My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 55. Kegaduhan



Hari telah berganti, seiring dengan hembusan angin pagi yang menyejukkan hati. Roman seketika terbangun dari tidurnya, tepat dua jam sebelum jadwal bangun yang ditentukan oleh Valerie.


Ia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan menuju pintu kamar. Matanya sudah mengusir rasa kantuk jauh-jauh, dengan seratus persen tingkat kesadaran yang membuatnya semangat dalam melangkah.


Selepas membuka lalu menutupi kembali pintu kamarnya, Roman berjalan menghampiri kamar Valentine. "Valentine! Rika! Bangun!" ucap Roman seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar. Ia lalu beranjak menuju kamar Valerie. "Kak Valerie! Bangun!" Suara dentuman tulang jarinya pada pintu kamar, tak cukup membuat Valerie terbangun dari tidurnya.


Mendapati tak ada jawaban dari Valerie, Roman kembali beralih menuju kamar Valentine. "Valentieennn! Rikaaa! Cepat bangun!" Tulang jarinya semakin cepat dalam mengetuk-ngetuk pintu kamar kekasihnya itu.


Valentine akhirnya terbangun dari tidurnya, dalam keadaan setengah sadar. Ia lalu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu, sambil membuka kunci pintunya dengan perlahan. "Ro—Romaaan ...." Valentine menggesek-gesekkan matanya dengan sebelah kepalan tangan, dan terkejut. "R-R-Romaaan?!" Ia baru menyadari bila seorang lelaki yang telah berdiri dihadapannya itu, adalah Roman.


Valentine pun sontak menutup belahan dadanya yang tersingkap lebar, karena mengenakan tanktop yang terlalu ketat, tanpa mengenakan pelapis apapun didalamnya. "Rooomaaan!" soraknya dengan pipi yang telah memerah dan rasa malu yang begitu hebat.


Meski Roman selalu menatap ke arah wajahnya, Valentine tetap merasa malu, hingga membuatnya terpaksa kembali menutup pintu secara mendadak, dan membiarkan Roman berdiri diluar kamarnya.


(Brak!)


Roman berusaha untuk tetap tenang. "Valentine, jangan tidur lagi. Ayo berangkat sekolah bersama-sama," ucapnya dari depan pintu.


"T-t-tunggu sebentar! Aku berpakaian dulu!" Jantungnya berdegup sangat kencang, seiring dengan kedua pipi yang telah memerah. Valentine kemudian membuka pintu lemarinya, dan dengan segera berganti pakaian secepat mungkin. K-k-kenapa aku harus malu?! Roman kan pacarku! batinnya, yang telah terlanjur mengenakan pakaian yang lebih tertutup.


Valentine kembali membuka pintu kamarnya, dan mendapati Roman tengah berjalan menuju kamar Valerie. "Roman?!" ucapnya dengan penuh keheranan.


"Kak Valerie! Bangun! Jangan jadi pemalas! Ini sudah jam setengah empat pagi!" himbau Roman seraya mengetuk-ngetuk pintu Valerie dengan sangat keras dan cepat.


Melihat tindakan aneh dari sang kekasih, Valentine pun menghampirinya. "Rooomaan, ini baru jam berapa?!" keluh Valentine sambil berdiri disamping Roman yang turut berdiri menghadap pintu kamar Valerie.


Roman menoleh ke wajah Valentine. "Ini adalah standar hidupku, Valentine," ucapnya, lalu tersenyum lebar dihadapan sang kekasih.


"Haaa?! Standar hidup yang bagaimana maksudmu? Aku biasanya bangun jam setengah enam. Kenapa cepat sekali kau bangunnya?!" Valentine semakin terheran-heran dengan sikap Roman, yang telah membangunkannya pagi-pagi buta.


"Valentineee ... kita harus membiasakan diri bangun pagi-pagi. Karena waktu luang sebelum berangkat sekolah, bisa kita gunakan untuk belajar, atau melakukan hal lainnya yang lebih bermanfaat," tutur Roman sambil memegang kedua pundak Valentine, lalu memicingkan kedua matanya dan kembali tersenyum lebar.


Rika yang turut terbangun pun bergegas menuju luar pintu. "Valentineee adaaa apaa siiihh ...." ucap Rika dari balik pintu, seraya menggosok-gosok matanya dengan kepalan tangan.


"Rika!!!" Valentine terkejut saat mendapati Rika keluar kamar dengan mengenakan tanktop yang sangat ketat, hingga membuat bagian dada Rika sangat menonjol. Ia pun sontak menghampiri Rika, lalu menarik tangannya dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Ada apa sih!!" keluh Rika dengan raut wajah kesal, setelah dirinya dipaksa masuk kedalam kamar oleh Valentine.


"Apa kau tidak sadar?! Ada Roman didepanmu!" tegur Valentine sambil berkacak pinggang dihadapan Rika.


