My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 50. Hak Asuh



Roman kembali menginjakkan kakinya, di depan rumah yang besar dan megah itu. Tak ada sedikitpun reaksi dari wajahnya, kecuali termenung lesu menatap kosong ke arah depan.


"Roman, selamat datang di rumah barumu," sambut Valerie yang telah berdiri dibalik pintu.


Tanpa menghiraukan sambutan dari Valerie, Roman melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu rumah itu.


Valerie lalu menuntun Roman menuju lantai atas, dengan Valentine yang ikut seraya menggandeng tangannya, dan Rika yang turut berjalan dibelakang mereka.


"Valentine! Selama Roman tinggal disini, kau tak boleh macam-macam!" tegur Rika sambil memegang pundak Valentine dari belakang.


"Bodoh! Kami masih sekolah! Tidak mungkin melakukan hal senonoh yang kau maksud itu!" balas Valentine dengan wajah kesal dan menelengkan sedikit wajahnya ke arah Rika.


"Wle~" Rika menjulurkan lidahnya alih-alih menyindir sahabatnya itu.


Valerie seketika berhenti tepat didepan ruangan sebelah pojok, yang berdekatan dengan kamar Valentine. Ia lalu membuka pintu kamar tersebut. "Roman, ini adalah kamarmu. Beristirahatlah didalam. Aku akan pergi untuk membeli pakaian dan segala kebutuhan pokokmu," ucap Valerie seraya berjalan melewati Roman.


Valerie pun sontak berhenti. "Valentine! Masuk kekamar sekarang! Tidur! Dan, kau Rika, masuk kekamar Valentine! Tidur dan jangan membuat kegaduhan di kamar selagi aku tidak ada!" perintah Valerie sambil menunjuk pada pintu kamar Valentine.


"B-Baik kak!" jawab Rika yang sedikit ketakutan, saat menatap wajah kesal Valerie.


"Dasar kakak cerewet!" sindir Valentine, setelah Valerie turun melewati tangga menuju lantai satu.


Rika menggenggam erat tangan Valentine. "Valentineeee! Ayo masuk ke kamar. Jangan ganggu Roman. Biarkan dia beristirahat," seru Rika seraya berusaha menarik tangan Valentine.


"Baik baiiikkk! Rika, kau bahkan sama cerewetnya dengan kakakku!" keluh Valentine. Ia kemudian berjalan dan berdiri dihadapan Roman. "Sayang, tidurlah yang nyenyak. Tenangkan pikiranmu," ucap Valentine sambil memeluk tubuh Roman seerat mungkin.


Tak tahan dengan tindakan berani Valentine, Rika pun sontak menarik tangan sahabatnya itu, dan membawanya masuk kedalam kamar. "Valentineeee ... cepatlah!" kata Rika.


"Dasar! Tidak bisa lihat temannya bahagia sedikit saja!" gumam Valentine. Ia lalu membuka pintu kamar, dan membiarkan Rika masuk terlebih dahulu. Valentine seketika menatap pada Roman, yang masih mematung didepan kamar barunya. Roman, sudah tak ada lagi jarak yang memisahkan kita. Aku bahkan bisa memelukmu sepuasnya, batinnya sambil tersenyum menatap punggung Roman.


Rika sudah semakin kesal melihat Valentine belum jua masuk kedalam kamar. "Jangan menatap Roman seperti itu! Aku jadi curiga padamu!" tegur Rika seraya menarik tangan Valentine. Ia lalu menutup pintu kamar Valentine dan menguncinya rapat-rapat.


Bukannya semakin tenang seperti apa yang diperintahkan Valerie, mereka malah semakin gaduh dalam kamar tersebut. Rika selalu menggoda Valentine, yang membuat gadis itu merasa malu dihadapannya.


Sementara, Roman perlahan menunjukkan pergerakannya. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, dan memasuki kamar itu dengan tenang. Bagaimana bisa aku bisa tidur nyenyak disini, sedangkan mama dan Natasha tidur dibawah tanah sana, batin Roman yang tertunduk lesu seraya terduduk diatas sebuah ranjang yang empuk.


Rasa kantuk seketika datang dan menyerang matanya, seiring dengan rasa sakit di bahu yang mulai memudar. Roman akhirnya membaringkan tubuhnya diatas kasur, lalu memejamkan matanya dengan perlahan.


...*** Kamar Valentine ***...


Rika yang sempat tertidur dirumah sakit, mengganggu Valentine yang belum sama sekali meluangkan waktunya untuk tidur. Ia terus menerus mencubit pipi gadis sahabatnya itu.


"Duhh! Rikaaa! Sakiiit!" keluh Valentine yang tengah terbaring diatas ranjangnya, dengan Rika yang turut terbaring disebelahnya.


Tak terima dengan perlakuan Rika, Valentine pun membalasnya dengan mencubit pipi kedua gadis itu. "Jaaangan gaaaanggu aku tidur!" omel Valentine dengan raut wajah sebal.


