My School Days Were Full of Enemies!

My School Days Were Full of Enemies!
Bab 66. Kekesalan



(Tringgg!!! Tringgg!!! Tringgg!!!)


Suara bel menandakan jam istirahat, sontak berbunyi. Setelah berhasil mendesak Roman untuk mundur dari ketua kelas, seluruh murid kelas 1A seketika berbondong-bondong keluar dari kelas, menuju tempat favorit mereka masing-masing.


"Shawn! Kau sungguh hebat, telah membuat orang itu mau melepaskan jabatan ketua kelas," puji Drake, yang tengah berjalan menuju kantin.


"Haha! Itu adalah hal yang pantas didapatkan olehnya, karena telah berani mengusik kita!" ucap Shawn dengan penuh keangkuhan, dan turut berjalan bersama Drake menuju kantin.


"Kita harus lebih berhati-hati dengan guru temperamen itu! Aku bisa saja membujuk ornagtuaku mendesak pihak sekolah, untuk mengeluarkannya dari sini!" sambung Tiffany, yang turut berjalan dengan mereka.


"Ya! Guru itu telah meremehkan kekayaan dan kekuasaan orangtua kita!" kata Shawn, seraya menampakkan senyuman jahatnya.


Sementara, dilorong kelas yang tak terlalu ramai, Roman tengah sibuk mengejar Valentine, yang berusaha menghindar darinya. "Valentine! Tunggu! Dengarkan aku!" ucapnya dengan penuh rasa bersalah yang masih bergejolak dalam hatinya.


Valentine pun sontak meraih dan menggengam erat tangan Roman, dan membawanya pergi menuju ruang OSIS dengan tergesa-gesa. "Ikut aku! Biarkan Rika yang menilai, apa saja salahmu!" seru Valentine seraya mempercepat langkah kakinya, dengan Roman yang turut mengikutinya dari belakang.


Setibanya didepan ruang OSIS, Valentine membuka pintu ruangan, dan membawa Roman masuk kedalam bersama dirinya. "Rikaaaa ...." Valentine melepaskan tangan Roman, dan berlari menuju Rika yang tengah berdiri. Ia lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Valentineee! Aku merindukanmu sayang!" ungkap Rika, yang turut membalas pelukan Valentine. Ia lalu melepaskan pelukannya, dan memegang kedua pundak gadis itu, sambil menatap wajahnya. "Kau kenapa Valentine?!" Rika pun sontak menoleh ke arah Roman. "Roman! Kau apakan Valentine?!" tanya Rika sambil menatap tajam ke wajah Roman, yang tengah berdiri didepan pintu.


Roman tersenyum, seraya mengelus-elus rambut belakangnya. "Valentine marah denganku," jawab Roman, yang merasa telah mengetahui kesalahannya, hingga membuat Valentine cuek terhadapnya.


"Aku tahu itu! Yang aku pertanyakan adalah kenapa kau membuat Valentine menjadi marah, sampai datang padaku dengan raut wajah sedih?!" tanya kembali Rika, setelah mendapati jawaban Roman, melenceng dari pertanyaannya.


Roman merasa Rika telah menghalanginya, dengan memberikan sebuah pertanyaan, yang tak mungkin dijawabnya dengan benar. Ia kemudian berjalan mendekati Valentine, dan merebut tangan sang kekasih, dari genggaman Rika. "Valentine. Aku benar-benar minta maaf atas segala kesalahan-kesalahanku. Priscilla membawaku hanya untuk membicarakan jadwal kegiatan ekskul atletik saja," mohon Roman dengan bersungguh-sungguh.


Valentine sontak melepaskan tangannya, dari genggaman Roman. "Hmphh!!!" -ia membuang muka- "Aku tidak peduli!" tampik Valentine dengan raut wajah yang sangat-sangat kesal, terhadap kekasihnya itu.


