My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 41. Malapetaka



...*** Rumah Keluarga Hillberg ***...


Waktu menunjukan pukul tujuh malam hari. Dimalam yang sangat dingin itu, Angelina tengah sibuk memandikan Natasha. "Nataaa! Jangan siram mama dengan air!" tegur Angelina saat mendapati Natasha mencipratkan air kearah dirinya.


Natasha sangatlah periang. Namun, jika telah bersama Roman, ia berubah menjadi sosok yang pendiam serta penurut. "Mamaaaa! Roman lama sekaaaliiii!!!" gerutu Natasha, sambil berdiri dalam sebuah bak yang hampir setinggi dadanya.


"Sabarlah naaak, kakakmu itu sedang mencari uang untuk kita," ucap Angelina seraya mengoleskan dan mengusap-usap tubuh putri kecilnya dengan sabun cair.


Setelah membuat tubuh Natasha dipenuhi dengan busa dan gelembung sabun, Angelina pun sontak tertawa. "Kau lucu sekali kalau seperti ini," sindirnya sambil terus memperhatikan Natasha dan membiarkan mata gadis itu menjadi perih.


"Mamaaaaaa!!!" Natasha pun berang karena telah dikerjai oleh sang Bunda.


"Baaiik baiiiikk ... Mama hanya bercanda sayang," Angelina kemudian mengangkat tubuh Natasha, dan memindahkannya kedalam sebuah bak besar yang telah terisi air bersih.


Perhatian dan kasih sayang seorang ibu pun terlihat jelas dari cara Angelina, yang mengusap-usap tubuh Natasha seraya membilas tubuhnya dengan sangat lembut dan penuh ketelitian. Aku beruntung memilikimu Natasha, kaulah pengusir sepiku satu-satunya, setelah Roman, batinnya.


Setelah selesai memandikan Natasha, Angelina kemudian mengangkat tubuh gadis bungsunya itu, keluar dari bak mandi. Ia lalu mengeringkan tubuh Natasha, dengan sebuah handuk yang bermotifkan hewan panda.


Natasha kemudian berlari meninggalkan sang bunda yang tengah merapikan ruang kamar mandi. Ia terus berlarian kesana kemari dengan penuh kegirangan, tanpa memperhatikan ada sebuah kabel dengan karet pelindung yang terkelupas, yang tergeletak melintang dilorong rumah.


(Brak!!!)


Angelina sontak terkejut, saat mendapati suara benturan dari tubuh Natasha yang terjatuh, akibat tersandung kabel tersebut. "Nataaa?!" Ia lalu beranjak dari kamar mandi sambil bergegas menuju lorong Rumah, dan mendapati Natasha tersungkur diatas lantai.


"Aaaaaaaaaaa!!!" Natasha pun sontak merengek seraya menangis, karena merasa shock saat tubuhnya terhempas kedepan, dan membentur lantai keramik yang sangat keras.


"Naaataaaa! Sudah mamah bilang, jangan pernah berlarian di lorong ruangan!" tegur Angelina seraya menghampiri Natasha lalu menggendong tubuhnya, dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Aaaaaaaa!! Saaakit maaa!!" keluh Natasha sambil meringkuk dalam pelukan sang bunda.


"Cup cup cup ... adik Roman harus kuat! Karena Roman adalah manusia kuat!" ucap Angelina yang berusaha menghibur Natasha, sambil mengelus-elus pundaknya.


Natasha pun meredam tangisannya setelah mendengar perkataan Angelina. "Romaaan, harus kuat maaa, karena karenaa, Roman harus melindungi kita dari penjahat ...." kata Natasha dengan segala tingkah laku polosnya.


Angelina kemudian mendudukkan tubuh mungil gadis kecilnya itu, diatas ranjang. Ia lalu membuka lemari dan mengeluarkan sepasang celana dan baju tidur, yang biasa dikenakan Natasha dimalam hari.


Setelah mengenakan seluruh pakaian tidur pada putrinya, Angelina merebahkan tubuh Natasha dan berusaha menidurkannya. "Tidur yah nak. Nanti mama bangunkan kalau Roman sudah pulang," bujuk Angelina seraya mengusap rambut gadis kecilnya.


Natasha pun akhirnya memejamkan matanya secara perlahan, sambil memeluk erat tubuh sang bunda. Wajah tidurnya sangat menggemaskan bagi Angelina, hingga membuatnya mengelus-elus hidung buah hatinya itu.


Selang beberapa menit Natasha tertidur, Angelina pun menguap dengan rasa kantuk yang mulai menyerang matanya. Ia lalu menggeliat dan turut menutup matanya secara perlahan, karena tak dapat menahan rasa kantuknya.


