
Valentine melangkahkah kakinya dengan tergesa-gesa menuju pintu kelas. Ia tak menghiraukan keberadaan Roman yang telah menduga bila gadis itu akan menarik tangannya dan mengajaknya pulang sekolah bersama-sama.
Namun, dugaanya ternyata meleset. Roman pun tercengang sambil menatap Valentine dari kejauhan. Ia merasakan ada yang aneh dengan sikap kekasihnya itu. Apa yang telah terjadi dengan Valentine dan Kak Valerie? ... Dan, apakah ada sangkut pautnya dengan diriku dan Audrey? pikirnya seraya mengernyitkan dahi.
Roman belum mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya pada ketiga gadis yang muncul dalam pikirannya itu. Rasa penasaran seketika mencuat yang membuat hatinya menjadi bertanya-tanya tentang kebenarannya.
Ia kemudian beranjak dari kursinya dan bergegas keluar dari kelas menuju ruang loker. Rasa gelisahnya seketika memuncak saat tiba diruang loker. Apa aku harus menghampiri mereka? pikir Roman seraya membuka pintu lokernya.
Suara rintik hujan pun terdengar dari arah luar pintu kaca sekolah. Roman seketika menoleh kearah luar meski tangannya masih memegang tas yang tersimpan didalam loker. Ahh! Hujan lagi! Mana aku lupa bawa payung! pikirnya sambil mendecih.
Setelah mengenakan tasnya, Roman pun beranjak menuju pintu kaca yang menjadi akses keluar masuk gedung sekolah. Dua sisi pintu kaca itu seketika bergeser dan membuka jalan bagi Roman yang telah mendekat dan berniat untuk melewatinya.
Derasnya hujan yang turun sangat menarik perhatian Roman yang tengah berdiri dan bernaung dibawah teras gedung sekolah yang sangat dominan dengan warna putih itu. Mau ke perpustakaan pun tetap saja kena hujan, pikirnya sambil mendongakkan wajah ke arah langit.
Dengan tangan yang bersembunyi dalam saku celananya, Roman menyandarkan tubuhnya pada pilar gedung sekolah. Ia menanti harap-harap cemas semoga hujan yang turun itu, tidak berdurasi lama.
Perhatiannya seketika tertuju pada mobil Valerie yang sempat berhenti didepan gerbang sekolah. Roman kemudian mendengar suara klakson yang berulang-ulang dari mobil tersebut. Apa jangan-jangan kak Valerie berniat mengantarkanku pulang? pikirnya seraya melepaskan sandaran punggungnya pada pilar gedung sekolah.
"Ayo pulang, sayang!" Valentine sontak muncul dari belakang sambil menggenggam erat tangan kanan Roman, dengan tangan kiri memegang erat payung yang menjadi naungan mereka berdua, selama berjalan menuju mobil Valerie.
"Astaga! Kau mengejutkanku saja," tegur Roman seraya berjalan dan menatap wajah Valentine dengan penuh heran.
"Maaf kalau tadi aku terburu-buru keluar kelas," kata Valentine yang turut membalas tatapan wajah Roman dengan penuh senyuman di wajahnya.
Valentine seketika menaikkan tangannya menuju lengan Roman lalu menggandeng lengan lelaki pujaan itu dengan penuh rasa cinta. Berkatmu, aku jadi terhindar dari pelampiasan kekesalan kak Valerie. Kau memang hebat! batinnya seraya meletakkan kepala diatas pundak Roman.
Mereka pun terbebas dari serangan rintik hujan, setelah menghampiri mobil Valerie dan beranjak masuk kedalam mobil tersebut. "Tunggu Rika," ucap Valerie sambil mengetukkan telunjuk kirinya berulangkali pada batang persneling mobil.
Valerie merasakan kegelisahan dalam hatinya sambil menatap ke arah luar kaca mobil. Bagaimana ini?!! Apa yang harus kukatakan pada Andrea? Aku tak ingin kita berdua turut berselisih gara-gara kelakuan adik, batinnya sambil menggigit bibir bawah.
