
Roman telah kembali ke kelas, selepas berkunjung ke ruang ekskul atletik. Namun, Valentine mengacuhkannya dan selalu memalingkan wajah ke arah lain, karena masih menyimpan kesal terhadap kekasihnya itu.
Herman seketika masuk kedalam ruangan kelas, lengkap dengan setelan jas formal khas guru laki-laki, selama mengajar di sekolah menengah Saint Luxury.
Roman yang telah terpilih menjadi ketua kelas pun sontak berdiri. "Berdiri!!" perintahnya dengan bersorak sekuat tenaga.
Namun, hanya Valentine yang menuruti perintah ketua kelas, sedangkan seluruh murid lainnya tetap terduduk diatas kursi mereka, karena merasa tidak senang dengan perintah Roman.
Seketika para murid di kelas 1A, menatap tajam ke arah Roman, seraya mencibir tindakan yang telah dilakukannya itu. "Cih! Siapa dia?! Berani-beraninya memerintah kami!" bisik salah seorang siswi, kepada teman disebelahnya.
"Dasar tak tau diri! Sepertinya urat malunya sudah putus!" bisik salah seorang siswi lainnya, kepada teman yang duduk disebelahnya.
Mereka terus menerus membicarakan Roman, dan semakin menjelek-jelekkannya, yang membuat darah diotak Herman sontak mendidih.
(Brak!!!)
Meja yang diperuntukkan untuk guru pun digebraknya sekuat tenaga, karena menjadi sasaran amukannya saat melihat dan mendengar keriuhan suasana, yang diperbuat oleh seluruh murid-murid itu. "Berdiri kalian semuaaa!!!" bentak Herman yang sudah terlanjur termakan emosi, setelah merasa tak dihargai.
Mereka pun sontak berdiri dengan menampakkan raut wajah yang sangat ketakutan. Tidak sedikit dari murid-murid kelas 1A yang merasa ketar-ketir, dengan tubuh yang bergetar hebat serta keringat dingin yang mengucur dari tubuh mereka, karena merasa takut terhadap guru arogan tersebut.
"Roman, maju sini!" seru Herman sambil menggerakkan telapak tangannya, seolah memberikan isyarat pada Roman.
Dengan penuh kepercayaan diri, Roman segera beranjak dari kursinya, dan melangkahkan kakinya menuju meja guru. Herman pun seketika bangkit dari kursinya, lalu berdiri menghadap para murid, seraya menggengam dan menarik lengan Roman, agar anak itu turut berdiri disampingnya.
"Siapa dia?!" tanya Herman, seraya menunjuk pada Roman. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keheningan dari para murid. "Jawaaabb!!!" bentaknya sekali lagi, dengan mata yang melotot lebar, serta urat-urat yang menebal diwajahnya.
"K-Ketua kelas pak!" jawab Tiffany dengan spontan. Ia yang justru merasa paling gentar diantara murid-murid yang lain, hingga membuatnya tak sanggup terus-menerus menerima amarah dari Herman.
Setelah mendapati hanya Tiffany seorang yang mau mengakui Roman sebagai ketua kelas, membuat Herman menghela nafas murkanya dalam-dalam. "Keluar kalian semua!" Herman menunjuk pada pintu kelas, dengan penuh rasa amarah yang membabi-buta. "Berkumpulah dilapangan! Cepaat!!!" perintah Herman seraya membentak seluruh murid-murid tersebut.
Mereka pun sontak berbondong-bondong keluar kelas dengan tergesa-gesa, karena merasa takut dengan amukan Herman. Guru arogan itu pun turut keluar dan menyusul mereka, yang telah memenuhi lapangan dalam gedung sekolah.
Tak terkecuali Roman dan Tiffany. Kedua murid itu turut keluar dari kelas, dan mengikuti pergerakan langkah kaki Herman.
"Tiffany maafkan aku ... semua ini karena salahku," ucap Roman, yang berjalan disamping Tiffany.
