
Menjelang petang yang dingin, menuju gelapnya malam, didalam kamar yang terlihat biasa-biasa saja itu, Valerie terbangun dari tidurnya. "Hoaaamm ... sudah pukul setengah tujuh" -ia mendudukkan tubuhnya- "Aku harus membangunkan mereka," ucap Valerie setelah menggeliatkan tubuh seraya menoleh ke arah jam meja yang berbentuk burung kecil.
Valerie beranjak dari ranjangnya, membuka pintu kamar dan keluar menuju kamar Valentine. Matanya sedikit enggan untuk membuka, dengan seluruh tubuh yang masih malas untuk bergerak.
Meski begitu, ia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar Valentine dan sontak terkejut. "Valentine?! Rikaaaa bangun! Kemana Valentine?!" seru Valerie setelah mendapati pintu kamar Valentine terbuka lebar, dan hanya Rika yang tidur diatas ranjangnya.
Gawat! Valentine pasti berduaan dengan Roman dikamarnya! Aku harus mencegah mereka berbuat macam-macam! pikir Valerie seraya bergegas menuju kamar Roman. Dengan penuh rasa khawatir yang amat mendalam, Valentine sontak membuka kamar Roman. "Roman?! Kok, tidak ada?! Kemana mereka?!" ucapnya dengan wajah kebingungan.
Setelah mendapati kedua sepasang kekasih itu menghilang dilantai atas, Valerie pun bergegas menuruni anak tangga, menuju lantai satu. "Valentinee! Romaaan!" Insting pencarian Valerie, telah membawanya berjalan menuju pintu ruang makan, yang terletak diseberang tangga penghubung lantai dua.
Valentine dan Roman seketika terkejut, setelah mendapati Valerie membuka pintu secara paksa. "Kak Valerie?! Ada apa?!" tanya Valentine dengan wajah yang menatap heran. Ia tengah terduduk di meja makan, seraya memegang sebuah sendok yang digunakannya untuk menyuapi Roman.
Roman duduk diseberang Valentine, sambil mengunyah bubur hangat buatan kekasihnya itu. Ia bertopang pipi dengan sebelah tangan kanannya, yang bertumpu diatas meja makan, dan turut menatap Valerie dengan wajah heran.
Valerie pun salah tingkah. Ia menghela nafasnya secara perlahan. "Kalian mengagetkanku saja!" tegur Valerie sambil mendekat menuju Valentine, dan menduduki kursi disebelahnya.
"Kok kami?! Jelas-jelas Kak Valerie yang mengagetkan aku dan Roman, dengan membuka pintu secara tiba-tiba!" Valentine balik menegur Valerie, sambil kembali menyuapi Roman.
Demi menahan rasa malunya, Valerie memalingkan wajah ke arah lain, seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Aku justru khawatir kalian akan berbuat macam-macam. Secara kalian itu, terang-terangan pacaran, meski tidak mengenal tempat dan waktu," gumam Valerie dengan raut wajah sebalnya.
"Ayo sayang, habiskan semuanya. Jangan hiraukan kak Valerie. Dia hanya kesepian karena tidak ada kita," Valentine mengacuhkan kakaknya, dan semakin antusias dalam menyuapi Roman.
"Dasar!" Valerie pun sontak beranjak dari kursinya, dan bergegas menuju pintu ruang makan. "Kalian sudah mandi kan?" tanya Valerie dari balik pintu.
Roman dan Valentine mengangguk secara bersamaan, yang membuat Valerie menjadi tercengang.
"T-t-tunggu dulu! Valentine! J-j-jangan bilang kau mandi bersama Roman?!" Valerie menggetarkan tangannya seraya menunjuk pada Valentine. Kepalanya pun turut bergetar, dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Melihat sang kakak terlalu overthinking kepadanya, Valentine menjadi gusar. Ia sontak beranjak dari kursinya, lalu menutup pintu rapat-rapat.
(Brak!)
Suara gebrakan pintu itu, sangat mengagetkan Valerie. "Gawaaatt! Berakhir sudah peran kakak dalam diriku ...." gumam Valerie yang tetap berdiri didepan pintu ruang makan.
"Kak Valerie bodoh! Bodoh bodoh bodoh bodoh bodooohh! Mana mungkin aku dan Roman bertindak yang tidak-tidak! Kami masih dibawah umur tahu!" gerutu Valentine dari dalam ruang makan. Ia benar-benar merasa kesal dengan pemikiran Valerie yang terlalu berlebihan.
"Huuuufffft ... itu baru adikku," ucapnya dengan penuh kelegaan hati, setelah mendengar omelan sang adik, yang menyatakan mereka tidak akan pernah macam-macam dirumah itu.
Valerie lalu kembali menapaki anak tangga, menuju lantai dua. Ia berniat untuk membangunkan Rika, yang seharusnya bertugas mengawasi Valentine. Bahkan Rika saja sampai kecolongan! keluhnya sambil bergegas menuju kamar Valentine.
