My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 19. Sebuah Pelukan



Sesuai anjuran Valerie, Roman menanti kedatangan mobilnya diluar gerbang sekolah. Aku harap tidak bertemu Rika disana, batin Roman. Setelah suara mesin roda empat itu terdengar dan mendekatinya, ia pun mempersiapakan mentalnya.


Roman dengan penuh percaya diri, membuka pintu mobil bagian penumpang. Dan, ia pun sontak terkejut. "Haaaah??? R-R-Rika???" katanya. Ia tercengang saat mendapati Rika, telah mengisi bangku penumpang disebelahnya.


"Haha! Kau takkan bisa lari dari ketua OSIS!" kata Rika dengan penuh senyuman yang menyeringai.


"Romaaan, Ayo cepat masuk!" seru Valerie seraya menurunkan gigi persnelingnya.


Roman yang telah menaikkan sebelah kakinya pun sempat bergeming. Ia tak menyangka bila Rika telah berada didalam mobil Valerie. Rasa malu pun seketika memperkosa harga diri Roman, setelah tak sengaja bertemu dengan orang yang baru saja ditolak ajakannya itu.


"Sudah cepaaat!!!" Rika sontak menarik tangan Roman dan memaksanya masuk kedalam mobil.


Roman pun tak dapat mengelak lagi. Ia mau tidak mau, harus menumpang bersama Rika didalam mobil Valerie. Hahaha!!! Aku sekarang sedang bersama perempuan pembawa sial! batin Roman. Hatinya terus menggumam karena merasa kesal dengan kehadiran gadis itu.


Disela perjalanan, Rika tak dapat menahan rasa kantuknya. Ia pun tertidur seraya mendaratkan kepalanya diatas pundak Roman. K-k-kepala!! Ada kepala pembawa sial dipundakku!, batin Roman. Demi menjaga hawa permusuhannya dengan Rika, Roman mendorong kepala gadis itu dan berusaha menyandarkannya pada bantal jok mobil.


Namun, Rika yang sedang tertidur pulas, terus menerus menjatuhkan kepalanya di pundak Roman. Aaargghh!!! Apa tidak ada sandaran lain selain pundakku? batinnya dengan kesal. Roman pun akhirnya membiarkan gadis itu tertidur pulas dipundaknya, setelah gagal meletakkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Ia terus memunculkan raut wajah kesalnya seraya menatap jendela mobil.


"Hei, hei ... banguuun! Kita sudah sampai!" -ia mendongakkan wajah Rika- "Hiiikkk!!! Liurmu! menempel dipundakku!" kata Roman setelah membangunkan Rika dan mendapati air liur gadis itu menempel dipundaknya.


"Hmm!!! Maaf!" Rika pun sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia lalu mengeluarkan saputangan dari dalam saku jas seraya menyeka liur dimulutnya.


"Jas ku tidak kau lap kah?" sindir Roman.


"Lap sendiri!" ucap Rika dengan wajah dan nada kesal. Ia pun beranjak dari mobil dan bergegas menyusul Valerie yang telah tiba didepan pintu. Rika tak dapat menahan rasa malu, setelah wajah tidur serta liurnya terpampang jelas oleh Roman.


"Dasar!" Roman pun turut beranjak dari mobil Valerie, seraya menyeka liur yang menempel di pundaknya. Ia rela menahan rasa mual demi menjaga perasaan Rika. Kali ini kena liurnya, lalu setelah ini, apalagi! batin Roman dengan menahan rasa kesal.


"Roman! Ayo masuk!" seru Valerie dari balik pintu. Ia kemudian bergegas menuju kamar Valentine dan diikuti oleh Rika.


Roman akhirnya memasuki rumah besar dan mewah itu, untuk yang kedua kalinya. Ia pun mengingat hal-hal yang telah dilakukannya dirumah itu kemarin. Dengan penuh rasa bersalah, Roman kemudian mengikuti Rika dan Valerie yang tengah menapaki tangga penghubung lantai dua.