"Tidak! Mereka semua yang salah, karena tidak mau mengakuimu sebagai ketua kelas," sanggah Tiffany, yang semakin mempercepat langkah kakinya menuju lapangan yang dilingkari oleh empat gedung sekolah tersebut.
Herman lalu berdiri tepat dihadapan para murid, yang telah membentuk beberapa barisan acak. "Susun barisan kaliaaan!!!" soraknya, karena merasa muak melihat bentuk barisan yang sangat amburadul itu.
Mereka pun akhirnya membentuk dua barisan, yang terdiri dari barisan siswa laki-laki, serta barisan siswa perempuan. Tak ada satupun dari para murid-murid itu, yang berani menegakkan wajah mereka, karena merasa takut dengan wajah guru arogan, yang tengah mengamuk tersebut.
Roman seketika melangkahkan kakinya dan berniat untuk bergabung dalam barisan itu. Namun, Herman mencegahnya. "Roman! Kau tetap berdiri disampingku," perintah Herman sambil menahan pundak Roman, yang membuat anak itu kembali berdiri disampingnya.
"Kalian semua telah berani membantah perintah ketua kelas! Maka aku pun takkan segan-segan memberikan hukuman yang berat, untuk kalian!" gertak Herman yang berusaha untuk menenangkan dan menstabilkan emosinya, demi menjaga kenyamanan serta ketentraman lingkungan sekolah.
"Berlari empat puluh kali putaran, dengan barisan pertama yang memulai terlebih dahulu, lalu diikuti oleh barisan dibelakangnya! Cepat!!" soraknya seraya melotot tajam.
Mereka kemudian berlari secara berurutan, dengan barisan terdepan yang mulai bergerak terlebih dahulu, lalu diikuti oleh barisan setelahnya. Empat puluh putaran pun menjadi jumlah yang diwajibkan Herman, karena merasa kesal dengan perbuataan murid-muridnya.
Valentine yang tengah berlari pun turut menaruh perhatiannya pada Roman. Hatinya menjadi kesal saat mendapati sang kekasih berdiri tepat disamping Tiffany, yang terbebas dari hukuman Herman.
Tiffany pun sontak beringsut mendekati Roman, hingga pundaknya menyentuh pundak anak itu, karena ingin membuat Valentine semakin panas, setelah melihat perbuatannya. "Cara yang tepat untuk menjatuhkan Roman, adalah membuatnya jauh dari kekasihnya!" pikir Tiffany, dengan segala akal bulusnya.
"Pak Herman! Apa aku bisa menggantikan salah seorang murid?!" pinta Roman yang semakin gelisah, karena tak tega melihat Valentine turut menjadi korban pelampiasan amarah Herman.
"Siapa orangnya?" tanya Herman, yang terus menggerakkan bola matanya, saat menatap satu persatu murid yang tengah berlari tersebut.
"Valentine!" jawab Roman dengan spontan.
Namun, Tiffany berusaha untuk mengintervensi permintaan sepihak Roman. "Jangan pak Herman! Hal itu justru akan membuat mereka semakin melawan padamu!" bantah Tiffany, sambil berdiri menyamping ke arah Herman, yang tengah berdiri disampingya.
Mendengar nama Valentine, membuat Herman seketika teringat akan Valerie, guru yang digantikannya mengajar kelas 1A, selama seminggu. Herman lalu mendapati Valentine berlari dan semakin mendekat menuju dirinya. "Valentine! Keluar dari barisan!" perintah Herman, yang membuat gadis itu berpisah dari barisannya, lalu berjalan menuju Roman.
"Valentine, maafkan aku," ungkap Roman, setelah mendapati Valentine berdiri disampingnya.
Namun, Valentine sontak memalingkan wajahnya kearah lain, dengan menyimpan kekesalan yang mendalam, pada kekasihnya itu. "Peduli apa kau padaku?!" ucapnya dengan nada kesal, sambil bersedekap tangan.
