
Disepertiga malam terakhir menuju terbitnya fajar, Roman terbangun dari tidurnya. Ia kemudian membuka pintu kamar dan mendapati Angelina, tengah duduk termenung didepan meja seraya menopang dagu. "Maa?? Belum juga tidur?" tanya Roman.
Angelina meneteskan air matanya seraya bergeming. Ia lalu menutup kedua mata sambil menggigit bibir bawah. "Bagaimana aku bisa tidur! Aku hampir saja kehilangan putraku!" -Ia menatap Roman- "Apa kau tidak kasihan denganku?!" ucapnya.
Sebelumnya, Valerie telah mengantar Roman pulang menuju rumah keluarganya, selepas membawa pulang Valentine dan Rika. Ia kemudian bertamu di rumah Roman sambil berbincang-bincang dengan Angelina, selaku wali Roman.
Angelina pun terkejut saat mendengar penuturan Valerie, tentang kejadian yang telah menimpa putra sulungnya. Hal itu membuatnya shock dan sulit memejamkan mata.
Meski kedua buah hatinya telah tertidur, Angelina hanya bisa duduk terdiam didepan meja makan, sambil merenungi tindakan bodoh yang telah dilakukan Roman. Ia tak menyangka bila putranya itu telah melakukan perbuatan nekat, tanpa sepengetahuan dirinya.
Setelah mendapati kehadiran Roman yang terbangun dari tidurnya, Angelina sontak menangis dan bersyukur karena dirinya masih tetap melihat anaknya hidup dan bernafas, seraya menatapnya dari balik pintu kamar.
Roman kemudian bersimpuh dihadapan Angelina. "Maa, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sudahlah maa, yang penting aku tidak apa-apa," tutur Roman dengan raut wajah sedih.
(Prak!!!)
Angelina melayangkan tamparan keras, ke pipi sang putra. Ia kemudian menjatuhkan lututnya dan sontak memeluk Roman seerat mungkin. "Jangan membuatku merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya Roman!" keluhnya seraya menangis terisak-isak.
Roman pun turut menangis dalam pelukan Angelina. Sakitnya tamparan itu, telah membuatnya sadar bila sang bunda sangat menyayanginya. "Maaa ... Aku memang anak bodoh yang tidak berguna ... maafkan aku maa ... maafkan akuu ...." ungkap Roman yang turut terisak dalam tangisnya.
Natasha seketika terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara Roman dan Angelina. Ia lalu keluar dari kamar. "Mamaa, Romaaan!!" Gadis kecil itu sontak berlari menuju mereka dan turut bergabung dalam paduan kesedihan, yang berlarut-larut.
Sepeninggal Gerrard, Angelina menjadi kesulitan dalam mengasuh serta memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Ia terkadang menerima bantuan keuangan dari beberapa teman semasa sekolah, yang merasa prihatin dengan keadaannya tersebut.
Angelina tidak pernah mengharapkan dirinya akan menjadi single mom dengan dua anak. Meski begitu, ia tetap tegar dan ikhlas dalam menjalani sulitnya ekonomi kehidupan keluarga, setelah ditinggal mati Gerrard, mendiang suaminya tercinta.
...****************...
Waktu menunjukan pukul setengah lima pagi hari. Matahari pun masih enggan memantulkan sinarnya kepermukaan bumi. Ditengah dinginnya fajar, Roman terduduk diatas meja makan sembari menunggu masakan Angelina siap untuk disajikan.
"Roman, kau tak perlu lagi jalan kaki ke sekolah," kata Angelina sambil mengaduk-aduk sup hangat dalam sebuah panci.
"Memangnya kenapa ma?" tanya Roman. Perutnya seketika berbunyi saat mengendus-endus aroma wangi sup buatan Angelina.
"Saat kau tertidur, Bu Valerie bilang padaku bila dirinya bersedia mengantarmu berangkat sekolah. Mungkin sebentar lagi mobilnya akan tiba didepan," tutur Angelina dengan wajah yang masih sembab. Ia kemudian menuangkan sup hangat buatannya ke dalam tiga mangkuk.
"Mengapa mama izinkan? Aku masih bisa berangkat sendiri ke sekolah, walau harus jalan kaki," tampik Roman, yang sudah tidak sabar lagi melahap sup hangat kesukaannya itu.
"Jangan keras kepala, Roman! Kita tidak boleh menolak niat baik seseorang. Turuti saja keinginan wali kelasmu itu. Jangan pernah melawan perintahnya!" tegur Angelina seraya menghidangkan sebuah nampan berisi tiga mangkuk sup, keatas meja makan. "Jangan makan dulu! Tunggu Natasha," larang Angelina.
"Baik maa," pungkas Roman dengan nafsu makan yang menggebu-gebu, saat melihat sup hangat kesukaannya telah berada dihadapan.
Angelina kemudian beranjak menuju kamar Natasha. Ia lalu mendapati gadis mungil kesayangannya itu, tertidur sambil memeluk sebuah boneka beruang. "Nataa, bangun nak. Kita sarapan dulu," ucapnya sambil menggendong tubuh mungil sang putri tercinta.
