
Roman tak melarutkan penyesalannya, saat pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Angelina. Ia sudah tahu pasti, bila ibunya takkan berkomentar apapun tentang tindakannya itu. Aku harus lebih waspada dengan Rika! Jangan sampai kesialan kemarin, terulang lagi, batin Roman saat menyusuri jalan raya yang sepi.
Langkah kakinya pun terhenti, saat menunggu lampu penyeberangan menyala hijau. Ingatannya tak pernah lari dari ketiga gadis yang selalu menghantui hidupnya itu. Roman mengencangkan pegangan pada tasnya seraya mencari akal, bagaimana cara yang cepat untuk tiba disekolah.
"Roman?" kata Andrea yang tengah menepikan motornya di pinggir jalan, dan mendapati Roman tengah berdiri, seraya mematung diatas trotoar.
Andrea tengah melintasi jalan selepas pulang dari sebuah pertemuan forum klub motor. Ia sempat melihat Roman yang berdiri di perlintasan lampu penyebrangan. Dengan penuh rasa penasaran, Andrea menepikan kendaraannya dan bergegas menghampiri anak itu. "Kau Roman bukan?" tanya Andrea memastikan.
"M-Maaf! Anda siapa?" kata Roman dengan wajah curiga, setelah dirinya mendapati seorang wanita yang tengah mengenakan helm dan masker itu, memanggil-manggil namanya.
"Dasar!" -Andrea membuka maskernya- "Kalau tidak bisa mengenali sedikit wajahku, setidaknya kenali suaraku!" tegur Andrea yang gemas dengan wajah curiga Roman.
Roman pun seketika mengenalinya. "K-Kak Andrea? M-Maaf! Aku benar-benar tidak tahu!" ucap Roman seraya menundukkan wajahnya.
"Hmm ... Okay! Sebagai hukumannya, jawab dengan jujur." Andrea memegang pundak Roman dengan sebelah tangannya. "Sedang apa seorang siswa sepertimu berkeliaran pagi buta begini?" Ia mencoba mengintrogasi Roman, karena merasa curiga terhadapnya. Andrea pun semakin menguatkan cengkeramannya pada pundak anak itu.
"A-aku ... berangkat sekolah ...." jawab Roman dengan nada pelan dan tetap menundukkan wajahnya kearah trotoar.
"Haaa??? Berangkat sekolah? Apa kau tidak salah? Ini baru jam berapa Romaaan," oceh Andrea seraya merangkul pundak Roman.
Roman pun terkejut. Baru kali ini ada seorang wanita yang merangkulnya. Tubuhnya seketika dikerumuni banyak keringat dingin. Secepat itu kah dia akrab dengan orang yang baru dikenalnya? batin Roman. Demi menghindari kesalahpahaman, ia melepaskan pundaknya dari rangkulan Andrea. "Kak, maaf! Aku tak bisa berlama-lama disini!" katanya dengan nada tegas
"Hmm, baiklah ... mau ku antar?" ucap Andrea. Ia merasa khawatir dengan Roman, yang berjalan sendirian ditengah gelapnya malam menjelang fajar.
Hah? antar? Ide yang bagus! batin Roman. Tawaran Andrea memang menguntungkan baginya. Namun, saat melihat kebaikan wanita itu, Roman menjadi tidak enak hati. "J-jangan kak. Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa pergi sendiri kok," ungkapnya dengan menunduk malu-malu kucing.
Andrea tak dapat menahan rasa gemasnya, saat mendapati sikap rendah diri Roman. Kenapa dia jadi malu-malu seperti ini? Menatap wajahku saja tidak berani, batinnya. Ia pun menundukkan wajahnya dan berusaha mencuri pandangan Roman yang terus menatap kebawah. "Menolak tawaran seorang wanita itu, sangatlah tidak baik. Tunggu disini!" katanya. Andrea pun bergegas menghampiri kendaraan bermotornya.
Huufftt ... Hampir saja! Wajahnya terlalu dekat, pikir Roman setelah mendapati wajah Andrea, berada tepat dibawah wajahnya. Ia pun memperhatikan Andrea yang sedang menyalakan motor lalu menghampiri dirinya.
"Ayo, Roman!" kata wanita yang mengenakan jaket berwarna merah maroon dan celana jeans panjang.
Roman sempat terdiam beberapa saat. "Kak, biar aku saja yang bawa," katanya. Ia merasa tidak ingin terlalu banyak menyusahkan Andrea. Terlebih jarak menuju sekolah menengah Saint Luxury sangatlah jauh dari posisi mereka.
"Hah? Kau yakin bisa membawanya?" tanya Andrea.
"Ya! Jangan remehkan kemampuanku!" kata Roman dengan penuh percaya diri. Ia pun menguasai dan menahan setang kemudi motor yang sedang menyala mesinnya. Sedangkan Andrea, sontak memundurkan letak duduknya kebelakang, saat mendapati Roman berusaha duduk didepannya.