"Valen—"


"Roman!" Rika pun sontak memotong perkataan Roman. Ia lalu menarik tangan anak itu, dan membuatnya keluar dari ruangan OSIS. "Tunggu dulu diluar! Kami akan melakukan pembicaraan penting, sebagai sesama perempuan," ucapnya seraya menutup pintu rapat-rapat.


"Huufftt ...." Roman menghela nafasnya dengan perlahan. "Aku telah berusaha semaksimal mungkin, untuk meminta maaf padanya. Tapi gadis itu, telah menghalangiku," batin Roman, yang tengah menunggu sambil bersandar pada dinding tembok ruang OSIS.


Pemuda yang juga memiliki kesabaran itu, menjadi kesal dan telah kehilangan kesabarannya. Roman kecewa dengan Rika, yang telah menyuruhnya untuk menjauh dari Valentine. "Baiklah! Jika memang itu maumu," ucapnya seraya melangkahkan kaki dengan perlahan, meninggalkan ruang OSIS.


Sementara, didalam ruangan itu, Rika telah meluruskan kursinya, dan menduduk menghadap Valentine, yang juga telah duduk didepannya. "Valentine, ceritalah," ucap Rika, sambil menggenggam erat kedua tangan sahabatnya itu.


Valentine tak dapat menahan raut wajah sedihnya dihadaoan Rika. Ia lalu menunduk, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku kesal dengan Roman," ungkapnya dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Kesal kenapa?" tanya Rika.


Valentine sempat merenung sejenak. Namun, bibir pink yang pucat itu, telah memaksa dirinya untuk berbicara. "Aku kesal, karena Roman telah membuatku cemburu," jawab Valentine yang mencoba menahan air matanya, untuk tidak jatuh.


"Uuuchhh Valentineku saaaayang ...." Rika sontak mencondongkan tubuh ke arah Valentine, lalu memeluknya dengan erat, karena tak dapat menahan rasa ibanya, terhadap bestie-nya itu.


Dengan mengelus-elus rambut pendek Valentine yang sangat terasa lembut, Rika berusaha untuk menenangkan segala kegundahan hati gadis itu. "Memangnya apa yang telah diperbuat Roman, sampai-sampai tuan putriku ini, merasa cemburu karenanya?" tanya Rika.


"Priscilla!" jawab Valentine dengan tegas, yang membuat Rika terkejut setelah mendengar nama itu.


Valentine pun turut memeluk Rika, agar wajahnya tak menampakkan air mata, yang seketika jatuh membasahi pipinya. "Priscilla ... telah merebut perhatian Roman dariku." Rasa kesalnya seketika mencuat. "Dia mencegat Roman, lalu membawanya menjauh dariku! Hal itu tentu membuat hatiku sakit saat melihatnya!" ungkap Valentine dengan penuh cucuran air mata, karena termakan rasa cemburu, yang sangat menguras hatinya.


Rika lalu melepaskan pelukannya dan terkejut saat menatap wajah Valentine. "Valentine?!" Ia tak menyangka bila sahabatnya itu telah menangis, tanpa sepengetahuan darinya. "Jangan menangis sayang," ucapnya sambil menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi Valentine.


"Seandainya perempuan itu tak membawa Roman, tentu aku takkan bersikap cuek, dan merasa cemburu karenanya!" Valentine menampakkan wajah kesal yang bercampur sedihnya, dihadapan Rika. "Aku jadi curiga dengan apa yang dilakukan mereka di ruang ekskul atletik!" keluh Valentine, seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya.


Rika akhirnya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Valentine. Ia lalu tersenyum sambil berusaha menenangkan ketidakstabilan emosi sahabatnya itu. "Valentineee ... kau harus percaya dengan Roman. Tidak mungkin dia mengkhianatimu, kan?" ucap Rika sambil memegang kedua pundak Valentine.


"T-tidak akan kubiarkan! Roman tidak boleh mengkhianatiku dan melupakanku!" tegas Valentine, yang telah menghentikan laju air matanya.


