
Menjelang malam yang dingin, Roman belum jua pulang ke rumahnya. Kekosongan dalam perutnya telah membuat tubuhnya semakin melemah. Ia pun telah menghabiskan harta terakhir dalam sakunya dengan sia-sia. Bagaimana ini ... Rumahku masih jauh, perutku sudah lapar. Andai saja berandalan itu tidak menginjak rotiku! Roman membatin dalam dirinya.
Sambil memeluk tubuhnya, Roman berjalan dengan membungkuk. Ia kemudian menghentikan langkah kakinya sejenak dan bersandar pada sebuah tembok pagar rumah yang besar dan mewah. Aku sudah tidak sanggup lagi ... Wahai pemilik rumah yang besar ini, izinkan aku beristirahat sebentar, batin Roman.
Roman pun menutup kedua matanya. Rasa lapar pada perutnya telah mengundang rasa kantuk dalam dirinya. Semua itu karena ulah Paul. Berandalan tersebut telah membuat banyak orang yang tidak berdosa, menjadi sengsara karenanya. Termasuk Roman, yang telah terlelap dalam tidurnya.
"Baiklah, Rika! Aku akan segera kesana!" Valerie yang terlebih dahulu pulang kerumah, mengakhiri percakapan di ponselnya. Hatinya seketika tertusuk saat mendapatkan kabar tidak mengenakkan dari Rika tentang Valentine. Rasa gelisah yang membelenggunya, telah membawa Valerie bergegas menuju mobil. Ia lalu memencet sebuah tombol yang membuat gerbang tinggi didepan rumahnya, terbuka lebar.
"Anak itu? ... Bukankah Roman?" Valerie menghentikan laju mobil saat menatap ke arah samping gerbang. "Roman!" ucapnya. Ia pun mendapati Roman tertidur seraya bersandar pada tembok pagar rumahnya. Valerie kemudian beranjak dari mobilnya lalu menghampiri Roman. "Roman ... Bangun Roman," kata Valerie sambil menggoyang-goyangkan pundak muridnya itu.
Dengan penuh rasa cemas, Valerie mengangkat dagu Roman yang menunduk dan mendapati wajahnya telah pucat. Ia lalu mencoba mendeteksi detak jantung Roman "Jantungnya melemah. Aku harus membawanya kedalam!" ungkapnya. Valerie kemudian meletakkan tangan Roman diatas pundaknya. Ia pun memapah anak itu masuk kedalam rumah.
Selepas melewati pintu rumah, Valerie dengan sekuat tenaga membawa Roman menuju sofa. Ia lalu meletakkan tubuh yang sudah lemah itu, keatas sofa dengan perlahan. Mungkinkah ia kelaparan? batin Valerie seraya menatap wajah Roman. Setelah berpegang teguh atas dugaanya, ia memutuskan untuk segera kembali menuju mobil dan bergegas menjemput Valentine.
...*** Disekolah ***...
Gelisah, khawatir, cemas dan segala yang menyerupainya, telah bercampur aduk dalam hati Valerie, saat menepikan mobilnya didepan gerbang sekolah. Ia kemudian turun dari mobil dan bergegas menuju puncak atas gedung sekolah. Kedua kakinya yang melangkah dengan cepat, sempat membuat Valerie terjatuh di lorong sekolah. Pertanda buruk apakah ini? batin Valerie.
Ia kemudian bangkit dengan perlahan dan kembali bergegas menaiki tangga lantai penghubung kelas satu persatu. Valerie seketika meneteskan air matanya seraya berjalan dengan tergesa-gesa. Hatinya semakin terpuruk dengan rasa khawatir karena membayangkan hal buruk apa yang telah menimpa adik kandungnya itu. Valentine, aku akan segera datang! batin Valerie.
Dengan bertarung melawan rasa cemasnya, Valerie telah tiba pada sebuah tangga penghubung, menuju pintu akses puncak gedung. Ia lalu menapaki anak tangga itu satu persatu. Kekhawatiran dalam dirinya pun telah membabi-buta saat akan tiba menuju pintu tersebut. "Valentine!" himbau Valerie.
