My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 60. Cemburu



Valentine menggengam erat tangan Roman, dan menuntunnya keluar dari kelas, selepas bel menandakan pulang sekolah berbunyi. "Cih! Padahalkan baru lewat beberapa hari, gadis itu seenaknya saja bilang pendaftarannya sudah tutup!" gumam Valentine dalam hatinya, sambil terus berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas, bersama Roman.


Mendapati kekasihnya selalu mendecih, dengan raut kesal yang nampak jelas diwajahnya, membuat Roman menjadi heran. "Valentine, kau kenapa?" tanya Roman, yang berusaha membuat laju langkah kakinya, selaras dengan laju langkah kaki Valentine.


"Tidak apa-apa! Mood ku sedang tidak baik!" jawab Valentine sambil sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain, yang semakin membuat Roman menjadi kebingungan dengan sikapnya.


Mereka menjadi pusat perhatian para siswa, yang turut berjalan melewati lorong hingga memenuhi ruang loker. Seluruh mata yang memandang tajam kearah dirinya, sudah cukup membuat Roman merasa tidak nyaman, dan segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Valentine.


Namun, Valentine merasa marah dan kembali meraih tangan Roman, lalu menggenggamnya dengan erat. "Kenapa?! Kau malu jalan denganku?!" protes Valentine dengan nada keras, hingga semakin membuat seluruh siswa menatap tajam ke arah mereka.


"T-tidak tidak. Aku tak bermaksud seperti itu. Hanya saja, apa bisa berjalan tanpa bergandengan tangan?" tanya Roman yang berusaha menenangkan amarah kecil Valentine.


"Tidak mau! Ayo jalan!" jawab Valentine yang menolak keinginan Roman, untuk tidak terlalu gembar-gembor dalam menjelaskan hubungan mereka. Ia terus berjalan menuju ruang loker, sambil menggenggam dan menarik tangan Roman.


Sementara, jauh dibelakang mereka, Priscilla dan Olivia tengah mengintai dari balik tembok persimpangan lorong sekolah. "C-C-Cillaaa! Siapa gadis itu?! Seenaknya saja dia menarik-narik tangan Roman!!" tanya Olivia, dengan penuh ketidakpercayaan yang terpampang jelas diwajahnya, saat menatap ke arah Roman, yang berjalan bersama seorang siswi lain.


"Cilla?! Cilaaa?!!" Olivia seketika menoleh ke arah Priscilla, dan mendapati gadis itu tengah tercengang dengan mata yang membelalak, dan mulut yang menganga lebar, saat menatap jauh ke arah Roman.


Olivia menepuk-nepuk pipi Priscilla dengan kedua tangannya, agar gadis itu segera tersadar dari lamunannya. "Cillaa! Sadarlah! Kenapa kau jadi melamun?!" tegur Olivia.


Priscilla pun sontak mengerjapkan matanya berulangkali, dan kembali pada jalur kesadarannya. "G-G-Gadis ituuu?!" Ia benar-benar terkejut tak percaya, saat mendapati seorang gadis yang tengah berjalan seraya menggenggam erat tangan Roman itu, rupanya seorang siswi yang telah menemuinya di ruang ekskul atletik.


"Cillaaa, kau sebenarnya kenapa?! Apa kau mengenal gadis itu?" tanya Olivia yang tengah membungkuk dari balik tembok, sambil menolehkan kepalanya kearah Priscilla, yang turut mengintai dan bersembunyi dibelakang tubuhnya.


"Ya! Ayo kita kejar mereka!" seru Priscilla yang sudah terlanjur menunjukkan rasa kesalnya, lalu berjalan pelan-pelan menuju ruang loker.


"Cillaa!" Olivia pun mau tidak mau mengikuti langkah kaki Priscilla, dan beranjak menuju ruang loker.


Namun, niat mereka untuk melabrak Valentine, terhalangi oleh Edgard dan Eugene yang seketika hadir dan berdiri didepan Roman, lalu menyapanya. "Roman! Kau ingin pulang?" tanya Edgard dengan raut wajah ceria.


Eugene sontak menoleh ke wajah Valentine dan terkesima. "R-R-Roman, s-s-siapa Dewi cantik ini?!" tanya Eugene dengan terbata-bata, seraya memuji Paras cantik wajah Valentine.


Roman berusaha untuk tetap tenang, meski telah dikepung oleh dua teman satu ekskul-nya itu. "Dia Valentine. Te—"


"Pacar! Aku pacar Roman!" Valentine memotong perkataan Roman dengan spontan dan sedikit bersikap jutek dihadapan dua teman kekasihnya itu.


Edgard dan Eugene pun terkejut dan sontak membungkam mulut mereka secara serempak, lalu saling menatap satu sama lain.


Eugene seketika bertekuk lutut seraya menggenggam tangan kanan Valentine dan tangan kanan Roman. "Oh! Sungguh indahnya pemandangan ini! Ketika Dewi cantik dan Dewa Sains saling mengadu kasih, aku menjadi merasa telah diberkahi," Eugene bertingkah aneh dihadapan mereka.


Melihat tingkah konyol Eugene, membuat Valentine menjadi muak. Ia sontak menarik tangan Roman dan membawanya menjauh dari kedua anggota ekskul teknologi modern tersebut. "Roman! Lihat-lihat dulu kalau ingin berteman dengan seseorang!" batin Valentine dengan raut wajah judesnya.


