
...*** Rumah Keluarga Helsink ***...
Valentine mengurung dirinya didalam kamar, selepas pulang dari sekolah, hingga menjelang malam tiba, yang membuat Valerie merasa heran dengan sikap adiknya itu.
"Roman, sebenarnya ... apa yang telah terjadi dengan dirimu, dan Valentine?" tanya Valerie, yang tengah berdiri didepan kompor elektrik, sambil mengaduk-aduk sup hangat buatannya.
"Aku pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Valentine. Sikapnya mendadak berubah sejak berangkat sekolah tadi," jawab Roman, yang turut berdiri didepan wastafel dapur, seraya sibuk mencuci piring dan peralatan makan lainnya.
"Cobalah bujuk dia keluar dari kamar. Jika perlu, gedor-gedor pintunya," perintah Valerie, yang seketika menekan tombol power off, dari mesin kompor listriknya. Ia lalu mengangkat dan memindahkan panci yang berisi sup hangat buatannya, keatas meja kabinet ruang dapur.
"Baiklah, kak Valerie." Roman melangkahkan kakinya meninggalkan ruang dapur, dan segera beranjak menuju lantai dua.
Setibanya didepan kamar Valentine, Roman pun lansung mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis itu. "Valentineee, kak Valerie memanggilmu," ucapnya, yang tengah mengenakan kaos polos berwarna putih, serta celana boxer pendek berwarna hitam, yang semuanya merupakan pemberian dari Valerie.
Meski tak ada jawaban dari Valentine, Roman tetap mengetuk-ngetukan pintu kamar itu berulangkali. "Valentinee?! ... buka pintunyaaa!" himbau Roman dengan nada tinggi.
Namun, tak tetap ada jawaban dari Valentine, yang tengah menelungkupkan tubuhnya diatas ranjang, sambil memainkan ponselnya. Kedua telinganya yang tersumpal oleh headset itu, menjadi penyebab mengapa Valentine tak menghiraukan himbauan Roman.
Roman akhirnya memutar akalnya, agar dapat membuat Valentine mau membuka pintu kamar. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celana pendeknya, dan mencoba untuk menghubungi Valentine lewat panggilan ponsel.
Valentine seketika mendapati ponselnya berdering, dan menyadari bila Roman tengah mencoba menghubunginya, saat menatap ke layar ponsel. Ia sempat mendecih, namun tetap mengangkat panggilan tersebut.
π "Apaaa siih?!" kata Valentine dengan nada kesal.
π "Valentine, kau boleh marah padaku. Tapi mohon, dengarkan aku saat berbicara,"
π "Ini aku sedang mendengarkanmu! Apa yang kau inginkan dariku?!"
π "Valentine, buka pintu kamarnya,"
π "Tidak mau!"
π "Ku mohon, Valentine,"
π "Tiiidaaak mauuuu!"
Valentine sontak memutuskan panggilan ponselnya, yang membuat Roman hampir kewalahan dengan sikapnya itu.
Roman berusaha untuk tetap sabar, dan kembali mencoba menghubungi Valentine. Kali ini, Valentine sedikit lama dalam mengangkat panggilan ponselnya.
π "Apa lagi sih?!"
π "Valentine, apa kau sudah tidak sayang lagi padaku?" tanya Roman, yang seketika terduduk dan bersandar pada pintu kamar Valerie.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Valentine menjadi semakin panas.
π "Haaaa?! Apa aku tidak salah dengar?! Kapan aku bilang sayang padamu?!"
Jawaban itu membuat Roman sempat tercengang. Hatinya menjadi bimbang dengan sikap kesal, yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
π "Jadi benar, kau tidak sayang lagi padaku?"
π "Kau siapa?! Aku tidak pernah bilang sayang padamu!"
Valentine semakin mengikis kesabaran Roman, perlahan demi perlahan.
π "Coba katakan sekali lagi,"
π "Haaa?! Aku tidak merasa, pernah bilang sayang kepadamu!"
π "Apa kau serius?"
π "Ya!"
π "Kau yakin dengan jawabanmu itu?"
π "Kenapa?! Kau tidak suka?!"
π "Baiklah, jika memang itu maumu,"
π "T-t-tungβ"
Kali ini, Roman-lah yang sontak memutuskan panggilan ponselnya dengan Valentine, karena merasa kesabarannya untuk gadis itu, telah melampaui batas.
Roman segera beranjak turun menuju lantai satu, dan bergegas menghampiri Valerie, yang tengah menunggu di ruang makan. Ia lansung menduduki kursi meja makan, dengan selalu menunjukkan senyuman yang terpampang jelas diwajahnya.
"Roman, mana Valentine?" tanya Valerie, yang tengah meletakkan dua mangkuk sup hangat buatannya, dan satu mangkuk yang masih tertinggal diruang dapur.
"Aku rasa ... dia tertidur, kak Valerie," jawab Roman dengan tersenyum, seraya mengangkat kedua alis matanya.
"Dasar! Kenapa sih dengan anak itu!" gerutu Valerie, sambil berjalan menuju pintu ruang makan.
Valentine yang telah beranjak menuruni tangga pun segera bergegas menuju ruang makan. Ia lalu membuka pintu ruangan, dan terkejut saat mendapati Valerie, telah berdiri dihadapannya.
