
Maxwell telah menunggu kedatangan Rika didepan gerbang rumah Valerie. Ia berniat untuk mengantar anak majikannya itu berangkat sekolah, juga bermaksud ingin bertemu dengan Roman.
"Maxweeeelll!!" sorak Rika dari depan pintu rumah. Ia kemudian berlari menuju gerbang, menghampiri Maxwell yang telah menantinya.
Valentine dan Roman menyusul dari belakang, dengan berjalan bersama-sama menuju gerbang, selagi Valerie memanaskan mesin mobilnya.
"Selamat pagi, Nona," sapa Maxwell seraya membungkuk dihadapan Rika.
"Pagi, Maxwell!" Rika sontak berbalik badan, lalu memusatkan perhatiannya pada Valentine dan Roman, yang tengah berjalan menuju mereka.
"Anak itu ...." Maxwell sempat tercengang saat melihat Roman, semakin mendekat dan mendekat, menuju gerbang rumah.
"Ada apa Maxwell?" tanya Rika, saat mendapati sikap yang ditunjukkan Maxwell terhadap Roman.
"Tidak, Nona," jawab Maxwell yang terus memicingkan matanya, sambil melirik pada Roman yang semakin mendekat.
Valentine sedikit berjalan lebih maju membelakangi Roman. Ia mempercepat langkah kakinya menuju Rika yang tengah tersenyum ceria.
"Valentine, aku berangkat duluan yah," ucap Rika.
Valentine pun sontak memeluk tubuh sahabatnya itu. "Rika, terimakasih. Berkat dirimu, aku jadi tak terlalu kesepian," ucapnya.
"Hehe. Itu sudah tugasku sebagai sahabatmu, Valentine," kata Rika, sambil membalas pelukan Valentine.
Sementara, Roman semakin memperlambat langkahnya menuju Maxwell. Pandangannya seketika menatap tajam pada wajah pengawal Rika tersebut.
Dengan kedua tangan yang mengepal erat, ia menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Maxwell. Matanya membelalak lebar, alisnya pun mengkerut, seakan menaruh dendam pada seseorang berada didepannya kini.
Maxwell yang berdiri dihadapan Roman, seketika berjalan mendekatinya, lalu mengelus-elus rambutnya. "Ahaha ... tak ku sangka, anak Gerrard sudah sebesar ini," ucapnya dengan penuh keramahan.
Roman pun tercengang. Ia membiarkan rambutnya diacak-acak oleh seorang pria paruh baya, yang spontan menyebut nama mendiang ayahnya. "Kau mengenal ayahku?" tanya Roman setelah Maxwell menjauhkan tangannya dari kepala anak itu.
"Haa? Tentu saja! Gerrard sangat berjasa untukku. Bagaimana bisa aku tidak mengenali atau melupakannya begitu saja?" jawab Maxwell dengan penuh percaya diri.
Roman tetap terdiam dan semakin mempertajam pandangannya pada Maxwell. Ia seperti tak peduli jika orang itu mengaku-ngaku telah mengenal ayahnya atau tidak.
Melihat reaksi Roman yang seperti menaruh benci terhadapnya, Maxwell pun sontak membungkuk. "Roman Hillberg ... jauh dari dalam lubuk hatiku, aku meminta maaf karena telah menabrakmu dulu. Dan, aku telah mendengar berita tentang meninggalnya Gerrard. Aku turut berbelasungkawa atas kepergiannya," ungkap Maxwell.
Roman pun terkejut setelah mendengar perkataan. Ia lalu membisu dan membiarkan pengawal Rika itu, terus membungkuk dihadapannya. Apakah orang ini benar-benar mengenal ayahku?! pikirnya sambil melonggarkan kepalan tangannya.
Valerie seketika keluar bersama mobilnya dari garasi rumah, dan bergegas menghampiri mereka. Ia menaruh perhatiannya pada Maxwell, yang tengah membungkuk dihadapan Roman.
"Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi, tolong jangan bawa-bawa nama ayahku lagi," ucap Roman seraya menyingkir dan memberikan jalan pada mobil Valerie, yang membuat Maxwell berdiri tepat didepan mobil.
"Maxwell, apa kau bisa mengantar Roman dan Valentine berangkat sekolah? Aku ada sedikit urusan penting," pinta Valerie yang mengurungkan niatnya untuk mengantar Roman beserta Valentine menuju sekolah.
Maxwell kembali membungkuk didepan mobil Valerie. "Baiklah, Nona Valerie." Ia lalu beranjak menuju mobil Rika.
Valerie kemudian membuka kaca mobil sebelah kiri, lalu menoleh kearah Roman yang tengah berdiri disamping mobilnya. "Roman, masuklah kedalam mobil Rika. Belajarlah yang giat. Aku akan menjemput kalian sepulang sekolah nanti" ucapnya sambil memajukan batang persneling mobil.
"Kak Valerie?! Kau mau kemana?" tanya Valentine seraya berjalan mendekati mobil sang kakak.
"Aku harus mengurus berkas-berkas kematian ibu dan adik Roman di rumah sakit," jawab Valerie.
Valentine pun menunduk dan bersedih setelah menyadari Valerie libur dari tugas mengajar. "A-aku minta maaf," ungkap Valentine dengan mata yang melirik kearah lain.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Cepat masuk ke mobil Rika. Dan, berjanjilah padaku untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," kata Valerie dari dalam ruang setir kemudi.
Valentine menganggukkan kepalanya dua kali. "Terima kasih, kak. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesusahan lagi," Valentine sontak mencondongkan tubuhnya masuk kedalam celah kaca mobil, dan merangkul wajah sang kakak yang sangat dicintainya itu.
"Valentinee! Ayoo!" seru Rika dari dalam mobil, yang duduk disamping Maxwell.
"Belajarlah dengan giat," ucap Valerie sambil mencium kening Valentine.
"Hmm." Valentine tersenyum setelah mendapat kecupan penyemangat dari Valerie. Ia lalu bergegas masuk kedalam mobil Rika.
Valerie seketika menoleh ke arah Roman, yang masih berdiri disamping mobilnya. "Roman?! Kenapa diam saja?! Cepat masuk ke mobil Rika!" seru Valerie dengan raut wajah heran.
"Tidak. Aku jalan saja." Roman melangkahkan kakinya menuju luar gerbang dan meninggalkan mobil Rika, yang membuat Rika dan Valentine sontak terkejut.
"Romaaaaannn!" sorak mereka secara serempak. Valentine kemudian keluar dari mobil dan bergegas mengejar Roman. Ia lalu menarik tangan kekasihnya itu dan membawanya masuk kedalam mobil Rika.
"Hahahaha!" Maxwell sontak tertawa saat melihat tingkah laku Roman, yang masih malu-malu kucing terhadapnya.
...*** Ruang Kelas 1A ***...
Roman akhirnya tiba dan terduduk di ruang kelas tepat waktu, meski terpaksa menumpang dengan mobil Rika. Ia mengeluarkan sebuah buku pelajaran dari dalam laci mejanya, lalu menegakkan buku itu diatas meja seraya membukanya, dan mendaratkan dagunya diatas meja alih-alih bersembunyi dibalik buku itu.
Melihat tingkah laku Roman, Valentine pun tersenyum. Akhirnyaa ... kami bisa kembali sekolah dengan tenang, batinnya yang turut mengeluarkan sebuah buku pelajaran dari dalam laci meja.
Seluruh murid telah memadati ruangan kelas, dan berbincang-bincang satu sama lain. Kevin yang turut hadir diantara mereka, seketika menaruh perhatiannya ke arah Roman, lalu beranjak dari kursinya menghampiri anak itu. "Roman, aku telah mendengar berita tentang kema—"
"Semuanyaaa! Bersiap! Ada guruuu!! sorak salah seorang murid yang menoleh dari balik pintu kelas.
