
Rasa marah sekaligus malu telah menghantui pikiran Roman. Demi menyelamatkan harga dirinya, Roman sontak berjalan melewati Paul, seraya menghindar dari segala hinaan dan cacian para siswa dikantin. Ia mendapati Paul membiarkannya pergi dan berkata "Pergilah kau anak miskin!!! Kembalilah jika kau sudah kaya!!!" caci Paul.
Roman hanya bergeming mendengar hinaan itu. Matanya berkaca-kaca seakan tak mampu lagi menahan gempuran air mata. Rasa sesak dihatinya telah membawanya pergi menuju toilet siswa laki-laki.
"Aaargghh!!! Kenapa harus aku yang menjadi sasaran mereka!!!" Roman membentak wujudnya sendiri dalam bayangan cermin. Ia lalu menekan tombol wastafel dan membasuh rambutnya dengan air. "Mereka sudah keterlaluan," kata Roman seraya melampiaskan segala emosinya dihadapan cermin.
(Tring... Tring... Tring...)
Suara bel telah berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar segera dimulai. Roman pun bergegas menuju kelasnya, meski masih menyimpan rasa sedih dihati. Setelah melewati pintu toilet, Ia mendapati Rika dan Valentine dari kejauhan. Roman kemudian menatap penuh kebencian pada kedua gadis itu.
Semua ini, karena ulah mereka. Aku tidak akan memaafkan kalian! batin Roman.
Rika dengan raut wajah cemasnya, menoleh kanan-kiri. Ia berusaha mencari keberadaan Roman, setelah mendengar kejadian perundungan yang dilakukan Paul. Valentine yang mengikuti Rika pun sempat melihat Roman dari kejauhan. "Rika! Itu Roman!" kata Valentine seraya mengacungkan telunjukknya ke arah Roman.
Setelah mendapati kehadiran mereka, Roman pun melangkahkan kakinya dengan perlahan. Ia berjalan dengan tenang menuju Rika dan Valentine yang turut berjalan kearahnya. Dengan mata yang sembab, Roman menghentikan langkahnya dihadapan kedua gadis itu.
"Roman ... Aku telah mendengar kesaksian dari anggota OSIS. Kau jangan khawatir. Kami akan memberikan hukuman pada Pa—"
"Aku tidak peduli!" Roman memotong perkataan Rika. "Mulai detik ini, jangan pernah berbicara atau melontarkan pertanyaan kepadaku," tegas Roman. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Rika yang terkejut dengan sikapnya.
Aku sangat membencimu! batin Roman.
Dengan memberikan tatapan yang sangat tajam, Roman seakan menyatakan rasa muaknya terhadap gadis tersebut. "Apa kau sudah puas?" tanya Roman dengan wajah kesal.
Rika pun memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak sanggup menatap lebih lama kepada mata yang telah menunjukan kebencian terhadap dirinya itu. Selepas menerima perlakuan Roman, Rika menjadi sedih. "Aku memang layak untuk dibenci." kata Rika seraya meneteskan dengan perlahan air matanya.
"Rika! Ayo!" Valentine yang menyaksikan hal itu pun sontak menggenggam tangan Rika dan membawanya pergi meninggalkan Roman. Ia tak ingin membiarkan kesalahpahaman diantara mereka terus berlanjut.
"Rika, sebaiknya kita jangan mengganggu Roman dulu," katanya sambil menggiring Rika menuju kelasnya. Valentine benar-benar mengerti apa yang dirasakan Roman setelah menjadi korban perundungan Paul. Ia pun tak menyadari, bila Roman turut menaruh dendam kepadanya.
"Valentine..., aku bisa pergi sendiri. Kamu lekaslah kembali ke kelas," seru Rika pada Valentine seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Baik. Tapi berjanjilah padaku, jangan pernah meneteskan air mata hanya karena hal sepele," ucap Valentine. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan.
Valentine menyeka air mata Rika yang terus menetes membasahi pipinya. "Kalau seperti ini, wajahmu nampak seperti bidadari," puji Valentine selepas mengelap wajah Rika dengan saputangannya.
"Aku akan berbicara pada Paul tentang perlakuannya terhadap Roman." ucap Valentine sebelum pergi meninggalkan Rika. Ia merasa urusannya dengan Paul belum selesai. Sebelumnya, Valentine-lah yang telah menyewa Paul untuk menghajar Roman di atas gedung sekolah.