Roman pun semakin tak dapat menahan rasa bersalah, saat mendapati sikap Valentine yang sudah terlanjur kesal terhadapnya. Hal itu justru membuat Tiffany merasa senang.
"Kau lihat kan Valentine?! Semua gara-gara Roman! Kau bahkan kena imbasnya!" tukas Tiffany, yang berupaya untuk menambah kekesalan Valentine, terhadap Roman.
Valentine pun sontak menatap tajam ke arah wajah Tiffany. "Kau yang tidak ada urusan apapun dengan kami, lebih diam saja!" gertak Valentine, dengan nafas yang menggebu-gebu. Ia pun turut menaruh kekesalan terhadap Tiffany, yang berusaha ikut campur kedalam urusannya.
Suasana pun menjadi semakin kacau. Roman seketika menatap satu persatu wajah teman sekelasnya, yang mulai letih karena terus berlari dan berlari memutari gedung sekolah. "Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi!" pikir Roman, yang mulai merasa iba dengan seluruh teman sekelasnya itu.
Roman sontak berjalan menghampiri Herman, dan membisikkan sesuatu ke telinga guru pembimbing ekskul atletik tersebut. "Pak Herman, jika kau tak ingin aku keluar dari ekskul atletik, maka sudahilah hukuman mereka segera. Anggap saja aku menukar mereka dengan janji-janjiku, yang akan membawa pulang banyak piala ke sekolah ini," bisiknya dengan penuh ketenangan.
Mendengar ancaman yang dibisikkan Roman, membuat Herman merasa segan untuk menolak keuntungan, yang ditawarkan oleh anggota andalan ekskul atletik itu. "Baiklah!" ucap Herman, yang telah dikonfrontasi oleh Roman, dan mengancamnya dengan cara mengundurkan diri dari ekskul atletik, jika guru arogan itu tetap melanjutkan hukumannya, pada seluruh murid kelas 1A.
Roman kemudian berjalan menghampiri Valentine dan Tiffany, serta kembali berdiri ditengah-tengah mereka.
"Semuanya! Sudah cukup! Kembali ke barisan kalian masing-masing!" perintah Herman.
Seluruh murid akhirnya kembali membentuk barisan mereka seperti semula. Tidak ada dari mereka yang tidak bernafas dengan tersengal-sengal, karena telah berlari seraya mengenakan pakaian seragam, yang sangat menyesakkan nafas para murid-murid tersebut.
"Renungkan kesalahan-kesalahan kalian! Ketua kelas telah memohon padaku, untuk mengampuni kalian. Jika bukan karena permintaan ketua kelas, mungkin aku akan menambah jumlah lari kalian, sampai seratus putaran! Cepat kembali ke kelas dengan tertib!" tegur Herman yang berusaha menyadarkan para murid, untuk tidak mengulangi kesalahan mereka.
...*** Beberapa Saat Kemudian ***...
Selepas kembalinya para murid-murid kedalam kelas 1A, Herman lansung melanjutkan kegiatan belajar mengajarnya, seraya memberikan materi pelajaran yang tengah dibaca oleh seluruh murid.
"Roman Hillberg! Berani sekali kau mempengaruhi pikiran ku! Lihat saja! Jika kau tau sesuai dengan janjimu, maka aku takkan segan-segan memberikan pelatihan yang sangat keras untukmu!" batinnya, yang telah terduduk selama satu jam, sambil mengepalkan kedua tangannya diatas meja.
Sementara, Roman yang tengah sibuk membaca buku pelajaran, merasa senang karena telah berhasil membujuk Herman, yang membuat nama anak itu menjadi baik dan bagus, bagi seluruh teman sekelasnya. "Maafkan aku, Pak Herman. Tapi kau sangat-sangat berlebihan!" batin Roman, yang seketika melirik ke arah Herman, sambil bersembunyi dibalik bukunya.
~To be continued~