
Menjelang malam hari, ditengah derasnya hujan, Maxwell memarkirkan kendaraannya ditepi sebuah jalan yang sangat sepi. Ia lalu turun dari mobil seraya bernaung dibawah payung.
Jaket dengan logo api, kah? batin Maxwell, yang telah berusia 38 tahun, dan mengabdi untuk keluarga Geraldine selama dua puluh tahun.
Maxwell tak pernah mengganti model pakaiannya, selalu menggunakan setelan jas hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang menempel di leher seragamnya. Otot wajahnya sedikit kendur, dengan tatapan mata yang sayu, serta kumis tebal yang menutupi bibir atasnya.
Ia lalu berjalan diatas trotoar sambil memusatkan perhatiannya, pada sebuah lorong sempit yang terletak disebelah kanan jalan. Tak kusangka, bila anak yang ku lihat dirumah sakit itu, adalah anak Gerrard. Aku jadi merasa bersalah karena telah menabraknya dulu, pikir Maxwell sambil terus berjalan mendekati lorong tersebut.
Maxwell akhirnya menghentikan langkah kakinya sejenak, tepat didepan lorong tersebut. Ia lalu menoleh kearah kanan dan mendapati segerombolan pria, tengah berkumpul seraya bernaung pada teras sebuah rumah.
"Joan, ada yang datang!" ucap salah seorang dari mereka, setelah melihat kehadiran Maxwell diujung lorong.
"Joan, kah?" Maxwell melangkahkan kakinya dengan perlahan, menuju seorang pria yang tengah mengenakan jaket kulit, dengan logo api dibelakang jaket tersebut.
"Hei kau! Pergilah! Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk pria kantoran sepertimu!" seru salah seorang dari mereka.
Maxwell tak mengindahkan seruan itu. Ia terus berjalan dan berjalan mendekati segerombolan orang-orang itu. "Apa kau yang bernama Joan?" tanya Maxwell setelah berdiri tepat dihadapan Joan Francoise, pelaku yang menikam Roman.
"Kalau memang ya, apa urusanmu? Wahai orang tua?" tanya Joan yang turut bernaung dibawah payung, sambil berdiri dihadapan Maxwell.
"Ikut aku," Maxwell membalikkan badannya, lalu berjalan membelakangi Joan.
Alisnya seketika mengkerut. Joan merasa tidak senang dengan sikap pria paruh baya itu. Ia lalu mengeluarkan sebilah pisau, dari balik celah belakang celananya, seraya berjalan mengikuti Maxwell.
"Joan! Biarkan saja dia!" ucap salah seorang teman Joan, yang berusaha menghentikan niat terselubungnya itu.
Namun, Joan semakin mempercepat langkah kakinya, dan melayangkan pisaunya ke arah punggung Maxwell. "Mati kauu!!" soraknya.
(Slurb~)
"Aaaaaaaaa!!!" erang Joan dengan pisau yang tertancap di bahunya.
Maxwell dengan cepat berbalik badan dan melangkah sedikit lebih dekat, hingga mampu menahan tangan Joan. Ia lalu mengarahkan pisaunya dan menancapkannya ke bahu kiri Joan.
"Joaaan!!! Brengsek kau pak tua!!" Salah seorang teman Joan berlari menghampiri Maxwell.
(Bugh)
(Brak!!)
Maxwell membela dirinya dengan menendang perut teman Joan secepat kilat, hingga membuat orang itu terpental menghantam kotak peti.
"B-brengsek!" Joan berupaya untuk bangun dan menyergap Maxwell, namun pengawal Rika itu menggengam leher Joan dengan cepat.
"Kau ingin mati sekarang?" tanya Maxwell seraya memperkuat cengkeramannya.
Melihat temannya dilumpuhkan satu persatu, teman-teman Joan yang lain merasa ketakutan. Mereka hanya bisa berdiam diri dan menyaksikan Joan berada dalam ancaman Maxwell.
"Le—lepas k-kan!" lirih Joan.
"Aku tidak akan melepaskan orang yang telah menikam anak sahabatku!" gertak Maxwell.
Setelah mendapati Joan semakin melemah, Maxwell memukul leher Joan dengan sikutnya, dan membuatnya pingsan. Ia lalu menyeret tangan pelaku yang telah menikam Roman itu, keluar dari lorong gang.