Kali ini, Herman berpakaian formal layaknya seorang guru akademis. "Selamat pagi, semua!" sapa Herman seraya menduduki kursinya. Ia seketika menoleh ke arah pojok belakang, dan mendapati Roman tengah duduk seraya menatap padanya. "Roman! Kemari," seru Herman.
Roman pun beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri meja guru. "Ada apa pak?" tanya Roman sambil berdiri menghadap Herman yang tengah duduk dibelakang meja.
"Berdiri disampingku," perintah Herman dengan menolehkan kepalanya ke arah kiri, alih-alih menberi isyarat pada Roman.
Roman kemudian menuruti perintah Herman, dan berdiri tepat disampingnya. Pandangannya seketika tertuju pada seluruh teman sekelasnya, yang juga turut menatap kearahnya.
"Siapa lagi yang ingin mengajukan diri menjadi ketua kelas? Jika ada yang berminat, silahkan maju!" seru Herman dengan tatapan tajam dan sinis, yang telah menjadi ciri khasnya.
Kevin yang sangat berambisi menjadi ketua kelas pun sontak berdiri dari kursinya, seraya mengancungkan tangannya keatas. " Saya pak!" ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Maju!!!" sorak Herman dengan lantang. Sorakan itu membuat seluruh murid terkejut dan mulai merasa ketakutan dengan sikap guru killer tersebut.
Namun, Kevin tetap percaya diri dan tak sedikitpun merasa gentar dengan sorakan Herman. Ia lalu beranjak dari kursinya serta memberanikan diri untuk maju, dan berdiri tepat disamping Roman.
"Ada lagi?" tanya Herman yang seketika tersenyum menyeringai, setelah mendapati ada murid yang berani maju untuk menjadi saingan Roman.
"Tidak adaaa, paak!" jawab seluruh murid secara serempak.
"Baiklah!" -ia berdiri dari kursi- "Tidak ada pemungutan suara! Pemilihan ketua kelas akan ditentukan lewat adu kekuatan, diantara kedua laki-laki ini," ucap Herman sambil merapihkan seluruh peralatan mengajar yang terletak diatas meja.
Herman kemudian mengangkat meja itu dan sedikit berjalan menuju kehadapan Roman dan Kevin. Ia lalu berhenti seraya berdiri dengan membelakangi para murid.
(Brak!)
Cara meletakkan mejanya pun sungguh arogan. Herman membanting meja itu didepan dua calon ketua kelas, yang membuat seluruh murid dikelasnya ketar-ketir. "Roman! Kau berdiri dikanan meja! Dan Kevin, kau berdiri dikiri meja! ... cepaat!!!" perintah Herman lalu bersorak sekuat tenaga.
Roman dan Kevin segera berjalan dan berdiri pada masing-masing sisi meja, sesuai dengan instruksi dari Herman. Kedua murid itu, sama sekali belum mengerti maksud dari guru arogan tersebut.
Herman lalu berjalan memutari meja dan berdiri tepat didepan papan tulis, sambil meletakkan kedua tangannya diatas meja. "Letakan masing-masing siku tangan kanan kalian, ke atas meja," perintah Herman yang terus memberikan serentetan instruksi.
Roman menuruti perintah Herman dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu meletakkan siku tangan kanannya ke atas meja. Begitu juga dengan Kevin, yang turut membungkukkan tubuhnya, dan meletakkan siku tangan kanannya ke atas meja, yang seharusnya diperuntukkan untuk guru.
Mereka akhirnya saling menatap satu sama lain, dengan raut wajah yang penuh kebingungan. "Roman, apa kau mengerti maksudnya?" tanya Kevin.
"Jangan berbicara!!! Cepat genggam telapak tangan orang yang berada didepan kalian! Romaan!! Genggam tangan Kevin!!" potong Herman yang sempat membuat Kevin terkejut.
