My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 23. Penderitaan



Kepadatan lalu lintas di jembatan Highburg, telah mereda. Tiada lagi sorot lampu kendaraan yang lalu lalang, akibat derasnya air hujan. Para penduduk pun bergegas pulang menuju rumah, demi menjalin kehangatan suasana, bersama keluarga mereka. Kecuali, Roman Hillberg. Anak laki-laki yang sedang berjalan terhuyung-huyung, menuju tengah trotoar jembatan Highburg.


Ditengah dinginnya malam, jutaan kubik air yang jatuh itu, semakin memporak-porandakan suasana hati Roman. Ia lalu berhenti ditengah-tengah trotoar jembatan, seraya menoleh ke arah besi tiang penyangga. Ayah, mungkin dengan menyusul kepergianmu, aku bisa hidup bahagia, tanpa harus merasakan penderitaan lagi, batinnya dalam keputusasaan.


Kerinduannya yang amat mendalam pada sang ayah, membuat Roman mengangkat sebelah kanan kakinya dengan perlahan. Ia lalu menginjak besi tiang penyangga tersebut seraya berpegangan pada besi penyangga yang melintang diatas kepalanya. Mama ... Natasha, Maafkan aku, batinnya sambil terus meneteskan air mata. Roman kemudian mencoba mengangkat sebelah kiri kakinya dengan tenang.


Namun, entah nasib baik atau nasib buruk yang telah menyapanya. Licinnya permukaan besi itu, membuat kaki kanan Roman tergelincir. Kepalanya pun membentur besi penyangga jembatan, yang melintang didepan tubuhnya.


(Tunkkk...!!!)


Pandangannya pun seketika memudar. Roman membiarkan punggungnya terhempas kebelakang. Ia lalu terjatuh dan menimpa trotoar jembatan yang sangat keras itu.


(Brukkk...)


"Aaargghh!!! Saaakiiiittt!" lirih Roman dengan mengerang. Ia sontak melengkungkan tubuhnya, seraya menanggung rasa sakit yang luar biasa dipunggung. Rasa sakit dikepala pun turut menerjang saraf otaknya akibat benturan yang keras pada besi penyangga tersebut.


Benturan itu membuat sedikit sobekan di keningnya, dan membuka gerbang bagi aliran darah untuk segera meluncur ke wajahnya. Darah dihidungnya pun semakin mengalir deras, hingga membuat Roman, sempat tak sadarkan diri. Wajahnya kini telah tertutupi oleh cairan merah yang mengental. Roman semakin kehilangan banyak darah, yang sangat menopang hidupnya.


Setelah beberapa menit mengalami mati suri, ia kemudian tersadar. Roman lalu merenung sejenak dengan posisi tubuh yang terlentang. Ku kira aku sudah mati, batinnya. Matanya pun tak pernah berkedip walau selalu diterjang air hujan. Dalam ketidakberdayaannya, Roman menikmati penderitaan dan rasa sakit yang dialaminya itu.


Ia kemudian memandang ke arah langit seraya tersenyum. Tuhan, cukup. Aku telah mengerti. Jangan terus menerus memberikan penderitaan padaku. Ini adalah yang terakhir kalinya aku merasakan sakit yang luar biasa. Kini, biarkan aku yang mengakhirinya, batin Roman, yang semakin tenggelam dalam lautan keputusasaan.


Dengan penuh ketegaran, dan sebagian tenaganya yang tersisa, Roman mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Ia tak ingin berlarut-larut dalam menikmati penderitaan yang dialaminya. Aku tak boleh berlama-lama disini! Mereka pasti akan mencariku, lalu menemukanku. Dan, memperlakukanku dengan buruk lagi! batinnya.