Maxwell memiliki keahlian bertarung yang luar biasa. Meski tangan kanannya masih memegang payung, namun dirinya mampu melumpuhkan dua orang berandalan secara bersamaan, tanpa melepaskan payungnya sekalipun. "Haaah ... sudah lama aku tidak bertarung seperti ini," ucapnya seraya memasukan Joan kedalam mobil.
...*** Ruang Perawatan Lantai Dua ***...
Valerie dan Andrea, memberanikan diri mereka untuk memasuki ruang perawatan Roman. Mereka lalu mendapati Valentine dan Rika, tengah sibuk mengunyah kue-kue dan cemilan.
"Valentine, kau ingin pulang?" tanya Valerie.
Valentine menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah marah. "Aku tidak akan pulang, sebelum Roman sadar dan pulang bersamaku!" tampik Valentine.
Valerie menghela sekali nafasnya setelah melihat sikap sang adik. Dengan rasa sedih yang menyandera hatinya, ia menoleh kearah wajah Roman. Roman, cepatlah sadar ... cepat atau lambat, kau harus tahu semuanya, batin Valerie yang mencoba sekuat hatinya untuk tidak meneteskan air mata.
"Valentine, aku minta maaf atas perbuatan adikku," Andrea membungkukkan badannya dihadapan adik Valerie.
Valentine pun sontak berdiri dari kursinya. "Tidak kak! Aku yang seharusnya minta maaf atas semua tindakan permusuhanku pada Audrey," Ia pun turut membungkuk dihadapan Andrea.
Andrea berjalan menghampiri Valentine, menggenggam pundaknya dan memeluknya dengan sangat erat. "Adiknya Valerie, adalah adikku juga," ungkapnya sambil mengelus-elus rambut Valentine.
"Aaaahhhh! Hangatnya suasana ini," sambung Rika seraya membuang sobekan bungkus kosong kedalam tempat sampah.
Andrea pun duduk disebelah Valerie, yang telah duduk dibelakang Rika. "Valerie, apa harus kita katakan juga pada mereka?" tanya Andrea.
"Ya. Biar aku sendiri yang mengatakannya," jawab Valerie seraya menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Valentine, Rika, dengarkan aku. Aku akan mengatakan suatu hal, yang mungkin akan membuat kalian turut merasakan kesedihan atas apa yang telah menimpa keluarga Roman," kata Valerie dengan raut wajah sedihnya.
Valentine dan Rika sontak menoleh ke arah Valerie, yang duduk dibelakang mereka. "Keluarga Roman? Apa maksudmu kak?" tanya Valentine.
Namun, Andrea menaruh perhatiannya pada tangan Roman yang seketika bergerak. "Roman?!" ucapnya dengan terkejut.
Mendengar perkataan Andrea, Valentine pun sontak menoleh ke arah Roman. "Romaaan?! Romaaaan! Syukurlaaah!" Ia langsung menggenggam erat tangan Roman, saat kekasihnya itu membuka mata kedua matanya dengan perlahan.
Pandangannya tertuju pada langit-langit atap. Setelah memfokuskan penglihatannya, Roman melirik pada wajah Valentine, yang meneteskan air mata hingga jatuh membasahi lehernya. "V-Valentine?" ucapnya dengan penuh kebingungan.
"Romaaaan ... aku disini! Aku tetap disini dan setia menunggumu!" kata Valentine sambil menangis bahagia, setelah mendapati kekasihnya mulai berbicara.
Roman berusaha mengangkat tangan kanannya, dan menyentuh pipi basah Valentine dengan jari telunjuknya. "K-Kenapa ... kau ... menangis?" tanya Roman dengan terbata-bata.
"Aku mengkhawatirkanmu, sayang," jawab Valentine dengan penuh percaya diri.
Valentine sontak menurunkan kepalanya. Rasa cintanya yang amat mendalam, membuatnya mengecup bibir Roman yang pucat membiru.
Roman sedikit terkejut dengan aksi Valentine, yang tiba-tiba menciumnya tanpa alasan apapun. Ia membiarkan bibirnya bersentuhan, dengan bibir lembut merah merona gadis itu.
Semua orang yang menyaksikannya, seketika mengalihkan perhatian mereka ke arah lain, karena merasa malu dengan tindakan Valentine. Duhh! Valentine selangkah lebih maju dariku! Tapi aku harus mencium siapaaa?! batin Rika yang memalingkan wajahnya, sambil menutup mata.
