
Valerie tengah menanti kehadiran Andrea, untuk menemaninya melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan Joan kepada polisi. Apa yang harus ku katakan nanti pada nyonya Angelina, jika dirinya tahu aku tak bisa melindungi Roman dari seseorang yang telah menikamnya, pikir Valerie yang tengah tertunduk lesu didepan ruang perawatan.
Ia kemudian berdiri dari kursi lalu membuka pintu ruang perawatan secara perlahan. Valerie mencoba menengok dari balik pintu dan mendapati Valentine terus menangis sambil memeluk tubuh Roman, dengan Rika yang tengah terduduk seraya memainkan ponselnya.
Demi menjaga kesehatan dua muridnya yang belum sekalipun mengisi perut sejak siang, Valerie kembali menutup pintu ruang dan bergegas menuju lift. Aku akan membelikan mereka makanan, selagi menunggu kedatangan Andrea, batinnya sambil pintu lift yang telah terbuka.
Setelah beranjak turun menuju lantai satu, Valerie kemudian melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit. Namun, dirinya dikejutkan dengan beberapa petugas berseragam oranye yang tengah tergesa-gesa mendorong dua ranjang pasien.
Perhatiannya pun tertuju pada dua kantung mayat yang terletak diatas dua ranjang tersebut. Astaga! Korban kecelakaan kah? pikir Valerie sambil menghindari petugas-petugas yang tengah mendorong dua ranjang tersebut secara bersamaan.
Hidungnya seketika mencium bau hangus dan busuk yang bersumber dari dua kantung mayat itu. Rasa penasaran pun membawanya mengikuti kemana perginya para petugas Tim SAR yang bergegas menuju ruang identifikasi korban.
Valerie kemudian menghentikan langkah kakinya tepat didepan ruangan khusus untuk mengidentifikasi korban. Ia lalu mendapati seorang petugas Tim SAR keluar dari ruangan tersebut. "Pak!" himbaunya pada petugas Tim SAR yang tengah terburu-buru.
Petugas itu pun berhenti saat menerima himbauan Valerie. "Iya, ada yang bisa saya bantu Nyonya?" ucapnya seraya menoleh ke arah belakang dan mendapati Valerie berjalan menuju dirinya.
"Pak, apa yang telah terjadi dengan dua jasad itu?" tanya Valerie dengan raut wajah penasaran.
"Mereka adalah korban yang tak sempat menyelamatkan diri, dari kobaran api yang melahap rumah mereka," jawab sang petugas yang masih mengenakan masker dimulutnya.
"Astagaaa ... lalu bagaimana dengan kondisinya? Apakah saya boleh masuk?" mohon Valerie yang mulai merasa empati setelah mendengar penuturan sang petugas.
Sang petugas kemudian merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal. "Ya boleh, Nyonya boleh masuk jika memang merasa mengenali korban atau memiliki kekerabatan dengan korban." -ia menyerahkan kartu- "Ini kartu tanda pengenal saya. Hubungi saya jika Nyonya mengetahui atau mengenal identitas korban." pungkas sang petugas sambil berlalu meninggalkan Valerie.
Setelah menerima kartu pengenal sang petugas, Valerie pun bergegas masuk kedalam ruang identifikasi korban bencana. Ia lalu mendapati beberapa petugas lainnya yang tengah melakukan pengecekan terhadap dua jasad tersebut.
Hatinya seketika tersentuh saat menatap pada kantung mayat salah satu korban yang kepalanya tersingkap. Ya Tuhan! Kasihan sekali beliau, pikir Valerie sambil membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangan.
"Nyonya, ada urusan apa kemari?" tanya salah seorang petugas wanita, kepada Valerie yang tengah berdiri mematung didepan pintu.
"S-s-saya ... hanya ingin melihat-lihat saja. Barangkali ada salah satu diantara mereka yang saya kenali," jawab Valerie sambil mendekat menuju petugas wanita tersebut.
