My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 29. Kasih Sayang Valentine



Valerie tengah berjalan tergesa-gesa menuju ruang guru. Setelah tiba didepan pintu, ia mendengar kehebohan dari para guru yang tengah berbincang-bincang perihal kasus pelecehan. "Aku setuju! Dia layak untuk diberi hukuman yang setimpal!" tegas salah seorang guru kepada guru lainnya.


"Ya! Kau benar! Tapi, aku rasa semua itu akan mustahil. Paul merupakan putra dari ketua komite pemilik sekolah ini. Tidak akan ada yang berani mengusiknya," tutur salah seorang guru lainnya.


"Benar! Kalau dibiarkan terus, dia akan semakin bertindak semena-mena," sambung salah seorang guru lainnya.


"Nancy! Bagaimana pendapatmu tentang kelakuan muridmu itu?!" tanya salah seorang guru lainnya kepada Nancy Whiteman, yang merupakan wali kelas Paul.


"Aku juga sependapat dengan kalian. Tapi, mau bagaimana lagi? Bahkan anak itu telah membolos selama dua hari. Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi jika dirinya saja tidak ada disekolah ini," ujar Nancy. Ia kemudian menatap pada Valerie yang tengah berjalan menuju kursinya.


"Valerie! Apa benar, adikmu telah menjadi korban pelecehan Paul?" tanya Nancy.


Valerie mencoba untuk tetap tenang. Ia kemudian duduk di kursinya seraya menyusun berkas-berkas data siswa. "Ya! Aku tidak habis pikir dengan tindakannya ... tapi kalian tidak usah khawatir. Adikku telah membaik," jawab Valerie dengan sedikit rasa kesal dihatinya.


"Syukurlah kalau memang begitu ... apa kau tidak ada niat untuk melaporkannya pada polisi?" tanya Nancy sekali lagi. Ia merasa empati dengan apa yang telah menimpa adik Valerie.


"Tidak. Hal itu justru akan semakin memperumit keadaan. Biarkanlah anak itu menyesali perbuatannya sendiri," jawab Valerie dengan hati yang ikhlas.


Herman yang mendengar perbincangan itu, menjadi kesal. "Valerie, kau tenang saja. Aku yang akan mencarinya dan memberikan pelajaran kepadanya," pungkas Herman seraya berjalan menuju pintu dan berlalu meninggalkan para guru. Tangannya selalu mengepal, sejak mendengar perbincangan mereka dari awal.


Herman merupakan seorang guru olahraga kelas satu. Tubuhnya sangat kekar bagaikan seorang prajurit militer. Ia juga bertugas sebagai guru pembimbing ekskul atletik yang sangat minim anggotanya.


Satu hal yang sangat dibenci olehnya, yaitu minimnya prestasi sekolah dalam bidang olahraga. Hal itulah yang membuatnya menjadi sangat keras dan disiplin, dalam memberikan materi olahraga kepada seluruh murid-muridnya. Bahkan, ia tak segan-segan menampar Roman, yang tengah berbincang dengan Valerie sewaktu pulang sekolah kemarin.


(Tringgg ... Tringgg ... Tringgg ....)


Bel berbunyi pertanda kegiatan sekolah telah dimulai. Jam pertama akan diisi dengan kegiatan olahraga, untuk seluruh siswa kelas satu.


Herman kemudian bergegas menuju gedung olahraga sekolah, seraya menunggu kedatangan para siswa, yang akan mendapatkan bimbingan materi olahraga darinya.


...*** Ruang Ganti Siswa Laki-laki ***...


Roman tak dapat menahan rasa malunya, setelah menjadi pusat perhatian para siswa. Mulai dari melewati lorong kelas, hingga tiba di kelas 1A, Valentine tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Roman. Baiklah. Jika hal itu membuatnya senang, maka aku akan membiarkannya bertindak sesuka hati, batin Roman seraya mengenakan pakaian trainingnya.


