
Kicauan burung masih menandakan, bila pagi belum berakhir. Roman yang telah mendaftarkan dirinya ke ekskul atletik, memiliki banyak waktu luang selepas kembali ke kelas. Apa luka dibibirku benar-benar hilang? Aku harus memastikannya di toilet! pikirnya seraya mengelus-elus pipi.
Ia pun beranjak dari kelas dan bergegas menuju toilet siswa laki-laki. Roman lalu mendapati sesaknya kerumunan para siswa, yang memadati lorong sekolah. Dengan kerampingan tubuhnya, Roman berupaya menyelip kerumunan yang berdesakan itu, dengan lincah.
Huft ... Segila itu kah mereka dengan ekskul? batin Roman setelah memasuki toilet. Ia lalu bergegas menuju wastafel seraya menatap sosoknya lewat cermin. Sial! Jadi membiru! batinnya saat mendapati sebelah pipinya membiru, karena tamparan keras guru arogan.
Roman pun sontak menggiring tubuhnya memasuki kamar kloset, saat mendapati kehadiran dua siswa yang memasuki ruang toilet. Ia kemudian tak sengaja mendengar perbincangan mereka. "Apa kau sudah tahu?" tanya salah seorang siswa kepada temannya seraya menyalakan air wastafel.
"Tentang Paul kah? Ia benar-benar sudah gila!" jawab salah seorang siswa lainnya.
"Ya! Aku sependapat denganmu! Paul sudah tidak waras. Aku dengar dia melakukan pelecehan terhadap seorang siswi kelas 1A," tutur siswa tersebut.
Roman pun terkejut setelah mendengar nama kelasnya disebut. 1A? Bukankah itu kelasku? batinnya. Ia pun tetap bergeming seraya menguping pembicaraan mereka dari dalam kamar kloset.
"Dan yang lebih mirisnya lagi, korbannya merupakan adik dari guru baru disini," ungkap siswa itu sambil mematikan keran air wastafel.
"Hah! Aku rasa dia layak untuk dipenjara ...."
Roman pun tercengang bukan kepalang. Valentine kah? ... tidak mungkin! batinya dengan perasaan cemas. Setelah kedua siswa itu beranjak dari toilet, Roman memberanikan diri untuk keluar dari kamar kloset. Ia lalu membasuh mukanya dengan tergesa-gesa T-tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi! Valentine! batin Roman dihadapan cermin.
Otaknya pun seketika terisi penuh dengan bayangan gadis, yang diam-diam menyimpan perasaan kepadanya itu. Ah!!! Aku harus memastikannya ke Bu Valerie! batinnya, seraya mempercepat langkah kakinya menuju kelas. Roman semakin tergesa-gesa dalam melangkah. "Romaaan!!" Ia pun mendengar suara dari salah seorang siswi, yang memanggil namanya dari kejauhan.
Roman seketika membalikkan badannya dan mendapati Rika yang tengah berjalan menghampirinya. "Romaaan! Tungguuu!" himbau Rika seraya mengejar Roman dengan tergesa-gesa. Ia kemudian mendaratkan kakinya tepat dihadapan pemuda itu. "Huftt ... huftt ... Roman! Apa kau sudah tahu?" tanya Rika sambil menghela nafasnya yang berantakan.
"Tentang apa? Aku tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini," jawab Roman yang seolah-olah tahu, apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu.
"Valentine! Aku ingin kau menjenguknya bersamaku, sepulang sekolah!" kata Rika, seraya menajamkan pandangannya kepada Roman.
"Hah?! kenapa harus aku?" Roman sengaja membantah ajakan Rika. Ia berniat memancing emosi gadis itu agar mau mengungkapkan, apa yang telah terjadi dengan Valentine.
"P-Pokoknya, kau harus ikut! Ini perintah dari Ketua OSIS!" tegas Rika yang sontak memegang sebelah pergelangan tangan Roman.
"Kau memang ketua OSIS ... Tapi, jika urusan diluar sekolah, maka aku tidak berhak mematuhi mu ...." kata Roman seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Rika, dengan pandangan yang tajam.
Roman pun tertegun, saat menatap wajah gadis itu. Ia melihat Rika menampakkan kesedihannya seraya meneteskan air mata. Ayo, katakan! Jangan berbelit-belit! batinnya. Roman pun melihat pergerakan bibir Rika, yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, namun berat untuk melakukannya.
"Apa aku harus bersujud, dihadapan mu?" tutur Rika sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tidak! Cukup katakan yang sebenarnya. Apa yang telah terjadi dengan Valentine?" tanya Roman, demi memastikan semuanya.
Rika sontak mengencangkan genggamannya pada pergelangan tangan Roman. Ia lalu menggiring adik kelasnya itu menuju tempat lain. "Ikuti aku! Disini bukan tempat yang tepat untuk menceritakan semuanya," kata Rika, seraya menyeka air matanya.
Mereka kemudian melewati lorong sekolah dengan mengendap-endap. Rika berusaha semaksimal mungkin agar tidak menarik perhatian siswa lainnya. Ia bahkan membungkukkan badannya dan badan Roman, saat melewati Ruang OSIS.
