
Valentine menaiki tangga dengan tergesa-gesa, karena merasa khawatir dengan keadaan Roman, saat mendengar Maxwell berniat menemuinya. "Duuh Rikaa, kenapa kau biarkan Maxwell menemui Romaan?!" tanya Valentine dengan wajah cemasnya, sambil menaiki anak tangga satu persatu.
"Kau tenang saja Valentinee, Roman pasti baik-baik saja!" tegur Rika yang merasa heran dengan sikap cemas Valentine yang terlalu berlebihan.
Setelah berhasil menginjakkan kakinya dilantai tiga, Valentine segera berjalan menuju pintu ruang fitnes. "Romaaa—" Ia terkejut, saat mendapati Roman terduduk diatas sebuah kursi, sambil bermain catur bersama Maxwell yang tengah menyentuh bidak catur, diatas sebuah papan catur.
"Valentine?! Ada apa kemari?" tanya Roman seraya menolehkan wajahnya ke arah Valentine, yang tengah tercengang dari balik pintu.
Rika lalu menyelip tubuh Valentine, dan berjalan menghampiri pengawalnya. "Maxweeell ... kau tidak berbuat kasar pada Roman kaaan?" tanya Rika sambil berkacak pinggang. Ia lalu berdiri tepat dibelakang Maxwell, seraya menolehkan wajahnya ke arah papan catur.
"Hahaha. Nona jangan khawatir! Aku sedang bernostalgia dengan putra kebanggaan Gerrard," jawab Maxwell sambil meletakkan bidak catur berwarna putih yang telah diraihnya, keatas sebuah kotak putih, yang berada dalam papan catur.
Valentine pun turut berjalan menghampiri mereka, dan berdiri tepat dibelakang Roman. "Roman! Kenapa kau tiba-tiba menjadi akrab dengan Maxwell?" tanya Valentine, dengan menolehkan wajahnya tepat disamping kepala Roman, lalu menatap penuh heran pada wajah kekasihnya itu.
Roman seketika meraih sebuah bidak berwarna hitam, dan meletakkannya diatas sebuah kotak berwarna hitam, dalam papan catur tersebut. "Salahkah bila aku akrab, dengan paman Maxwell?" tanya kembali Roman, yang tak sedikitpun menolehkan wajahnya ke wajah Valentine.
"P-p-pamaaann?!" ucap Valentine dan Rika secara serempak, karena merasa terkejut saat mendengar cara Roman dalam menyebut nama Maxwell.
Rika sontak berdiri disamping kanan Maxwell, dan tak pernah berhenti berkacak pinggang, dihadapan sang pengawal. "Maxwell! Sejak kapan kau menjadi paman Roman?!" tanya Rika dengan raut wajah curiga.
"Hahaha! Nona, kau tak perlu khawatirkan aku. Roman sudah ku anggap seperti keponakanku sendiri," jawab Maxwell, dengan senyuman lepasnya.
"Paman Maxwell, cepat jalan," tegur Roman, karena mendapati Maxwell belum jua menjalankan bidak caturnya.
"Hahaha! Maafkan pamanmu ini Roman. Konsentrasiku sempat buyar, jadi aku harus berfikir dari awal lagi," ucap Maxwell yang mulia mengambil ancang-ancang, dalam memilih bidak catur mana yang akan dijalankannya.
Setelah bertarung pikiran dan strategi selama setengah jam, Roman berhasil memojokkan Maxwell, dan telah memakan banyak bidak caturnya. "Checkmate," ucap Roman, saat bidak menterinya, berdiri tepat didepan bidak raja milik Maxwell.
"Cih! Padahal hanya salah sekali langkah, tapi bisa keteteran terus seperti ini," gumam Maxwell, yang masih belum bisa menerima dan tak percaya, atas kekalahan telaknya dalam melawan strategi catur Roman.
