
(Tringgg!!! Tringg!!! Tring!!!)
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat telah dimulai. Valentine kemudian berdiri dari kursinya. "Roman! Ikutlah denganku!" seru Valentine sambil menggenggam erat tangan Roman.
Roman yang sedang terduduk santai pun mau tidak mau mengikuti langkah Valentine. "Kita mau kemana?" tanya Roman yang langkahnya semakin terdesak karena cepatnya Valentine melangkah.
"Sudah ikut saja!" ucap Valentine sambil menuntun Roman dan bergegas menuju ruang OSIS.
Mereka kemudian tiba didalam ruang OSIS. Roman terkejut saat mendapati ruangan itu penuh dengan dekorasi ulang tahun. "Ada yang ulang tahun kah?" tanya Roman pada Rika yang tengah menata kue ulangtahun.
"Ya! Wakil ketua OSIS, Bryan Wanderer, hari ini sedang ulang tahun," jawab Rika setelah selesai menancapkan beberapa lilin diatas kue ulangtahun tersebut.
Valentine pun turut membantu Rika dalam menata dekorasi di ruangan itu. "Roman! Berjagalah didepan. Pantau kedatangan Bryan dari kejauhan. Jika dia berusaha mendekati ruang OSIS, alihkan perhatiannya sebisa mungkin," seru Rika pada Roman yang tengah duduk diatas kursi ruang OSIS.
"Baiklah." pungkas Roman. Ia kemudian beranjak menuju luar pintu sambil berjaga-jaga.
Setelah beberapa menit menunggu kedatangan Bryan, Roman dikejutkan dengan kehadiran Audrey. "Roman?!" ucap Audrey seraya tercengang.
Roman lalu menatap ke arah Audrey yang telah berdiri dihadapannya. "K-k-kau?!" Ia pun turut tercengang dengan kehadiran seorang gadis yang pernah memukulnya tersebut.
Audrey pun sontak menarik tangan Roman dan membawanya menuju suatu tempat. Ia sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu pada Roman.
"Lepaskan!" Roman berhasil melepaskan tangannya dan menghentikan langkah kaki Audrey.
"Roman! Urusan kita belum selesai!" kata Audrey. Ia pun kembali menarik tangan Roman dan membawanya menuju taman sekolah.
Audrey benar-benar ingin mengungkapkan sesuatu yang telah terpendam dalam hatinya. Sepertinya ia sangat menyesal atas perlakuan kasarnya terhadap Roman.
Mereka kemudian berhenti tepat didepan sebuah bangku taman yang cukup untuk dua orang. "Roman, dukuklah," seru Audrey yang telah duduk bangku tersebut.
Roman mengiyakan seruan Audrey. Ia pun turut duduk disebelah gadis itu. Apa yang ingin dilakukannya padaku? Meminta maafkah? pikirnya sambil fokus menatap ke arah depan.
Audrey sontak beranjak dari bangku seraya berdiri dihadapan Roman. Ia kemudian membungkukkan badannya. "Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, atas segala perlakuan kasarku kepadamu!" mohon Audrey yang mendadak meneteskan air mata dihadapan Roman.
Roman lalu berdiri. "Aku telah memaafkanmu, jangan buang waktuku dengan hal seperti," ucapnya sambil berusaha melewati tubuh Audrey.
Setelah mendengar perkataan itu, Audrey pun tercengang sambil menyeka air matanya. "Roman!" Audrey berusaha menahan kepergian Roman dengan menggenggam erat tangan kirinya.
"Apalagi?" tanya Roman yang mulai sedikit kesal dengan tindakan gadis itu.
"Kak Andrea bilang padaku, bahwa kau masih tetap bekerja sebagai karyawan dikafe!" tegas Audrey.
Roman kemudian menelengkan kepalanya kearah lain. "Ya! Aku akan kesana sepulang sekolah nanti. Jadi, lepaskan tanganku!" tegas Roman.
Audrey pun melepaskan tangan Roman dan membiarkannya pergi. Tidak! Bukan itu yang aku ucapkan! Tapi, ah ... sudahlah, batinnya seraya menjulurkan tangannya ke arah Roman.
Setelah berlalu meninggalkan Audrey di taman sekolah, Roman begegas kembali menuju ruang OSIS. Aku hanya memandang kebaikan kakaknya saja! Jika ia ingin berbuat baik juga, maka akan ku tolak dengan sesuka hati, batin Roman.
Ia kemudian tiba didepan ruangan OSIS seraya mengintip dari balik jendela. Bryan belum datang! Syukurlah! Aku harus berjaga-jaga lagi, batin Roman sambil berdiri didepan pintu yang masih tertutup rapat.
Roman pun terkejut saat kembali mendapati kedatangan Audrey dari kejauhan. Ah! Kenapa dia kesini lagi! pikir Roman seraya mendecih berulangkali.
Audrey lalu mendekat dan semakin mendekat, hingga dirinya berjalan menuju pintu ruang OSIS, tanpa memperhatikan kehadiran Roman yang telah berdiri didepan pintu. Audrey pun sontak membuka pintu ruangan tersebut.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Roman sambil menggenggam tangan Audrey dengan maksud menahannya.