Tanpa perlu basa-basi lagi, Roman pun tancap gas. Ia membawa Andrea menuju sekolah menengah Saint Luxury. Rasa percaya dirinya pun meningkat saat mengendarai motor sport 250cc milik wanita itu. Bahkan, Andrea sempat tercengang mendapati kemampuan mengendarai motor Roman yang lihai.
...*** Rumah Keluarga Helsink ***...
Suara bising dari kenalpot moge Andrea, mampu mengalihkan perhatian Valerie, yang tengah duduk di ruang Aula lantai dua. Apa aku salah liat? Roman? batinnya dari balik jendela seraya memusatkan perhatian ke arah jalan raya. Valerie sempat melihat sekilas wajah Roman, saat anak itu kebut-kebutan didepan rumahnya.
Valerie yang tengah menikmati secangkir tehnya, dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering. "H-halo? ... yaa pak polisi, dengan saya sendiri ... Iya betul ... lalu bagaimana dengan perkembangan kasus penyusupan dirumah saya? " kata Valerie dengan penuh penasaran.
"Setelah memperkirakan dengan baik, kami memutuskan bila penyusupan dirumah Nyonya, tidak benar-benar terjadi. Untuk pintu gerbang yang terbuka, mungkin disebabkan oleh kerusakan sistem hingga membuka sedikit celah pada gerbangnya. Dan untuk keberadaan adik Nyonya, kami telah memeriksa data kependudukan anda. Apakah benar adik anda laki-laki?" tutur petugas polisi yang telah menemukan titik terang perihal kasus penyusupan yang terjadi dirumah Valerie.
"B-baik! Kalau begitu, anggap saja begitu! Terima kasih atas segala bantuannya pak!" Valerie sontak mengakhiri percakapan. Hatinya menjadi kesal setelah mendapatkan penuturan polisi. Berarti, Roman lah pelakunya. Pantas saja, kue brownies buatanku hilang dikulkas. Tidak mungkin seorang penyusup menyempatkan dirinya untuk mengisi perut, dalam keadaan terdesak, batin Valerie.
Ia tak habis pikir dengan segala tindakan yang dilakukan Roman. Kue brownies yang dibuatnya untuk Valentine pun habis dimakan oleh anak itu. Bahkan dia pun telah memakan es krim milik Valentine! Habislah aku! pikir Valerie dengan panik seraya menggigit bibir bawah. Valerie telah memasrahkan dirinya untuk menerima kemarahan Valentine. Bila mengetahui es krim milik adiknya itu, menghilang dari kulkas.
Valerie pun memutuskan untuk menyudahi kegiatan minum tehnya dan segera beranjak menuju kamar mandi. Setelah setengah jam membersihkan diri, ia lalu bergegas menuju kamar Valentine. "Lekaslah sembuh, Valentine," kata Valerie setelah mencium kening adiknya, yang tengah tertidur diatas ranjang.
Demi menjaga asupan nutrisi Valentine, Valerie telah meletakkan bubur hangat buatannya, di atas meja kamar milik adiknya itu. Ia lalu beranjak meninggalkan Valentine dan bergegas menuju garasi. Jika dugaan ku benar, berarti siswa yang mengendarai motor tadi adalah Roman. Aku akan memastikannya di kelas nanti. pikir Valerie setelah menaiki mobilnya.
Walau dengan mata sembab dan kurang tidur, Valerie tetap memaksakan diri untuk datang ke sekolah menengah Saint Luxury. Ia tak ingin merusak hari-hari pertamanya sebagai guru di sekolah itu.
...*** Sekolah Menengah Saint Luxury ***...
Pukul 05.30 pagi hari. Kegelapan masih menyelimuti langit yang menaungi sekolah itu. Roman telah mengembalikan tugas mengemudinya kepada Andrea. "T-Terima kasih, kak Andrea!" katanya sambil membungkukkan badan berulang-ulang.
Whoaa ... sekolah ini semakin mewah sejak terakhir ku tinggalkan. Sekarang, Audrey yang bersekolah disini. Meskipun ku tanya tentang Audrey, Roman pasti tidak akan mengenalnya. batin Andrea yang menatap gedung sekolah dengan terkagum-kagum. Ia pun termenung sejenak seraya mengingat kembali kenangannya, saat menjadi siswa di sekolah itu.
"Kak Andrea?" Roman menegur Andrea yang bergeming.
"M-Maaf! Baiklah, aku pergi dulu. Tapi ingat! Jam lima sore nanti kau harus datang ke kafe!" kata Andrea yang sontak mengembalikan kesadarannya.
"Baik, kak! Terima kasih!" kata Roman dengan tersenyum.
Andrea kemudian menggeber moge-nya. Brum ... brum .... "Jangan sampai telat yah!" kata Andrea. Ia pun menarik tuas gasnya dan berlalu meninggalkan Roman, yang tengah melambaikan tangan kepadanya.
Suasana disekolah masih sepi dan hening. Roman pun segera memanfaatkan kesempatan itu, demi menghindari segala cacian teman sekelasnya. Selain memberi kesialan, ternyata ada juga wanita berhati malaikat seperti kak Andrea, batin Roman. Dengan hati yang berbunga-bunga, ia pun melangkahkan kakinya menuju ruangan kelas.
~To be continued~