Roman pun berhasil mendudukan tubuhnya diatas trotoar. Ia kemudian menanggalkan kedua sepatunya dan berusaha mendirikan tubuhnya secara perlahan. Ayolah! Tunjukan pada mereka jika aku benar-benar sudah lenyap! ... Itukan yang menjadi keinginan mereka! batinnya. Anak itu benar-benar tangguh dalam melawan rasa sakit, yang tiada hentinya menerjang tubuhnya.


...*** Kafe Sweet Memories ***...


Valerie sontak menghentikan laju mobilnya didepan kafe Sweet Memories. Rika dan Valentine pun berguncang karenanya. "Kakak! Apa tidak bisa lebih berhati-hati lagi dalam berkendara?!" tegur Valentine yang ketakutan selama perjalanan.


"Siapkan payungmu Valentine! Jangan sampai air hujan ini mengenai kepalamu. Aku akan menghubungi Andrea terlebih dahulu," seru Valerie tanpa menghiraukan teguran Valentine.


"Andrea! Cepat buka pintu! Aku sudah tiba didepan kafe!" kata Valerie setelah menempelkan ponselnya ke telinga.


Dalam hitungan detik, Valerie pun mendapati Andrea berdiri dibalik pintu, setelah sahabatnya itu membuka pintu folding gate kafe. Ia kemudian bersama para gadis, berbondong-bondong memasuki pintu kafe. "Andrea! Kemana Roman? Apa yang telah terjadi padanya?" tanya Valerie dengan raut wajah cemasnya.


"R-Roman ... Ahh!! Apa kalian tidak bisa duduk dulu! Biar aku menjelaskannya dengan tenang," ucap Andrea yang turut merautkan wajah cemasnya.


Valerie bersama Andrea dan para gadis pun mengisi kursi pengunjung kafe. Mereka lalu duduk melingkari sebuah meja bundar yang berada ditengah. "Andrea! Dimana Roman?!" ucap Valerie yang sedikit mengeluarkan emosinya.


"T-Tenang duluuu!" -ia menghela nafasnya- "Selepas kau pergi, aku masih melihat Roman tertidur sambil duduk didepan meja bartender." Belum sempat Andrea melanjutkan penuturannya, Valentine yang telah dihantui rasa cemas pun sontak beranjak dari kursi. Ia kemudian bergegas menelusuri seluruh area didalam kafe, demi mencari keberadaan Roman.


"Valentine! Kau mau kemana?" tanya Rika yang kemudian turut mengikuti pergerakan Valentine.


"Kemudian, setelah Roman bangun, aku bergegas menuju ruang karyawan untuk mempersiapkan seragam yang akan dia pakai, selama bekerja disini," tutur Andrea yang berusaha untuk tenang dan melawan rasa cemasnya.


"Lalu, setelah itu?" Valerie berusaha memahami penuturan Andrea.


"Selepas aku keluar dari ruang karyawan, adikku Audrey, tiba-tiba datang dan memasuki kafe. Aku pun segera menghampirinya untuk menungguku di ruang karyawan. Lalu, setelah itu, aku tidak lagi melihat Roman. Dia menghilang entah kemana," ujar Andrea yang semakin tiba pada penghujung kesaksiannya.


"Apa mungkin karena Audrey, Roman pergi meninggalkan kafe?" tanya Valerie. Ia kemudian berusaha mencari titik terang, tanpa mengetahui yang sebenarnya.


"B-Betul! Eh... tidak tidak!! Belum! Belum pergi, maksudku," jawab Andrea yang sedikit melenceng dari kesaksiannya.


Mereka pun sempat hening dari pembicaraan. Andrea merasa gelisah saat berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kafe itu. Ia kemudian melanjutkan penuturannya. "Setelah merasa kesal karena Roman menghilang, aku kemudian mendengar Audrey menjerit dari dalam ruang karyawan," katanya.


Valerie mendekatkan wajahnya setelah merasa penasaran dengan penuturan lanjutan Andrea. Dengan penuh ketenangan, ia mencoba membuat sahabatnya itu meneruskan perkataannya. "Jadi, Audrey menjerit karena bertemu Roman di ruangan itu?" kata Valerie dengan mencoba menebak kejadian selanjutnya.