"Aku? Aku kan anggota OSIS, Roman! Wajar saja jika aku memasuki ruangan ini!" jawab Audrey yang sedikit heran dengan tingkah laku Roman.
Roman lalu cepat-cepat menutup pintu dan kembali berjaga-jaga diluar.
Sementara didalam ruang OSIS, Audrey hanya terdiam sambil duduki diatas kursi. Ia kemudian menoleh ke arah pintu. Sedari tadi aku memperhatikan Roman selalu berdiri didepan pintu ruang ini. Ada apa yah dengannya? batin Audrey dengan perasaan heran.
"Audrey! Jangan duduk saja! Cepat bantu aku sini!" tegur Rika yang tengah berdiri di atas tangga sambil menggenggam sebuah palu.
Audrey pun berdiri dari kursinya. Ia seketika menatap ke arah Valentine yang turut berdiri dibelakang Rika, sambil menjaga keseimbangan tangga tersebut.
"Kau kan yang kemarin?" ucap Audrey seraya mendekatkan dirinya pada Valentine.
Namun, Valentine mengacuhkannya dan tetap berfokus menjaga keseimbangan tangga sambil mendongakkan wajahnya ke arah Rika.
"Audrey, tolong ambil paku yang lain!" seru Rika dari atas tangga.
Baru saja Audrey mengambil sebuah paku dan berniat menyerahkannya pada Rika, Valentine tiba-tiba menyelang sambil menyerahkan sebuah paku yang berada ditangannya kepada Rika. "Tenang saja! Semua pasti beres denganku!" ucap Valentine.
Audrey kemudian mengembalikan paku tersebut ketempat semula. Ia lalu kembali duduk di atas kursi seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Sombong sekali dia! batinnya dengan wajah kesal.
Audrey benar-benar kesal dengan sikap cari perhatian Valentine pada Rika. Demi memudarkan rasa kesalnya, ia sontak berdiri dari kursi dan beranjak menuju pintu.
Roman pun melihat pintu itu terbuka dan mendapati Audrey keluar, sambil kembali menutup pintu tersebut. Kenapa dia keluar lagi? Menggangguku saja! batin Roman dengan sedikit melirik pada Audrey yang tengah bersedekap tangan seraya bersandar dibalik tembok ruangan OSIS.
Roman yang sedang mengamati pergerakan Bryan pun tak menyadari, bila Audrey selalu menatapnya tanpa pernah berkedip sedetikpun. Roman, kalau dilihat dengan seksama, kau tampan juga, batin Audrey dengan mata yang berkaca-kaca.
Roman seketika melirik ke wajah Audrey, dan mendapati gadis itu menatapnya dengan serius. Ia pun sontak memalingkan wajahnya ke arah lain, demi menghindari kesalahpahaman. Jangan terus menatapku! Urusan kita kan sudah selesai! batin Roman sambil menggigit bibir bawah.
Setelah mendapati kehadiran Bryan dari kejauhan, mereka pun sontak menyentuh gagang pintu secara bersamaan. Namun, Audrey seketika melepaskan tangannya dari tangan Roman sambil berbalik badan. Cih! Kenapa waktunya sangat tidak tepat! pikir Audrey dengan raut wajah sebal, seraya mengerling-erling.
Roman akhirnya membuka pintu dan mendapati Rika dan Valentine telah bersiap untuk memberikan kejutan pada Bryan. "Roman ... sini!" seru Valentine dengan nada pelan.
Dengan penuh ketenangan, Roman pun memasuki ruang OSIS. Ia lalu berdiri dibelakang meja kue ulangtahun dan bersebelahan dengan Valentine.
"Audreeeyy ...." Rika berusaha memanggil Audrey yang masih berdiri didepan pintu. Namun, gadis itu tetap tidak mendengar seruannya.
Kedua anggota OSIS lain pun seketika menyusul dan menyalip Bryan yang masih jauh dari pintu. "Sini masuk Audreeey!" ucap salah seorang dari mereka seraya menarik tangan Audrey untuk masuk kedalam Ruang OSIS.
Audrey pun sontak berdiri disamping Roman. Ia tiada hentinya menatap pada wajah lelaki yang telah menjadi korban pemukulannya tersebut.
"April! Tutup pintunya, cepat!" seru Rika pada April Grimoire, yang merupakan sekretaris OSIS.
"Alan! Tutup pintunya!" seru April yang telah terlanjur berdiri disamping Rika, kepada Alan Grimoire, yang merupakan wakil sekretaris OSIS.
"Baik!" Alan pun sontak menutup pintu ruang OSIS dan segera berdiri belakang meja. Ia berada disamping April.
Posisi mereka dari kiri ke kanan: Audrey, Roman, Valentine, Rika, April, dan Alan. Audrey merupakan bendahara OSIS, dengan Lucas Matthew sebagai wakilnya. Namun, Lucas tidak dapat menghadiri sekolah karena urusan keluarga.
Apa yang mereka tunggu pun akhirnya datang. Bryan seketika membuka pintu ruangan OSIS dan terkejut.
(Cetarrr!)
"Happy birthday to youu."
~To be continued~