
Menjelang pagi buta, Valerie tengah berbincang dengan Dokter yang menangani Roman. Sang dokter berkata bila Roman sudah diizinkan untuk pulang.
Sementara, Andrea menyaksikan Valentine menuntun Roman keluar dari ruangan, bersama dengan Rika yang berjalan dibelakang mereka. Ia merasa heran dengan perubahan sikap Roman, yang sedari tadi hanya terdiam lesu, dengan tatapan yang menatap kosong ke arah depan.
"Nyonya! Kami sudah siap!" ucap Maura, petugas Tim SAR yang bertugas membawa jasad anggota keluarga Roman, menuju pemakaman keluarga Helsink.
"Baik! Kami akan segera kebawah!" sahut Valerie yang mendapati Maura kembali menuruni anak tangga.
"Valentine, Rika, tetap jaga Roman. Jangan sampai dia bertindak yang tidak wajar," perintah Andrea pada Valentine dan Rika, yang saling menggenggam erat kedua tangan Roman.
"Andrea, kau sudah siap?" tanya Valerie yang turut berdiri bersama mereka.
"Ya!" Andrea pun bergegas menuju lift, dengan diikuti oleh Valerie, serta Valentine, Rika dan Roman, yang turut berjalan dibelakang mereka, meninggalkan ruang perawatan lantai dua, menuju lift.
Pihak rumah sakit memastikan kondisi Roman telah membaik, dan mengizinkannya untuk pulang. Namun, kali ini Roman yang mengantar kepergian kedua anggota tercintanya, menuju tempat persemayaman terakhir mereka.
Roman tetap membisu, seakan mulutnya enggan untuk membuka. Matanya memandangnya lurus, bola matanya tidak bergerak sedikitpun, dengan tatapan wajah yang menatap sayu dan kosong.
Meski kedua tangannya berada dalam genggaman erat dua orang gadis, Roman tetap tegar dalam melangkahkan kakinya keluar dari lift.
Air matanya seketika menetes, saat menyaksikan dua peti jasad keluarganya, dimasukan kedalam mobil jenazah. Kesepian telah bertamu dalam hati Roman untuk selamanya.
"Romaaan," Valentine tak dapat menahan kesedihannya, melihat sang kekasih mematung seraya menangis. Ia lalu memeluk erat tubuh Roman, yang membuat Rika terpaksa melepaskan genggaman tangannya pada pemuda sebatang kara itu.
Setelah petugas Tim SAR menutup pintu paling belakang mobil jenazah, Valerie sontak menoleh ke ara Andrea. "Andrea, kau ingin ikut?" tanya Valerie.
"Tidak!" jawab Andrea dengan tegas. Ia lalu berjalan menghampiri Roman, dan sontak memeluknya dengan erat. "Romaaan! Jangan putus asa!" -Andrea meneteskan air mata- "Teruslah hidup, dan wujudkan segala harapan mereka yang belum terkabulkan. Kau sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri," ungkap Andrea seraya menggesek-gesek sisi keningnya, pada sisi kepala Roman.
Andrea mengusap-usap punggung Roman dan melepaskan pelukannya. Ia lalu bergegas meninggalkan Valerie, Valentine Roman dan Rika, menuju parkiran motor rumah sakit yang terletak tak jauh dari parkiran mobil.
Setelah melihat Andrea berlalu meninggalkannya, Valerie menoleh ke arah Valentine dan Rika. Ia pun menganggukkan kepalanya seolah memberikan isyarat pada mereka untuk segera masuk kedalam mobil.
"Sayang ... ayo masuk ke mobil," seru Valentine yang ikut menangis sambil menggandeng erat tangan Roman. Ia lalu menuntun Roman masuk kedalam mobil Valerie, dengan Rika yang mengikuti dari belakang, dan turut mengisi kursi depan mobil disamping Valerie.
Valerie kemudian menginjak pedal gasnya, mengikuti mobil jenazah yang telah berjalan keluar dari lantai basemen parkiran, menuju jalan raya dan bergegas meninggalkan gedung rumah sakit.
Cahaya sirine mobil jenazah itu, tak pernah lepas dari pandangan Valerie. Ia tak menyangka akan menjadi saksi hidup yang mengantar kepergian jasad Angelina serta Natasha, menuju tempat pemakaman keluarganya.