"Tidak! Kau harus pergi bersamaku. Paul sangat berbahaya untukmu," tegas Rika seraya menggenggam kedua tangan Valentine. Ia khawatir dengan keadaan bestie nya itu. Sebelumnya, Rika-lah yang telah membujuk Roman untuk pergi ke atas gedung sekolah, dan membuat Paul menghabisi pemuda itu.
"Jangan khawatirkan aku. Aku akan membuat Paul menyadari kesalahannya," tutur Valentine dengan polosnya. Valentine kemudian pergi meninggalkan Rika. Ia menoleh ke arah gadis itu dari kejauhan seraya melambaikan tangannya.
Dengan tergesa-gesa, Valentine membuka pintu kelas. Ia kemudian mendengar keriuhan dari para murid. Saat melangkahkan kakinya menuju kursi, Valentine mendengar pembicaraan tentang perundungan yang di alami Roman. Ia pun terkejut setelah mendapati Roman tidak ada di kursinya.
Roman! Apakah dia pulang? batin Valentine.
Rasa cemas seketika bertamu pada hati Valentine. Ia menduga Roman menjadi trauma setelah kejadian itu. Valentine pun sontak beranjak dari kursinya. Namun, ia terkejut setelah mendapati Roman, membuka pintu kelas.
Syukurlah! Dugaanku ternyata salah, Rika membatin dalam dirinya.
Tatapannya menjadi kosong. Dengan menyimpan rasa sakit dihatinya, Roman berjalan menuju kursinya tanpa menghiraukan segala omongan teman-teman sekelasnya. Ia pun mengacuhkan Valentine, yang telah berdiri dari kursi guna memberikannya ruang untuk duduk di kursi.
Seketika suasana kelas pun berubah menjadi ramai. Para murid sangat antusias dalam membicarakan ekskul yang telah dinantikan oleh mereka. Valerie pun kemudian beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju meja para murid dan mengambil lembar formulir mereka satu-persatu. "Ekskul drama kah? Pilihan yang bagus!" puji Valerie pada salah seorang murid, setelah membaca lembar formulirnya.
Valerie pun tiba pada meja Roman dan Valentine. Ia lalu menatap ke arah Roman dengan penuh keheranan. "Roman, apakah telah terjadi sesuatu padamu?" tanya Valerie saat mendapati Roman merenung dengan tatapan kosong. "Valentine, jelaskan padaku. Apa yang sudah terjadi dengan dengan Roman," Valerie pun mengalihkan pertanyaan kepada Valentine setelah Roman mengacuhkan pertanyaannya.
"R-Roman telah mengalam—" Valentine sontak menghentikan perkataanya saat mendapati Roman, menghentakkan sepatunya ke lantai. Ia menyadari bila Roman memberikan isyarat untuk tidak menceritakan apa yang telah dialaminya.
"Baiklah! Aku mengerti," kata Valerie. Ia pun turut menyadari maksud dari tindakan Roman. Valerie kemudian menatap pada lembar formulir milik Valentine. "Hmm... Ekskul memasak..., Hmm..., Hahh??? Valentine? Kau ingin belajar memasak?" Valerie pun terkejut saat mendapati minat Valentine terhadap ekskul memasak.
"Jangan berisik!!!" tegur Valentine yang kesal dengan kehebohan kakaknya itu.
"Ehem!!! ... Valentine, pilihan yang bagus!" puji Valerie pada Valentine. Valerie pun mengalihkan perhatiannya pada lembar formulir milik Roman. "Kosong? ... Roman! Apa kau tidak berminat dengan ekskul sekolah ini?" berang Valerie pada Roman. Valerie pun terdiam seribu bahasa saat mendapati Roman memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia menjadi kebingungan dengan sikap muridnya itu. "Baiklah, Roman! Temui aku diruang guru, sepulang sekolah," kata Valerie yang mencoba mengerti keadaan Roman.
(Tringgg... Tringgg... Tringgg...)
Seluruh murid pun sontak menghempaskan kegembiraan saat mendengar suara bel yang menggelegar. Mereka kemudian berbondong-bondong menuju luar kelas selepas menguras otak selama belajar.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan ditempat ini, batin Roman.
Roman menelan rasa sakit yang amat mendalam dihatinya, setelah menerima berbagai macam perlakuan yang tidak mengenakkan. Ia merasa bila kehadirannya disekolah, hanya akan membuat harga dirinya semakin tertindas.
