
Suasana kelas seketika berubah menjadi sangat mencekam, setelah sebelumnya terdengar heboh. Herman memutuskan untuk menjadikan Roman sebagai ketua kelas, tanpa ada siapapun yang berani menggugat keputusannya.
Sudah dua hari Herman menggantikan posisi Valerie, sebagia wali kelas 1A. Dihari pertamanya sebagai wali kelas pengganti, Herman turut mendengar kabar duka dari Valerie, lewat panggilan ponsel, yang mengungkapkan tentang kematian dua anggota keluarga Roman.
Hal itu membuat hatinya terkikis, dan semakin meratapi kesalahannya atas tindakan kasar yang pernah dilakukannya terhadap Roman. Ketidakhadiran Roman dihari pertamanya mengajar, membuat Herman merasa sepi.
Namun, kini semangat mengajarnya kembali menggelora, setelah mendapati Roman hadir dalam kelasnya. "Untuk posisi wakil ketua kelas, bendahara, dan posisi lainnya, akan kita tentukan melalui pemilihan suara," ucap Herman setelah kembali menduduki kursinya.
Seluruh murid pun seketika heboh, setelah mendengar perkataan Herman. Mereka merasa heran dengan sikap guru olahraga tersebut, yang telah mengatur struktur organisasi kelas seenak-jidatnya.
"Pak Herman! Mengapa hanya posisi ketua kelas yang tidak dilakukan melalui pemilihan suara?!" kritik Tiffany Anderson, seraya berdiri dari kursinya dengan raut wajah kecewa.
Tiffany merupakan putri dari salah seorang pengusaha jasa konstruksi ternama di kota. Dulu, Kakeknya turut bekerja sama dengan pihak komite pendiri, untuk merancang dan membangun gedung sekolah menengah Saint Luxury, hingga menjadi seperti sekarang.
Mendengar kritikan dari Tiffany, Herman mencoba untuk tetap tenang. "Jika ingin protes, kau boleh mengadu kekuatan dengan ketua kelas yang sekarang. Dan, kalau kau menang, aku akan memberikan posisi ketua kelas padamu," tampik Herman seraya menunjuk pada Tiffany.
Tiffany semakin menampakkan wajah herannya setelah mendengar perkataan guru tersebut. Ia akhirnya bungkam dan kembali menduduki kursinya.
Herman meraih kacamata yang menggantung di saku jas, lalu segera mengenakan kacamatanya dan membuka sebuah buku pelajaran yang terletak diatas mejanya. "Buka buku pelajaran ekonomi menengah, halaman lima," seru Herman sambil menatap setiap tulisan dalam buku tersebut.
Dimulailah kegiatan belajar mengajar yang dipimpin lansung oleh sang wali kelas pengganti. Kalau soal urusan mengajar pelajaran akademik, Herman cukup ahli melakukannya.
Ia tak hanya berbakat dalam bidang olahraga, tapi kemampuan akademiknya juga terbilang cukup dalam memenuhi standar kriteria pengajar di sekolah elit itu. Herman seketika berdiri sambil memegang sebuah spidol, dan mendaratkan ujung spidolnya pada papan tulis.
Seluruh murid sedikit antusias dalam menyimak setiap materi yang dijelaskan Herman, karena sebagian suasana dalam hati mereka, dipenuhi rasa tegang. Kecuali, Roman.
Roman ikut menulis apa yang ditulis Herman di papan tulis. Ia mendengar, memahami, dan menyerap seluruh materi yang diterangkan Herman dengan seksama.
Sedikit berbeda dengan Valentine. Ia seketika melirik kewajah Roman dan mengikuti setiap pergerakan yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. "Kalau Roman bisa mengikuti jejak kak Valerie, maka aku takkan mau ketinggalan darinya!" batin Valentine yang turut mendaratkan ujung pulpennya kedalam sebuah buku tulis.
Roman telah menjadi alasan semangatnya untuk belajar, agar bisa mengejar pencapaian sang kakak. Valentine menyimak dan terus menyimak setiap perkataan yang diterangkan Herman perihal materi pelajaran ekonomi, walau tetap saja otaknya sulit untuk memahami materi tersebut.