Valerie pun sontak meneteskan air matanya, saat melirik pada cermin yang menghadap kearah Roman. Roman, kau harus tabah ... mungkin ini sudah jalan takdir mereka, batin Valerie menggigit bibir bawahnya.
Valerie menangis bukan tanpa alasan. Hatinya tersentuh saat melihat Roman membelalakan matanya kearah depan, dengan bercucuran air mata.
...*** Pemakaman Keluarga Helsink ***...
Tempat pemakaman itu, berada tak jauh sekitar satu kilometer, dari arah selatan rumah keluarga Helsink. Atau tepatnya, rumah keluarga Helsink membelakangi tempat pemakaman keluarganya.
Valerie telah menyusul mobil Jenazah untuk menuntun para petugas Tim SAR, menuju pemakaman. Ia lalu belok kanan, menuju jalan tanah sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil.
Setelah memutari rumah keluarga Helsink sejauh satu kilometer jaraknya, Valerie menghentikan laju mobilnya tepat didepan gerbang pemakaman keluarga Helsink.
Pemakaman itu masih berbentuk area hamparan rumput, yang luasnya sekitar setengah hektar lebih, dan hanya ada beberapa makam saja yang bersemayam diatas tanah itu.
"Selamat datang dan selamat pagi, Nyonya Valerie," sapa salah seorang penjaga makam, kepada Valerie yang telah membuka kaca mobil.
"Selamat pagi, Justin. Apa makamnya sudah disiapkan?" tanya Valerie dari balik ruang setir kemudi.
"Dua makam dengan batu nisan, sudah siap, Nyonya Valerie," jawab Justin, si penjaga makam keluarga besar Helsink.
"Bagus! Terima kasih, Justin." Valerie turun dari mobilnya, dengan diikuti oleh Valentine, Roman, dan Rika, yang turut keluar dari mobil.
Hujan semakin mereda, hanya menyisakan gerimis-gerimis kecil yang takkan bisa menunda kegiatan pemakaman itu.
Mereka lalu menunggu para petugas-petugas tim SAR, mengeluarkan dua peti jenazah secara bersamaan. Empat orang petugas masing-masing mengangkat peti-peti tersebut, dan membawanya masuk kedalam makam yang telah disediakan oleh para penjaga pemakaman.
Putra mendiang Gerrard itu, mengarahkan kedua tangannya ke arah peti Angelina, yang pertama kali masuk menuju gerbang pemakaman.
"N-n-nataa?! Jangan pergi ... Natashaaa!!!" Roman semakin terpuruk dalam kesedihannya, saat menyaksikan jasad adik tercintanya terperangkap dalam peti mati, lalu dibawa masuk menuju pemakaman.
Rika sontak membantu Valentine, dengan memeluk punggung Roman, demj berusaha menghalangi niatnya untuk menghampiri dua peti mati tersebut.
Hujan seketika turun semakin deras, membasahi seluruh area pemakaman. Valerie pin bergegas menuju mobilnya, untuk mengambil dua payung yang digunakan untuk mereka bernaung dari terjangan air hujan.
"Rika, pegang!" seru Valerie seraya menyodorkan payung yang telah terbuka, kepada Rika.
Rika lalu mengambil payung itu dengan sebelah tangannya, untuk menaungi mereka bertiga. "Roman! Jangan bertindak yang tidak-tidak! Kau harus tabah!" tegur Rika yang merasa kewalahan atas tindakan Roman.
Roman pun seketika menepuk tangan Rika yang tengah memeluk pinggangnya. Ia seperti memberikan isyarat pada gadis itu, untuk melepaskan pelukannya.
"Rika, lepaskan Roman. Berikan payung itu pada Valentine, dan kemarilah," seru Valerie setelah mengetahui maksud dari tindakan Roman terhadap Rika.
Rika akhirnya memberanikan diri melepaskan pelukannya pada punggung Roman, seraya memberikan payung dalam genggamannya pada Valentine.
Namun, Roman sontak memaksa Valentine melepaskan pelukannya, dan berlari masuk menuju pemakaman.
"Romaaannn!!!" sorak Valentine, Rika, dan Valerie secara serampak, saat mendapati tindakan nekat Roman, yang tengah berlari mengejar dua peti mati tersebut.
Beruntung salah seorang petugas berhasil menahan tubuhnya, sebelum anak itu berlari menuju para petugas-petugas lain, yang tengah memasukan kedua peti mati kedalam masing-masing lubang makam.