"Roman! Jangan lupa! Setelah jam olahraga nanti, pilih aku sebagai ketua kelas," kata Kevin Shearer, teman sekelas Roman.


Kevin tengah mencari dukungan pada seluruh murid kelas 1A, agar mau memilihnya sebagai ketua kelas. Sifatnya sangat ceria dan ambisius. Namun, jika ada yang berusaha menghalangi ambisinya, ia takkan segan-segan menjatuhkan harga diri orang itu.


"Ya! Kalau memang itu maumu, aku akan memilihmu," pungkas Roman seraya berjalan menuju pintu ruang ganti, selepas mengenakan pakaian trainingnya.


Kevin kemudian mengalihkan pembicaraannya dengan murid lain. Ia sangat ambisius dalam merebut posisi ketua kelas 1A.


Kevin berambut pirang, dengan tinggi yang kurang lima centimeter dari tinggi Roman. Ia merupakan putra sulung seorang banker ternama di kota. Keluarganya telah menggeluti bisnis perbankan, selama berpuluh-puluh tahun.


...*** Gedung Olahraga ***...


Seluruh siswi kelas satu telah beranjak dari ruang ganti perempuan. Mereka kemudian berbondong-bondong menuju gedung olahraga, dan menyatu dengan seluruh siswa laki-laki yang telah menghadiri gedung tersebut.


Herman mendapati seluruh siswa, telah hadir mengerumuni gedung olahraga. Ia kemudian berdiri dihadapan mereka. "Baiklah, semuanya! Saya adalah Herman Timothy, yang akan menjadi guru olahraga kalian! Diharapkan dalam pejalaran saya, tidak ada yang membantah atau membuat kegaduhan! Kedisiplinan adalah satu hal yang saya harapkan dari kalian!" tegas Herman seraya memperkenalkan dirinya.


Ia seketika menatap, satu persatu seluruh murid yang menghadiri gedung olahraga. "Semuanya!!! Bentuk barisan kalian, cepat!!! Susun dengan Rapih!!! Jangan sampai melenceng dari barisan!!!" sorak Herman dengan berapi-api, sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


Seluruh murid sontak membentuk barisan sesuai kelas mereka masing-masing. Roman pun turut mengisi barisan siswa laki-laki kelas 1A, tepat dibelakang Kevin. Ia bersebelahan dengan Valentine yang turut mengisi barisan siswa perempuan kelas 1A.


Terdapat dua puluh barisan yang terbentuk berdasarkan urutan kelas. Satu kelas membentuk dua baris sesuai jenis kelamin. Banyaknya barisan yang dibentuk oleh para siswa kelas satu, menandakan betapa luasnya gedung olahraga tersebut.


Mereka pun merasa tegang dengan sorakan Herman, yang begitu menggelegar ditelinga. Semua menjadi hening tanpa memberikan pergerakan sedikitpun. Tak sedikit dari siswa yang telah mengeluarkan keringat dingin, sebelum dimulainya kegiatan olahraga.


Herman kemudian berjalan melewati celah barisan para murid tersebut. Ia memperhatikan ketepatan dan kerapihan barisan yang dibentuk oleh mereka.


Pandangannya pun seketika tertuju pada Roman, yang tengah berdiri sambil menatap ke arah depan. A—anak itu?! ... Hmm, mungkin ini saatnya bagiku untuk memberinya pelajaran! Aku akan menilai seberapa kuat dirinya, dalam menghadapi kerasnya bimbinganku! batin Herman seraya tersenyum menyeringai.


"Semuanya!!! Bentuk posisi push up !!! Jangan dulu bergerak, sebelum menerima aba-aba dariku!!!" seru Herman dengan sorakan yang berapi-api.


Mereka kemudian sigap menuruti perintah Herman dengan cepat. "Bagus! Teruslah tahan posisi seperti itu," kata Herman sambil berjalan menuju barisan kelas 1A, yang telah melakukan pose gerakan push up.