Setelah membasuh wajah mungil yang mengantuk itu, Angelina mendudukkan Natasha diatas kursi meja makan. Ia sangat perhatian dengan putrinya. "Sebelum makan, berdoa terlebih dahulu," perintah Angelina sambil menduduki kursinya.
Ia pun sontak tersenyum seraya memandang masing-masing kedua wajah anaknya itu. Gerrard, dosa apa yang telah ku perbuat, sampai-sampai kedua anakmu ini tidak ada kemiripan sedikitpun denganku. Kau benar-benar tidak adil, batinnya.
...*** Rumah keluarga Helsink ***...
Valerie tengah duduk di teras aula rumah, sambil menikmati teh hangat buatannya. Ia lalu termenung seraya menatap ke arah jalan raya. Valentine telah memulai hubungannya dengan Roman. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku akan diam saja jika hubungan itu dapat menggangu pelajaran mereka? batin Valerie seraya menyeruput tehnya.
Tapi, aku mendengar Roman mendaftarkan dirinya ke sekolah itu lewat jalur beasiswa. Berarti dia sangat jenius bukan? ... Aku jadi tidak sabar menguji kemampuan belajarnya, batin Valerie panjang lebar.
Valerie Helsink dan Valentine Helsink. Mereka merupakan kedua putri dari Albert Helsink, seorang profesor ternama yang kini menjadi dosen di luar negeri.
Albert memiliki seorang istri bernama Victoria Helsink, yang telah wafat delapan tahun silam, akibat penyakit kronis yang dideritanya.
Victoria semasa hidupnya, hanya mengabdi sebagai guru di sekolah menengah Saint Luxury. Menyekolahkan kedua putrinya disekolah itu, adalah keinginan terakhirnya sebelum wafat.
Kepergian sang ibunda pun telah memberikan duka yang amat mendalam di hati Valerie. Ia yang saat itu masih menempuh pendidikan tingkat pertama di sekolah lain, memutuskan untuk mendaftarkan dirinya ke sekolah menengah Saint Luxury.
Valerie akhirnya berhasil mendapatkan program beasiswa, setelah melakukan berbagai tes uji kelayakan yang diberikan pihak sekolah menengah Saint Luxury. Semua itu gigih dilakukannya demi memenuhi keinginan terakhir sang ibunda.
Masa-masa SMA Valerie di sekolah elit itu, tidaklah berjalan dengan mulus. Ia selalu mendapatkan ejekan dan cacian dari teman-teman sekelas, setelah mengetahui dirinya masuk ke sekolah tersebut, lewat jalur beasiswa.
Valerie pun turut mendapatkan sebutan 'anak guru' yang memiliki stigma negatif terhadap dirinya. Mereka menganggap prestasi Valerie, hanya karena pengaruh sang ibunda yang telah lama menjadi guru disekolah itu.
Walau berasal dari keluarga terpandang, Valerie tetap menerima perlakuan yang tidak mengenakkan dari teman sekelasnya, karena selalu mendapatkan perhatian lebih dari para guru, atas kecerdasannya.
Valerie memiliki beberapa teman semasa SMA yang sangat berharga dalam hidupnya. Salah satunya adalah Andrea dan Miranda. Meski berbeda kelas, Mereka selalu melindungi Valerie dari berbagai niat jahat siswa lain.
Namun, Valerie akhirnya tetap meneguhkan tekadnya untuk melanjutkan pendidikan sampai lulus. Ia kemudian meneruskan pendidikan gurunya di salah satu universitas pendidikan ternama di kota.
Selepas wisuda, Valerie pun harus merelakan kepergian sang ayah yang mendapatkan tugas mengajar sebagai dosen di luar negeri.
Demi mengejar jejak sang ayah, serta mengharumkan nama mendiang ibunya, Valerie memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai guru, di sekolah menengah Saint Luxury, tempat sang ibunda yang turut bekerja sebagai guru semasa hidupnya.
Valentine pun turut mengikuti jejak Valerie dengan mendaftarkan dirinya ke sekolah menengah Saint Luxury, walau Albert harus mengeluarkan uang banyak, karena mahalnya biaya-biaya yang diwajibkan oleh sekolah itu.
Valentine cenderung memiliki sifat tomboi dan sangat keras terhadap laki-laki disekitarnya. Nilai pendidikannya semasa SMP-nya pun tidak sebagus nilai Valerie.
Meski begitu, Valerie tetap menyayangi Valentine dan selalu membantunya dalam menyelesaikan pelajaran yang sulit. Mereka sangat akrab dan tidak dapat dipisahkan.
Kini, selain menjadi kakak Valentine, Valerie pun turut menjadi guru wali kelasnya. Ia berniat mengawasi sang adik agar pendidikannya tetap lancar dan berharap Valentine dapat mengikuti jejaknya sebagai guru.
~To be continued~