"Izinkan aku melihat wajah ibu dan adikku!!" mohon Roman dengan bersorak, selagi tubuhnya dalam pelukan sang petugas.
"Biarkan mereka beristirahat dengan tenang, nak," ucap salah seorang petugas, yang memeluk tubuh Roman seerat mungkin.
"Tidak!!! Aku mohon!!! Ini adalah permintaan terakhirku sebelum mengikhlaskan kepergian mereka!!!" mohon Roman dengan bersungguh-sungguh, meski air matanya telah menyatu dengan air hujan.
Sang petugas pun dengan berat melepaskan tubuh Roman, karena merasa iba dengan anak lelaki itu. Ia lalu membiarkan Roman berlari mendekati para petugas-petugas lainnya.
Valerie, Valentine dan Rika berusaha mengejar Roman, dan mendapati anak itu telah berada didekat dua peti mati anggota keluarganya.
Petugas yang tadi menahan Roman menghampiri mereka. "Buka peti matinya! Biarkan anak itu meratapi kepergian anggota keluarganya ... karena itu adalah keinginan terakhirnya!" seru sang petugas kepada para petugas lainnya.
Maura yang turut hadir dalam pemakaman itu pun mendekat ke arah dua peti mati, ia lalu memasukkan kunci pada gemboknya dan membuka penutup peti mati itu lebar-lebar.
Setelah melihat mayat sang bunda tersingkap, Roman bertekuk lutut seraya mengangkat punggung sang bunda, lalu memeluknya dengan erat. "Mamaa ... aku ingat terakhir kali kau mengatakan ... bila aku harus menurut pada guruku ... aku akan menuruti kemauan terakhirmu itu." -ia mencium kening Angelina- "Tidurlah dengan tenang ... Mamaaaaa," ucap Roman, untuk yang terakhir kalinya. Ia pun meletakkan kembali tubuh sang bunda, kedalam peti mati.
Maura kemudian mengunci peti mati jasad Angelina, dan beralih ke peti mati jasad Natasha. Setelah penutup peti mati Natasha terbuka dengan lebar, Roman sontak mengangkat ketiak adik mungilnya itu, dan menggendongnya seraya memeluknya seerat mungkin.
"Nataaaa ... kenapa kau tega tinggalkan kakakmu ini seorang diri ... aku padahal telah berharap, kau akan menjadi matahari yang paling terang untukku dan bunda ... kini cahayamu malah meredup, dan meninggalkan ku tanpa berkata sepatah katapun ... aku sangat ... sangat menyayangimu Natasha ... tidurlah dengan tenang ... adikku sayang."
Roman mengelus-elus rambut Natasha, mengusap-usap punggungnya, dan menggesek-gesek kepalanya dengan kepala mendiang adik tercintanya itu. Ia lalu mengembalikan tubuh Natasha kedalam peti matinya, seraya menutup kembali penutup petinya rapat-rapat.
Valerie pun sontak menghampiri Roman dan memeluknya dengan erat. Apa yang telah disaksikannya itu, benar-benar menghancur ratakan seluruh perasaan dalam hatinya.
Begitu juga dengan Valentine, ia turut berlari memeluk Valerie dan Roman seerat mungkin. Hatinya benar-benar luluh lantak setelah menyaksikan apa yang telah dilakukan Roman terhadap dua jasad anggota keluarganya.
Sementara Rika, jatuh berlutut sambil menangis tersedu-sedu. Ia membiarkan hatinya hancur berderai, saat menyaksikan Roman mengungkapkan perkataan-perkataan terakhirnya, pada jasad bunda dan adik tercintanya.
Para petugas kemudian kembali melanjutkan kegiatan pemakaman dengan memasukkan masing-masing peti mati itu kedalam lubang makam. Mereka lalu menancapkan masing-masing batu nisan, yang bertuliskan nama-nama dari kedua mayat tersebut.
Setelah selesai dengan urusan mereka, para petugas menyempatkan diri untuk diam dan hening, seraya memanjatkan doa pada kedua anggota keluarga Roman.
Roman pun jatuh bersimpuh didepan dua makam keluarga terakhirnya. Dengan bernaung dibawah payung yang digenggam Valentine, Roman meratapi kepergian sang bunda dan adiknya, dengan menangis tersedu-sedu.
~To be continued~