Rika pun sontak berlari dari teras gedung sekolah dan memberanikan diri melawan derasnya terjangan rintik hujan menuju mobil Valerie. Ia lalu membuka pintu mobil bagian depan. "Ahhh!! Valentine! Tega sekali aku ditinggalin sendiri!" gumamnya seraya mengisi kursi disebelah Valerie lalu menutup pintu mobil.
"Maaf Rikaaa, aku tidak tahu kalau kau tidak membawa payung. Tidak mungkin juga kita bertiga dalam satu payung, hehe," kelakar Valentine sambil tersenyum dan melekatkan jari telunjuk serta jari tengahnya ke pipi.
"Dasar!" Rika menampakkan raut wajah sebalnya seraya menoleh ke arah cermin yang menghadap kursi belakang.
"Baiklah!" Valerie pun sontak menginjak pedal gasnya sambil memutar setir kemudi ke arah kanan setelah melewati gerbang sekolah.
Mereka kemudian berlalu meninggalkan gedung sekolah yang hampir sepi itu. Hanya terdapat beberapa siswa saja yang sempat menunggu seraya berteduh dibawah teras gedung selama hujan terus mengguyur sekolah itu.
Tak terkecuali, Audrey. Wajahnya sempat menatap kesal pada mobil Valerie. Setelah mendapat perhatian Roman, kau pun telah mencuri perhatian Rika dariku! Ini tak bisa dibiarkan! batinnya seraya menggertakan gigi berulang kali.
Benih dendam telah tertanam dalam hati Audrey untuk Valentine. Ia masih tak terima dengan apa yang telah dilakukan rival barunya itu, sehingga menyebabkan dirinya harus dirumahkan selama seminggu. Brengsek! Brengsek! Brengseeek!!! gumamnya sambil membayangkan sosok wajah gadis yang telah merebut Roman darinya.
Setelah menunggu beberapa saat, tibalah seorang pria yang menaiki sepeda motor jenis moge, memasuki gerbang sekolah lalu berhenti tepat didepan Audrey. "Audrey! Maaf aku terlambat! -Ia melemparkan sesuatu- "Ambil ini dan pakai," seru Joan Francoise, yang merupakan teman satu klub motor Andrea.
Joan telah diamanatkan Andrea untuk mengantar dan menjemput Audrey. Semua itu dilakukannya dengan maksud tertentu, mungkin bisa disebutkan karena telah menyimpan perasaan terhadap kakak dari Audrey tersebut.
Audrey dengan segera membuka tas kecil yang berisi jas hujan lalu mengenakannya ke seluruh tubuh demi menghindari percikan air hujan. Ia lalu meraih helm yang disodorkan Joan kepadanya. "Mau pulang kerumah, atau ke tempat kakakmu?" tanya Joan yang belum jua mematikan mesin moge nya.
"Kerumah!" pungkas Audrey dengan nada tinggi seraya mengenakan helm lalu beranjak mengisi jok belakang motor Joan.
Selepas kepergian mereka, gedung sekolah pun turut didatangi berbagai mobil-mobil mewah yang berniat menjemput para siswa yang masih terjebak dalam derasnya hujan. Salah satunya adalah, Kevin Shearer, Bryan Wanderer dan dua Grimoire bersaudara.
...*** Persimpangan Lampu Merah Pusat Kota ***...
Valerie menghentikan laju mobilnya tepat dibelakang garis zebra cross yang terhampar diatas perempatan jalan, saat mendapati lampu lalulintas berwarna merah. "Kita akan singgah di restoran terlebih dahulu," ucap Valerie sambil menurunkan gigi persnelingnya.
"Yeaayy!! Kita di traktir kak Valerie lagi!" sorak Rika dengan penuh kegirangan seraya mengangkat kedua tangannya.
"Rikaaa! Kau berisik sekali!" tegur Valentine yang terbangun dari tidurnya setelah menyandarkan kepalanya diatas pundak Roman.