Andai saja aku tidak menerima beasiswa di sekolah ini! Roman menggumam dalam hatinya.
Ia pun beranjak dari kursinya seraya berjalan melewati pintu kelas. Dengan penuh rasa kekecewaan, Roman melangkahkan kakinya menuju lorong kelas lain. Roman pun mendapati himbauan yang sangat keras dari Valentine.
"Roman!!!" sorak Valentine dengan lantang. Suara teriakannya pun mampu menarik perhatian seluruh siswa yang masih memadati lorong kelas. Valentine menyangka bila Roman akan menemui Valerie diruang guru. "Roman! Tunggu aku!" Valentine mengejar Roman dan berusaha menghalangi jalannya. "Roman! Aku akan ikut bersamamu menuju ruang guru," kata Valentine
"Aku tidak berminat," ucap Roman seraya melewati Valentine. Ia telah meneguhkan hatinya untuk tidak berurusan lagi dengan dua kakak beradik itu. Roman terus berjalan dan berjalan tanpa mempedulikan siapapun.
"Roman! Tunggu!" Valentine mengikuti Roman "Kak Valerie sudah menunggumu! Roman!!" Valentine pun kejar-kejaran dengan Roman. Ia ingin Roman tetap menemui Valerie demi memberikan motivasi kepadanya agar tetap mengikuti kegiatan diluar sekolah.
Valentine pun terus menerus memanggil namanya. Hatinya menjadi gelisah karena selalu diacuhkan oleh Roman. Seiring dengan menetesnya air mata, Ia tetap berusaha menghentikan langkah Roman. "Roman! Setidaknya dengarkan aku!" Valentine pun menjerit dalam tangisnya "Romaannn!!!"
Roman menghentikan langkah kakinya sejenak didepan loker. Ia membuka pintu loker dan meraih tasnya. Selepas mengenakan tas, Roman pun terkejut saat mendapati Valentine, menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. "Lepaskan!" Roman menarik tangannya dari tangan Valentine. "Jangan sentuh tangan orang miskin! Kau nanti ikut tertular menjadi miskin! kata Roman dengan kesal.
"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kamu mau mendengarkan aku!" ucap Valentine seraya mengencangkan cengkeraman tangannya. "Roman! Aku minta maaf!" Valentine menatap Roman dengan penuh ketulusan. "Aku menyesal karena telah menyewa Paul untuk menghajarmu! " Valentine menunduk sambil berlinang air mata. "Aku menyesal karena telah membuatmu terluka!" Ia melanjutkan, "Aku menyesal karena telah membuat ibumu menangis ... Aku menyesal ... aku menyesal karena telah menghilangkan sepedamu!!!" Valentine menangis tersedu-sedu setelah mengakui kesalahannya.
Setelah mendengar pengakuan Valentine, Roman pun mencoba menenangkan emosinya dan berkata. "Aku telah memaafkanmu ... Lepaskan tanganku," tutur Roman. Ia sengaja melontarkan kata-kata tersebut dan berniat mengelabui perasaan Valentine. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Roman tetap membenci gadis itu.
"B-b-benarkah?" Valentine masih tak percaya dengan perkataan Roman. Ia berusaha meyakinkan dirinya bila Roman benar-benar memaafkannya.
"Ya! Mulai hari ini aku akan mengakuimu sebagai teman," ucap Roman seraya bersiap mengambil ancang-ancang. Ia berusaha meyakinkan Valentine untuk segera mempercayainya. Bila gadis itu telah melepaskan tangannya, Roman akan berlari sekencang mungkin.
"B-baiklah. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku," ungkap Valentine. Ia dengan polosnya melepaskan tangan Roman dari genggamannya. Hatinya pun seketika lega setelah mendengar pernyataan Roman. Valentine sontak tersenyum seraya menutup matanya sejenak.
Ini kesempatan ku! batin Roman.
Selepas membuka mata, Valentine pun sontak terkejut. Ia tercengang setelah mendapati Roman berlari secepat mungkin meninggalkannya. "Romaaannn!!!" sorak Valentine dari kejauhan. Kebimbangan pun seketika muncul dalam hatinya. Valentine menjadi bingung seolah percaya tidak percaya dengan pernyataan Roman barusan.
~To be continued~