Empat jam pun berlalu, sejak Herman memulai kegiatan belajar mengajarnya pada jam pelajaran pertama. Dan kini, adalah jam pelajaran ketiga yang dimulainya secara bertahap, dengan dua jam untuk pelajaran pertama, dua jam pelajaran kedua, dan satu jam untuk pelajaran ketiga, sebelum akhirnya bel istirahat berbunyi tepat pada pukul dua belas siang.
Pelajaran ketiga adalah pelajaran materi tertulis olahraga, dimana guru olahraga tidak wajib untuk menggiring para siswa menuju GOR. Herman seketika berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir didepan para murid kelas 1A. "Kenapa tidak ada satupun dari kalian, yang berminat mendaftar ke ekskul atletik?!" tanya Herman sambil menatap satu-persatu wajah murid-muridnya.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu, sungguh terlalu menyeramkan bagi mereka, untuk bisa memberikan alasan yang bisa saja membuat Herman murka.
(Prak!)
Herman yang benar-benar murka, sontak menendang kaki-kaki meja salah seorang murid, yang duduk didepannya. "Jawaaab!!! Apa kalian sudah tuli?!!" bentak Herman dengan mata yang melotot tajam.
Ia seketika menoleh kearah Roman, yang turut menatap dengan pandangan tajam kearahnya. "Roman! Maju kedepan!" perintah Herman.
Roman lalu berdiri dari kursinya dan segera melangkahkan kakinya menuju Herman. Tak ada sedikitpun rasa takut yang dirasakannya, setelah berdiri tepat disamping guru arogan tersebut.
Herman seketika melirik pada Roman yang telah berdiri tegak disampingnya, sambil menghadap pada seluruh teman-teman sekelasnya. "Apa alasanmu masuk ke ekskul atletik?" tanya Herman yang seketika memalingkan wajahnya dan menatap satu persatu seluruh murid, dengan pandangan yang sangat tajam.
"Karena aku sangat gemar berolahraga," jawab Roman dengan spontan.
Mendengar jawaban dari Roman, Herman pun tertawa terpingkal-pingkal. "Hahahaha!!! Kalian dengar apa jawabannya?!" Ia lalu berjalan mondar-mandir dibelakang Roman, yang tengah berdiri sambil melipat tangannya dibelakang punggung.
Seluruh murid pun turut tertawa, karena melihat reaksi dari Herman. Mereka merasa guru arogan tersebut, sedang mempermalukan Roman dihadapan banyak orang.
"Diaaaam!!! Siapa yang menyuruh kalian tertawa?!!" bentak Herman.
Mereka kemudian terdiam seketika, setelah mendengar bentakan Herman yang sangat terdengar menggelegar di kuping.
"Roman, berikan alasan tepat untuk menyadarkan kelemahan para murid-murid bodoh ini!" seru Herman yang kembali berdiri disamping Roman.
Roman kemudian menghela nafasnya dengan perlahan. "Kekuatan itu didapatkan, dengan penuh latihan dan kerja keras. Hanya orang-orang bodohlah, yang menyalahgunakan kekuatan dan kekuasaan mereka, untuk menindas yang lemah! Aku mendaftarkan diri ke ekskul atletik, karena ingin mengharumkan nama sekolah ini, dengan seluruh kekuatanku," ungkap Roman dengan penuh percaya diri.
Herman pun tercengang seraya menoleh pada Roman. "Anak ini ... benar-benar mengingatkanku padanya, sewaktu masih sekolah," batinnya. Ia lalu menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, secara perlahan, setelah mendengar ungkapan yang terlontarkan, dari mulut Roman.
Valentine sontak berdiri dari kursinya, dan turut memberikan tepuk tangan yang meriah, karena merasa bangga terhadap kekasihnya itu.
Namun, seluruh murid hanya terdiam seraya memberikan tatapan-tatapan yang sangat tajam pada Roman. Mereka merasa sangat tersinggung, dengan ucapan ketua kelas baru itu.
Setelah berhenti bertepuk tangan, Herman berjalan menuju kursinya. "Kembalilah ke kursimu," seru Herman..
Roman kemudian berjalan menuju kursinya, lalu menduduki kursi dengan penuh ketenangan. Ia seketika menoleh pada Valentine, yang masih terperangkap rasa bangga terhadapnya.