Namun, rumah keluarga Hillberg kedatangan suatu elemen, yang sangat tidak diinginkan keberadaannya. Kabel yang menjadi sasaran kaki Natasha, rupanya terputus beberapa serat tembaganya, hingga membuat percikan-percikan api, dan menyambar seluruh benda yang mudah terbakar.


Hawa panas seketika menyerang pori-pori kulit Angelina dan Natasha. Mereka masih belum menyadari, bila rumah yang mereka diami itu, menjadi mangsa kebrutalan elemen api yang semakin besar dan membesar hingga menggerogoti seluruh ruangan.


Api itu lalu menyambar tabung gas yang terletak dibawah meja kompor ruang dapur. Ledakan besar pun seketika terdengar ditelinga Angelina, namun belum cukup kuat untuk membangunkannya.


Elemen gas dari tabung yang meledak itu, semakin memperparah kondisi rumah keluarga Hillberg. Ruangan dapur pun ludes terbakar, hingga pondasi-pondasi atapnya menjadi rubuh dan menjadi santapan lezat si jago merah.


Api kemudian merembet dan melahap seluruh perabotan didalam kamar Roman. Tiang-tiang atapnya pun tubuh menimpa kasur yang telah hangus terbakar.


Benda-benda mudah terbakar yang terletak di teras rumah, menjadi target kobaran api selanjutnya. Elemen berwarna kuning kemerahan itu, melahap habis seluruh pondasi kayu yang menyangga atap teras rumah.


Kamar Natasha pun tak luput menjadi sasaran amukan kobaran api. Boneka-boneka kesayang adik Roman itu, menjadi penyebab hangusnya seluruh perabotan lain yang berada dalam kamar tersebut.


Tiang-tiang kayu bagian atap lorong rumah pun berjatuhan secara bergilir, yang membuat jalan untuk keluar menjadi tertutup dan tiada lagi kesempatan untuk menyelamatkan diri.


Rupanya takdir kematian, telah tertulis secara cepat, dalam lembaran nasib mereka berdua. Natasha seketika terbangun dan menangis, saat langit-langit atap kamar Angelina, tengah dilahap kobaran api.


Angelina pun sontak terbangun. Namun, kematian sudah berada didepan mereka.


(Brak!!!)


Tiang-tiang kayu penyangga atap rumah yang sangat besar itu, menimpa tubuh mereka berdua. Natasha seketika lebih dulu meninggalkan Angelina, karena tubuh mungilnya tak dapat menahan beban yang dihempaskan oleh kayu-kayu yang berjatuhan itu.


Meski tubuhnya tengah terhimpit, Angelina masih tetap tersadar dan menoleh ke arah Natasha. "Naa—taa ...." lirih Angelina dengan air mata yang berlinang, saat mendapati buah hatinya meregang nyawa dengan kondisi mata yang membelalak lebar, dan wajahnya bersimbah darah yang menyembur dari mulut.


Kematian benar-benar menginginkan Angelina, untuk turut menyusul kepergian putri tercinta. Ia seketika menatap ke atas langit-langit rumah dan mendapati sebuah kayu besar yang menggelayut dan terlepas dari paku penahannya.


(Brakk!!!)


Berakhirlah sudah akhir riwayat hidup wanita malang tersebut, saat kayu besar itu mendarat keras dan menimpa kepalanya, yang membuatnya nyawanya sontak melayang menuju langit.


Seluruh tetangga dan penduduk disekitar yang sempat menyaksikan, telah melaporkan kejadian kebakaran itu pada polisi dan petugas pemadam kebakaran. Namun, nasi telah menjadi bubur, sia-sia saja usaha mereka karena terlambat menyelamatkan apapun yang sangat berharga, didalam rumah yang telah hangus terbakar tersebut.


...*** Beberapa Jam Kemudian ***...


Petugas pemadam kebakaran telah berhasil menjinakkan si jago merah yang mengamuk membabi-buta. Tim SAR dan petugas kepolisian kemudian masuk kedalam rumah tersebut, guna mencari korban jiwa.


Perhatian mereka seketika tertuju pada dua jasad yang hangus terbakar dan terhimpit beberapa balok kayu yang telah gosong menghitam. Tim SAR kemudian mengevakuasi kedua jasad itu dan memasukkannya kedalam dua kantong mayat, lalu membawanya menuju rumah sakit terdekat untuk dilakukan proses identifikasi.


Petugas kepolisian kemudian meneruskan kegiatan investigasi mereka, atas apa yang telah menyebabkan rumah sederhana itu menjadi terbakar.


~To be continued~