"Valentine! Kebetulan sekali! Ayo cepat makan!" seru Valerie dihadapan Valentine, yang tengah terengah-engah nafasnya.
"Roman! Apa maksudmu?!" Valentine sontak melangkahkan kakinya melewati Valerie, dan berjalan menghampiri Roman, yang tengah terduduk diatas kursi meja makan.
Roman seketika menoleh ke wajah Valentine. "Aku? Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu," ucapnya dengan tersenyum lebar, hingga gigi-gigi putihnya tersingkap.
Tak terima dengan perkataan Roman, dan senyuman yang seperti menyinggung perasaannya itu, membuat Valentine menjadi marah semarahnya. Gadis itu sontak meraih dua mangkuk yang terletak diatas meja makan, lalu melemparnya ke arah lain.
(Pringg!!!)
Valerie pun terkejut saat mendapati sang adik, sengaja melempar dua mangkuk sup hangat buatannya ke atas lantai, hingga membuat mangkuk-mangkuk itu menjadi pecah, dan seluruh isinya tercerai-berai.
"Valentinee!!" bentak Valerie, dengan penuh rasa ketidakpercayaannya, atas sikap arogan Valentine.
Melihat sup buatan Valerie berserakan diatas lantai, membuat Roman turut memunculkan rasa amarahnya. Ia sontak berdiri dari kursi, seraya membelakakkan matanya ke arah dua mangkuk yang terpecah belah itu.
Dengan tangan yang bergetar hebat, gigi yang menggertak cepat, dan nafas emosi yang menggebu-gebu, Roman tak menyangka dengan apa yang telah disaksikannya itu.
Setelah melampiaskan emosinya, Valentine segera beranjak menuju pintu. Ia tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatannya arogannya, yang seketika mencabik-cabik seluruh perasaan dalam hati Valerie.
Roman dengan segera mengejar Valentine, dan menggenggam erat tangannya, guna mencegah gadis itu melarikan diri. "Valentine, minta maaf pada kak Valerie," ucapnya, sambil berusaha meredam amarah yang telah menjangkiti hatinya.
"Lepaskaaan!" Valentine mencoba mengelak, dengan memaksakan tangannya terlepas dari genggaman tangan Roman. "Lepaskan aβ"
Roman sontak memeluk Valentine dengan erat, yang membuat gadis itu melunak seraya tercengang. "Valentine! Maafkan aku! Aku benar-benar mengaku bersalah karena telah membuatmu cemburu, saat melihat kedekatanku dengan Priscilla!" Air mata Roman seketika jauh, dan membasahi punggung Valentine.
"Tapi jujur! Aku tidak pernah sedikitpun menyimpan perasaan kepadanya, dan akupun telah menolak perasaannya, hanya demi dirimu Valentineee!!!" bentak Roman dengan sekuat tenaga, yang membuat telinga Valentine hampir pekak karenanya.
Matanya membelalak lebar, dan mulut yang menganga seperti tak menyangka, dengan apa yang didengar olehnya. Pengakuan Roman, telah membuat hati Valentine pecah berkeping-keping.
Keheningan pun terjadi. Roman yang masih menangis sesenggukan, membuat Valentine hendak mengangkat tangannya dan berniat untuk membalas pelukan anak itu.
"Valentine, jika ingin marah, lampiaskan padaku. Kau boleh memukulku sepuasmu," ucap Roman, yang mulai meredakan tangisannya, tanpa pernah melepaskan pelukannya dari tubuh Valentine.
(Bugh!!)
Valentine sontak memukul punggung Roman, karena sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia pun turut meneteskan air mata, karena tak sanggup melihat sang kekasih menangis untuk dirinya.
"Bodoh!!!"
(Bugh!!)
"Kau bodoooh!!!"
(Bugh!!)
"Kau bodoh Romaaann! Aku begini karena sayang padamu!! Aku begini karena takut kehilanganmu!! Kenapa kau belum mengerti jugaaa ...." Setelah puas memukul Roman, dan mengungkapkan segala kekesalan yang terpendam dalam hatinya, Valentine akhirnya memeluk Roman seerat-eratnya, seraya mengelus-elus punggung kekasihnya itu.
"Aku sangat-sangat mencintaimu, Roman!" ucap Valentine, dari dalam lubuk hatinya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Valentine," Roman sontak melepaskan pelukannya, dan memegang erat kedua pundak Valentine. Ia lalu mendorong wajahnya menuju wajah Valentine, hingga membuat bibir gadis itu, tercium olehnya.
Valentine pun turut mengecup bibir Roman, hingga keduanya saling beradu ciuman mesra, yang membuat Valerie sontak menghampiri mereka, dengan penuh rasa kesal. "Sudah membuat mangkuk kesayanganku pecaaah, kalian pun telah berani berciuman dihadapanku!" omel Valerie, seraya menjewer masing-masing kedua telinga sepasang kekasih itu.
"Duh duh duh, saaaakit kaaak!" keluh Valentine, sambil memegang tangan kanan Valerie.
Valerie kemudian melepaskan cubitannya, pada telinga mereka. "Roman! Bersihkan pecahannya! Dan kau Valentine! Bantu aku memasak dan perhatikan!" perintah Valerie dengan raut wajah kesal, seraya berkacak pinggang.
"Baik kaaak," ucap Roman dan Valentine, secara serempak.
~To be continued~