Roman pun seketika menggenggam erat telapak tangan Kevin, dengan mata yang memandang tajam ke wajah rival tak sengaja-nya itu.
Setelah mendapati Roman menggenggam erat telapak tangan kanan Kevin, Herman kemudian menggenggam erat kedua tangan yang saling menggenggam itu. "Kalian akan adu panco! Berusahalah sekuat tenaga untuk merubuhkan tangan musuh kalian! Yang menang, akan menjadi ketua kelas! Apa kalian sudah mengerti?!!" tanya Herman seraya memberikan instruksi dengan nada keras dan tinggi.
Kevin sontak tercengang setelah mendengar perkataan Herman. Ambisinya untuk menjadi ketua kelas pun semakin memuncak. Ia lalu menggenggam erat telapak Roman, dan memberikan tatapan yang sangat tajam pada wajah Rival barunya itu.
"Mulaaii!!!" Herman memulai pertandingan adu panco itu, dengan sorakan yang berapi-api.
Demi memenuhi ambisinya, Kevin berusaha mendorong tangan Roman sekuat tenaga. Wajahnya seketika menyeringai, alisnya mengkerut, bibirnya mengerenyot lebar, karena telah dilahap api semangat yang membara dalam dirinya.
Melihat Kevin terlalu bersemangat dalam menjatuhkan tangannya, Roman tetap bersikap tenang ,seraya menahan tangannya yang mulai sedikit terdorong oleh tangan Kevin.
"Romaaaann!! Semangaaaat!! Valentine sontak berdiri dari kursinya, lalu menyemangati Roman yang tengah beradu kekuatan dengan Kevin.
"Semuanyaa! Berikan dukungan dan semangat kalian pada dua murid yang akan menjadi ketua kelas ini!!!" seru Herman sambil menatap pada kedua tangan murid yang saling menggenggam dan mendorong tersebut.
Melihat Kevin berusaha sekuat tenaga untuk merubuhkan tangan Roman, seluruh murid pun mengalihkan dukungannya pada anak juragan bank tersebut. "Keviinn!! Semangaaaat!!!" sorak salah seorang teman dekat Kevin.
"Keevin!! Keevin!! Keevin!!" Seluruh murid turut memberikan sorakan semangat untuk Kevin, dan tidak ada satupun yang memberikan semangat pada Roman, kecuali Valentine.
"Romaaan!!! Berjuanglah!!! Semangaaaat!!!" Sorakan itu benar-benar keras terdengar, hingga menggelegar diseluruh telinga para murid, yang seketika menoleh kearah Valentine.
"Aaaaaaaaaargggh!!!" Kevin semakin mengerahkan seluruh tenaga dalam otot tangan kanannya, demi berusaha merubuhkan telapak tangan kanan Roman keatas meja. "R-Roman, m-menyerahlaah!" ucap Kevin yang hampir membuat tangan Roman menyentuh meja.
"Apa keuntungannya bagiku? Jika aku menyerah?" tanya Roman yang berusaha untuk kembali menaikkan posisi tangannya seperti semula.
"Kau ingin uang? Ak—"
(Brak!)
"Aaaaaa!!" erang Kevin dengan mata yang membelalak lebar, seraya menahan rasa sakit.
Telapak tangan Kevin pun sontak mendarat keras keatas meja, setelah Roman merubuhkan tangannya dengan sekali dorongan cepat.
Seluruh murid yang menyaksikannya menjadi tercengang. Mereka tidak menyangka Roman akan mengalahkan Kevin hanya dengan sekali dorongan saja.
"Pemenangnya adalaaaah Rooomaaan!!!" sorak Herman sekuat tenaga, dengan sedikit rasa bangga yang mencuat dalam hatinya.
Roman akhirnya terpilih sebagai ketua kelas, dengan cara unik yang ditentukan oleh Herman. Sementara Kevin, terpaksa harus dibawa ke ruang UKS, setelah tangannya terkilir.
~To be continued~