Matanya membelalak. Mulutnya pun menganga lebar. Rasa cemas, khawatir dan takut, seketika meledak bagaikan nuklir yang meluluhlantakkan hatinya. "V-V-Valentiiineee!!!" pekik Valerie. Suaranya teriakannya menggema hingga terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Valerie lantas menghampiri sang adik, yang terlentang dengan kepala yang terpangku diatas paha Rika. "Apa yang sebenarnya terjadi, Rika?" tanya Valerie.
"Valentine ... Valentine ...." kata Rika seraya terisak-isak. Ia tak sanggup menjelaskan kepada Valerie, apa yang telah menimpa Valentine. Rika semakin terlarut dalam isak tangisnya dan membiarkan air matanya jatuh membasahi wajah Valentine.
Gadis itu hanya membisu. Ia terus membelalakkan matanya ke arah langit. Rasa trauma telah menghancurkan semangat hidup dalam diri Valentine. "Valentine ... Valentine! Sadarlah." kata Valerie seraya menggoyang-goyangkan wajah Valentine. "Valentine ... Jangan takut, aku disini. Valentine ... Berbicaralah," ucap Valerie. Namun, yang didapatinya hanyalah keheningan. Valentine tetap membisu dan semakin terhanyut dalam ketidakberdayaannya.
Demi keselamatan Valentine, Valerie memutuskan untuk memapah tubuhnya lalu membawanya menuju rumah sakit terdekat. Rika pun turut membantu dan mengikutinya. Mereka berjibaku dalam memasukkan tubuh Valentine kedalam mobil. Derasnya hujan yang turun, tak menyurutkan niat mereka untuk segera menyelamatkan fisik dan mental Valentine.
...*** Rumah Keluarga Helsink ***...
Roman tak sengaja menoleh ke arah dinding dan mendapati sebuah wajah yang terpampang dalam pigura. "Bukankah ... itu wajah Bu Valerie?" katanya, setelah mengenali siapa sosok dalam foto tersebut. Ia pun mengalihkan perhatiannya pada sebuah pigura yang terpajang disebelah pigura Valerie. "Dan, itu Valentine ... Sial! Kenapa aku bisa disini!" ucapnya dengan panik.
Roman pun segera meraih tasnya dan bergegas menuju pintu rumah. "Aaargghh!! Kenapa harus dikunci!" keluhnya setelah menggoyangkan gagang pintu. Ia menjadi kesal saat mendapati pintu itu terkunci. Heningnya suasana dalam rumah itu pun mulai menghantui pikirannya. "Ada orang dirumah?!!!" himbau Roman dengan polosnya seraya bersorak. Tak ada satupun orang yang menyahuti sorakan Roman. Ia menduga bila Valerie dan Valentine telah menguncinya dari luar.
Roman pun menoleh ke arah tangga rumah yang menghubungkan lantai dua. Dengan rasa penasaran, Ia mengendap-endap seraya menaiki tangga itu dan mendapati beberapa ruangan dilantai dua. Pemuda itu kemudian menghampiri salah satu ruangan yang ada didekatnya. "Semoga ini bukan kamar Valentine," katanya seraya membuka pintu.
Dan, benar saja! Yang dimasukinya ternyata kamar Valentine. Ia pun terkagum-kagum dengan dekorasi kamar yang penuh hiasan berbentuk hati serta warna pink yang mendominasi. Roman pun mengokohkan keyakinannya bila yang dimasukinya adalah kamar Valerie, tanpa menyadari kamar itu sebenarnya milik Valentine. Ia kemudian mencoba membuka jendela yang berada di pojok kamar. "Ahh! Terkunci!" gumam Roman.
Setelah tak mendapatkan celah untuk keluar, Roman kembali bergegas menuju pintu. Pergerakannya yang tergesa-gesa, membuat Roman terjatuh saat kakinya tersandung pada sebuah meja belajar. "Astaga! Sakit!" keluhnya. Benturan kakinya pada meja itu, telah membuat semua benda diatasnya pun terjatuh.