Seketika salah seorang petugas lainnya, membuka resleting kantung mayat yang terletak disebelah kantung mayat yang telah tersingkap bagian kepalanya. Tercium bau busuk yang sangat menyengat hidung yang bersumber dari tubuh jasad anak kecil tersebut.
"Nyonya, gunakan ini!" ucap salah seorang petugas wanita sambil menyodorkan masker pada Valerie.
Valerie semakin tak dapat menahan rasa ibanya, saat mendapati wajah anak kecil yang tersingkap dari kantung mayat tersebut. "Yaa Tuhaaan," ungkapnya seraya meneteskan air mata.
"Nyonya, apa anda mengenali mereka? Atau salah satu diantara mereka?" tanya sang petugas wanita, kepada Valerie yang tengah berdiri didepan ranjang matras kantung mayat.
Wajah mereka benar-benar tak terbentuk, karena seluruh kulitnya hangus terbakar. Hidung, mata, bahkan mulut pun nyaris tak dapat dikenali oleh Valerie, yang mencoba menatap dengan teliti satu-persatu wajah jasad tersebut.
Seketika terdengar suara ponsel yang berdering dari salah satu tas milik seorang petugas wanita. Ia lalu meraih ponselnya, dan menjawab panggilan tersebut. 📞 "Yaa, halo? ... betul ... hmm ... sudah dapat informasi dari tetangganya? Hmm baiklah, aku mengerti ... siap!" kata sang petugas Tim SAR wanita dalam percakapan ponselnya.
Petugas wanita itu kemudian berdiri dari kursinya, seraya menulis pada dua buah kertas informasi, yang tersusun rapih dalam genggaman tangannya. Ia lalu memasukan masing-masing kertas tersebut, kedalam plastik laminating yang menggantung dibelakang ranjang jenazah.
Valerie kemudian melirik sebuah tulisan, yang tertera pada kertas itu. Matanya pun membelalak lebar dengan mulut yang turut menganga lebar. Hatinya berdetak kencang dan terus mengguncang-guncangkan dadanya. "T-t-tidak mungkin!" ucapnya seraya memundurkan langkahnya menuju pintu ruangan.
"Nyonya! Ada apa?! Apa kau mengenalinya?!" tanya sang petugas wanita, saat mendapati Valerie menyandarkan dirinya pada dinding disebelah pintu, dengan tubuh yang terus bergetar hebat.
Sang petugas pun menghampiri Valerie lalu merangkul tubuhnya yang semakin menggigil bagai terkena serangan dingin es kutub utara. "Tenangkan dirimu, Nyonya! Jika memang mereka adalah keluargamu, kau harus tabah dan mengikhlaskan kepergian mereka," tegur petugas wanita tersebut.
Angelina Hillberg, dan Natasha Hillberg. Begitulah nama yang tertera dalam kertas tersebut, yang membuat Valerie terhanyut dalam rasa ketidakpercayaannya, atas apa yang telah dilihat dengan mata kepalanya sendiri. "T-t-tidak mungkin ... tidak mungkiinnnn!!! Aaaaaaaaaa!!!" Valerie pun menjerit seraya mendaratkan bokongnya ke atas lantai dan bersandar pada dinding ruangan.
"Nyonya?! Nyonyaaaa! Paaak! Bagaimana ini?!" tanya sang petugas wanita pada rekan sekerjanya.
"Ayo gotong tubuhnya kedalam ruang perawatan. Sepertinya dia mengalami shock yang berkepentingan," seru sang petugas lelaki seraya menghampiri sang petugas wanita, dan membantunya mengangkat tubuh Valerie menuju ruang perawatan terdekat.
...*** Ruang Perawatan Lantai Dua ***...
Sejak dari siang tadi, hingga menjelang dinginnya malam, Valentine terus mempersembahkan air mata kesedihannya untuk Roman, yang tetap terbaring tak sadarkan diri, diatas sebuah ranjang pasien.
Menangis, menangis, dan menangis. Hanya itu saja yang dapat dilakukannya, selagi menanti sang kekasih tersadar dari koma. Valentine kemudian mengusap rambut Roman, dan menatap penuh kesedihan pada wajahnya. "Romaaan ... baanguunlaaah saaayaaang ...." ucapnya sambil menangis terisak-isak.
