My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 47. Perizinan



Setibanya mereka dibasemen parkiran rumah sakit, Maxwell mengeluarkan Joan dari mobil. Ia lalu melihat Andrea berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Joan.


(Prak!!)


Tamparan itu benar-benar keras dan mendarat tepat di pipi Joan. "Aku hanya menyuruhmu menjemput Audrey dan membawanya pulang! Mengapa kau tega menikam temannya?! Hah!!!" tegur Andrea yang benar-benar tak dapat menahan rasa emosinya.


Maxwell membuka selotip yang membungkam mulut Joan, agar pelaku yang menikam Roman itu dapat buka suara. "Berbicaralah. Ungkapan rasa sesalmu pada Nyonya ini," seru Maxwell dengan pandangan yang menatap tajam.


Namun, Joan tetap bungkam. Ia terus menunduk dan tak berani menatap wajah Andrea, yang sudah termakan emosi karena perbuatannya.


"Maxwell! Bawa dia ke kantor polisi! Mungkin dia mau berbicara setibanya disana!" sambung Valerie, yang turut kesal saat menatap wajah pria itu.


"Baik, Nyonya Valerie." Maxwell kembali memasukan Joan kedalam mobil, lalu membawanya menuju kantor polisi terdekat.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang itu! Beruntung Roman sudah kembali sadar. Kalau tidak ... maka orang itu akan kubuat koma juga!" gumam Andrea dengan nafas emosi yang menggebu-gebu.


"Sudahlah Andrea, biar polisi saja yang menghukumnya. Ayo, kita ke lantai dua," seru Valerie seraya berjalan menuju lift basemen parkiran.


Andrea kemudian mengikuti langkah kaki Valerie menuju lift. Setelah memasuki lift, ia tak pernah berhenti memandang pada wajah sahabat lamanya itu. "Valerie, apa kau yakin?" tanya Andrea.


"Maksudmu? Soal apa?" tanya kembali Valerie dengan wajah heran.


"Kau ingin mengambil hak asuh Roman. Bukankah berarti kau akan mengubah nama keluarganya juga?"


"Tidak. Memang betul aku ingin membawanya ke rumahku, dan menjadikannya anggota baru keluarga kami. Tapi, Roman masih berhak memilih untuk tetap menggunakan nama keluarganya," Jawab Valerie sambil menoleh ke arah pintu lift yang terbuka.


Mereka pun keluar dari lift dan bergegas menuju ruang perawatan nomor 37, tempat dimana Roman ditangani secara medis. "Lalu bagaimana dengan keluarga besarmu? Apakah mereka akan setuju?" Andrea memberikan serentetan pertanyaan, perihal hak asuh Roman.


Valerie sontak berhenti, tepat didepan pintu ruangan. "Keputusan keluarga besar Helsink, ada ditangan orang, yang berada didepanmu ini," jawab Valerie, dengan maksud dirinyalah yang menjadi pemegang keputusan keluarga besarnya.


Setelah memasuki pintu ruangan, Andrea mendapati Roman tengah terbaring dan tertidur sambil menghadap ke Valentine. Dasar Valerie! Padahal kan aku juga ingin membawa Roman tinggal dan kerja di kafeku, batin Andrea sambil terus menatap ke arah wajah Roman yang tengah memejamkan matanya.


"Valentine, mulai sekarang, Roman akan tinggal bersama kita," ucap Valerie.


Valentine pun sontak menoleh ke arah Valerie, dan tercengang. "B-b-bagaimana dengan kamarnya?" tanya Valentine yang hampir tidak menyangka dengan perkataan Valerie.


"Hmm ... betul juga yah! Aku sampai tidak kepikiran tentang kamarnya," Valerie berfikir sambil bersedekap dengan sebelah tangan, dan sebelah tangannya yang lain, menopang dagunya.


"Bagaimana jika Roman tinggal bersamaku?!" sahut Andrea seraya mengangkat tangannya sedikit keatas.


"Tidak!" tampik Valerie dan Valentine secara serempak. Mereka sudah benar-benar tidak bisa memberikan Roman pada orang lain.


"Eeehhh?!" Andrea terkejut dengan sikap spontan yang ditunjukkan oleh dua bersaudari itu.


Rika yang ikut mendengar pembicaraan itu pun mencoba untuk buka suara. "Tinggal dirumahku saja! Itu tidak masalah bagiku. Maxwell akan mengajarinya keahlian bela diri," sambung Rika.


"Tidak! Justru hal itu akan menggangu kedudukanmu sebagai ketua OSIS. Berita tentang Roman tinggal bersamamu, akan cepat tersebar keseluruh siswa disekolah." -Valerie bolak-balik- "Maxwell bisa mengunjungi rumahku, jika ingin mengajari seni bela dirinya pada Roman," sanggah Valerie panjang lebar sambil menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi bolak-balik layaknya setrika.


"Lalu dimana kau akan meletakkan Roman?!" tanya Andrea. Ia benar-benar tidak sependapat dengan Valerie.


Valerie lalu berdiri dihadapan Andrea, seraya memegang kedua pundaknya. "Andrea, jangan khawatir. Aku akan menyediakan kamar yang nyaman untuk Roman," kata Valerie, yang berusaha meyakinkan Andrea untuk tidak ikut campur dalam urusannya.