"Rikaaa banguuuun. Ayo mandi dan makan malam duluuu, setelah itu tidurlah kembali sepuasmu," Valerie menggoyang-goyangkan lengan Rika yang tersandar menyilang diatas perut.
Rika akhirnya terbangun, karena didesak oleh Valerie. Ia menggeliat sejenak, sebelum mendudukkan tubuhnya diatas ranjang Valentine. "Valentine? Kemana Valentine?!" tanya Rika yang mulai menampakkan raut wajah cemasnya.
Namun, Valerie sontak menahan tangan saudari jauhnya itu. "Kau mau kemana, Rikaaa?!" Valerie menghalangi Rika, yang berniat melabrak Valentine di kamar Roman.
"Lepaskan aku kak Valerie! Aku belum siap menjadi bibi!" elak Rika dengan tingkah laku polosnya.
"Haaaa?!! Menjadi bibi katamuu?! Siapa keponakanmu?!" tanya Valerie yang tak dapat menahan rasa gemasnya, saat melihat tingkah laku Rika.
"Tentu saja anak Valentine dan Rooomaaan!" Rika akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Valerie. Ia lalu bergegas keluar dari pintu kamar, menuju kamar Roman. "Valentine!" soraknya dari balik pintu.
Rika sontak terkejut, saat tak mendapati seorangpun dalam kamar tersebut. "Kok, tidak ada siapa-siapa?! Kemana perginya mereka?!" ucapnya dengan ketar-ketir.
Valerie pun berjalan menghampiri Rika, yang tengah menggenggam kepalanya alih-alih tercengang. "Valentine dan Roman ada diruang makan. Mandilah Rika. Setelah itu susul mereka," seru Valerie kepada Rika, yang berdiri membelakanginya.
Rika tetap mematung selama beberapa saat, yang membuat rasa gemas Valerie, bertransformasi menjadi rasa kesal. "Aaayoolah! Cepat mandi sana!" tegur Valerie seraya menarik tangan Rika dan membawanya turun menuju lantai satu.
"T-tunggu dulu kak! Yang aku khawatirkan bukanlah Valentine!" ucap Rika yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, tepat ditengah-tengah anak tangga.
"Lalu apa?" tanya Valerie yang turut berhenti sambil menoleh ke arah Rika.
"Aku lupa membawa baju ganti," jawab Rika. Dua jari telunjuknya saling beradu, seperti sedang menginginkan sesuatu.
Valerie kemudian menyadari maksud dari tingkah laku murid satu sekolahnya itu. "Baiklah. Pakailah bajuku, sesuai seleramu," kata Valerie seraya melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga.
"Yess!!! Aku saaayangg kak Valerie!" Rika sontak mengejar Valerie, lalu memeluk punggungnya dengan erat, yang hampir membuat saudari satu buyutnya itu, terpeleset.
Beruntung Valerie menapakkan kakinya tepat diatas lantai ruangan, dan mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Rikaa Rika ... kau tidak ada bedanya dengan Valentine. Selalu saja manja dihadapanku, batin Valerie, seraya membiarkan Rika memeluk punggungnya dengan penuh kehangatan.
Rika kemudian bergegas menuju kamar mandi, setelah kembali kelantai dua, dan memilah-milah pakaian Valerie yang akan dikenakan olehnya. Tinggi tubuhnya setara dengan Valerie, berbeda tiga sentimeter dengan tinggi Valentine, dan terpaut lima sentimeter dari tinggi Roman.
Ukuran badannya pun hampir sama dengan ukuran badan Valerie, yang membuatnya mau tidak mau memilih pakaian Valerie, dibandingkan pakaian Valentine, yang agak sempit untuk seukuran tubuhnya.
Valentine memiliki kerampingan tubuh yang sangat ideal, untuk Rika. Hal itulah yang membuat ketua OSIS itu merasa kesal, karena tidak ada satupun pakaian Valentine yang cocok, untuk ukuran tubuhnya.
Perihal ukuran dada, Rika-lah pemenangnya. Valentine terkadang merasa kesal, saat tak sengaja memperhatikan dada saudari jauhnya itu. Namun, ia tetap bersyukur karena Roman tidak memandang perempuan, dari bentuk fisiknya.
Didalam kamar mandi yang terlihat sangat luas dan elegan itu, Rika memanjakan tubuhnya, didalam bathtub yang sangat mewah. Ia selalu menggunakan kamar mandi Valentine, namun tetap menggunakan alat mandi pribadinya tanpa sedikitpun merusak alat mandi Valentine.
"Haaaaa ... aku harap Roman betah tinggal disini," ucapnya, seraya menenggelamkan lehernya didalam bathtub, yang telah terisi air serta kembang-kembang wewangian dan seluruh gelembung cairan sabun perawatan tubuhnya.
~To be continued~