Rika pun terkejut dan sontak menutup belahan dadanya yang tersingkap jelas, selepas mendengar perkataan Valentine. "G-g-gawaaat! Hampir saja!" ucapnya dengan penuh ketar-ketir.


Melihat reaksi aneh dari Valentine, Roman seketika berjalan menuju kamarnya. "Valentine, ada apa?!" tanya Roman setelah berdiri tepat didepan pintu kamar Valentine yang terbuka lebar.


Rika lalu membuka pintu lemari Valentine, dan memilah-milah pakaiannya dengan tergesa-gesa. "Duhh yang mana ini?!" Ia benar-benar kebingungan saat memilih pakaian mana yang cocok untuk seukuran tubuhnya.


"Sudaaaah, yang mana saja!" desak Valentine sambil berjalan menghampiri Rika.


Roman masih heran dengan sikap kekasihnya itu. Kenapa sih pagi-pagi begini kalian jadi heboh?! pikirnya sambil kembali berjalan menuju kamar Valerie. "Kak— ahh ... aku mandi dulu saja," ucap Roman yang hampir mengetuk kembali pintu kamar Valerie. Ia mengurungkan niatnya untuk membangun wali kelasnya itu, dan beranjak menuju lantai satu.


"Setelah mandi, mungkin aku akan berolahraga diluar," ucap Roman setelah menuruni anak tangga, dan bergegas menuju kamar mandi milik Valentine. Tangan kirinya telah menenteng sekantung plastik alat-alat mandi pemberian Valerie, sejak keluar dari kamarnya.


Ia lalu masuk kedalam kamar mandi, dengan kain handuk yang menggantung disebelah pundaknya. Setelah menekan sensor shower, ia membasahi badannya dengan air yang keluar dari lubang-lubang kecil, yang terletak diatas ruang kamar mandi.


Sementara, Valentine kembali keluar dari kamarnya, dengan Rika yang turut keluar setelah mengganti pakaiannya. "Romaaan?! Kemana dia?!" tanya Valentine yang sempat menoleh kiri kanan.


Rika seketika menoleh ke arah pintu kamar Roman, yang telah tertutup rapat. "Mungkin dia sudah kembali kekamarnya," jawab Rika yang berdiri tepat ditengah pintu kamar Valentine.


"Dasar! Aku jadi tidak bisa tidur lagi, kalau sudah bangun jam segini!" gumam Valentine dengan bersedekap tangan, seraya menghadap ke arah kamar Roman.


"Sudah, sudah! Ayo kita mandi bersama-sama!" seru Rika seraya menarik tangan Valentine. "Aku sudah menyiapkan pakaianku dikamar mandimu," ucapnya sekali lagi.


Valentine menghentikan langkah kakinya. "Tunggu! Aku akan mengambil pakaianku dulu," Ia kemudian bergegas menuju kamar, lalu memilah pakaian yang akan dikenakannya setelah mandi. "Kita harus segera mandi, sebelum Roman kembali keluar dari kamarnya," kata Valentine seraya bergegas menghampiri Rika, yang telah menunggunya didepan tangga.


Selepas menuruni anak tangga, mereka kemudian bergegas tergesa-gesa menuju kamar mandi. "Setelah membangunkan kami, dia malah tertidur. Dasar Roman!" keluh Rika yang berjalan sambil menggenggam erat tangan Valentine, dengan dua kain handuk yang menggantung pada masing-masing bahu mereka.


Namun, Rika dan Valentine pun sontak terkejut. Mereka membelalakan mata, dengan masing-masing mulut yang mengaga lebar, saat mendapati Roman berdiri tepat didepan pintu kamar mandi.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" teriak mereka secara serempak, seraya mengerjapkan mata rapat-rapat.


Reaksi dari kedua gadis itu, sama sekali tidak mengejutkan Roman. Beruntung ia telah menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk. "Maaf! Aku lupa membawa baju ganti. Hehe," ucapnya sambil melangkah tergesa-gesa, melewati Valentine dan Rika.


Roman kemudian beranjak menaiki tangga, menuju lantai dua.


Valerie yang terkejut setelah mendengar teriakkan para gadis pun sontak beranjak dari kasurnya, dan bergegas membuka pintu kamar.


Namun, ia malah bertemu dengan Roman, yang baru saja selesai menaiki tangga. "Aaaaaaa!" Valerie sontak teriak seraya menutup wajahnya matanya dengan kedua tangan. Ia terkejut setelah menyaksikan Roman berdiri dihadapannya, dengan berlapiskan handuk yang menutupi bagian tubuh bawah.


"M-m-maaf kak Valerie! Aku lupa membawa pakaian gantiku!" Roman pun berjalan dengan tergesa-gesa, melewati Valerie dan bergegas menuju kamarnya.


Roman akhirnya masuk kedalam kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Huuuftt!!! Pagi-pagi begini aku malah membuat kegaduhan! pikirnya sambil bersandar dibelakang pintu kamar, dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang.


~To be continued~