Roman yang mendapati tangannya tergenggam erat, membiarkan Rika membawanya menuju tangga penghubung pintu puncak sekolah. Mereka kemudian bergegas menaiki tangga itu hingga tiba didepan pintu tersebut.
Setelah menutup pintu, Rika kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan, menuju tembok pembatas puncak gedung. "Roman! Maaf jika aku baru menjelaskannya sekarang," katanya seraya menatap langit.
"Apa kau akan mengundang Paul kesini?" tanya Roman. Ia pun menghampiri Rika yang tengah berdiri membelakanginya.
"Tidak! Ia takkan berani lagi datang kesini," ucap Rika sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Roman kemudian mensejajarkan dirinya disamping Rika dan berkata, "Tempat ini sungguh indah ... tapi, aku masih mengingat kejadian itu," kata Roman yang turut mengepalkan kedua tangannya seraya menatap langit.
Angin pun berhembus sangat kencang, mengiringi keheningan suasana di puncak gedung sekolah itu. Rika yang sempat menggigit bibir bawahnya, mulai melanjutkan pembicaraan mereka.
"Roman, tujuanku membawamu kesini, bukan untuk memancing emosimu. Tapi kau harus tau, Paul telah melecehkan Valentine ditempat ini," kata Rika dengan perasaan tegar.
Setitik api dalam amarahnya pun terbakar, saat mendengar penjelasan Rika. "Kenapa? kenapa Valentine tidak melawan!" Roman kemudian menghadapkan wajahnya ke wajah Rika. Ia ingin melihat reaksi yang sebenarnya dari wajah gadis itu.
"A-Aku pun, tidak tau kenapa." -Rika menutup matanya- "Valentine yang ku kenal, sangat keras terhadap laki-laki. Bahkan dulu aku pernah, menyaksikannya menghabisi seorang berandalan, yang berusaha melecehkan kami sepulang sekolah," tutur Rika.
"Lalu, kenapa dia tidak berusaha mela—"
"Semua itu karenamu!!!" -Rika meneteskan air mata- "Semua itu ... karena dirimu, Roman ...." ucap Rika dengan menangis tersedu-sedu.
Roman tertegun. "Aku? Apa hubungannya denganku?" katanya dengan penuh ketidakpercayaan.
Rika kemudian memalingkan wajahnya ke arah Roman, seraya memamerkan air matanya. "Valentine ingin memperbaiki hubungannya denganmu. Ia .. ingin meminta maaf, atas segala perlakuannya kepadamu. Dialah yang telah menyewa Paul, untuk menghajarmu disini," ungkap Rika.
"Aku sudah tahu itu. Dan aku ...sangat membencinya" kata Roman dengan penuh keyakinan.
Rika pun sempat menaruh kesal dalam hatinya, saat mendengar pernyataan benci Roman terhadap Valentine. "Apa kau tidak ingin memaafkannya? Atau ... kau malah puas setelah mendengar Valentine menderita? Hah!!!" bentak Rika dengan perasaan yang bercampur aduk.
Roman berniat menentang perkataan Rika. Namun, ia tetap menahan diri seraya menutup kedua matanya. "Aku sudah memaafkannya. Bahkan, aku pun sudah memaafkanmu karena telah menabrakku. Yang berlalu, biarlah berlalu," ucap Roman dengan penuh keikhlasan. Ia lalu membuka kedua matanya dan kembali menatap ke arah langit.
"Lalu, bagaimana tanggapanmu tentang Paul? Apa kau tidak membencinya? Apa kau akan membiarkannya begitu saja kah? Atau ... mungkinkah kau telah memaafkannya juga?" Rika mencoba untuk menguji keyakinan Roman.
Serentetan pertanyaan itu, telah membuat sumbu amarah dalam hatinya terbakar. "Aku tidak akan memaafkan seseorang yang telah menghilangkan sepedaku! Anggap saja berandalan itu yang menjadi pelakunya. Maka, kau dan Valentine adalah pengecualian," tutur Roman dengan penuh percaya diri.
Perkataan Roman pun telah menyentuh hati sanubari Rika. Ia lalu tersenyum, meski masih meneteskan air mata. "Lalu, apa kau ingin membantuku mencari keberadaannya? Kau boleh melampiaskan dendam mu, jika sudah berhasil menangkapnya," ucap Rika dengan penuh harapan.
"Maaf! Aku tidak bisa membantumu." -Ia melangkahkan kakinya- "Itu bukan urusanku." katanya. Roman kemudian bergegas meninggalkan Rika, setelah memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan.
Rika pun sontak terkejut dan tercengang dengan pernyataan Roman. Dengan mata yang membelalak dan mulut yang menganga lebar, ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban diluar dugaan.
Gadis itu kemudian menyadari bila Roman telah berjalan mendekati pintu akses. "Roman? Roman! Romaaan!!!" soraknya dengan penuh ketidakpercayaan. Rika pun seketika menjatuhkan lututnya, setelah tak berhasil membujuk Roman, untuk mencari keberadaan Paul. Ia harus menelan penyesalan, terhadap orang yang sangat dipercayainya itu.
~To be continued~