Valentine sontak merangkul pundak Roman. "Yuuuhuuu!! Roman menang! Yeaayyy!" sorak Valentine dengan penuh kegirangan. Ia seketika menyeringai tajam ke arah wajah Rika, yang tengah berdiri dibelakang Maxwell, sambil membuang muka. "Rikaaaaaa! Kau telah berjanji akan mentraktirku makan di restoran ... jika Maxwell kalah melawan Roman!" tegas Valentine, yang mulai berjalan sedikit menuju Rika.
Tak terima dengan kekalahannya, dalam pertaruhan melawan Valentine, Rika sontak berlari menuju pintu. "Aaaaaaaa! Maxwell bodooohh!" sorak Rika, yang membuat Valentine turut mengejarnya.
"Jangan lari dariku Rikaaaaa!!" Valentine berlari menuju pintu, seraya berusaha mengejar Rika yang telah kabur menuruni anak tangga.
Setelah kepergian dua gadis itu, Roman segera membereskan papan caturnya. "Paman Maxwell, kau ingin kemana?!" tanya Roman seraya menutup papan catur, dan beranjak dari kursinya.
Maxwell yang tengah berjalan menuju pintu pun sontak menghentikan langkah kakinya. "Romaaan! Kita akan bertanding besok! Persiapkan dirimu, sebelum aku benar-benar mengalahkanmu dengan telak. Hahaha!" pungkas Maxwell, dan kembali berjalan menuju pintu ruang fitnes.
"Haa?! Padahal akupun belum serius sama sekali tadi!" gumam Roman dalam hatinya. Ia lalu berjalan menuju sudut ruangan, dan menekan sebuah tombol lampu, hingga membuat lampu utama diruangan itu padam.
Roman akhirnya memutuskan untuk menyudahi kegiatannya, dalam ruang fitness. Setelah sebelumnya berlatih sendiri, lalu dilatih beberapa gerakan-gerakan dasar ilmu bela diri, oleh Maxwell.
"Aku harus berterimakasih pada kak Valerie! Berkatnya, aku jadi bisa bertemu dan berlatih bersama paman Maxwell!" pikir Roman, seraya menuruni anak tangga, menuju lantai dua.
Roman lalu begegas melewati lorong tangga, yang terhubung dengan lorong kamar lantai dua. Setelah keluar dari persimpangan lorong, ia dengan polosnya berjalan menuju kamar Valerie, lalu tak sengaja membuka pintunya.
Valerie yang berniat melepaskan ****** ******** pun sontak tercengang, saat mendapati Roman tengah berdiri, dan turut tercengang melihat ke arah dirinya.
Valerie dengan segera mengganti ****** ********, lalu mengenakan sebuah rok pendek, selagi Roman masih berdiri diluar pintu. Ia kemudian berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarnya. "Romaaan! Masuk kau!" ucap Valerie seraya menyeret kerah belakang kaus Roman, dan membawanya masuk kedalam kamar.
"K-k-kak Valeri—"
"Sssstttt!!!" Valerie menempelkan telunjuknya ke mulut Roman, agar anak itu tak memancing keributan. "Jangan ceritakan ke Valentine, tentang kejadian tadi!" ucapnya dengan nada pelan.
Roman yang telah dibungkam oleh Valerie pun sontak mengangguk. Ia menjadi ketar-ketir saat Valerie terlaku dekat dan menempel padanya.
"Kau melihatnya kan?" tanya Valerie, dengan suara pelan, yang nafasnya berhembus wangi ke wajah Roman.
"T-tidak!" tampik Roman dengan tegas.
"Jangan berbohong padaku," ucap Valerie, sambil menatap tajam ke arah kedua mata Roman. Ia sedang menguji, seberapa besar ketertarikan adik angkatnya itu, terhadap dirinya.
