lapar telah menerjang seisi perut Roman. Ia pun membawa badannya menuju kantin sekolah. Saat menoleh ke arah kantin, Roman sontak terkejut.
Astaga! Kenapa harus ada orang itu?!! Roman membatin dalam dirinya.
Kecemasan pun kembali bertamu, saat Roman mendapati Paul tengah duduk bersama teman-temannya seraya mengisi kekosongan perut. Ia yang tak sanggup lagi menahan rasa lapar, mencoba memberanikan diri menuju etalase kantin.
Wah! Ada bahan bully-an nih! batin Paul setelah melihat Roman berjalan melewatinya.Paul menyadari kehadiran Roman yang sedang berjalan, tanpa menatap kearah dirinya. Ia pun memiliki sebuah rencana jahat untuk menindas adik kelasnya itu. Seraya berbincang dengan teman-temannya, Paul menanti Roman menyelesaikan pesanannya.
Dengan mulut yang sedikit menganga, Roman tercengang saat melihat harga makanan dalam daftar menu. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping koin. Mahalnya harga makanan dalam menu itu, membuat Roman meringis. "Apa tidak ada yang lebih murah lagi?" tanya Roman kepada petugas kantin.
"Tidak ada! Disekolah ini tidak pernah ada yang bertanya seperti itu! Kalau kau tidak punya uang, merengeklah pada ayahmu!" ejek petugas kantin itu.
Roman seketika menggertakan giginya seraya menyeringai pada petugas yang sombong itu. Ia menjadi marah karena tersinggung dengan perkataannya. Karena telah menyadari kehadiran Paul dibelakangnya, Roman pun berusaha untuk menenangkan diri. Ia lalu memutuskan membeli sebungkus roti dan segelas minuman ringan. "Baiklah. Aku pesan satu buah roti dan minuman," kata Roman seraya meletakkan seluruh keping koinnya keatas etalase.
Orang miskin ternyata! batin petugas kantin.
Roman tak menghiraukan perlakuan ibu paruh baya tersebut. Ia terus menunggu dengan rasa cemas dan mendapati petugas itu melemparkan roti kepadanya dengan tidak sopan. Roman pun sontak menangkap roti itu dengan gesit.
Sial! Hampir saja! batin Roman.
Dengan memasang wajah sinis, ibu kantin itu menghentakkan segelas minuman milik Roman keatas etalase, sehingga air didalamnya sempat menyembur keluar. "Pergilah!! Mulai besok, merengeklah pada ibumu untuk dibuatkan bekal!" ketus ibu petugas kantin tersebut.
Roman tetap berpegang pada kesabarannya saat mendapati perlakuan yang kasar itu. Ia lalu meraih minumannya dan bergegas pergi. Dengan penuh rasa cemas, Roman berjalan tergesa-gesa dan berharap Paul tidak menyadari kehadirannya.
Paul yang telah menunggu pergerakan Roman pun dengan sontak menjulurkan kakinya. Ia berniat membuat Roman terjatuh.
(Dug...)
Roman yang tergesa-gesa, mendapati kakinya tertahan oleh sesuatu. Ia kemudian terjatuh karena tak dapat menahan keseimbangan tubuh.
(Brak...)
Tubuhnya pun tersungkur keatas lantai. Beruntung roti dan minumannya terjatuh dalam posisi aman. Roman menjadi marah karena perlakuan tersebut. Ia yang tengkurap, menoleh keatas dan mendapati Paul telah berdiri dihadapannya. "Hahaha!!! Kau ternyata orang miskin!!! Coba lihat, apa yang dia beli!!" bentak Paul seraya berdiri dengan angkuh dihadapan Roman.
Seluruh murid pun tertawa saat mendengar ejekan Paul. Mereka turut mengejek Roman dengan penuh beringas. "Bagaimana bisa orang miskin diterima di sekolah ini?!!" kata salah seorang diantara teman Paul.
"Aku tak sudi melihat orang miskin berada disekolah ini!" ungkap salah seorang murid kelas dua.
"Kak Paul! Berikan dia pelajaran!" seru salah seorang siswi kelas satu yang menjadi penggemar Paul.
Paul kemudian meraih roti milik Roman. Ia membuka bungkusnya dan mengeluarkan roti tersebut. Dengan penuh rasa dengki, Paul pun merobek-robek roti itu seraya terkekeh dihadapan Roman. "J-jangan!!!" sorak Roman seraya mengulurkan tangannya ke arah Paul.
"Kemarilah! Tunjukan rasa laparmu kepadaku!" kata Paul. Ia pun menjatuhkan potongan roti tersebut keatas lantai. "Jika kau masih menginginkan keberadaanmu di sekolah ini, cepatlah kemari!!!" ucap Paul dengan raut wajah seringai sambil menghentakkan sepatunya.
Roman pun mencoba merangkak menuju Paul. Ia berharap bisa menyelamatkan roti miliknya yang telah berhamburan diatas lantai. Saat berusaha menjangkau roti tersebut, Roman sontak terkejut. Ia melihat Paul menginjak-injak rotinya. "Ayo! Makanlah roti ini! Aku jamin rasanya enak!" sindir Paul seraya menginjak roti tersebut.
Roman pun tercengang saat mendapati rotinya telah remuk karena perbuatan keji Paul. Ia tak berdaya. Anak itu tak mampu berbuat banyak, saat melihat roti miliknya menjadi korban pelampiasan emosi dari kakak kelasnya itu.
"Paul!!! Kurang seru!!! Cepat berikan pertunjukan yang hebat kepada kami!!!" sorak salah seorang teman kelas Paul.
Paul menanggapi dengan serius permintaan temannya. Ia lalu meraih minuman milik Roman yang masih tersisa setengah gelas. Selepas menggenggam minuman tersebut, Paul kemudian menghampiri Roman. Pemuda tinggi dengan rambut gondrong serta penampilan seperti berandalan itu, dengan teganya menyiram kepala Roman. "Kau sangat kotor. Biarkan aku membersihkanmu," sindir Paul seraya menuangkan air minuman ke kepala Roman.
"Hahaha!!! Kak Paul sangat perhatian sekali kepadanya!!" sorak salah seorang siswi penggemar Paul.
"Paul!!! Kalau bisa, lepas seragamnya!! Dia tidak layak mengenakan seragam kebanggaan kami!" seru salah seorang teman Paul.
Roman terus membelalakkan matanya. Dengan mulut yang menganga lebar, ia tak menyangka akan mendapatkan perundungan yang sangat menyakitkan hati. Demi menghilangkan rasa lapar, Roman pun merelakan harga dirinya terbuang, dihadapan semua orang yang terus menerus menertawainya.
Roman semakin tak berdaya setelah menjadi korban perundungan kakak kelasnya. Ia pun dilanda kesedihan yang amat mendalam. Segala perlakuan Paul, telah menyadarkan Roman bahwa dirinya tidak layak untuk hadir disekolah itu.
A-aku ternyata salah tempat, batin Roman.
~To be continued~