"Kalau begitu, berbaikanlah dengan Roman, Bicarakan baik-baik dengannya, terimalah penjelasan dan permintaan maafnya. Kau takkan membiarkan Roman jatuh dalam pelukan perempuan lain kan?" tanya Rika, yang semakin meyakinkan hati Valentine, untuk segera memperbaiki hubungannya dengan Roman.


Valentine sontak menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sudi membiarkan perempuan itu, merebut Roman dariku!" jawab Valentine dengan tegas.


"Bagus! Itu baru Valentine yang ku kenal dan kusayangi!" Rika pun tersenyum, yang membuat Valentine turut tersenyum kepadanya, lalu memeluknya dengan erat.


Rika kemudian berdiri dari kursinya, lalu beranjak menuju pintu. "Berjanjilah padaku, untuk tidak mengacuhkan Roman lagi, oke?!" ucapnya sambil menoleh ke arah Valentine, dengan tangan yang tengah memegang gagang pintu ruang OSIS.


"Roma—" Rika terkejut, saat membuka pintu, dan mendapati Roman telah menghilang. Ia lalu berjalan ke arah samping ruang OSIS. "Roman?! Kemana dia?!" ucapnya dengan raut wajah kebingungan, sambil terus menoleh seraya mencari keberadaan Roman.


Valentine pun turut menghampiri Rika, dan sontak terkejut, saat mendapati kekasihnya telah menghilang dari luar ruang OSIS. "Romaan?! Rika! Kemana Roman?!" tanya Valentine yang kini merubah raut wajahnya menjadi cemas.


"Aku pun tak tahu kemana perginya dia!" jawab Rika yang turut menampakkan wajah cemasnya.


"Jangan-jangan dia kembali ke kelas, karena tak mau menunggu kita!" duga Valentine seraya berkacak pinggang dihadapan Rika. Rasa kesal yang sudah menghilang itu, kembali bertamu dihati Valentine, yang membuatnya selalu berfikiran negatif tentang Roman.


Valentine akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang kelasnya, bersama Rika yang turut mengikuti langkah kakinya, menuju kelas 1A.


Sementara, Roman tengah berjalan melewati lorong gedung sekolah, yang menjadi akses menuju perpustakaan serta ruang klub ekskul teknologi modern.


Namun, ditengah perjalanannya, seorang siswa kelas dua yang pernah menghajar Roman, di hari pertamanya masuk sekolah pun seketika muncul dihadapan Roman. "Kau lagi rupanya!" ucapnya sambil menyeringai, dan menghadang Roman, yang semakin berjalan mendekatinya.


Roman tetap melangkahkan kakinya menuju siswa itu, tanpa sedikitpun menyimpan dendam kepadanya. "Maaf! Aku sedang tidak ada urusan denganmu," kata Roman, seraya berjalan melewati siswa yang berusaha untuk menghalangi dirinya itu.


"Brengsek!" Merasa kesal mendengar perkataanya, siswa berandalan itu hendak memegang sebelah pundak Roman, yang membuat anak itu berbalik badan. Ia lalu melayangkan pukulannya ke wajah adik kelasnya itu. "Kurang ha—"


(Bugh!)


Pukulan yang menerjang perut itu, amatlah keras, serta mampu memuntahkan darah dari mulutnya. "Aku sudah bilang padamu, aku tidak ada urusan dengan orang sepertimu," ucap Roman, seraya tersenyum menyeringai pada siswa tersebut.


Roman dengan sigap menghindari pukulan yang menyadari ke wajahnya. Ia lalu membungkukkan badannya, dan melayangkan pukulannya secepat mungkin menuju perut siswa berandalan tersebut, yang membuat kakak kelasnya itu tumbang hingga terkapar diatas lantai.


"Itu belum seberapa. Jika masih mencari masalah denganku, akan ku pastikan kau tidak dapat lagi masuk ke sekolah ini," gertak Roman seraya berdiri dihadapan tubuh siswa, yang masih menatap ke arah wajahnya tersebut.


Setelah puas melampiaskan kekesalan yang dialaminya hari ini, Roman melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju perpustakaan, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


~To be continued~