Dasar anak muda! Tidak bisa mengenali kondisi disekitarnya! pikir Valerie yang merasa malu atas perbuatan sang adik.
Aaaaaa! Aku jadi teringat masa mudakuuu! batin Andrea, seraya menggenggam erat kedua pipinya yang telah memerah.
Roman sontak menggeser bibirnya, seakan memberi isyarat untuk Valentine, menyudahi ciumannya. Ia lalu mendudukkan tubuhnya diatas ranjang, sambil menoleh ke arah Valerie. "Kak Valerie, apa ibuku sudah tahu hal ini?" tanya Roman.
Hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Valerie seketika menoleh ke arah Roman, dengan penuh rasa bimbang yang menghantuinya. Kakak Valentine itu tidak tahu harus menjelaskan seperti apa, tentang musibah yang menimpa ibu dan adik Roman.
Melihat tangan Valerie yang bergetar hebat, Andrea mencoba mengambil alih pertanyaan Roman. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Roman! Rumahmu kebakaran!" ucap Andrea dengan penuh keseriusan yang terpampang jelas.
"Hah?!! Apa m-m-maksudmu!" Roman menatap tajam ke arah Andrea, seolah tak percaya dengan perkataannya.
"Ibu dan —"
"Andreaaa!!!" Valerie sontak mendorong tubuh Andrea. Ia berusaha untuk tetap membuat sahabatnya itu bungkam. "Andrea, aku mohon, jangan!" mohon Valerie sambil meneteskan air matanya.
"Valerie." -Andrea menggenggam pundak Valerie - "Cepat atau lambat, Roman akan segera mengetahuinya. Jangan membuat diriku merasa berdosa, jika kau menghalangiku untuk mengungkapkan yang sebenarnya!" tegas Andrea sambil mendorong tubuh Valerie kearah depan.
Andrea kemudian berjalan memutari ranjang, dan berdiri disamping kanan ranjang Roman. "Roman, meski berat mengatakan ini padamu, tapi aku harus tetap mengatakannya," Air mata seketika menetes dari membasahi pipi Andrea.
"Ibu dan adikmu ... te—telah tewas karena kebakaraaaan!" ungkap Andrea sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Roman sontak tercengang bukan kepalang, setelah mendengar pengakuan Andrea. Kepala dan tangannya pun seketika bergetar, dengan hebat. "Boohooong!!! Aku akan membencimu jika kau mengatakan yang tidak-tidak tentang keluargaku!!" bentaknya dengan penuh rasa ketidakpercayaan dan emosi yang mulai merenggut hatinya.
"Kak Andrea! Jangan mengatakan hal seperti itu dihadapan Roman!" tegur Valentine yang turut tak percaya dengan segala perkataan Andrea.
"Andrea!!" -Valerie menarik tangan Andrea- "Ikut denganku!" Demi menjaga kondisi kesehatan Roman, Valerie berusaha membawa Andrea keluar dari ruangan.
"Lepaskan Valerieee! Romaaan! Jasad keluargamu ada diruang identifikasi lantai satuu!" sorak Andrea, saat Valerie memaksanya keluar dari ruangan.
(Prak!)
Valerie mendaratkan tamparan keras ke pipi Andrea. "Bodoh! Apa kau tidak bisa melihat kodisinya dulu?! Kenapa kau sangat gegabah?!" tegur Valerie yang terlanjur termakan emosi, atas tindakan sahabat lamanya itu.
Mendengar ucapan Andrea, membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Roman sontak beranjak dari ranjang dan menarik paksa selang infus yang menempel di lengannya.
"Romaaan!" Valentine berusaha menghalangi kekasihnya yang berniat pergi meninggalkan ruang perawatan. Namun, ia tak mampu meredam amarah yang telah menggeluti hati Roman, dan terpaksa membiarkannya pergi meninggalkan ruangan.
"Valentine! Ayo kejar Roman!" seru Rika sambil menarik tangan Valentine, dan mengejar Roman yang berlari melewati Andrea dan Valerie.
"Romaaan!" Valerie pun turut mengejar Roman, saat mendapati anak itu kabur dari ruang perawatannya.
Dengan memikul rasa ketidakpercayaannya yang amat mendalam, Roman menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Hatinya semakin merasakan firasat yang tidak enak, setelah mendengar seluruh pengakuan yang dilontarkan dari mulut Andrea, perihal keluarga tercintanya.
~To be continued~