"Valentine, sayangku!" sorak Rika dari balik pintu kamar Valentine. Ia melihat Valentine sedang duduk diatas ranjang seraya menatap ke arah luar jendela.


"R-R-Ri ... Riiikaaa ...." Valentine sontak memalingkan wajahnya ke arah Rika. Ia masih berbicara dengan terbata-bata walau kesadarannya telah pulih.


Rika pun kegirangan saat Valentine menyebut namanya. Ia sontak bergegas menuju gadis itu seraya memeluknya dengan erat. "Syukurlah!" kata Rika, dengan raut wajah sedih bahagia. Bendera kebahagiaan pun berkibar dalam istana hatinya, saat mendapati bestie-nya itu sudah kembali pulih.


"Rikaaa, jangan terlalu manja dengan Valentine. Ia masih belum pulih sepenuhnya," tegur Valerie yang bersandar dari balik pintu seraya menatap mereka berdua. Valerie pun mendapati Roman yang hanya mematung dibelakangnya. "Roman, masuklah," seru Valerie.


Roman berusaha menebalkan dinding keberaniannya, untuk bertemu dengan Valentine. Ia lalu menghela nafasnya secara perlahan. Baiklah, apapun yang terjadi nanti, aku telah siap menerima resikonya, batin Roman.


Setelah merasa yakin, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Valentine. Roman lalu menampakkan dirinya ditengah pintu yang terbuka, dengan wajah yang menunduk ke arah bawah.


"R-Ro ... Ro ... Roomaann." Valentine tercengang bukan kepalang, setelah mendapati kehadiran Roman. Wajahnya tak sengaja meneteskan air mata, saat menatap kearah laki-laki yang sangat dicintainya itu. "Romaan!!!" kata Valentine seraya mengacungkan kedua tangannya secara perlahan ke arah Roman.


Roman pun tak kalah tercengangnya, saat melihat reaksi Valentine. Ia menjadi bimbang harus menanggapi seperti apa reaksi tersebut. Melihat Roman hanya bergeming, Valerie pun sontak mendorong punggungnya. "Pergilah. Hampiri Valentine. Membuat seorang gadis menunggu terlalu lama itu, sangatlah tidak baik," tutur Valerie.


"Roomaan! Cepat kemari!" seru Rika yang turut menghangatkan suasana itu.


Tidak ada lagi yang dapat dilakukannya, selain memberanikan diri untuk menghampiri Valentine. Dengan penuh rasa simpati, Roman melangkahkan kakinya menuju Valentine yang telah siap memeluknya. Roman pun memeluk Valentine.


"Roman! Romaan! Romaaan! Romaaaan!" sorak Valentine seraya memeluk Roman dengan erat.


Valentine menangis tersedu-sedu, dibalik punggung lelaki pujaanya. Kebahagiaan dan kesedihannya pun bercampur, dan menjadi rasa yang tak mungkin bisa dijelaskan oleh akal sehat.


"Valentine, tenanglah. Aku disini. Roman bersamamu," kata Roman sambil mengelus rambut Valentine dengan lembut. Hatinya pun turut merasakan kesedihan yang dialami gadis itu.


"Jangan takut, Valentine. Aku tidak akan meninggalkanmu," tutur Roman bak pemeran pria dalam drama romansa Korea.


Valentine semakin menguatkan pelukannya pada tubuh Roman. Ia menyalurkan segala perasaan cinta dan sayangnya terhadap laki-laki tersebut. "Temani aku sampai malam ini," kata Valentine. Ia takkan melepaskan pelukannya, sebelum Roman mengiyakannya.


"Baiklah. Rebahkan badanmu dan beristirahatlah. Aku akan terus menemani tidurmu," ucap Roman .


Mendengar perkataan tersebut, membuat hati Valentine menjadi tenang. Ia pun melepaskan pelukannya dari tubuh Roman. Valentine merasakan kenyamanan yang tiada tara saat berada dekat dengan lelaki tersebut.


"Valentine, apa hatimu sudah tenang?" tanya Roman seraya duduk disamping ranjang Valentine. Tangannya pun tak pernah lepas dari genggaman tangan Valentine.