"B-Betul!! Aku melihat Audrey mencengkeram kerah Roman. Adikku itu mengaku bila Roman telah mencoba mencabulinya," ujar Audrey.


(Brak!!!)


Andrea sontak terkejut saat Valerie dengan penuh emosinya, menggebrak meja. "Tidak mungkin! Tidak mungkin muridku melakukan hal sekeji itu!" berang Valerie. Ia merasa yakin bila Roman tidak akan berbuat hal yang dapat merusak nama baiknya.


"Saabar Valerieee! Aku hampir saja jantungan!" tegur Andrea yang terkaget dengan tindakan spontan Valerie. Ia pun mencoba menghela nafasnya dengan perlahan dan melanjutkan penuturannya. "Audrey ... Audrey." -ia menitikkan air mata- "Audrey sontak memukul wajah Roman!" kata Andrea seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, dengan bercucuran air mata.


"Brengsek! Kenapa adikmu tega melakukan itu?" Valerie pun tak dapat menahan amarahnya setelah mendengar Roman mendapatkan perlakuan kasar dari Audrey.


"A-Aku ... aku benar-benar minta maaf!" Andrea sontak beranjak dari kursinya. Ia kemudian membungkukkan badannya dan berkata : "Aku mewakili adikku yang konyol itu, meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, sebagai guru Roman,"


Valerie pun akhirnya tersentuh melihat tindakan Andrea tersebut. "Duduklah! Jelaskan sampai selesai. Baru setelah itu, aku akan memaafkanmu. Apa yang terjadi dengan roman selanjutnya?" tanya Valerie yang berusaha melawan emosinya secara perlahan.


Andrea kemudian kembali menduduki kursinya. Dengan wajah yang sembab, ia menghela nafas dan melanjutkan penuturannya. "Hatiku ... benar-benar hancur saat ... melihat banyaknya darah yang keluar dari hidung Roman, akibat p-pukulan itu," ucap Andrea dengan penuh cucuran air mata.


Rasa amarah kembali menjangkiti hati Valerie. Dengan tangan yang terkepal erat, ia melawan rasa amarah itu dan berusaha untuk tetap tegar. "Teruskan! Apa yang terjadi selanjutnya," kata Valerie yang turut meneteskan air matanya.


"Aku pun berusaha untuk membuat Roman tetap berada disini. Aku yang akan bertanggung atas semuanya." -Andrea memukul meja- "Aku yang akan menyembuhkan lukanya dan memberikannya uang kompensasi yang pantas, sebagai permohonan maaf atas perlakuan Audrey. Namun, dia tak mengindahkan perkataan ku, dan berusaha melepaskan genggaman tanganku!" Andrea terus menerus menghentakkan tangannya ke atas meja. Ia semakin terhanyut dalam kesedihan dan rasa bersalahnya terhadap Roman.


"Dia berlari secepat mungkin dengan darah yang terus mengucur dari ... hidungnya." pungkas Andrea yang sontak berdiri dari meja. "Valerie! Sebelum semuanya terlambat, temani aku cari keberadaan Roman! Aku khawatir dia akan berbuat nekat!" seru Andrea seraya menyeka air matanya.


"T-tidak mungkin!" Valentine yang sempat mendengar penuturan Andrea pun sontak membelakakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang telah terjadi pada Roman. "Romaaaaannn!!!" jerit Valentine hingga suaranya melengking.


"Valentine! Tenanglah!" Rika berusaha mendirikan tubuh Valentine yang jatuh tersungkur ke atas lantai. Ia mendapati bestie -nya menangis tersedu-sedu. "Valentine, jangan menangis! Aku yakin Roman baik-baik saja. Ayo cari dia sama-sama!" seru Rika seraya berusaha menenangkan Valentine, yang telah terperosok kedalam jurang kesedihannya.


~To be continued~