Ia sontak menghampiri Roman dan duduk diatas punggung anak itu dengan sengaja. Herman masih mengingat siapa yang telah membuatnya kesal. Dan Roman, adalah salah satunya. "Diam dan tahan! Jangan sampai tubuhmu menyentuh lantai!" ucapnya dengan wajah kesal.


Roman pun merintih kesakitan, karena menahan beratnya beban yang diberikan tubuh Herman. "P-pak Herman ... b-b-beraaat!" ucapnya dengan terbata-bata sambil menahan sesak di dada.


"Sudah ku bilang, diam! Jangan mengeluh! Atau ku patahkan punggungmu," gertak Herman dengan wajah murka, seraya menoleh ke wajah Roman yang tengah merintih.


Demi menghindari ancaman Herman, Roman mau tidak mau menuruti perkataannya. Ia berusaha untuk tetap tenang, walau beban ditubuhnya semakin terasa berat. Anak itu berupaya sebisa mungkin, agar tubuhnya tidak menyentuh lantai.


Valentine yang melihatnya pun sontak berdiri. "Pak Hermaan! Jangan perlakuan Roman seperti itu!" tegurnya dengan wajah kesal sambil berdiri dihadapan Herman. Ia tak terima kekasihnya diperlakukan dengan semena-mena.


"Biarkan saja Valentine! K-kembalilah ... ke posisimu," tampik Roman seraya menahan rasa sakit, yang terpampang jelas diwajahnya. Ia pun tak ingin Valentine turut menjadi korban pelampiasan, kekesalan Herman.


"R-Romaaaan ...." Valentine merasa iba dengan kondisi pujaan hatinya tersebut. Hatinya menjadi hancur saat melihat Roman tetap tegar, dalam menghadapi perlakukan keji Herman.


Valentine pun sontak kembali pada barisannya dan membentuk posisi push up. Air matanya perlahan jatuh ke atas lantai, karena tak sanggup melihat sang kekasih, ditindas dengan semena-mena.


Herman kemudian menyeringai, sambil menatap pada Valentine yang tengah menunduk. Siapakah gadis itu? Kekasih bocah ini kah? Berani sekali mereka pacaran di lingkungan sekolah ini! Lihat saja! Aku akan membuatnya semakin menangis karena melihat kekasihnya menderita! batin Herman dengan seluruh niat jahat dalam hatinya.


Herman kemudian bersorak. "Semuanya!!! Untuk perempuan!!! Push up seratus kali!!! ... Dan laki-laki!!! Push up dua ratus kali!!! Lakukan gerakan Push up sambil menghitung secara serentak, jumlah gerakan kalian!!! Mulai!!!" sorak Herman dengan nada yang sangat keras, hingga menggema keseluruh sudut gedung olahraga.


"Satuu!!! Duaa!!! Tigaa!!! Empaat!!!" sorak seluruh murid secara serempak, seraya melakukan gerakan push up.


Tak sedikit dari siswa kelas lain, yang melirik ke arah Roman. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiran mereka, tentang siswa kelas 1A tersebut. Meski begitu, mereka tetap fokus dalam melakukan instruksi yang diberikan oleh Herman.


...****************...


Roman tak menyangka, bila dirinya akan menerima perlakuan yang sangat keji. Namun, ia tetap gigih melakukan gerakan push up, meski harus memikul beban tubuh yang dua kali lipat lebih berat, dari beban tubuhnya.


"Lakukan dengan cepat!!! Secara bersamaan!!! Jangan sampai ada yang tertinggal dalam hitungan!!! Atau aku takkan segan-segan menambah jumlah gerakan kalian!!!" bentak Herman dengan sorakan yang berapi-api.


"Duuua ... puuuluuh!! Duuuaaa ... saaatuu!! D-duuaaa ... duuaa!!" Sorakan Roman menjadi lambat dan tertinggal dari seluruh siswa lainnya. Gerakannya benar-benar melemah, akibat menahan beban berat yang dipikul tubuhnya.