"Hmm ... tapi, aku masih takut dengan orang itu. Aku takut dia akan menyerangku lagi,"


"Jangan khawatir! Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuknya. Bahkan, dia akan merasakan yang lebih dari apa yang telah kau rasakan." Roman pun turut membalas genggaman tangan Valentine. Ia telah menjamin keamanan gadis tersebut dengan mempertaruhkan segala jiwa dan raganya.


Valerie yang menyaksikan peristiwa mengharukan itu, beranjak dari tempatnya bersandar. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju dapur, seraya menyeka air mata keharuannya. Setelah mempersiapkan sebotol minuman untuk Roman, ia pun kembali menuju kamar Valerie. "Roman, minumlah," ucap Valerie sambil meletakkan minuman itu ke atas meja Valentine.


"Terima kasih, Bu Valer—"


"Kak Valerie! Jika diluar sekolah, kau harus memanggilku seperti itu." Valerie pun turut bergabung bersama mereka. Ia duduk menyamping di atas sisi ranjang Valentine yang masih menyisakan ruang kosong. Sedangkan Rika, duduk di dekat kaki Valentine.


"B-Baiklah. Kak Valerie," kata Roman.


...*** Beberapa saat kemudian ***...


Roman mendapati Valentine telah tertidur. Ia pun berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Valentine. Gawat! Sudah pukul berapa ini?!! batin Roman. "Rika, sekarang pukul berapa?" katanya.


Rika kemudian menoleh ke arah jam tangannya seraya berkata, "Sekarang pukul empat sore."


Masih sempat! Aku harus bergegas! pikir Roman. Ia pun sontak berdiri dari tempat duduk. "Kak Valerie! Mohon maaf, aku harus pergi!" ucap Roman seraya membungkukkan badannya dihadapan Valerie.


"Ada apa Roman? Kenapa terburu-buru?" tanya Valerie dengan keheranan.


Roman pun terdiam sejenak. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa tentang kegiatan yang akan dilakukannya. Demi menunjukan kejujurannya, Roman memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. "A-Aku ... telah melamar pekerjaan sebagai karyawan paruh waktu di kafe. Dan, pukul lima nanti aku harus tiba disana. Aku mohon, kak Valerie! Izinkan aku pergi!" tegas Roman.


"Bekerja? Apa orangtua mu sudah mengizinkannya?" tanya Valerie seraya memastikan.


"Sudah! Aku mohon!" jawab Roman dengan penuh keyakinan.


Rika kemudian menyela pembicaraan mereka. "Biarkan dia pergi, kak. Jika memang itu kemauannya," kata Rika. Ia adalah salah satu dari orang yang mengerti tentang status Roman. Menghalangi niatnya untuk mencari uang, sama saja dengan menghina dirinya.


"Hmm ... baiklah. Biarkan aku mengantarmu kesana," ucap Valerie.


Nice timing! Dia benar-benar wanita yang sangat baik, batin Roman. "T-tidak usah, Kak! Aku tidak ingin merepotkanmu," kata Roman dengan malu-malu kucingnya.


"Sudahlah. Justru aku yang berterimakasih kepadamu, karena telah menenangkan Valentine," ungkap Valerie yang sontak berdiri dari duduknya.


"B-Baiklah, jika memang kak Valerie tidak keberatan." Roman pun bergegas menuju pintu kamar Valentine. "Rika! Aku titip Valentine!" katanya dari balik pintu.


"Tenang saja! Cinderella-mu ini, akan baik-baik saja bersamaku," ucap Rika sambil tersenyum.


Valentine, Aku harus pergi. Aku janji akan menjengukmu lagi, batinnya. Roman kemudian mengikuti langkah Valerie menuju pintu utama Rumah. Ia menunggu kedatangan mobil Valerie di dekat gerbang Rumah. Roman tetap menjaga kesabarannya dalam memulai hari pertama bekerja, sebagai karyawan kafe.


~To be continued~