Roman kemudian menaruh perhatiannya pada beberapa lembar kertas foto yang terjatuh dilantai. Ia lalu mencoba untuk mengambil salah satu dari kertas tersebut. "Ini foto Valentine. Sial!! Aku salah masuk kamar!" gumamnya seraya menutup mata. Roman lalu mencoba merangkak dan meraih lembar foto lainnya. Ia terkejut saat memusatkan kedua matanya pada foto tersebut "Ini ... orang ini adalah aku."-ia membelalakkan matanya-"Haaa?!!! Kenapa ada fotoku disini!" kata Roman.
Ia pun tak sengaja membalikkan kertas foto itu dan mendapati sebuah tulisan yang membuatnya penasaran. "Roman, maafkan segala kesalahanku selama ini. Kamu adalah lelaki yang sangat menarik. Roman Hillberg, namamu pun sangat menawan. Kau juga tampan. Aku akan menebus kesalahanku, dan membuatmu jatuh cinta padaku." ungkap Roman seraya meniru tulisan di balik kertas foto tersebut. Ia pun terkejut bukan main "Haaahhh???!!!" soraknya.
Roman tertegun. Dengan dihantui rasa ketidakpercayaan, ia mengembalikan beberapa benda serta foto Valentine seperti semula. Roman pun tak menyangka bila Valentine telah menyimpan perasaan untuknya. T-tidak mungkin ... Secepat itukah? Valentine yang awalnya jutek, tidak mungkin jatuh cinta dengan orang sepertiku! Ini salah! Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan meluruskan perasaannya! batin Roman dalam ketidakpercayaannya.
"Aku harus bergegas!" kata Roman setelah memasukkan foto tersebut ke dalam saku celananya. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari pintu. Selepas menutup pintu kamar Valentine, Roman pun memutuskan untuk memasuki kamar disebelahnya. "Pasti ini kamar Bu Valerie," katanya seraya membuka pintu. Roman pun tak mendapati apa-apa selain dekorasi kamar yang biasa-biasa saja. "Bu Valerie tidak se-feminim Valentine, ternyata," celoteh Roman setelah melihat-lihat disekitarnya.
Roman pun menaruh perhatiannya pada sebuah jendela yang terbuka dipojok ruangan. "Bingo! Aku harus keluar dari sini!" ucap Roman. Ia kemudian menoleh ke arah luar jendela dan mendapati sebuah tembok yang dapat menjadi pijakan kakinya. "Walaupun Hujan, badai sekalipun akan ku lewati! Asal tidak berlama-lama disini!" ungkapnya. Roman sangat kekeuh untuk segera keluar dari rumah tersebut.
Dengan penuh keberanian dan percaya diri yang tinggi, Roman menapaki sebuah tembok yang menjadi pijakan kaki. Ia mencoba merayap seraya mencari tembok lain yang lebih rendah posisinya. Namun, hal yang tak diinginkan pun terjadi. Kakinya seketika tergelincir dan membuatnya tak dapat menyeimbangkan tubuh.
Roman pun terjatuh setinggi lima meter. Beruntung nasib baik masih tertulis dalam takdirnya. Tubuhnya sontak mendarat di atas sebuah trampolin. "I know! I know!" kata Roman saat tubuhnya memantul. Ia menikmati tubuhnya terpelanting berulang-ulang secara vertikal. "Woohoo!!!" sorak Roman dengan kegirangan. Selepas pantulan tubuhnya mereda, Roman mengambil ancang-ancang untuk mendarat dengan sempurna.
"Huft ... huft ...." Roman menghela nafasnya dengan perlahan, setelah mendaratkan kakinya diatas sebuah jalan setapak yang membelah kedua sisi taman, dalam Rumah keluarga Helsink. Ia pun tak ingin membuang waktunya terlalu lama dan segera bergegas menuju gerbang rumah. "Ah! Sial! Kenapa semua yang ada disini tinggi-tinggi sekali!" Roman menjadi kesal setelah mendapati, tingginya gerbang rumah mewah tersebut. "Aku harus bagaimana lagi?" keluhnya.
Roman telah kehabisan akal. Tiada lagi yang bisa dilakukannya kecuali hanya bersandar pada sebuah tembok pagar. "Sial! Jangankan orangnya, rumahnya saja bikin kesal!" gumam Roman. Dengan tubuh yang telah basah kuyup, ia menikmati kesengsaraannya seraya menunggu kedatangan orang rumah. Tubuhnya pun menggigil seketika.
~To be continued~