Valentine seketika melirik pada Roman dengan mata yang sembab. Ia terus menerus menangis, karena tak tega melihat Roman diperlakukan secara tidak adil oleh Herman. Roomaaan ... berjuanglah sayaang, batinnya sambil menggigit bibir bawah.


Mendapati gerakan Roman yang semakin melambat, Herman pun geram. Ia kemudian menatap pada tubuh anak itu, seraya menyeringai. "Ayo! Cepatlah! Kau laki-laki bukan?! Apa ayahmu telah mengajarimu sebagai seorang pecundang?! Haaahh!!!" bentak Herman dengan suara lantang.


Roman pun sontak terdiam, seraya menghentikan gerakannya. Rasa amarah seketika bangkit dalam dirinya.


"Hei! Kau! Kenapa diam saja! Apa kau ingin membuat ayahmu malu dengan kelemahanmu?! Hahhh!!!" Herman kembali membentak Roman dengan suara yang lebih lantang.


Amarahnya pun meledak. Darahnya seketika mendidih. Hatinya menjadi murka, setelah mendengar perkataan Herman, yang menjelek-jelekkan mendiang ayahnya berulangkali. Kuuurang haaajar kauuu!!! batinnya dengan ekspresi wajah penuh amarah.


"Brengsek!!! Apa kau tuli?! Jika aku jadi ayahmu, aku takkan segan-segan membuangmu sejauh mungkin!!! Karena kau hanyalah seorang anak yang lemah!!! Cepaat bergerak!!! Dasar pecundang!!!" hardik Herman. Ia benar-benar sudah kelewatan.


Mendengar hinaan Herman, Roman naik pitam. Api amarah dalam hatinya semakin berkobar. Matanya membelalak, alisnya mengkerut. Giginya menggertak keras, tubuhnya pun bergetar. Roman menjadi marah semarah marahnya. Ia tak terima Herman menghardiknya, dengan menyangkut-pautkan mendiang ayahnya.


Seluruh urat di wajah, tangan, dan kakinya menebal keras. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Tangannya pun mengepal erat, hingga Roman bertumpu pada kepalan kedua tangan itu. Ia sontak mengeluarkan seluruh tenaga dalam tubuhnya, untuk melakukan gerakan push up secepat mungkin. Roman bahkan tak menghiraukan beban tubuh Herman yang dipikulnya.


"Dua tiga!!! Dua empat!!! Dua lima!!! Dua Enam!!! Dua tujuh!!! Dua delapan!!! Dua sembilan!!! Tiga puluh!!!" sorak Roman dengan sekuat tenaga. Ia pun hampir menyusul jumlah hitungan seluruh siswa yang tengah mencapai hitungan ke empat puluh.


Herman sontak terkejut, saat Roman menggerakkan tubuhnya naik turun dengan sangat cepat. K-kekuatan ini?! Mustahil! Dia benar-benar kuat! batinnya seraya tercengang.


"Empat Limaaa!!! Empat enaaam!!! Empat tujuuuh!!!" Sorakan seluruh murid, hampir tiba pada hitungan ke lima puluh. Sedangkan Roman, menyusul dari hitungan ke-30.


"Hahaha!!! Bagus!!! Inilah yang ku harapkan darimu!!! Ayahmu pasti bangga!!!" Entah apa yang membuat Herman sengaja menyulut api emosi dalam hati Roman. Ia bahkan tidak mengetahui kebenaran tentang mendiang ayah Roman sama sekali.


Roman benar-benar murka semurka murkanya. Ia tak terima dengan segala cacian dan hinaan yang semakin menyangkut pautkan mendiang ayahnya. Bajingan kauuu!!! Kau tidak siapa diriku dan keluargaku!! Jangan menghina ayahku!!! Aku membencimu!! Aku membencimu!! Aaaaaaaaaargggh!!! batinnya sambil mempercepat gerakan push up.


