My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 36. Tertikam Pisau Belati



"Audrey!!" sorak Joan seraya beranjak dari moge-nya.


Ia lalu menghampiri Audrey saat gadis itu terpental kebelakang karena menerima sambaran pintu mobil yang didorong oleh Valentine secara paksa.


"Audrey! Kau tidak apa-apa?!" Joan pun segera membangkitkan tubuh Audrey secara perlahan dan mendudukkannya diatas tembok pembatas taman jalan.


Valentine kemudian turun dari mobil Valerie seraya menghampiri kedua orang itu. "Rasakan! Itu hal yang pantas kau dapatkan atas perlakuanmu terhadap Roman!" sindir Valentine sambil menunjuk kearah Audrey meski hujan telah membasahi seluruh tubuhnya.


Joan seketika berang mendengar sindiran Valentine. Ia pun sontak mencekik leher gadis itu. "Apa maksudmu? Hah!!" gertak Joan meski kepalanya masih mengenakan helm teropong.


Roman yang telah keluar dari pintu kiri mobil pun bergegas menghampiri Joan dan mendorong tubuh pria itu sekuat mungkin, demi membebaskan Valentine. "Valentine! Kau tidak apa-apa?!" tanya Roman yang mendapati nafas Valentine tersendat-sendat akibat cekikan Joan.


Valerie kemudian turun dari mobil dan memaksa tubuh Valentine masuk kedalam mobilnya. "Sudah kubilang jangan bertindak semaumu, Valentine!!!" bentaknya sambil mendorong tubuh sang adik lalu menutup pintu mobil.


Rasa kesal seketika mendarah daging dalam diri Joan. Ia lalu mengeluarkan sebuah pisau belati dari celah belakang celana jeans-nya dan berniat untuk menikam Roman, yang tengah lengah sambil menatap ke arah pintu mobil.


"Brengseeek kauuu!!" Pria itu benar-benar sudah kalap.


(Cruutt)


Romaaan!!!" sorak Valerie setelah mendapati Joan menancapkan pisaunya pada bahu kanan Roman.


"Aaaaaaaa!!" Roman pun mengerang kesakitan saat bahunya tertancap sebuah pisau belati tajam yang diarahkan Joan padanya.


Darah seketika mengucur dari bahu pemuda tersebut. Roman lalu menjatuhkan tubuhnya dan sontak bertekuk lutut seraya mencoba menarik pisau yang menancap di bahu kanannya.


Setelah menikam Roman dengan leluasa, Joan pun berlari menuju motornya. Ia lalu menghidupkan mesin moge tersebut sambil tancap gas dan meninggalkan Audrey yang tengah menahan sakit diwajahnya akibat benturan pada kaca pintu mobil.


"Heii kau!!! Jangan pergiiii!!! ... Brengsek!" sorak Valerie kepada Joan yang telah melarikan diri.


Roman akhirnya berhasil melepaskan pisau yang menancap pada bahunya, lalu menjatuhkan pisau itu keatas lantai trotoar. Darahnya pun semakin deras mengucur hingga membekas pada jas sekolahnya.


Audrey seketika tercengang saat melihat pisau itu tertancap ditubuh Roman. Ia kemudian melepaskan helmnya seraya membelakakkan mata, setelah melihat punggung Roman penuh dengan darah. "Roman!" ucapnya sambil berusaha menghampiri Roman.


Namun, Roman dengan sigap menjulurkan tangannya kearah belakang dengan maksud menghentikan Audrey. "D-diam! J-jangan bergerak sedikitpun," ucapnya sambil menahan sakit yang sangat-sangat luar biasa.


Valerie pun turut tercengang saat melihat keadaan yang telah menimpa Roman itu. "Roman!!" -ia menghampiri Roman- "Aku bantu kau masuk kedalam mobil! Kau harus cepat-cepat pergi kerumah sakit!" seru Valerie dengan penuh rasa cemas dalam hatinya.


Audrey sontak meneteskan air matanya karena tak sanggup menahan rasa bersalah, setelah membuat Roman menjadi korban dari tindakan permusuhan yang dilakukan gadis itu terhadap Valentine.


"Bawa Audrey!" pinta Roman yang berhasil mendirikan tubuhnya setelah dibantu oleh Valerie. Rasa sakit seketika mereda setelah air hujan membantu meringankan lukanya.


"Tidak! Biarkan Andrea yang menjemputnya! Aku akan menghubungi kakaknya segera!" tolak Valerie yang merasa muak dengan perbuatan Audrey dan teman semotornya itu.


"Bawaaa Audreeeyy!!!" Roman pun sontak membentak Valerie yang turut muak dengan perselisihan kedua gadis itu. Ia bersikeras agar Valerie tetap mengizinkan Audrey memasuki mobilnya dan turut membawa gadis itu pergi kerumah sakit.


"Baiklah, baiklah!" -Valerie menoleh ke Audrey- "Audrey! Cepatlah masuk kedalam mobil!" perintah Valerie sambil menunjuk ke arah pintu mobil sebelah kiri.


Namun, belum sempat gadis itu melangkah, Valentine seketika membuka kaca mobil dan bersorak. "Aku tidak sudi satu mobil dengan gadis ibl—"


"Valentiiiiine!!!" bentak Roman untuk yang kedua kalinya, hingga suaranya yang keluar, terdengar sangat melengking.