Roman benar-benar malang. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya, telah lebih dulu pergi meninggalkannya, karena menerima malapetaka yang tertulis dalam suratan takdir, yang tak dapat diganggu gugat lagi.
Selain mengalami koma, tubuhnya pun bahkan satu tempat dengan jasad Angelina dan Natasha, yang berada dibawah lantai ruangan tersebut. Meski hanya berbeda satu lantai, nasib mereka tak jauh berbeda.
Kemalangan sepertinya sangat gemar bertamu dalam kehidupan keluarganya. Bahkan, kematian yang sempat singgah pun, telah pergi dan membawa pergi dua nyawa orang yang sangat disayanginya, menjauh dari kehidupannya untuk selamanya.
Rika tengah disibukkan dengan kegiatan chatting yang dilakukan dalam ponselnya. Ia seketika menoleh ke arah tubuh Valentine, yang sontak mencium kening Roman berkali-kali. Duuhh! Kak Valerie kemana sih! Kenapa sangat susah sekali dihubunginya! gumam Rika dalam hatinya.
Ia kemudian dikejutkan dengan kehadiran Andrea yang tengah membuka pintu ruangan. Andrea lalu menutup pintu seraya berjalan menghampiri mereka. "Ya Tuhaaann!!" ucapnya sambil tercengang, saat menatap pada tubuh Roman yang terbaring lemah, dengan wajah yang sangat pucat.
"Ssssttt!" Rika menempel jari telunjuknya pada mulut, guna mencegah Andrea untuk tidak heboh.
"Ri-Rika kan? Teman Audrey?" tanya Andrea.
"Iyaaa kaaaakk ...." jawab Rika dengan berbisik.
"Kemana Valerie?" tanya kembali Andrea, seraya berdiri disamping kursi Rika.
"Akupun tidak tahu ...." jawab Rika.
Andrea pun sontak merogoh tasnya. Dasar Valerie! Bukannya tetap berada disini, dirinya malah berkeliaran meninggalkan mereka! gumam Andrea dalam hatinya, sambil meraih ponsel dari dalam tasnya.
"Percumaaa kaaak, tidak akan diangkaaat ...." sela Rika setelah mendapati Andrea berusaha menghubungi Valerie dengan ponselnya.
Mereka kemudian dikejutkan dengan kehadiran seorang perawat yang sontak membuka pintu ruangan. "Apa disini ada yang mengenal Nyonya Valerie?" tanya sang perawat dari balik pintu.
"V-Valerie?! Ada apa dengannya?!" tanya Andrea yang bergegas menghampiri perawat tersebut.
"Beliau tengah pingsan dan terbaring dalam ruang perawatan lantai satu," ucap sang perawat, setelah mendapati Andrea berdiri dihadapannya.
"Haaa?! P-p-pingsan?!" kata Andrea dengan raut wajah heran.
Rika pun turut berdiri dari kursinya seraya menghampiri kedua orang itu. "P-pingsan kenapa Bu?!" tanya Rika dengan penuh penasaran.
"Aku pun tidak mengerti apa penyebabnya. Yang terpenting adalah beliau saat ini baik-baik saja, hanya sedikit mengalami shock atas apa yang telah dilihatnya di ruang mayat," tutur sang perawat.
Mendengar penuturan perawat, Andrea pun sontak menoleh ke arah Rika. "Rika, kau tunggu disini dan temani Valentine! Jangan kemana-mana! Aku akan segera pergi ke tempat Valerie!" seru Andrea sambil bergegas keluar dari ruangan, bersama sang perawat.
Rika kemudian menutup pintu ruangan dan kembali menduduki kursinya. Kalau begini terus aku bisa mati kelaparan, begitu juga dengan Valentine. Lebih baik aku suruh Maxwell membawakan banyak makanan kesini! pikirnya seraya memainkan ponsel yang tetap berada dalam genggaman tangannya.
~To be continued~