"Hmm ... baiklah. Selagi itu tidak menggangu hubungan persahabatan kita, aku akan mendukung keputusanmu," Andrea akhirnya menerima keputusan Valerie, yang bersikeras untuk tetap mengambil hak asuh dan bertanggungjawab atas Roman.


...*** Beberapa Saat Kemudian ***...


Rika dan Andrea tertidur sambil terduduk diatas kursi lorong perawatan. Sementara Valerie dan Valentine, masih terjaga selagi menunggu Dokter dan para perawat menangani kondisi Roman, untuk yang terakhir kalinya.


Setelah meyakinkan Andrea, aku pun harus berjaga-jaga, bila suatu saat nanti keluarga dari Nyonya Angelina akan mencari dan merebut hak asuh Roman dariku, pikir Valerie seraya menatap pada wajah Andrea yang tertidur diseberangnya.


Valerie pun dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering dari dalam tasnya. Ia dengan segera merogoh tas dan meraih ponselnya. Haa?! Ayah! batinnya setelah mendapati Albert Helsink menghubunginya.


πŸ“ž "Halo, Ayah!"


πŸ“ž "Valerie, sayangku, apa kabarmu?"


πŸ“ž "Aku baik-baik saja Yah! Ayah sendiri bagaimana kabarnya? Apakah pekerjaanmu lancar-lancar saja?"


Valentine pun terkejut, saat mendapati sang ayah menghubungi Valerie. Ia pun beringsut ke tubuh Valerie dan ikut bergabung dengan percakapan mereka.


πŸ“ž "Ayaaah!" Valentine mendekatkan ponsel Valerie ke telinganya.


πŸ“ž "Valentine, kau kah itu?!"


πŸ“ž "Lalu menurutmu siapa?!"


πŸ“ž "Hahaha! Valentine putri bungsuku rupanya! Apa kabarmu sayang?"


πŸ“ž "Aku baik-baik saja Yah!"


πŸ“ž "Haha! Syukurlah nak! Bagaimana dengan sekolahmu? Apa Valerie mengajarimu dengan benar?"


πŸ“ž "Tentu saja, Ayah! Kak Valerie adalah guru terbaik disekolah kami,"


πŸ“ž "Hahaha! Bagus! Sepertinya dia akan melampaui ibumu,"


Valerie pun kembali meraih ponselnya dan menempelkannya ke telinga.


πŸ“ž "Ayah! Dengarkan aku! Ada hal yang penting yang ingin ku bicarakan,"


πŸ“ž "Dengan senang hati, aku akan mendengarkan permintaan putriku,"


πŸ“ž "Kebetulan! Ayah, aku akan membawa salah seorang muridku tinggal bersama kami dirumah,"


πŸ“ž "Haaaah?! V-V-Valerie! Kau tidak sedang bercanda kan?!"


πŸ“ž "Tidak Ayah. Ini masalah yang sangat serius,"


Albert sempat terdiam beberapa saat.


πŸ“ž "Siapa namanya dan apa alasan yang menjadikanmu berniat untuk membawanya kerumah?! Biar aku pertimbangkan terlebih dahulu,"


πŸ“ž "Roman Hillberg. Dia hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Namun, musibah telah merenggut nyawa mereka, yang membuat Roman menjadi tidak memiliki siapapun lagi,"


Albert pun terdiam sejenak, setelah mendengar perkataan Valerie.


πŸ“ž "Bagaimana dengan keluarganya yang lain? Keluarga ayahnya, atau ibunya? Apakah tidak ada dari mereka yang berniat untuk mengambil hak asuh Roman?"


Valerie kemudian menghela nafasnya secara perlahan.


πŸ“ž "Ayah! Dengarkan baik-baik! Roman Hillberg, adalah satu-satunya murid yang mendapatkan beasiswa di sekolah menengah Saint Luxury tahun ini! Sejak pertama kali melihatnya, aku teringat akan dirimu. Anak itu adalah sosok malaikat ilmu pengetahuan, yang akan mengibaskan sayapnya didunia pendidikan! Apa kau rela membiarkannya hidup sendiri, jika keluarga besar dari ayah atau ibunya, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mengasuhnya?!"


Kali ini, Albert sempat terdiam sedikit lebih lama. Ia seperti tengah merenung, sebelum mengambil keputusan selanjutnya.


πŸ“ž "Baiklah. Jika menurutmu itu tidak merugikan keluarga besar Helsink, keputusanmu adalah keputusanku,"


Valerie pun tercengang bahagia. Begitu juga dengan Valentine yang sontak memeluk tubuh samping Valerie, karena merasa senang dengan keputusan sang ayah.


πŸ“ž "Ayah, terima kasih. Aku sangat sayang padamu,"


πŸ“ž "Hahaha! Untuk Valerie ku tersayang, apa yang tidak mungkin! Hah?! Hahaha!"


πŸ“ž "Baiklah Ayah, jaga dirimu baik-baik disana,"


πŸ“ž "Dan kau juga Valerie, jaga dirimu dan Valentine baik-baik disana. Mungkin, setahun lagi aku akan mengunjungi kalian,"


πŸ“ž "Baik, Ayah!"


Albert memutuskan panggilan ponselnya dengan Valerie.


Kedua bersaudari itu tak dapat menahan rasa bahagia, saat sang ayah mengizinkan Roman untuk tinggal bersama mereka.


~To be continued~