Priscilla yang tak sengaja mendengar perbincangan mereka dari dekat pun sontak terkejut. "P-p-pacar katanya?!!" batinnya dengan penuh rasa ketidakpercayaan, saat tak sengaja mendengar perkataan Valentine, yang telah mengaku sebagai pacar Roman.


"Cillaaa! Saaakit!" keluh Oliva saat tangannya tergenggam erat oleh tangan Priscilla. Namun, Priscilla mengacuhkannya dan terus membawanya pergi menuju ruang loker.


Terdapat banyak barisan lemari loker yang berderet dari ujung ke ujung. Loker milik Valentine terpaut jauh dengan loker Roman. Sedangkan loker milik Priscilla, berada dibelakang loker Roman.


Meski lokernya terpaut jauh, Valentine tetap menunggu Roman mengemasi barang-barangnya dari dalam loker. Sementara Priscilla, turut mengemasi barang-barangnya dari dalam loker, sambil menguping pembicaraan mereka, bersama dengan Olivia yang letak lokernya bersebelahan dengan loker Priscilla.


"Roman, bantu aku belajar dirumah nanti," ucap Valentine, sambil menatap ke arah loker milik Roman.


Perkataan gadis itu, membuat Priscilla tak sengaja menjatuhkan buku-buku hingga berserakan diatas lantai.


"Duh ... hati-hati Chilla, jangan ceroboh!" tegur Olivia yang turut membantu Priscilla mengemasi buku-bukunya. Ia merasa heran dengan sikap teman sekelasnya itu, yang mendadak berubah menjadi linglung dan sedikit ceroboh.


Beruntung Valentine tidak menyadarinya. Ia tetap fokus memandang Roman dan menanti kekasihnya merapihkan buku-buku dalam lemari lokernya.


Namun, Roman sempat termenung, saat mendengar suara Olivia, yang secara tidak sengaja menyebut nama Priscilla. "Olivia?! Priscilla?! Mereka itu ... g-gawat! Aku harus segera menjauh dari sini!" pikir Roman seraya menutup pintu lokernya lalu bergegas mengenakan tasnya.


Valentine kemudian menarik tangan Roman, dan membawa Roman menuju loker miliknya, yang terpaut empat barisan, dari barisan loker kekasihnya. "Roman, aku akan membuatkan makanan yang enak untukmu. Sebelum belajar, makan dulu," ucap Valentine, yang suaranya sekilas terdengar oleh telinga Priscilla.


Wajahnya memerah, alisnya mengkerut, nafasnya semakin menggebu-gebu, tak terkontrol. Priscilla menjadi panas setelah mendengar perkataan-perkataan Valentine, seolah-olah menegaskan kedekatan gadis itu dengan Roman.


Dengan menyimpan api cemburu yang telah terbakar dalam hatinya, Priscilla melangkahkan kakinya meninggalkan loker, dan berniat mencari keberadaan Roman, yang sebenarnya tengah menunggu Valentine mengemasi barang-barang dari dalam loker. "Ini tak bisa dibiarkan! Roman harus memberikan penjelasan yang sangat-sangat jelas tentang hubungannya dengan gadis itu!" batin Priscilla dengan raut wajah kesal.


Olivia yang terkejut melihat perubahan sikap Priscilla pun turut berjalan mengikutinya dari belakang. "Chillaaa! Tungguu!!" ucapnya seraya mengejar sahabatnya itu.


Roman pun semakin cemas, setelah tak sengaja mendengar suara Olivia yang berteriak memanggil nama Priscilla. Belum sempat Valentine mengenakan tas, Roman sontak menarik tangannya dan membawanya bergegas keluar dari pintu utama gedung sekolah.


"Rooomaan, kenapa terburu-buru sekali!" tegur Valentine yang merasa heran, dengan perubahan sikap kekasihnya itu.


"Kak Valerie sudah menunggu didepan gerbang. Membuatnya menunggu terlalu lama, sangatlah tidak baik," kata Roman seraya mempercepat langkah kakinya, dan menggiring Valentine menuju gerbang sekolah.


Priscilla mencari dan terus mencari keberadaan Roman, disetiap barisan lemari loker. Namun, ia tak jua menemukannya. "Brengsek! Kemana gadis itu membawa Roman pergi!" gumamnya dalam hati, sambil mengepalkan erat kedua tangannya.


"Priscilla! Apa yang sedang kau cari?!" tanya Olivia yang sedari tadi mengikuti arah langkah kaki Priscilla. Ia menjadi semakin penasaran, apa yang telah membuat sikap sahabatnya itu mendadak berubah.


"Hmphh! Tidak ada!" Priscilla sontak bersedekap tangan seraya memalingkan wajah kearah lain. Ia berusaha menyembunyikan niatnya dan menutupi raut wajah cemburunya dihadapan Olivia.


Roman akhirnya berhasil menghindar dari kejaran Priscilla, setelah memasuki mobil Valerie, bersama dengan Valentine yang telah duduk disampingnya. "Aku seperti, seperti merasa terhindar dari masalah besar, yang mungkin akan terjadi disekolah," pikirnya lalu menghela nafas secara perlahan.


~To be continued~