Valentine pun sontak terkejut saat perkataannya terpotong oleh bentakan Roman yang sangat mengejutkan hatinya. Ia benar-benar tak menyangka bila sang kekasih akan murka terhadap dirinya.


"Aku yang akan duduk ditengah, dan Audrey yang berada disamping kananku. Jangan membuatku semakin kesal, Valentine!" gertak Roman dengan emosi yang menggebu-gebu, sambil menatap tajam kearah Valentine.


Valentine mau tidak mau harus menuruti keinginan kekasihnya itu. Ia sangat tidak Roman menaruh benci padanya. Lihat! Lihat!!! Roman marah padaku gara-gara kau! Dasar Gadis Iblis! pikirnya sambil mengepalkan kedua tangan diatas pahanya.


Valerie kemudian memapah tubuh Roman menuju pintu belakang kiri mobil. Ia lalu membuka pintu dan membantu Roman masuk kedalam mobil tersebut dengan penuh kehati-hatian.


Valentine pun sontak tercengang saat mendapati bahu sang kekasih berlumuran darah. Ia bahkan tak sempat melihat Joan menikam Roman, karena sibuk mengembalikan sebagian nafasnya yang hilang, akibat lehernya terjerat kuat oleh tangan Joan. "Roman, kamu kenapa sayang?! Kenapa tubuhmu tiba-tiba berdarah?!!" tanya Valentine dengan raut wajah yang super cemas.


Setelah mendapati Audrey memasuki mobil, Valerie yang telah menduduki ruang setir kemudi pun segera tancap gas dan bergegas menuju rumah sakit.


"Romaan!! Jawab aku!! Kau kenapaa?!!" tanya Valentine seraya mendorong pipi sebelah kanan Roman dan memaksa kekasihnya itu menoleh padanya.


Namun, Roman berusaha untuk tetap bungkam. Ia lebih memilih menikmati rasa sakit ditubuhnya daripada semakin memperumit keadaan dengan mengatakan apa yang telah terjadi pada Valentine.


Audrey semakin terisak-isak dalam tangisnya. Ia lalu memberanikan diri untuk menggenggam erat pergelangan tangan kiri Roman. "Roman, aku sungguh-sungguh minta maaf atas tindakan biadab yang dilakukan kakak temanku itu," ungkapnya dengan penuh penyesalan.


Roman pun mendecih.


Valentine terkejut setelah mendengar penuturan Audrey. Tangan kanannya seketika bergetar dan berniat untuk menampar wajah rivalnya itu.


Namun, Roman berusaha menghalangi seraya menahan telapak tangan Valentine yang hampir mendarat keras di wajah Audrey. "Valentine! ... jika kau bertindak lebih dari ini, maka jangan salahkan aku bila aku tak ingin mengenalimu lagi!" ancam Roman dengan wajah yang menatap tajam pada wajah kekasihnya itu.


Valentine pun mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya. Ia benar-benar takut dengan ancam Roman dan tidak akan pernah sanggup bila hal itu terjadi padanya. Dan, benar saja! Roman malah semakin membela dirinya! Aku tidak akan pernah membiarkan gadis itu semakin mencuri perhatian Roman! batinnya seraya melirik penuh dendam pada Audrey.


Audrey kembali menggenggam erat pergelangan tangan kiri Roman, setelah tangan itu sempat terlepas karena Roman berusaha menahan tangan Valentine. Ini adalah saat yang tepat untukku menunjukkan rasa cintaku padanya. Aku mohon! Tetaplah berlama-lama seperti ini, batinnya sambil memejamkan kedua mata.


Api dendam dalam hati Valentine semakin membara, saat mendapati tangan kanan Audrey, menggenggam erat pergelangan tangan kiri Roman. Brengsek! Akan kupatahkan tangan gadis iblis itu nanti! Seenaknya saja dia menyentuh kekasihku! pikir Valentine yang sontak menggenggam erat telapak tangan kanan Roman.


Valerie terus menatap cermin yang menghadap ke arah kursi belakang, demi mengawasi tindakan dari kedua gadis yang tengah berseteru itu. Tidak hanya disekolah, bahkan diluar pun mereka semakin memanas. Dasar Roman! Apa yang sebenarnya kau miliki, sampai-sampai dua gadis itu sangat ingin memperebutkanmu! pikir Valerie yang kemudian memfokuskan pandangan mengemudinya ke arah depan.


Rika kembali ke mode heningnya. Ia tetap duduk mematung dan terdiam seribu bahasa. Aaaaaaa!! Aku sudah tidak tahu harus berbuat apalagi! batinnya dengan penuh rasa cemas, sambil menggigit bibir bawah.


Setelah berhentinya aliran darah yang mengucur di pundaknya, tingkat kesadaran roman pun ikut melemah. Pandangannya seketika memudar dengan kondisi wajah pucat pasi.


Roman mencoba untuk menahan kesadarannya sambil mengerjapkan mata berulang kali.


Namun, yang tak diinginkan pun terjadi. Belum sempat tiba di rumah sakit, pemuda yang tampan dengan kecerdasan IQ yang tinggi, serta kemampuan atletiknya yang diatas rata-rata itu, kehilangan kesadarannya karena telah kehabisan banyak darah.


~To be continued~