"Jujur, aku hanya sepintas melihat ke arah bagian bawah tubuhmu, kak Valerie," ungkap Roman, meski berat untuk mengakuinya. Kini, ia tak pernah berani menatap sedikitpun, pada seluruh bagian vital tubuh Valerie, karena telah menganggap gadis itu sebagai kakaknya sendiri.
Valerie seketika menempelkan dadanya pada dada Roman, yang membuat keringat dingin sontak mengucur dari ujung kepala, hingga ujung kaki anak tersebut. "Apa kau tertarik?" tanya Valerie, dengan tatapan wajah yang sangat menggoda.
Roman kembali menganggukkan kepalanya, hingga membuat Valerie sedikit merasa kesal. "Ucapkan! Jangan membuat seorang gadis merasa bingung dengan sikapmu itu," tegur Valerie, yang sontak mendekatkan wajahnya, hingga hidungnya menempel tepat pada hidung Roman.
"T-tidak kak Valerie! Aku tidak akan pernah tertarik sedikitpun padamu, ataupun bentuk tubuhmu. Kau sudah ku anggap seperti kakakku sen—"
"Kau hanya adik tiri bagiku, bukan adik kandungku. Menikah denganku adalah hal yang sangat mudah untukmu," rayu Valerie, seraya mengelus-elus bagian bawah telinga Roman, dengan jari lentiknya.
Roman seketika kembali menghadapkan wajahnya ke arah wajah Valerie, dengan pandangan yang sangat menatap tajam. "Lepaskan aku kak Valerie! Aku masih sekolah! Hati dan cintaku hanya untuk Valentine seorang!" tegas Roman dengan penuh kepercayaan diri.
"Romaan, kau semakin membuatku merasa iri dengan Valentine" Valerie tak menghiraukan perkataan Roman. Ia malah mendekatkan mulutnya, ke mulut adik angkatnya tersebut.
"Romaaaann! Dimanaa kauu!" sorak Valentine dari balik pintu kamar Roman yang telah terbuka lebar.
Valerie pun sontak melepaskan Roman, dan berjalan menuju ranjangnya. "Cih! Padahal itu adalah ciuman terakhirku, sebelum aku menggoda Roman untuk yang terakhir kalinya!" gumam Valerie dalam hatinya. Ia lalu terduduk di sisi ranjangnya, dan menghadap ke arah Roman.
Mendengar himbauan Valentine, Roman tak berani keluar dari kamar Valerie, agar tak membuat kesalahpahaman dengan sang kekasih. "Aku tak menyangka, kalau kak Valerie turut menaruh perasaan padaku. Tapi maaf kak Valerie, aku masih sekolah, dan tak tertarik dengan wanita dewasa sepertimu," pikir Roman seraya menatap tajam ke arah wajah Valerie.
"Romaaaaaan!" Valentine mengetuk pintu kamar Valerie, demi memastikan keberadaan Roman.
"Tidak ada! Coba cari di tempat lain!" sahut Valerie dari dalam kamarnya.
Setelah mendengar sahutan sang kakak, Valentine pun segera beranjak menuruni anak tangga. Ia dengan polosnya percaya pada perkataan Valerie, yang sebenarnya tengah menyembunyikan Roman dalam kamarnya.
Roman yang tengah berdiri sambil membelakangi pintu kamar, sontak membungkuk dihadapan Valerie. "Kak Valerie! Maaf! Mungkin setelah lulus sekolah, aku bisa mempertimbangkan perasaanmu!" ungkap Roman dari dalam lubuk hatinya. Ia lalu membuka pintu kamar, setelah mendapati Valentine telah beranjak ke lantai satu.
"Roman!" Valerie menghampiri Roman yang telah keluar dari pintu. "Lupakan soal tadi! Jagalah perasaan Valentine, dan jangan pernah menyakitinya!" ucap Valerie, seraya memegang gagang pintunya. Ia lalu menutup pintu kamar, dengan menyimpan perasaan yang hancur berkeping-keping.
~To be continued~