"Kau lebih baik tidur saja Valentine! Tidurlah sampai kami semua selesai makan di restoran!" Rika membalas teguran Valentine dengan raut wajah yang sangat sebal.
"Aaapaaa maksudmuuu?!" Valentine pun sontak menjulurkan tangannya ke arah Rika lalu mencubit pipi sebelah kanan besti-nya itu.
"Duh duh duh sakit saakiit!!" lirih Rika setelah pipinya menerima cubitan yang sangat keras dari tangan Valentine.
Valerie tetap terdiam tanpa menghiraukan pergelutan dua muridnya itu. Perhatiannya seketika tertuju pada sebuah motor yang turut berhenti disamping mobilnya.
Rika dan Valentine pun sontak menaruh perhatian mereka pada kedua orang yang menaiki motor tersebut. Begitu juga dengan Roman, ia menatap tajam ke arah motor yang memiliki silinder mesin 250 CC itu.
Rupanya Audrey dan Joan yang telah mencuri pandangan mereka, selama berhenti dan menanti lampu lalulintas berganti warna menjadi hijau. Audrey tetap fokus menatap ke arah punggung Joan yang tengah menggeber-geber mesin moge-nya.
Ia pun sontak menoleh ke arah kaca pintu depan mobil Valerie. Matanya kemudian menyipit sambil menerawang siapa orang yang berada dibalik gelapnya kaca mobil tersebut. Ituuu kan ... Rika?!! pikirnya setelah mendapati Rika yang turut menoleh ke arah dirinya dari balik kaca mobil.
Audrey lalu menoleh seraya memfokuskan pandangannya menuju orang yang duduk dibelakang Rika. Romaan?!! ... Brengsek! Disebelah Roman rupanya gadis sialan itu! Enak sekali dia duduk bermesraan dengan Roman! batinnya dengan penuh rasa kesal dihati.
Mendapati Valentine yang turut menatapnya dengan pandangan tajam, Audrey pun sontak mengacungkan jari tengahnya ke arah rivalnya itu. Ini untukmu! Dasar gadis brengsek! pikirnya dengan penuh kekesalan yang merajalela dalam hatinya.
Valentine pun terkejut setelah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari seseorang yang duduk di jok belakang moge tersebut. "Kurang hajar!! Apa maksudnya dia?!! mengacungkan jari tengah pada Roman!!" gumamnya seakan tidak terima dengan perlakuan itu.
"Valentine! Tenangkan dirimu! Jangan bertindak gegabah dan membuat keributan dijalan!" tegur Valerie yang turut memperhatikan tindakan tak terpuji Audrey dari balik kaca pintu mobil tempat Rika duduk.
"Audrey! Kalau aku tidak salah duga, dia Audrey Audrey!!" terka Rika yang semakin membuat panas suasana hati Valentine.
"Brengseeek!!!" Valentine pun sontak mengacungkan jari tengahnya pada Audrey dengan maksud membalas perlakuan tidak mengenakkan saingannya itu.
"Valentine! Jangan dilawan!" tegur Roman sambil menurunkan tangan Valentine yang terentang didepan tubuhnya.
Audrey pun terkejut. Emosinya seketika memuncak saat Valentine turut mengacungkan jari tengah padanya. Brengsek kau! Kau kira aku takut! pikirnya dengan penuh rasa amarah yang membakar jiwa.
Merasa tidak terima dengan balasan Valentine, Audrey pun sontak turun dari moge Joan. Dengan penuh rasa dendam yang sudah tak tertahankan lagi, ia berjalan memutari bagian belakang mobil Valerie menuju pintu kaca mobil tempat duduk Valentine. "Keluar kau brengsek!!!" bentak Audrey seraya menggedor-gedor kaca mobil.
"Valentine! Jangan ditanggapi!" tegur Valerie yang turut kesal dengan tindakan adik perempuan Andrea tersebut.
Namun, Valentine terlanjur terpancing emosinya. Ia pun sontak membuka pintu mobil dengan sangat kencang, hingga membuat Audrey terpental kebelakang.
"Valentine!!!"
~To be continued~