"Lima limaaa!!! Lima enaaam!!! Lima tujuuuh!!!" sorakan seluruh murid hampir tiba pada hitungan enam puluh. Sedangkan Roman, dengan kecepatan dan ketangguhan tubuh atletisnya yang luar biasa, telah mencapai hitungan seratus.


"Seratus satu!!! Seratus dua!!! Seratus tiga!!! Seratus empat!!!" soraknya dengan emosi yang menggebu-gebu.


Hinaan Herman, telah membuka gerbang dendam dalam hati Roman. Ia takkan memaafkan siapapun yang telah berani menyinggung perasaannya. Demi mama!!! Demi Natasha!!! Demi Ayah!!! Dan demi Valentine!!! Aku akan melindungi mereka dari segala hinaan!!! Hermaaaaan!!! Kau telah meremehkan aku!!! batin Roman, dengan semangat yang menggelora.


Seluruh murid perempuan telah sampai pada hitungan terakhir. Sedangkan seluruh murid laki-laki, hampir tiba menuju hitungan ke 140. Valentine pun turut tercengang, melihat betapa tangguhnya sang kekasih, yang kecepatan pergerakan push up nya, diluar dugaan manusia biasa.


"Seratus sembilan lima!!! Seratus sembilan enam!!! Seratus sembilan tujuh!!! Seratus sembilan delapan!!! Seratus sembilan sembilan!!! dua ratus!!!" Roman sontak menghempaskan punggungnya ke atas, yang membuat Herman terpental ke depan.


(Brak !!!)


Beruntung Valentine berhasil menghindar, sehingga Herman menjatuhkan wajahnya, tepat diatas lantai kayu yang sangat keras. "Aaaaaawww!!!" lirih Herman seraya mengerang kesakitan.


Ratusan murid kelas satu yang menyaksikan hal itu, turut tercengang bukan kepalang. Kecuali, murid kelas 1A. Mereka merasa berang dengan Roman yang telah melakukan tindakan tidak sopan terhadap Herman. "Roman! Apa yang telah kau lakukan pada pak Herman!" tegur Jason Carragher, yang merupakan teman sekelas Roman.


Jason merupakan siswa yang sangat berbakat, dalam bidang olahraga basket. Ia sering menjuarai kejuaraan basket antar sekolah, semasa SMP. Ayah dan ibunya, merupakan seorang pensiunan atlet basket terkenal dijamannya.


Roman yang telah berdiri pun mendapati kerah kaos trainingnya, tergenggam erat oleh tangan Jason. "Brengsek! Apa kau ingin menjatuhkan harga diri gurumu?!" tegur Jason dengan wajah kesal.


(Bugh!)


Valentine pun sontak memukul pinggang Jason sekeras mungkin. Jason kemudian jatuh terkapar karena tak dapat menahan rasa ngilu yang menyerang pinggangnya. "Kau yang brengsek! Jauhkan tanganmu dari Roman! Jika sekali lagi kau berani menyentuhnya, maka aku akan memberikan pukulan yang lebih sakit dari itu!" ancam Valentine seraya menunjuk ke wajah Jason.


Valentine tak terima dengan tindakan Jason, yang telah salah dalam menilai Roman. Bukannya turut prihatin dengan Roman, ia malah membela Herman yang jelas-jelas menunjukkan sifat dengkinya terhadap Roman. Hal itulah semakin membuat Valentine menjadi benci, dengan orang-orang yang selalu merendahkan kekasih tercintanya.


"Roman! Ayo pergi ke ruang guru! Aku yakin kak Valerie akan melindungi kita," seru Valentine seraya menggenggam erat tangan Roman.


Roman pun turut mengikuti langkah kaki Valentine, yang bergegas menuju ruang guru. Tangan yang menggenggam erat tangannya itu, benar-benar tangan yang sangat sayang dan peduli dengan keadaanya.


~To be continued~