"Ampun ampun, Valentineeee, ampuuun!"


"Rasakan! Makanya jangan usil!" tegur Valentine seraya melepaskan cubitannya. Ia lalu memalingkan tubuhnya ke arah samping, karena sudah terlanjur kesal dengan Rika.


Valentine mengelak seraya membalikkan tubuhnya hingga berguling diatas tubuh Rika. Ia pun terbaring dibalik punggung sahabatnya, dan segera memeluknya dengan erat dari belakang. "Rika sayaang, akulah Bryan. Terimalah pelukan hangat dariku ini," sindir Valentine.


Wajah Rika seketika memerah, saat mendengar nama Bryan. "Aaaaaaa! Valentineee ...." soraknya sambil berusaha mengelak dari pelukan Valentine.


"Tidak akan ku lepaskan, Rika sayang, heheee," Valentine semakin mengencangkan pelukannya pada punggung Rika, yang membuat gadis itu semakin memberontak.


Rika menjangkau sisi ranjang lalu menarik tubuhnya dengan kaki kanan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Valentine, namun Rika terlalu bersemangat hingga membuat tubuh Valentine terangkat, dan membuat gadis itu terguling diatas tubuhnya.


(Brakk!!)


Valentine pun terjatuh bersama tubuh Rika yang mendarat tepat diatas perutnya. "Ri—Rika ... b-beraaat ...." lirih Valentine seraya menahan rasa sesak akibat tertimpa tubuh Rika.


Rika pun sontak bangkit dari tubuh Valentine, dan segera membantu sahabatnya itu untuk bangkit dari atas lantai. "M-m-maaf Valentine, maaaf!" kata Rika.


"Duhh!! Punggungku seperti mau patah gara-gara kau!" keluh Valentine sambil memegang pinggangnya.


Mereka seketika dikejutkan dengan suara bel dari atas kotak bel yang menggantung diatas dinding kamar Valentine. "Valentine! Ayo cepat tidur! Kak Valerie sudah datang!" seru Rika.


"Tidak! Itu bukan kak Valerie! Sepertinya ada orang yang memencet bel didepan gerbang rumah," duga Valentine dengan wajah raut curiga.


"S-siapa?!" tanya Rika yang turut menampakkan raut wajah curiganya.


"Tidak tahu!" -Valentine membuka pintu- "ayo kita intip dibawah!" Demi memastikan rasa penasarannya, Valentine beranjak turun ke lantai bawah, dengan Rika yang mengikuti dari belakang. Ia lalu menyalakan monitor pengawas yang menangani situasi didepang gerbang.


"Siapa mereka?!" tanya Rika, setelah mendapati kehadiran sepasang suami-istri yang berdiri didepan gerbang, dari layar monitor pengawas.


"Aku tidak tahu! Mereka terlihat asing bagiku," jawab Valentine sambil berdiri dan menatap penuh curiga pada layar monitor.


Tony Howard dan Laura Howard, telah menjadi sebab kecurigaan gadis itu, atas kedatangan mereka didepan pintu gerbang rumah keluarga Helsink. "Kenapa lama sekali! Apa tidak ada orang didalamnya?!" keluh Laura sambil bersedekap tangan menghadap gerbang.


"Laura! Sebaiknya kita kembali pulang. Mungkin penghuninya sedang tidak ada dirumah," seru Tony turut bersedekap tangan dan bersandar pada mobilnya.


"Tapi! Kita harus segera mengambil alih mayat putri kita, Tony! Aku jadi semakin tidak sabar untuk bertemu dengan mayat Angelina!" keluh Laura dihadapan Tony.


Tony tak menghiraukan keluhan Laura. Ia lalu membuka pintu mobil dan masuk kembali kedalam mobilnya. "Laura! Jika kau tetap bersikeras, maka aku meninggalkanmu disini," gertak Tony yang sudah semakin kesal dengan sikap istrinya itu.


"Baiklah, baik!" Laura akhirnya bergegas memasuki mobil. Ia tak dapat membantah perintah Tony yang merasa muak, karena telah dipermainkan oleh keluarga besar Helsink.


Dua orang kakek nenek itu kemudian berlalu meninggalkan rumah keluarga Helsink, menuju rumah mereka. Laura terus menerus mendecih, karena merasa kesal dengan sikap sang suami.


"Kesampingkan masalah Angelina. Bagimana dengan putranya yang masih hidup?" tanya Tony seraya fokus mengendarai mobilnya.


Laura pun sempat tercengang, setelah mendengar perkataan Tony. "Roman Hillberg kah? Apa dia pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Howard?" tanya kembali Laura.


"Tentu saja! Jika anak itu bisa memberikan keuntungan, dan dapat menunjukkan keunggulannya dari cucu-cucu kita yang lain, maka akulah yang akan paling bersikeras untuk mengambil alih hak asuhnya!" tegas Tony dengan pandangan yang menatap tajam, ke arah depan.


~To be continued~