"Buka buku pelajaran olahraga, halaman tiga. Baca seluruh materi yang ada, lalu buka halaman lima dan kerjakan seluruh soal-soal itu. Jangan membuat kegaduhan, sebelum bel istirahat berbunyi!" seru Herman. Ia lalu merapikan seluruh perlengkapan mengajarnya, lalu berdiri dan bergegas meninggalkan ruang kelas.
Setelah mendapati Herman menutup pintu, para murid seketika menoleh ke arah Roman, sambil memperbincangkan hal yang tidak-tidak, tentang dirinya. "Percaya diri sekali dia!" bisik salah seorang murid kepada murid disebelahnya.
"Betul! Memangnya dia siapa?! Cuma seorang siswa rendahan tapi berani-beraninya berbicara seperti itu didepan kita!" bisik salah seorang murid lain kepada teman disebelahnya.
Shawn Barnett, seorang murid yang duduk didepan Valentine pun sontak berdiri, dan menghampiri Roman. Shawn lalu merenggut kerah seragam Roman dan memaksa anak itu untuk berdiri. "Hei kau! Bagaimana caramu bertanggungjawab, pada Kevin?!" gertak Shawn dengan wajah kesal.
Shawn Barnett merupakan putra dari seorang direktur perusahaan yang menaungi maskapai penerbangan pesawat. Ia sangat dekat dengan Kevin Shearer, dan merasa muak setelah mengetahui Roman tidak sedikitpun memperlihatkan rasa bersalahnya pada Kevin.
"Jawab aku!!!" bentaknya pada Roman.
Menerima perlakuan kasar dari Shawn, Roman pun tak terima. Ia berusaha melepaskan cengkeraman Shawn dari kerah seragamnya. "Aku tidak ada urusan denganmu! Jika memang ingin berurusan denganku, temui aku sepulang sekolah!" elak Roman yang berhasil melepaskan genggaman Shawn.
"Brengsek!" Shawn seketika melayangkan pukulannya pada wajah Roman.
Namun, Roman berhasil menahan pukulannya, lalu mendorong tubuh Shawn, yang membuat anak itu terjungkal ke belakang.
"Shawn!!" sorak salah seorang siswa seraya menghampiri Shawn. Ia lalu bergegas menghampiri Roman, karena merasa berang atas perlakuannya terhadap Shawan.
Namun, Valentine seketika berdiri membelakangi Roman. "Apa?! Kau ingin melawan Roman?! Hah?!" gertak Valentine yang berusah melindungi kekasihnya.
"Minggir kau! Jangan lindungi anak miskin itu!" caci seorang siswa yang bernama Drake Oliver tersebut. Ia merupakan putra salah seorang pengusaha mall ternama di kota.
Mendengar cacian Drake terhadap Roman, Valentine pun menjadi murka. Ia sontak menggenggam wajah Drake dengan sebelah tangannya. "Jangan lagi kau ucapkan kata-kata itu, dihadapan Roman. Atau, akan ku buat rahangmu patah," ancam Valentine dengan pandangan yang menatap penuh kebencian pada Drake.
Drake seketika menepuk-nepuk tangan Valentine, karena gadis itu benar-benar hampir mematahkan tulang rahangnya.
"Valentine, lepaskan," seru Roman sambil memegang pundak kiri Valentine dari belakang.
Valentine akhirnya melepaskan genggamannya pada rahang Drake, yang membuat anak itu meringis kesakitan sambil memegang dagunya.
Valentine kemudian kembali menduduki kursinya, bersamaan dengan Roman yang turut menduduki kursi disebelahnya.
Shawn tetap berdiri menatap Roman dengan wajah yang menyeringai. Ia seketika menunjuk pada ketua kelas baru itu. "Lihat saja! Aku akan membuatmu menyesali segala perbuatanmu!" gertak Shawn dan kembali menduduki kursinya dengan penuh rasa kesal.
Tak terima kekasihnya diancam, Valentine sontak menendang kaki-kaki kursi milik Shawn dari belakang, yang membuat anak itu sontak menoleh kearah dirinya. "Apaa?! Haa!!!" gertak Valentine.
Shawn mencoba untuk meredam emosinya dihadapan Valentine, karena masih menghormati gadis itu. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah dapan, dengan tangan yang mengepal erat diatas meja.
~To be continued~